Merantau selama enam tahun di Kalimantan sebagai operator buldoser besar dan ekskavator pengeruk nikel—itulah profesi tangguh seorang Tara Pratiwi. Selama itu pula, ia bekerja keras menjadi "pesuruh" andalan bagi bos-bos asing bermata sipit di area pertambangan.
Tara pikir, saat ia pulang kampung nanti, semuanya akan tetap sama seperti saat ia tinggalkan dulu. Oh, tentu saja dugaan itu salah besar! Rupa-rupanya, kompleks perumahan tempat tinggal kedua orang tuanya kini sudah sangat padat, berimpitan dengan tetangga-tetangga baru di sisi kanan dan kiri rumah.
Hingga akhirnya, takdir mempertemukannya dengan Cakrawala—seorang duda cerai mati dengan satu anak laki-laki super bandel yang siap mengusili hari-hari tenang Tara.
Tara mengacak rambutnya frustrasi. "Haduh, pusing, pusing! Alamat aku pergi nunggang ekskavator lagi ini mah kalau begini caranya!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tasya Chuky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pagi ini Cantik Sekali
Mentari bersinar cukup cepat menembus celah-celah jendela. Pagi ini seperti biasa, Buk Hayati bangun lebih dulu dibanding penghuni rumah lainnya. Apalagi hari ini ada cucu angkat yang kebetulan menginap. Dengan segenap jiwa dan raga, Buk Hayati berniat ingin membuatkan sarapan lezat dan bekal sekolah untuk Candra.
Yah siapa tau, kedepannya, Candra jadi cucunya betulan.... tapi itu hanya harapannya saja, kan?
Berbeda dengan Pak Anton, orang tua dengan tubuh kurus itu lebih memilih melipir ke belakang rumah untuk memantau ayam-ayam jagonya yang mempunyai suara semerdu suara Lady Gaga. Tak lupa, Pak Anton menaruh pakan burung kakak tua kedalam tempat makannya.
Memang betul, selain ayam bangkok, Pak Anton ini sangat meminati hewan yang bersayap, berkaki dua, dengan jari-jari yang berjejer empat. Baginya ayam jago bangkok itu badannya sangat-sangat terlihat gagah, apalagi kalau berkokok, suaranya langsung membangunkan satu RT. Beda halnya dengan burung kakak tua, Pak Anton memuji karena burung itu pandai bercakap dan bulunya yang indah, putih bersih....
"Can! Cepat mandinya." Teriak Tara dari depan kamar mandi, menggedor pintu kayu itu.
"Iya sabar." Jawab Candra dari dalam bersahutan dengan kecipak air.
Tara melipat kedua lengannya di dada. Wanita itu lalu melangkah menuju dispenser air minum, menuangnya ke dalam gelas, lalu menenggaknya hingga tandas untuk menyegarkan tenggorokannya.
Buk Hayati yang baru saja masuk ke dapur terkejut melihat bagian belakang celana putrinya. "Tar kamu bocor tah?" Tanya Buk Hayati kaget.
Tara menoleh refleks, lalu dengan hati-hati dia memutar tubuh melihat bagian belakang dan bawahnya.
"Aduh, iya... ndak dirasa ini." Jawabnya pasrah melihat noda merah di sana.
"Pasti tembus di kasurmu itu." Ucap Buk Hayati mengingatkan, sementara tangannya dengan telaten mulai mengupas bawang di atas meja dapur.
"Entar lah, siang...." jawab Tara acuh tak mau ambil pusing pagi-pagi.
Kebetulan sekali, Candra pun keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit. Dengan gerakan cepat Tara mulai melesat masuk ke kamar mandi dan langsung mengunci pintu dari dalam, meninggalkan Buk Hayati yang mungkin akan menceramahi dia satu bab panjangnya jika dia tetap tinggal di luar.
Tara memutuskan untuk lama-lama saja di kamar mandi, biar dia memang sengaja menghindari omelan ibunya. Setelah selesai mandi dan membersihkan diri, tak lama kemudian dia mulai membuka pintu.
Klek'
Pintu terbuka, menampilkan suasana dapur yang sangat lengang. Ibuknya sudah tidak ada di sana. Di atas meja, terlihat di bawah tudung saji, sepiring nasi goreng hangat yang sengaja disimpan Buk Hayati untuk Tara.
Tara menghela nafas lega. Dia mendekat ke arah meja makan, menarik kursi kayu, lalu memulai ritual makannya dengan tenang.
•♡•♡•♡•
"Asmara cinta! Manja-manja.... Nada Asmara Bercumbuh-cumbuh, bisa-bisanya merayu-rayu, tergoda janji-janji dirimu yang palsu....."
Suara merdu Tara mengalun merdu memecah kesunyian pagi, menembus sampai ke dinding samping rumah tetangganya.
Cakra yang kebetulan izin pulang sebentar untuk mengambil barang terkesiap. Pria itu mendekatkan telinganya pada tembok rumah, mendengarkan setiap bait alunan lagu dangdut yang mulut manis Tara lontarkan dengan riang.
Cakra tersenyum. Duda keren nan tampan itu dengan cepat meraih ponsel di saku celananya. Lalu dengan cepat menyalakannya, membuka aplikasi telepon dan memencet kontak Tara... yang kini sudah tersimpan anggun dengan nama Sayangku! Aduh so sweet-nya....
Tuttt... tuttt...
Suara dengungan tanda tersambung terdengar di seberang sana. Tak menunggu lama, Cakra akhirnya mendapatkan balasannya.
"Halo!" Sapa suara di seberang sana.
"Halo, Assalammualaikum," sapa Cakra balik penuh kelembutan.
"Ya, sopo ki?" Tanya Tara cepat.
"Ki mas Loh Yank," jawab Cakra rendah. Suaranya yang berat dan dalam menyapa gendang telinga Tara, sukses membuat wanita itu menggigil setengah mati menahan salah tingkah.
"Mas Cakra Tah?" Tanya Tara memastikan.
"He'em.... Lagi apa Yank?" Tanya Cakra.
Tara tersenyum-senyum sendiri di kamarnya. Cakra nih rupanya menepati janji... semalam mereka memang sudah sepakat agar mengganti nama panggilan menjadi lebih dekat. Cakra berniat memanggil Tara dengan sebutan Sayang! atau singkatnya Yank!....
"Mas Ndak kerja?" Tanya Tara pelan memindahkan topik.
"Mau! Kalau ndak kerja mana bisa punya modal buat biayain anak orang sayang," jawab Cakra terkekeh. "Boleh mas VC? Kepingin lihat senyum Sayang, barangkali semangat yang masih di 75% langsung meningkat pesat menjadi 100%," tuturnya merayu.
Tara tertawa renyah. "Boleh!.... tapi aku masih kuyu loh, baru mandi ini, belum rapi," ucap Tara menjelaskan, agar ekspektasi Cakra nanti ndak kejauhan.
"Gak popo, aku mau lihat senyummu," jawab Cakra mantap.
Dlung'
Panggilan telepon beralih ke video call. Cakra dengan cepat hendak mengangkat tombol hijau, namun belum sempat terhubung, Nona di sebelah rumah sudah mematikannya sepihak.
Cakra mengerutkan dahi heran. Namun tak lama sampai suara sapaan yang sangat familiar terdengar dari arah depan rumahnya.
"Mas! Mas Cakra...." panggil Tara lembut.
Cakra dengan sigap mendekati pintu depan lalu membukanya lebar-lebar. Pria tampan itu melihat Tara yang tengah berdiri manis di sebelah pagar pembatas rumah mereka, sembari berdiri memandangnya dengan senyuman hangat.
"Mau lihat senyumku toh?" Tanya Tara menggoda.
Cakra mengunci pintu rumahnya lalu berjalan mendekat ke arah pagar. "Apa ada Ibuk sama Bapak?" Tanya Cakra melirik kanan-kiri.
Tara menggeleng pelan.
"Pagi ini cantik sekali Sayang," ucap Cakra memuji, penuh kejujuran dari lubuk hatinya.
Tara tertawa kecil menahan kebas di pipinya. "Bisa saja, sudah sana kerja. Nanti ditungguin rekannya." Usir Tara pura-pura galak.
Cakra mengangguk nurut. Sangat disayangkan, andai saja mereka memang sudah suami istri betulan, sebelum berangkat kerja ngerasain ciuman manis Tara kayanya bakal sangat enak.
"Tar! Mas! Pengen...." Ucapannya mendadak terjeda kaku.
'Gak Cak! Kamu ini aneh-aneh saja.... nanti Tara jadi takut sama kamu, tiap waktu kok san-sun baen,' peringat Cakra dalam hati menepuk jidatnya sendiri.
"Pengen apa mas?" Tanya Tara polos penasaran.
"Ah, ndak! Maksudnya mas pengen langsung berangkat. Mas pergi dulu ya," ucap Cakra gugup salah tingkah.
Pria itu lalu mengulurkan tangannya menyeberangi pagar untuk mengacak gemas rambut pirang Tara. Tara hanya cemberut manja dibuatnya, menatap kepergian calon suaminya dengan hati berbunga-bunga.
sukses slalu y 🫶🫶🫶