Ceritanya Aku revisi yah dan harap bersabar ☺ cerita ini perlu aku rombak karena menurutku cerita diawal agak gk masuk akal dan ceritanya jadi bullet mangkanya susah mau lanjut dan mutusin buat revisi aja sebelum fokus melanjutkan ceritanya dan mohon dukungan dari kalian semua yang bersedia membaca cerita yang kurang dari kata sempurna 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byreyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diajak pulang bareng
"Jadi sekarang Lo tinggal disini ?"
Gadis itu mengangguk, Saat ini Bagas mengantar Rania pulang kerumah, awalnya pria itu tidak percaya kalau sekarang gadis itu tinggal dirumah kecil, ia berpikir Rania mengerjainya. ternyata memang benar, gadis itu tidak membohonginya.
"Kenapa ? ngak yakin Lo ?"tanya Rania ketus.
"Weis, seorang Ratu kampus tinggal ditempat begini, tentu aja Gue ngak percaya"Bagas membenarkan posisi duduknya kesamping, agar bisa melihat wajah Rania. Mereka duduk Dikursi kayu panjang, depan Rumah Rania.
"Begitulah, Gue aja ngak percaya hahaha" Rania memaksakan ketawanya, tapi Bagas menangkap ada kesedihan dimata gadis itu.
"Cerita sama Gue, Lo ada masalah apa ? atau ini ada hubunganya dengan Angga ?" tanya Bagas dengan raut wajah serius. ia menduga masalah Rania berkaitan dengan Angga.
Rania menggeleng cepat, gadis itu menatap nanar kebawah, memandangi sepasang sepatunya."Ngak ada kok, Gue cuman mau hidup mandiri"Rania menatap Bagas dan mendorong badanya pelan."udh ya gue mau masuk, lo pulang sono"
"malah ngusir"cebik Bagas.
"bodoh" ucap Rania cuek.
"Ya sudah, gue pulang dulu. pintu kamar jgn lupa dikunci. terus juga pakaiannya jangan yang terbuka"kata Bagas menesahati, ia takut aja Rania di apa2in, kan musibah ngak ada yang tau. ditambah Rania tinggal dengan seorang pria. Rania sudah menceritakannya dan Bagas terkejut mendengarnya dan juga sudah berceramah panjang lebar, sampai mendadak jadi ustat. Rania sampai bosan mendengarnya. sampai mau pulang pun Bagas masih sempat ceramah, membuat Rania hanya mengangguk biar cepat kelar.
"Iya iya, dia anaknya baik kok. kalau dia Macem-Macem gue langsung telpon Bos gue."Ucap Rania Menaik turunkan Keningnya. Bagas tergeleng heran.
"Oke, Btw itu luka dapat darimana ?"Tanya Bagas melirik arah siku Rania yang diperban kain kasa. sebenarnya sudah dari kemarin dia liat, pas hari ini juga ia melihat Rania cuci piring dan agak kesulitan sama tanganya yang diperban membuat Angga prihatin. Bagas mau bertanya, tapi belum punya kesempatan. soalnya gadis itu nyerocos mulu ngak ada berhenti, terlanjur kesal dianya.
Rania melihat arah lirikan Bagas di sikunya."Biasalah, bukan masalah apa-apa."Rania memanyunkan bibirnya. seketika Bagas seperti terhipnotis "imut"satu kata yang menggambarkan gadis didepannya ini, Rania mendorong badan Bagas sampai bergeser Keluar teras.
"see you My Bos"Rania melambaikan tangan, lalu memberikan kiss jauh dengan gayanya yang centil. percayalah Rania melakukanya agar Bagas segera pulang dan tidak bertanya-tanya banyak lagi tentangnya, gadis itu ngak mau tiba-tiba menangis didepan Bagas. Rania type orang yang paling suka memendam masalahnya dan dia paling ngak bisa orang lain melihatnya menangis selain abangya Reyn.
Bagas masih terbengong memperhatikan tingkah Rania yang memberikanya kiss jauh, smpai pintu Rumah ditutup. tanpa sadar tangan Bagas tergerak membalas kiss jauh Rania. setelah sadar ia menjadi terkekeh sendiri.
"Gue kenapa anjir" ucapnya malu dengan diri sendiri. Bagas pun akhirnya pulang menaiki motornya.
......................
"Good night Oppa😘"
Ritual Rania sebelum tidur. selain cuci muka dan skincare-an. Rania juga tak pernah absen mengirimi Angga ucapan selamat malam. walaupun berujung pesanya hanya diabaikan, sujud sukur kalau chatnya di read oleh Angga. Gadis itu menatap nanar layar ponselnya, begitu sulitkah menaklukan hati Angga ? kenapa rasanya Rania seperti menyukai batu ?
"dingin banget cuacanya, kaya sedingin Angga kkk ~"
udara dingin masuk menyentuh kulitnya, membuat gadis itu kedinginan. ia juga sulit tidur dilantai. 2 hari ini ia sulit untuk tidur, dan masih susah beradaptasi di tempat tinggal barunya. tapi mau gimana lagi daripada gak punya tempat tinggal sama sekali. Rania berada dalam kamarnya sendirian. Karena Rumah ini terbuat dari kayu jadi kalau malam sudah pasti dingin dengan cahaya remang-remang dibantu sama lilin. dirumah ini listrik tidak ada. jadi kalau mau terang, ya pake lilin. Rania harus bersabar, mau ngeluh pun mau mengeluh sama siapa ? dia ngak punya tempat mengaduh. teman ? Rania ngak benar - benar punya teman yang setia. kalaupun sisil dan sarah tau tentang kehidupanya sekarang, mungkin mereka ngak akan mau jadi temanya. disaat seperti ini Rania teringat abangnya. ingat belaian hangat Reyn di rambutnya. setetes air mata jatuh membasahi bantalnya. gadis itu menangis. setiap malam Rania selalu menangis sebelum tidurnya dan Reyn selalu datang kekamarnya untuk menenangkanya agar bisa tertidur, dan sekarang ? siapa yang menenangkanya ? sudah tidak ada, jadi Rania hanya menangis sampai ia lelah sendiri kemudian tertidur dengan sendirinya.
......................
(Pagi hari)
Angga berjalan menuju garasi mobilnya, Pria itu berngkat kuliah menaiki mobil. karena Bu Angrit ikut bersamanya. Bu Angrit ada acara Reunian bersama teman-teman kuliahnya dulu. karena tidak ada supir yang mengatarnya dan Pak saputra juga masih berada diluar negeri. jdi Bu Angrit ikut bersama anaknya. kebetulan jalanya searah.
"Oppa, hari ini kuliah ngak ? Rania sudah siapkan bekal buat Oppa, nanti dimakan ya ? btw semangat buat ngerjain skripsinya 💪🏻"
Sebelum menyalakan mesin mobil, Angga mengecek hapenya yang berbunyi. tanda pesan baru masuk. Angga melihat notip angka +62. ya siapa lagi, sudah pasti Rania. Angga sampai hapal nomor Rania. karena setiap hari gadis itu ngak pernah absen mengiriminya pesan. sesekali pun Rania menelpon kdg dia angkat kalau bersama orang tuanya saja. Nomor Rania Angga tak pernah menyimpanya. dia juga tidak tau dari mana Rania mendapatkan no hpnya. yang pasti bisa kalian tebak kemungkinan ibunya atau kedua temanya yang memberinya. No Angga begitu privasi cuman beberapa orang terdekat saja yang mengetahui no telponya.
Angga tidak menghiraukan pesan Rania, ia segera menyalakan mesin mobilnya dan berjalan dengan kecepatan sedang. dalam perjalanan, Bu Angrit selalu membicarakan tentang Rania. sampai Angga bosan mendengarnya.
"Ga, Kamu denger ngak yang bunda bilang ?"
"Iya Bu Angga denger, nanti kalau jemput bunda, Angga harus bawa Rania."Ucap Angga, mengulangi perkataan ibunya.
"good, anak bunda pinter"Bu Angrit menepuk pelan pundak anaknya. Mobil itu pun berhenti tepat ditujuan Bu Angrit. Wanita paru bayah itu pun turun dengan elegantnya ya walaupun sudah tidak mudah lagi, penampilan Bu Angrit sepertilah masih mudah ditambah wajahnya yang terlihat awet muda.
"Angga pergi dulu Bu" Pamit Angga. lalu melajukan mobilnya, meninggalkan Ibunya yang masih setia melambaikan tanganya. Bu Angrit menghela nafas lalu tersenyum. ia pun berjalan kearah teman-temanya yang sudah menunggunya daritadi.
"Itu anakmu jeng? Ganteng sekali"ucap Bu Indah. dianggukin ibu ibu yang lainya.
"ya iyalah, Ibunya aja cantik hahaha"
......................
"Angga Oppa !" Teriak Rania. dengan mengangkat tanganya tinggi-tinggi agar Angga melihatnya. Angga yang baru turun dari mobil, mengabaikan Rania yang berteriak memanggil namanya.
"selalu saja terabaikan" Rania memanyunkan bibirnya saat pria itu melewatinya begitu saja. apakah Rania ini angin ? tak terlihat gitu ? gadis itu terus berdumel ngak jelas sambil menatap sendu bekal yang ia pegang ditanganya.
"pulang kuliah nanti jam berapa ?"
Rania mendongak begitu Angga balik dan bertanya padanya untuk pertama kali. Rania senang, tentu saja. Selama ini Angga sangat jarang bertanya padanya dan selalu Rania yang memberi pertanyaan.
"Gak tau, kadang gak nentu. tapi nanti Rania kabarin kalau udah pulang ya"Rania mengatakanya dengan sangat antusias.
"Hm"Angga mengangguk singkat. Rania lalu berkata lagi."Oppa mau ajak Rania pulang bareng ?"
Angga mendelik malas."Bunda mau ketemu sama Lo"
"Oppa gak ?"tanya Rania lagi.
"Ngak"
"Kenapa ?"
"Gak penting"
"Kapan pentingnya ?"
"Sampai sapi bertelur"
"Nanti Rania suruh ayam pinjamkan rahimnya sama sapi biar bertelur"Balas Rania absurd
"Serah Lo"
Angga pergi begitu saja dan Rania ikut menyusul dibelakangnya seperti biasa. Rania selalu berada dibelakang Angga, mengikuti kemanapun pria itu pergi. Rania tak perduli seberapa banyak Angga menolaknya ia tetap pada pendirianya untuk bisa meruntukan tembok besar dalam hati Angga.
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya (Siapa) Aku Tanpamu, searchnya pakek tanda kurung biar gak melenceng yaa