Hallo semua , jika berkenan mampir ke cerita aku ya ..
jangan lupa vote coment favorit 😁
cerita ini murni karangan sendiri .....
Rayana Putri gadis yang menyukai K-Pop sejak ia duduk dibangku SMP bercita-cita ingin bertemu langsung dengan orang yang ia kagumi selama ini.
Disuatu saat keinginan nya tercapai dan setelah itu,ia memilih berhenti mengidolakan mereka karena takut jatuh cinta bukan sebagai fans kepada idol melainkan cinta wanita kepada pria
Disaat tak terduga ia kembali bertemu dengan biasnya yang sudah lama ia lupakan dengan susah payah.
Akan kah Rayana akan kembali mencintai pria yang dulu pernah ia kagumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tini Timmy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Halo semua.....
Jangan lupa like, vote, coment, favorit ya 😅
Selamat membaca 😁💜...
...****************...
"Emm aku bingung harus menjawab apa, menurutku kita jangan ada hubungan apapun karena kamu tau keyakinanku melarang untuk berpacaran dan juga kalau semisal kita bersamapun keyakinan kita berbeda Oppa," jawabnya dengan hati-hati.
"Iya memang sulit, tapi ini kenyataannya tasbihku tak bisa bersatu dengan salibmu. Aku tidak mau mengambil kamu dari Tuhanmu," lanjutnya.
Namjoon menghela nafas panjang.
" Aku tau itu dan aku juga tidak mungkin meminta kamu mengikuti keyakinanku, biar aku saja yang ikut denganmu."
"Jangan ikut keyakinanku karena ingin memilikiku tapi ikutlah keyakinanku karena Allah jangan karena aku."
"Iya Aya, aku sungguh serius ingin ikut dengan keyakinanmu sejak lama, namun waktu itu aku masih belum berani mengungkapkannya."
"Itu semua keputusanmu aku tak ingin melarang orang ataupun menekan orang," titah Aya.
"Iya Aya, aku paham akan ku pastikan kita bersatu," ungkapnya diiringi senyum manis dimple miliknya.
Aya menghela nafas panjang karena itu semua bukan keputusan yang mudah dan sepele. Namun apa boleh buat lebih baik mengikuti jalannya Allah. Jika berjodoh mereka akan bersatu.
"Emm Oppa ke Korea kapan?"
"Rencananya besok, karena ada jadwal talk show serta vlog juga. Memangnya ada apa?" tanyanya sambil memandang wajah Aya.
"Aku akan memberikan Jawaban besok, malam nanti aku akan bertanya kepada Allah apa aku diperbolehkan menerima rasa mu."
"Iya tak apa ..... kapan pun kamu jawab aku akan selalu menunggu."
Keduanya tersenyum manis lalu memutuskan untuk pulang.
Setibanya di Apartemen Aya segera mengeluarkan belanjaannya lalu menaruhnya dikulkas. Aya memang sangat rajin, barang-barang pun harus tertata rapi dan bersih tidak boleh berantakan.
Aya terbangun dari tidur, waktu menunjukkan pukul 2 pagi segera ia bangkit lalu mengambil wudhu dan melaksanakan shalat tahajud.
Aya meluapkan semua keluh-kesahnya, bahkan sampai menitihkan air mata.
"Ya Allah jika memang untukku maka dekatkan lah kami namun jika bukan untukku hapuslah perasaan aneh ini," ucapannya bulir bening mengalir dari pelupuk mata Aya.
Keesokan harinya pukul 8 pagi Aya sudah siap disebuah restoran dekat apartemen untuk bertemu Namjoon. Aya datang terlebih dahulu jadinya memesan makanan bareng cuma berbeda.
Nampak dari kejauhan wajah Namjoon nampak berseri menghampiri Aya yang sedang terduduk di view terbagus restoran.
Aya nampak begitu mempesona dengan mengenakan baju perpaduan cardigan, celana kulot serta jilbab yang rapi, warna outfitnya hari ini dominan cokelat dan putih.
Sedangkan Namjoon mengenakan hoodie dipadu celana panjang bahan favoritnya.
Ia tersenyum dari kejauhan sudah terlihat jelas wanita yang ia kagumi begitu cantik dan adem.
"Assalamualaikum," sapanya dengan ramah.
Aya langsung menengok ke arah suara tersebut, ia sangat terkejut."wa'alaikumsalam," jawabnya dengan ragu dan masih tidak percaya.
"Oppa apa ini semua?" tanyanya sambil mengernyit dahi.
Namjoon hanya tersenyum, Aya semakin bingung ada apa sebenarnya kenapa tiba-tiba Namjoon berubah.
"Aku sangat ingin menunggu jawabanmu, semalam aku sudah shalat semoga jawabanmu adalah bahagia hehe," sambil tersenyum manis.
Ternyata itu semua hanya bayangan semata. Pada kenyataannya mereka diam sambil duduk bersebrangan ditemani secangkir coklat hangat dan roti bakar.
Aya yang menyadari Namjoon senyum-senyum sendiri merasa aneh.
"Oppa apa kamu baik-baik saja? apa Oppa kesambet. Tapi masa mau masuk ke dalam tubuh pria idaman ini wkwkwk," gumamnya dan menutup mulutnya .
Aya melambaikan tangan di depan wajah Namjoon seketika sang empu tersadar dan malu sendiri.
"Oppa tidak apa-apa?" tanyanya lagi diiringi senyum tipis.
"Aiya aku tidak papa, hanya melamun sebentar hihi," cengirnya, sebenarnya sangat malu.
Aya mengiyakan lalu menikmati roti bakar favoritnya, begitu juga Namjoon meneguk cokelat hangat yang harus rutin hadir di sarapannya.
"Oppa pulang jam berapa?"
"Jam 10 Aya, memangnya ada apa, apa kamu mau ikut hehe."
Aya segera mengelengkan kepala, dengan hati-hati ia membuka kembali topik semalam. Terlihat jelas mimik wajah tegang yang terpampang jelas didepan matanya.
Rasa khawatir menyeruak ke dalam hati dan fikiran Namjoon. Entah mengapa ini lebih menegangkan dibanding ikut lomba.
Namjoon mencoba menenangkan diri, siap tidak siap harus siap dengan konsekuensi yang sudah didepan mata. Prinsipnya berani memulai harus berani menerima hasil akhir.
Jantung Aya berdebar begitu cepat ada rasa khawatir yang menghantui hatinya, karena ia tak mau menyakiti hati orang lain. Namun kali ini jika ia bersatu dengannya maka akan tambah menyakiti banyak orang.
Masalahnya tetap satu karena mereka yang berbeda dari segalanya. Sedangkan sekarang Aya sudah tak punya saudara ataupun orang tua. Ia harus benar-benar menyeleksi apa yang terbaik untuk dirinya.
"Aya, jangan memaksa jika kamu masih bimbang aku akan menemui mu kembali."
"Aiya, tidak apa-apa aku sudah yakin dengan keputusan ku. Maaf jika ini semua menambah beban mu," ujarnya lirih namun terdengar jelas di telinga Namjoon.
" Sebaiknya kita jangan mengobrol disini ,ayo cari tempat yang tenang," ajak Namjoon, Aya mengikuti dari belakang.
Terus berjalan hingga sampai di taman.
" Oppa maaf sekali, jujur aku menghargai perasaanmu tapi aku tidak mau menentang larangan. Maaf karena aku menggecewakan harapanmu," menundukkan kepalanya.
"Aku tau jawaban mu pasti itu, aku tau salibku tak bisa bersatu dengan tasbihmu. Namun jangan khawatir aku akan memikirkan semuanya, bukan hanya demi memiliki mu tapi aku memang sedari lama ingin mengikuti ajaran mu," diiringi senyum tipis.
Aya tersenyum tipis ,jujur hatinya sakit namun harus gimana lagi ia tak mau memaksakan. Dan ia tak ingin jatuh terlalu jauh, mending sekarang ia tak mengawali.
"Aya jika kita jodoh kita akan bertemu lagi di museum kota lama Semarang dengan aku yang sudah satu keyakinan denganmu," pungkas Namjoon dengan serius.
Aya menengok lalu memandang kewajah Namjoon.
Wajahnya begitu yakin, membuatnya tersenyum.
"Jangan membuat janji denganku, aku tidak mau diberi harapan namun pada akhirnya dikecewakan."
Namjoon mengangguk-anggukan kepalanya dan senyuman yang tak pernah pudar ia perlihatkan.
"Aku akan berusaha memegang janji ku, Aiya aku sudah harus pergi jaga dirimu baik-baik disini jangan ragu jikalau kamu memulai karir percayalah kamu akan menjadi bintang yang bersinar paling terang.
Maaf kan aku hanya menyia-nyiakan waktumu "
"Aku akan kembali tunggu aku ya, percayalah jika kita jodoh." Keduanya membendung air mata yang sedari tadi ingin tumpah.
semangat
like balik iya