Update setiap hari, kalau lagi santai bisa lebih dari satu bab.
Masa SMA adalah masa terindah bagi kebanyakan orang, begitupun dengan masa-masa sekolah seorang gadis bernama Agatha Pricilla.
Karena kelakuannya yang sangat berandalan Cilla di pindahkan ke Bandung oleh orang tuanya, di sana Cilla yang awalnya hidup dengan kemewahan di paksa untuk hidup sederhana dan di titipkan pada keluarga pembantu di rumahnya.
Cilla masuk ke sekolah 1 Bandung dan dari sanalah ia bertemu dengan seorang pria bernama, Yuda Adistira. Pria yang melakukan segala hal untuk mendapatkan uang, pria yang terkenal kasar dan memiliki masalalu yang kelam.
Namun dari sana juga Cilla mendapatkan arti hidup yang sesungguhnya, kebahagiaan yang ia inginkan sejak dulu dapat ia rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nadia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aneh
Saat sore Cilla benar-benar penasaran mengapa tadi di sekolah Yuda tidak menghampirinya di UKS, jadi kini ia pergi ke rumah Yuda dengan alasan ingin menemui Lisa. Cilla juga membawa makanan untuk Lisa, sesampainya di rumah itu Cilla mengetuk pintu rumah sambil memanggil-manggil nama Lisa.
Lisa keluar membukakan pintu, "Kak Cilla, masuk kak," Lisa mempersilahkan Cilla masuk.
Mereka berdua masuk bersama, "Kamu sendirian di rumah?" tanya Cilla karena tidak melihat Yuda.
"Kak Yuda di kamarnya, kayaknya lagi gak enak badan deh. Soalnya pas aku periksa keningnya agak panas," jelas bisa.
"Kamu udah makan?" tanya Cilla.
"Belum sih kak, aku gak tega mau bangunin kak Yuda," Lisa menundukkan kepala.
"Kebetulan, nih kakak bawa makanan buat kamu. Kamu makan yah, sekalian yang satunya buat Yuda, dia juga pasti belum makan," Cilla membawa nasi goreng yang ia beli di depan.
"Makasih kak."
"Em..... Aku boleh masuk kamar Yuda gak? Mau cek kondisinya doang. Kalau parah harus di bawa ke dokter."
"Boleh kak, tuh kamarnya yang di sana," Lisa menunjuk pintu kamar Yuda.
"Makasih," Cilla mengambil sebungkus nasi goreng yang tersisa, kemudian ia masuk ke kamar Yuda pelan-pelan.
Cilla agak sedikit kaget melihat isi kamar Yuda, kamar yang sederhana namun sangat rapih dan tertata. Banyak foster beberapa penyanyi terkenal seperti James artur dan yang lainnya, Cilla menghampiri Yuda yang tertidur pulas di kasur.
Cilla mengecek suhu tubuh Yuda dengan telapak tangannya, "Ah," Cilla mengangkat tangannya kembali, "Panas banget."
Yuda terbangun karena Cilla, Cilla yang melihat Yuda menatap ke arahnya hanya bisa tersenyum tanpa wajah berdosa.
"Kenapa ada di sini?" tanya Yuda, suara serak bangun tidur Yuda mampu membuat Cilla sedikit merinding.
"Kata Lisa lu sakit, makannya gue ke kamar lu," balas Cilla.
"Astaga, gue lupa belum ngasih Lisa makan siang. Jam berapa sekarang?" Yuda panik sambil melihat arloji di tangannya.
Cilla mendorong Yuda agar Yuda kembali duduk di kasurnya, "Udah lu tenang aja, Lisa lagi makan. Tadi gue sempet beli nasi goreng di jalan dan ini buat lu pasti lu juga belum makan," Cilla menyodorkan kresek berisi nasi goreng ke hadapan Yuda.
"Gue gak lapar," baru saja mulut Yuda tertutup tiba-tiba perutnya malah keroncongan.
Cilla menahan tawanya, "Udah makan aja, enggak usah sok jual mahal. Kalau mau bohong ajak perutnya kerja sama juga dong," ledek Cilla.
Dengan terpaksa Yuda menerima nasi goreng itu, Cilla keluar kamar membawakan Yuda sendok, piring dan air minum. Setelah kembali ke kamar Yuda, Cilla hanya menatap Yuda yang sedang sibuk makan.
"Lu sakit?" tanya Cilla.
"Enggak."
"Tapi badan lu demam, gimana kalau kita ke dokter aja."
"Lu juga tadi sakit, kenapa enggak lu aja yang ke dokter."
"Tuh kan....... Lu pasti tau gue tadi di UKS, kenapa sih gak nyamperin gue tadi di sekolah," Cilla sudah menduganya.
Yuda malah sibuk makan, berusaha tidak mendengar ucapan Cilla.
"Yuda jawab gue, lu gak khawatir apa sama temen lu ini? Sialan," Cilla cemberut.
"Kan udah ada Arhan, ngapain gue harus nemuin lu dan khawatir sama lu," tegas Yuda.
"Tuh kan..... Lu juga tau tadi ada Arhan. Jangan-jangan lu cemburu yah karena gue di tolongin Arhan," Cilla tersenyum menggoda Yuda sambil mencolek-colek tangan Yuda.
"Enggak, enak aja. Ngapain juga gue cemburu, gak ada gunanya," Yuda berusaha mengalihkan pandangannya dari Cilla.
"Oh iya, Arhan ngundang gue ke pesta ulang tahunnya. Gue juga katanya boleh kok bawa lu, datang yuk," Cilla merayu Yuda.
"Kagak mau," tolak Yuda dengan singkat.
Cilla berdecak sebal, "Kenapa sih? Ayolah Yuda temenin gue."
"Kalau gue bilang enggak yah enggak, pergi aja sana sendiri," bentak Yuda.
"Lu kenapa sih Yuda? Hari ini lu berbeda banget tau gak kayak biasanya. Kalau emang gue berbuat salah sama lu ngomong letak salah gue dimana, jangan kayak gini."
"Gue gak berubah kok, gue tetep seperti ini dari sebelumnya. Lu aja yang merasa gue berubah kali."
"Enggak Yuda, hari ini lu gak kayak biasanya. Kalau emang lu udah gak mau temenan sama gue bilang aja, gak usah kayak gini. Gue bela-belain loh bangun tidur ke sini buat liat lu tapi nyatanya lu malah kayak gini."
"Gak ada juga yang minta lu buat lakuin ini kan?"
Cilla menghela nafas, "Ya udahlah terserah lu," Cilla kecewa dengan sikap Yuda, ia keluar dari kamar Yuda dengan hati dan perasaan yang sedih.
Cilla menghampiri Lisa, "Sayang, kakak pulang dulu yah. Kamu jangan lupa istirahat juga."
"Baik kak."
Selama perjalanan ke rumah Mira, Cilla melamun sambil menendang semua yang ada di depannya. Saat Cilla menendang sebuah kaleng bekas minuman, kaleng itu mendarat di kepala Arhan yang sedang lewat.
Cilla membuka mulutnya lebar lalu berlari menghampiri Arhan, "Sorry, gue gak sengaja barusan," Cilla membungkukkan kepalanya mengaku salah.
"Udah gak papah, gak sampai hilang ingatan juga."
Cilla memperhatikan Arhan, "Tunggu! Ngapain lu di sini? Jangan bilang rumah lu di deket sini?" tanya Cilla.
"Rumah gue agak jauh dari sini, kebetulan aja gue abis belanja di sana," Arhan menunjuk supermarket mini yang ada di sebrang jalan.
"Ah....." Cilla mengangguk mengerti.
"Duduk dulu sini," Arhan mengajak Cilla duduk di kursi yang tersedia di pinggir jalan yang berada di dekat mereka.
Cilla mengikuti Arhan dan duduk di sebelah Arhan, "Nih mau?" Arhan menyodorkan susu kaleng pada Cilla.
"Boleh deh, makasih yah," Cilla menerimanya.
"Abis darimana?"
"Dari rumahnya Yuda."
"Ngapain cewek ke rumah cowok?"
Cilla menghela nafas berat sambil menelan susu yang ia tegak, "Mau ketemu Lisa doang sih, kasian Lisa kan lagi sakit."
"Oh adiknya, iya sih mereka memang kasihan."
"Lu tau kemana orang tua mereka?" Cilla sebenarnya sudah penasaran ini sejak lama.
"#Tau lah, gimana pun Yuda temenku dulu. Sebelum hubungan kita renggang seperti sekarang, dulu kita selalu main bareng. Kedua orang tua Yuda cerai waktu umur Lisa masih kecil, setelah mereka cerai mereka meninggalkan anak-anak mereka satu persatu, ayahnya Yuda selingkuh dan lebih memilih hidup dengan keluarga barunya. Sementara ibunya Yuda pergi ke luar negeri dengan alasan kerja untuk menafkahi mereka tapi ternyata ibunya malah gak ada kabar sama sekali sampai sekarang," jelas Arhan.
"Kasian yah mereka, dengernya gue jadi sedih banget sumpah," Cilla sampai berkaca-kaca mendengar cerita tersebut.
"Aku sering mau bantuin dia tambahin biaya berobat Lisa, sayangnya dia selalu menolaknya dengan kasar."
"Ada apa sih di antara kalian berdua? Tadi Yuda marah-marah juga sama gue gara-gara bahas lu."
"Entahlah, hanya kisah masa lalu. Udah gak usah di pikirkan."
"Maunya sih gitu, tapi tetep aja kepikiran."