Kisah 4 Remaja yang saling menyukai satu sama lain namun terjebak dalam sebuah hubungan tak berstatus.
siapa yang akan terlebih dahulu memutuskan hubungan diantara ke empatnya? dan seperti apa hubungan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hikmasari Darmawanti Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
A4 BERKUMPUL LAGI
Sepulang sekolah, keempatnya pun ke rumah Aksa untuk melanjutkan tugas kelompok yang tertunda kemarin. Tentu saja kedatangan mereka disambut gembira oleh Mama Aksa bahkan meberikan pelukan hangat pada Dira.
Melihat hal itu, Luna merasa sedikit iri karena merasa Mama Aksa lebih menyukai Dira di banding dirinya.
“Tante kira kamu nggak akan mau datang ke sini lagi”kata Mama tak melepas pelukannya
“Maaf ya, Tante. Kemarin, aku bikin keributan” kata Dira merasa tak nyaman.
“Nggak papa kok, lagian yang salah kan si Aksa bukan kamu” kata Mama seraya melepas pelukannya dan tersenyum senang.
“Aku anak Mama bukan sih? Bukannya di belain malah dikatain”protes Aksa yang membuat yang lain tertawa kecuali Luna. Dan hanya Bara yang memperhatikan hal tersebut
“Tante, kasih kita makan dong. Lapar nih” kata Bara mengalihkan perhatian.
“Oh iya, ayo masuk! Kebetulan Tante baru aja selesai masak” kata Mama seraya menyuruh mereka masuk.
Mereka pun makan siang bersama setelah itu mereka kembali mengerjakan tugas mereka. Seperti biasa, keempatnya akan menjadi tenang dan fokus saat mengerjakan tugas. Bahkan Bara pun yang cerewet menjadi pendiam. Keheningan tersebut terus berlanjut hingga adzan Isya berkumandang.
“Selesai juga!” kata Bara seraya merenggangkan seluruh tubuhnya.
“Otak gue kayaknya korslet deh gara-gara terlalu dipaksa bekerja” kata Luna ikut merenggangkan tubuhnya.
“Lo bener, tuh sampai ada asap yang keluar dari kepala lo”respon Bara yang membuat Luna melemparinya pulpen.
Ting!
Sebuah pop-up notification
muncul di hp Bara. Ia pun segera membuka pesan tersebut dan kemudian tiba-tiba bangkit.
“Gue balik duluan ya” kata Bara.
“Mau kemana lo?” tanya Dira ingin tahu.
“Orangtua gue udah pulang. Bye!”kata Bara seraya meninggalkan teman-temannya secepat kilat.
“Ini cuma perasaan gue aja atau emang si Bara nggak ada tampang anak rumahannya?” tanya Dira memastikan.
“Gue juga ngerasa dia bukan anak rumahan” jawab Luna setuju.
“Itu karena orangtua dia jarang dirumah makanya kalo orangtuanya pulang, biasanya mereka bakal dinner di luar bareng. Semacam Quality time gitu”jelas Aksa.
“Ya udah, nih mending lo print out tugas kita biar besok tinggal kita jilid. Abis itu gue ama Kalu balik” kata Dira seraya menyerahkan laptopnya. Aksa pun mengangguk dan menerima laptop tersebut.
“Lun, bantu gue dong” kata Aksa yang membuat Luna terkejut karena tak menyangka hal tersebut. Luna pun mengangguk mengerti dan mengikuti Aksa ke kamarnya meninggalkan Dira seorang diri.
Sesampainya di kamar Aksa, Luna masih tidak bisa terbiasa dengan pemandangn action figure yang ada di kamar Aksa meski pun ini sudah kedua kalinya dia ke kamar cowok tersebut
“Thanks ya, Lun” kata Aksa tiba-tiba yang membuat gadis tersebut bingung.
“Makasih buat apa,Sa?”tanya Luna tak mengerti.
“Karena lo milih untuk berdamai ama Bara dan tetap di kelompok ini” jawab Aksa yang membuat Luna salah tingkah.
“Gue juga mau bilang makasih ama lo. Karena lo udah ngertiin keadaan gue” kata Luna seraya tersenyum senang.
“Walaupun bagi gue ngobrol ama orang lain itu susah tapi nggak tau kenapa, kalo ama lo, gue bisa ngobrol tanpa beban” kata Aksa yang membuat jantung Luna berdetak kencang
“Gue juga senang kok bisa ngobrol ama lo” kata Luna malu. Aksa menatapnya dan tersenyum senang.
Luna kembali melihat action figure yang terpajang di kamar Aksa.
"Patung gini buat apaan sih, Sa?" tanya Luna ingin tahu yang membuat Aksa berbalik dengan cepat.
"Luna, tolong ya. Udah gue bilang itu bukan patung tapi Action Figure" jawab Aksa.
"Iya apapun namanya, ini untuk apa?" tanya Luna lagi.
"Koleksi aja sih. Mahal tau itu!" balas Aksa.
"Paling 30 ribuan doang di toko orange" kata Luna yang membuat Aksa melototinya.
"Apa? 30 ribuan? Itu harga bisa sampai puluhan juta tau!" kata Aksa tak terima. Melihat reaksi Aksa membuat Luna semakin semangat menggodanya.
"Masa? Coba gue cek di toko orange" kata Luna dengan nada tak percaya seraya mengeluaran hp-nya.
Luna pun mulai mencari di toko orange dan mendapat sebuah action figure dengan harga murah.
" tuh kan bener, harganya puluhan ribu doang gak sampai puluhan juta. Nih buktinya!" kata Luna seraya menunjukkan hasil yang ia dapat di toko orange pada Aksa.
"itu bukan yang asli-nya, Lun. Ini sih patung-patungan" kata Aksa masih tak terima yang membuat Luna tertawa terbahak-bahak.
"Ternyata lo bisa cemberut juga, Sa? Hahaha" ledek Luna.
"Tau ah, gue kerjain tugas kita aja deh. Lu ngeselin!" kata Aksa seraya kembali menatap komputer.
" Idih, malah ngambek" ledek Luna lagi seraya kembali mengitari kamar Aksa,
Aksa menyelesaikan tugasnya dengan cepat. Ia pun memberikan tumpukan kertas tersebut ke Luna dan ia pun segera mencabut Kabul printer dari laptop Dira. Mereka berdua pun segera kembali ke teras belakang namun saat sampai di ruang makan, Luna meminta izin untuk ke kamar mandi karena sudah kebelet. Aksa pun menunjukkan letak kamar mandi kepada Luna dan mengambil tumpukan kertas yang ada di tangan Luna. Gadis itu pun segera bergegas pergi sementara Aksa menuju ke teras belakang. Namun saat ia semakin mendekat, ia bisa mendengar suara Dira yang sedang menelpon.
“Ia habis ini aku pulang. Tugas ini harus dikumpul besok makanya kita ker-kelnya mendadak. Kan aku sudah bilang kalo ini tuh kelompok permanen, udah nggak bisa di ganggu gugat. Nggak gitu, Dafa. Ini tuh nggak ada hubungannya ama Aksa. Ya udah, ini udah mau selesai kok. Halo.. halo… Dafa? Halo?”
Mendengar hal itu membuat Aksa yakin bahwa Dafa baru saja memutuskan sambungan telponnya dengan Dira. Aksa pun muncul dengan bersikap seolah tak tahu apa-apa.
“Nih laptop lo ama print out tugas tadi” kata Aksa seraya menyerahkannya pada Dira.
“Thanks! Kalu mana?” tanya Dira seraya memasukkan barang-barangnya ke dalam tas dengan buru-buru.
“Lagi ke kamar mandi” jawab Aksa namun tak lama kemudian, Luna muncul.
“Lu, balik sekarang yuk! Gue antar lo balik” ajak Dira yang membuat Luna bingung.
“Oke. Kok lo kayak buru-buru gitu sih,Ndi? Kenapa? Orangtua lo nyariin?” tanya Luna seraya mengemas barang-barangnya.
“Dirumah lagi ada tamu jadi gue disuruh buat cepat balik. Udah siap?:” balas Dira saat Luna mencabut charger hp nya. Luna mengangguk mengiyakan. Mereka pun segera bangkit dan berlalu begitu saja tanpa sempat pamit pada orangtua Aksa.
“Kamu abis ngapain lagi sampai si Dira kayak buru-buru pulang gitu?” tanya Mama tiba-tiba muncul.
“Ma, bisa nggak sih jangan suka tiba-tiba muncul kayak gitu? Dan lagian nih ya, anak Mama itu aku bukan dia. Kok jadi aku yang disalahin sih?” protes Aksa tak terima.
“Habisnya kamu kan suka bikin Dira kesal jadi ya siapa tau aja kali ini kamu bikin masalah lagi” kata Mama yang membuat Aksa menggeleng tak percaya.
“Dia ditelpon ama orangtuanya disuruh balik” kata Aksa singkat sambil berlalu.
... ***...
sejauh ini blm ketemu 'inti ceritanya' nih.....
Kamu BISA!!!!
lucu...lucu...
Tak kira Bara itu pendiam,cool kyk kulkas gk berpintu...
ternyata Ancur juga . ..
salken Mbak...
Novelis baru hrs diberi dukungan & Semangat.....😉🤝💪