"Kamu adalah laki-laki yang bisa membuatku percaya, bahwa tidak semua laki-laki itu brengsek" ~Rania
"Kamu adalah wanita yang membuatku mengerti apa itu cinta" ~Aldrich
Aldrich yang tidak percaya pada cinta semenjak pengkhianatan yang dilakukan oleh suami kakaknya dan membuat kakak satu-satunya meninggal karena bunuh diri.
Akhirnya dipertemukan dengan Rania yang tidak percaya kepada laki-laki, setelah melihat sahabatnya sendiri meninggal karena bunuh diri akibat ditinggal kekasih yang telah menghamilinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anugrah Utarie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saya Takut
"Mommy, Daddy" Aldrich langsung menghampiri kedua orang tuanya. "Kenapa berdiri disini? Mana Adhlino?"
"Mommy dan Daddy baru sampai, jadi belum bertemu dengan Adhlino. Mungkin dia di dalam" Tak lama orang yang dibicarakan keluar darj dalam UGD.
"Bagaimana kondisi Rania?" Mommy Agneta langsung menghampiri asisten putranya.
"Kondisi Nona" Adhlino melirik Aldrich.
"Nanti Mommy lihat sendiri saja ya" Aldrich menjawab pertanyaan Mommy Agneta.
"Sekarang pindahkan dia ke ruang VVIP di rumah sakit ini, cepat" perintah Mommy Agneta.
"Baik Nyonya" Adhlino langsung pergi ke administrasi untuk mengurus pemindahan ruangan Rania.
Setelah selesai diurus, Rania segera dipindahkan ke ruangan VVIP oleh perawat. Sehingga Aldrich dan kedua orang tuanya segera masuk ke dalam ruangan tersebut diikuti oleh Adhlino.
Rania masih belum sadar karena masih dalam pengaruh obat tidur yang diberikan oleh perawat sesuai perintah Adhlino.
"Kenapa dia masih belum sadar?" Aldrich heran, karena seharusnya Rania sudah sadar.
"Nona tadi sudah sadar Tuan, tapi karena Nona bersikeras ingin pulang ke hotel makanya saya meminta perawat untuk memberinya obat tidur"
"Ohh" Aldrich melangkah menuju sofa untuk meletakkan tas yang dibawanya. Sedangkan Mommy Agneta sudah duduk disamping ranjang Rania menunggu calon menantunya sadar.
Mata Rania perlahan mulai terbuka setekah pengaruh obat tidurnya habis. Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Ia melihat Aldrich duduk di sofa bersama Daddy Aiden dan Adhlino. Rania merasa sedikit heran karena orang tua Aldrich ada di ruangannya.
"Kamu sudah sadar sayang?" suara lembut seorang wanita paruh baya membuat Rania menoleh kepadanya. Karena sebelumnya Rania menatap lurus ke arah sofa.
"Auntie" suaranya masih terdengar lemah.
"Iya sayang, ini Auntie" Mommy Agneta membelai lembut rambut Rania dan membuat wanita itu merasakan kehangatan seorang Ibu. Karena Bundanya berada jauh darinya.
"Kapan Auntie datang?" tanya Rania sambil membetulkan selimutnya. Pakaiannya sudah berubah menjadi pakaian rumah sakit.
"Baru saja sayang, setelah Aldrich menghubungi Auntie tadi pagi. Auntie langsung terbang ke sini" jawab Mommy Agneta.
Ceklek
"Selamat siang" dokter Lucas masuk ke dalam ruangan Rania bersama perawat yang membawa kursi roda dan langsung menuju ke ranjang Rania.
"Siang dokter" jawab Rania singkat.
"Baiklah Nona, Nona akan melakukan terapi yang pertama. Nurse bantu pasien untuk duduk di kursi roda" perintah dokter Lucas dan perawat langsung membantu Rania untuk bisa berpindah ke kursi Roda.
Rania menurunkan kaki kirinya dan menahan kaki kanannya agar tidak menjejak lantai. Perawat memeganginya agar duduk di kursi roda.
"Memangnya bagaimana kondisinya dokter? Kenapa harus di terapi?" Mommy Agenta yang belum mengetahui kondisi Rania jadi heran karena Rania harus di terapi.
Dokter menjelaskan kondisi Rania dan membuat Mommy Agneta kaget. "Lakukan yang terbaik dokter"
"Iya Nyonya, kami akan berusaha yang terbaik untuk kesembuhan pasien" dokter Lucas langsung pergi setelah mengatakan hal itu diikuti oleh perawat yang mendorong kursi roda Rania.
Sampai di ruang terapi, Rania langsung duduk di kursi dan kakinya dibiarkan menjuntai ke bawah. Dokter Lucas mulai melakukan terapinya dengan membuka pembalut yang menutupi kaki Rania. Selama terapi berlangsung dengan susah payah Rania menahan rasa sakit di kakinya. Kemudian dokter Lucas meminta Rania untuk berjalan. Namun baru saja ia menjejakkan kedua kakinya, ia langsung tumbang.
"Aww" Rania terjerembab ke lantai dan langsung dibantu berdiri oleh dokter Lucas. Kemudian membawa Rania kembali ke kursi roda. Rania langsung menangis setelah kejadian tersebut. "Apa saya masih bisa menggunakan kaki saya dokter?" Rania jadi putus asa.
"Tenang Nona, Nona harus yakin kalau Nona bisa sembuh. Nona baru melakukan terapi satu kali. Jadi jangan menyerah, Nona harus semangat" dokter Lucas memberikan semangat kepada pasiennya.
Rania hanya diam dan berusaha berdamai dengan hatinya. Ia mencoba merenungi kata-kata dokter Lucas. Memang memberi semangat kepada orang-orang lebih gampang dibandingkan dengan kita yang berada di posisi orang tersebut. Rania sekarang paham bagaimana rasanya putus asa yang dialami sahabatnya. Ternyata memang menyakitkan untuk menerima semuanya dengan lapang dada.
Rania menghampus air matanya dan meminta perawat mengantarnya kembali ke ruanganya. Namun akhirnya dokter Lucas yang mengantar dirinya.
Diujung koridor menuju lift yang digunakan untuk membawa pasien. Seseorang menyapa dokter Lucas.
"Hai Luc, kau mau kemana?" dokter Daniel mengahampiri mereka berdua.
"Mau mengantar pasienku, apa kau tidak lihat aku sedang bersamanya?" dokter Lucas mentap tajam sahabatnya.
"Santai bro, kan aku hanya bertanya" dokter Daniel menepuk pundak dokter Lucas.
Mata dokter Daniel tertuju pada pasien yang sedang bersama dokter Lucas. "Hallo Nona, kamu cantik sekali" goda dokter Daniel sambil tersenyum menatap Rania. Dokter Daniel memang terkenal suka tebar pesona dengan wanita-wanita cantik yang ia temui di Rumah Sakit.
Rania hanya diam dan melirik dokter Daniel dengan tatapan tajam membuat senyum dokter Daniel langsung hilang seketika.
Ting
Pintu lift terbuka dan orang-orang yang sebelumnya berada di dalam kotak besi tersebut langsung keluar. Setelah semua orang keluar, dokter Lucas mendorong kursi roda Rania tanpa mempedulikan dokter Daniel yang masih berdiri mematung di depan lift.
"Hmmm, tumben banget Lucas mau mengantar langsung pasiennya. Biasanya mana mau dia repot-repot seperti itu" dokter Daniel tampak sedang berpikir. "Jangan-jangan Lucas suka sama pasien wanita itu" dokter Daniel tersenyum penuh arti, kemudian langsung pergi dari depan lift.
Sampai di depan ruangannya Rania membuka pintu dan membuat semua yang ada di dalam ruangannya menoleh ke arah Rania. Dokter Lucas segera mendorong kursi roda Rania ke dalam dan langsung di hampiri oleh Mommy Agneta.
"Sudah selesai sayang terapinya?" tanya Mommy Agneta.
"Sudah Auntie" Rania berusaha tersenyum meski hatinya masih merasa hancur berantakan karena kondisinya.
Dokter Lucas kembali mendorong kursi roda Rania dan membantu Rania untuk naik ke ranjangnya. Hal itu sedikit membuat Aldrich terganggu. Ada perasaan yang mengganjal di hatinya saat melihat dokter Lucas menyentuh Rania.
"Terimakasih dokter" ucap Rania dan tersenyum kepada dokter Lucas.
"Sama-sama Nona, kalau gitu saya permisi dulu" dokter Lucas langsung pergi dari ruangan Rania. Membuat ruangan itu langsung senyap seketika.
"Auntie dan Paman sebaiknya pulang saja ke hotel bersama Tuan Aldrich" suara Rania memecahkan keheningan diantara semuanya.
"Tapi nanti kamu sendiri disini sayang, biarkan Aldrich yang menemanimu ya. Auntie dan Paman akan pulang bersama Adhlino saja" ucap Mommy Agneta tersenyum penuh arti.
"Tidak perlu Auntie, kasian Tuan Aldrich kalau harus menemani saya disini. Karena menginap di Rumah Sakit itu tidaklah enak" Rania berusaha membujuk Mommy Agneta.
"Aldrich... Apa kamu keberatan menemani Rania disini?" pertanyaan Mommy Agneta membuat Aldrich kaget.
"Ti.. dak Mom, aku tidak masalah kalau harus menemaninya disini. Kalau perlu aku akan selalu menemaninya" jawab Aldrich gugup dan membuat Rania menatapnya heran. Karena jawaban Aldrich terdengar ambigu di telinganya.
"Nah sayang, Aldrich saja tidak keberatan menemani kamu disini. Auntie dan Paman pulang dulu ya. Ayo Mas" Mommy Agneta langsung beranjak dari samping ranjang Rania dan mengajak suaminya pergi dari ruangan Rania. Otomatis Adhlino ikut berdiri mengikuti Tuan dan Nyoya besar keluarga Bagaskara.
Tinggalah Aldrich sendiri duduk di sofa menemani Rania yang sedang menatap lurus dirinya.
"Kenapa menatapku seperti itu?" Aldrich berdiri dan menghampiri Rania.
"Tidak, siapa juga yang menatap Tuan?" Rania mencoba mengelak, padahal dari tadi dia memang memperhatikan Aldrich.
"Oh, ya sudah. Aku pergi saja" Aldrich membalikkan tubuhnya bermaksud meninggalkan Rania.
"Eh jangan, saya takut sendirian di Rumah Sakit" Rania menghentikan Aldrich dengan wajah yang ia tutupi dengan tangan karena merasa malu.
"Perasaan tadi ada yang mengatakan kalau dia tidak apa-apa sendiri di Rumah Sakit" ucap Aldrich sarkas, dan membuat Rania semakin malu dibuatnya.
"Siapa? Saya tidak mengatakan apapun" Rania mengalihkan pandangannya agar Aldrich tidak melihat wajahnya yang sudah merah seperti kepiting rebus.
"Ohh, mungkin hantu yang mengatakannya tadi, hihihi" bisik Aldrich di telinga Rania.
"Hantu dimana?" Rania langsung langsung menoleh dan mencengkram tangan Aldrich yang berdiri di samping ranjangnya.
"Ini disampingku" jawaban Aldrich membuat Rania terlonjak kaget dan langsung menarik selimut untuk menutupi wajahnya karena dia sangat takut dengan yang namanya hantu.
.
.
.
.
bersambung
gimana Kenzie dan Liana?
gimana anak2 Riana dan Aldrich?
walaupun akan menghadapi kemarahan suami tapi setidaknya sudah menggigit dan menjambak Leo...