Sebelum bertemu dengan Ashana Casandra hidup seorang Mahija Kenny sangatlah terpuruk, berulang kali Kenny mencoba membunuh dirinya sendiri tapi ia selalu saja selamat hingga pada suatu hari ia bertemu dengan Ash yang tersenyum ramah padanya membuat ia jatuh cinta pada pandangan pertama.
Ash menjadi tujuan baru hidupnya disaat dirinya mengalami gangguan mental bipolar, namun perasaan Kenny pada Ash bukanlah cinta biasa melainkan obsesi yang cukup parah.
Tak ingin Ash dimilki oleh orang lain, Kenny malah menjadi-jadi dengan menculik Ash dan mengurungnya bak di sangkar emas.
Akankah Ash bisa melarikan diri dari jeratan Kenny ataukah ia akan mencintainya seiring waktu? Dan menerima cinta yang obsesi itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aul rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kaz menemui Casey
Di lihatnya kartu nama tersebut, lalu tanpa basa-basi Charlie langsung mengembalikan kartu itu dan segera mengusir Ditto karena bagaimana pun juga ia sebenarnya tidak ingin ikut kelas seperti ini.
"Aku tidak ada urusan denganmu, pergilah." Charlie mulai menghela nafasnya, namun ternyata Ditto tak menyerah.
Pria itu kembali mendekatkan diri pada Charlie hingga luluh dan mau berteman dengannya.
"Aku memang tidak punya urusan denganmu tapi aku mau berteman denganmu."
"Yang aku tahu seorang Charlie Sagara itu adalah orang ramah dan murah senyum. Sedangkan ini, benar-benar dingin aku jadi ragu kalau kau itu si Charlie itu."
Mendengar hal tersebut, kedua alis Charlie menyatu merasa tak terima di bilang dingin.
"Tentu saja tidak! Aku, Charlie Sagara tidak mungkin berwajah dingin." Sanggah Charlie dengan kencang.
"Kalau begitu bertemanlah dengan ku."
Charlie menelan ludah, sebenarnya ia sedang malas hari ini akan tetapi lebih malas lagi kalau Ditto merengek terus padanya. Alhasil ia pun mengiyakannya dengan anggukan kepala.
Melihat itu, Ditto kegirangan segera ia meminta bertukar nomor hp dan lagi Charlie langsung memberikannya.
Setelah itu kelas pun di mulai saat dosen masuk ke kelas, menghentikan Ditto yang bertingkah seperti anak kecil di depan Charlie.
"Ck, padahal aku lebih tua darinya. Dia bahkan tidak punya sopan santun sama sekali." Gumam Charlie dengan sangat sangat pelan.
Charlie, dengan desakan dari sang ayah untuk kembali mengikuti kelas manajemen menjadi hal yang paling di benci Charlie. Sudah susah-susah ia kuliah kedokteran dan sekarang harus kuliah lagi.
Walaupun Kaz sudah memberikannya keringanan dengan hanya masuk dua kali seminggu, tetap saja Charlie tidak menyukai hal itu. Tak hanya itu, semua kejadian ini terjadi sebab Kenny tak di perbolehkan menjadi penerus perusahaan ayah. Charlie benar-benar lelah.
Singkat cerita, selesai lah kelas mereka seperti halnya Kenny dan Ash. Mereka berdua sedang menunggu di halte, dan lagi-lagi mereka duduk bersama di bus tersebut.
Tanpa ada pembicaraan sama sekali di antara mereka berdua. Namun setelah Kenny masuk juga ke apartemen yang ada di samping Ash membuat heran padanya.
"Kenny, kau tinggal di sini?" Tanya Ash tepat saat mereka berdua berada di depan pintu kamar masing-masing.
"Benar."
"Haish kalau di pikir-pikir mungkin kita ini jodoh Ash." Lanjut Kenny menggoda Ash membuat gadis itu geleng-geleng kepala.
"Dasar, modus." Dengan cepat Ash membuka pintunya lalu masuk ke dalam.
Kenny tersenyum, lalu ia hanya membuka pintu kamar itu lalu menutupnya kembali tanpa masuk ke dalam karena rupanya ia pergi keluar melanjutkan misinya lagi.
Kembali dengan Charlie saat ini.
"Hyung, Hyung lihatlah ini. Coba download aplikasi game ini, di jamin seru. Kalau Hyung sudah punya game-nya kita berdua bisa Mabar, sekalian donasi top-up hehe."
Ditto tak henti-henti mengoceh di dekat Charlie, ia sedari terus mengekor Charlie kemana pun pria itu pergi. Sedang Charlie hanya bisa diam dengan wajah yang memelas, Charlie sudah tak habis pikir dengan sikap Ditto yang begitu aktif.
"Diamlah! Berhenti memanggilku Hyung, kau pikir ini Korea?!" Ucap Charlie memberi peringatan karena kesabaran miliknya mulai terasa di ujung tanduk.
Namun Ditto lagi-lagi membalas dengan suara seperti anak ayam yang sangat menganggu telinga.
"Ayolah, Korea sedang booming sekarang. Kalau tahun depan Arab yang booming maka aku akan memanggilmu Akhi. Akhi-akhi hehe."
Ditto mulai tertawa sendiri sedang Charlie hanya diam menatap wajahnya yang tertawa itu. Kemudian datang seseorang pada mereka berdua menghentikan tawa Ditto dalam sekejap.
"Permisi." Sapa orang itu.
Di lihat, rupanya Rizwan yang datang. Laki-laki itu berniat untuk kuliah di sini lewat jalur mandiri sama seperti Kenny dan Charlie.
Akan tetapi tidak tahu ia di terima atau tidak, jelas Bu Julia bukanlah orang yang terkenal di golongan konglomerat kota ini.
"Ijin bertanya, ruang rektorat di mana ya?"
Ditto segera menjawab lalu memberitahu arahnya pada Rizwan, namun Rizwan kelihatan kesusahan memahami ucapan Ditto. Alhasil ia pun berniat membawa Rizwan langsung ke tempatnya.
"Hyung mau ikut tidak?" Ditto menoleh ke tempat Charlie tadi berdiri namun ornag itu sudah tidak ada.
"Dia sepertinya sudah pergi." Ujar Rizwan.
"Ya sudahlah. Ayo ikut saya." Dengan senang hati Ditto bawa Rizwan ke ruang rektorat.
Kepribadian Ditto yang cepat bergaul itu memungkinkan mereka berdua dekat dengan waktu cepat.
"Omong-omong kenalin, Ditto Ganendra." Sapa Ditto sembari menjulurkan tangannya.
Rizwan tersenyum lalu membalas jabat tangan dari Ditto "Rizwan."
"Anak baru ya?" Kata Ditto.
"Masih calon kak." Jawab Rizwan dengan sopan.
Ditto yang di perlakukan sopan seperti itu menolak dengan keras, ia tak ingin terlalu formal dengan seseorang yang usianya sama dengannya.
"Gak, gak jangan panggil kakak panggil saja Ditto."
"Ah iya baik. Omong-omong kalau boleh tahu kakak yang tinggi tadi, di senior ya?" Tanya Rizwan mengacu pada Charlie tadi.
"Oh itu Hyung? Jelas dong dia senior, untuk jaga-jaga nih ya kalau ketemu dia tuh harus formal kita ini gak boleh nonformal ke dia. Kecuali kita berdua, haha." Ucap Ditto sembari merangkul bahu Rizwan dengan akrab.
"Ah haha." Bagaimana pun juga Rizwan terlihat terpaksa senyum, jelas tawanya itu hambar tidak seperti Ditto.
"Jurusannya apa bro?" Tanya Ditto.
"Manajemen." Rizwan dengan cepat menjawab.
Mendengar itu Ditto terkejut, rupanya anak ini baru masuk ke kelasnya.
"Sungguh beruntung bro ketemu gua, sama kita manajemen."
"Wih beneran?" Rizwan kaget, karena baru masuk langsung bertemu si senior.
"Yoi, noh udah nyampe. Good luck bro." Ucap Ditto mulai pergi setelah mereka sampai tepat di depan pintu ruang rektorat.
"Thanks." Seru Rizwan dengan senyum lebar di wajahnya.
Kini di situasi yang berbeda, Casey sedang menjaga tokonya yang selalu sepi. Toko yang menjual barang-barang kebutuhan anak sekolah, tapi tidak dengan seragam.
Tring
Bunyi lonceng terdengar nyaring pertanda seseorang masuk ke tokonya, Casey lihat siapa orang tersebut dari tempat meja kasirnya. Ternyata Kaz yang datang dengan memakai jas serba hitam, hal yang menjadi pusat perhatian Casey adalah tongkat.
Kaz menggunakan tongkat berwarna emas dengan ujung berbentuk kepala gagak, anehnya Kaz yang tidak mengalami cedera apa pun malah menggunakan tongkat.
"Selamat datang tuan."
Kaz tak membalas, dia terus berjalan melihat seisi toko tersebut. Di belakangnya ada asisten pribadi nya sedang di pintu luar sana di jaga beberapa bodyguard.
Casey berusaha untuk tetap terlihat tenang untuk tetap terlihat seperti perannya saat ini.
hehe
semoga tidak
jangan lupa like dan komentar nya ya kakak, adik-adik
boleh kok sekalian berkomentar dan vote ya.
yang mau barter dan saling follback ²an boleh kok tinggal japri aja atau sekalian di sini juga boleh
Thor yang nulisnya aja pengen tendang dia