"
Clara, mantan pacar Arga, tiba-tiba mengaku hamil. Keluarga besar menyambutnya bahagia. Dan Arga langsung menyodorkan surat cerai kepada Naya tanpa memberi satu menit pun untuk penjelasan. Naya diusir begitu saja. Besoknya ayah Naya jatuh sakit secara misterius. Dunianya hancur. Tapi Naya tidak mati. Lima tahun kemudian ia kembali untuk membuat perhitungan. Ia bukan lagi istri buangan. Ia desainer sukses dengan dua anak kembar di sisinya. Saat tanpa sengaja Arga melihat kedua bocah itu, dadanya langsung sesak karena wajah mereka adalah wajahnya sendiri.
Kembaliny Naya membuat Clara panik. Rahasia busuk yang ia kubur selama lima tahun mulai merangkak naik. Arga akhirnya menyelidiki dan menemukan kenyataan yang menghancurkannya: Naya tidak pernah bersalah. Istrinya dulu ia buang tanpa dosa. Tapi penyesalannya sudah tidak ada artinya. Karena sekarang Naya yang memegang kendali. Untuk apa kembali pada lelaki yang dulu membuangmu seperti sampah? Kecuali kau memang datang untuk menghancurkannya. Dan kali ini Naya tidak akan berhenti. Tidak akan memaafkan. Tidak akan kembali."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17 - Ayah Membuka Mata
Arga belum sempat menekan bel kedua ketika Clara membuka pintu.
Wajah perempuan itu pucat, tapi matanya masih basah dengan air mata yang sudah ia siapkan.
"Mas Arga."
"Boleh masuk?"
Clara menyingkir.
Apartemen Clara rapi. Terlalu rapi. Ada foto Bintang di meja, beberapa vas bunga, dan aroma lilin mahal. Dulu Arga sering datang ke tempat ini karena Bu Ratna meminta ia memastikan Clara dan Bintang baik-baik saja.
Hari ini ia datang bukan untuk memastikan.
Ia datang untuk bertanya.
"Kamu tahu kenapa aku ke sini," kata Arga.
Clara menutup pintu perlahan.
"Karena Naya lagi-lagi membuatmu salah paham."
Arga menatapnya.
"Aku belum menyebut Naya."
Clara menggigit bibir.
"Semua ini pasti karena dia."
"Desain Avara bocor. Melati bertemu kamu."
"Aku memang bertemu Melati. Dia temanku. Apa itu salah?"
"Di jam yang sama saat file dicuri."
"Mas, aku tidak paham desain. Untuk apa aku mencuri?"
Arga mengeluarkan ponsel, menunjukkan foto CCTV.
"Kamu juga menghubungi Adrian."
Wajah Clara membeku.
"Adrian itu direktur Mahendra. Wajar kalau aku kenal."
"Kamu kenal terlalu banyak orang di tempat yang salah."
Air mata Clara jatuh.
"Kamu datang untuk menghakimiku?"
"Aku datang untuk mendengar jawaban."
"Tidak. Kamu sudah percaya Naya. Apa pun yang aku katakan, kamu tidak akan percaya."
Dulu kalimat itu berhasil. Dulu Arga akan diam, merasa bersalah, lalu membiarkan Clara menggiring arah pembicaraan.
Hari ini ia hanya berkata, "Benar. Kalau jawabanmu tidak masuk akal, aku tidak akan percaya."
Clara tertegun.
Arga melanjutkan, "Malam lima tahun lalu. Naya meneleponku saat ayahnya jatuh. Kamu yang menjawab?"
Clara mundur setengah langkah.
"Aku..."
"Jawab."
"Aku tidak ingat."
"Aku ingat ponselku ada padamu beberapa kali."
"Saat itu aku kesakitan. Aku panik. Bu Ratna panik. Kamu juga panik."
"Kamu menjawab?"
Clara mulai menangis lebih keras.
"Kalau iya, lalu kenapa? Aku sedang hamil. Aku takut kehilangan anakku. Naya menelepon terus, suaranya marah, menuduhku. Aku hanya ingin kamu fokus pada kami."
Kami.
Arga merasa sesuatu di dadanya turun dingin.
"Dia bilang ayahnya jatuh?"
Clara diam.
"Clara."
"Aku tidak ingat jelas!"
"Dia bilang?"
Clara menutup wajah.
"Mungkin."
Arga mundur satu langkah.
Mungkin.
Satu kata itu cukup.
Naya tidak berbohong.
Selama lima tahun, Arga hidup dengan keyakinan bahwa Naya pergi karena marah, karena kalah, karena akhirnya lelah. Ia tidak pernah tahu perempuan itu meminta tolong dan ditolak oleh suara lain.
"Kenapa kamu mematikan ponselku?"
Clara menangis.
"Aku takut kamu pergi ke dia."
Arga menatapnya lama.
"Ayahnya sekarat."
"Aku juga takut kehilangan anak!"
"Kamu bahkan tidak keguguran."
Kalimat itu keluar dingin.
Clara membeku.
"Apa maksudmu?"
"Rekam medis malam itu sedang aku minta ulang."
Wajah Clara berubah.
Arga melihatnya. Jelas.
"Keluar dari proyek Avara. Jangan hubungi Adrian. Jangan ganggu Naya dan anak-anak."
"Kamu mengancamku?"
"Aku memperingatkan."
"Mas, kamu tidak bisa memperlakukanku seperti musuh. Aku ibu Bintang."
Arga berhenti di depan pintu.
"Itu juga akan kita bicarakan nanti."
Clara memucat.
"Apa maksudmu?"
Arga tidak menjawab. Ia keluar dan menutup pintu.
Di dalam apartemen, Clara berdiri gemetar. Air matanya berhenti. Wajahnya berubah dari sedih menjadi marah.
Ia mengambil ponsel dan menelepon Adrian.
"Arga mulai mencurigai semuanya."
Di seberang, Adrian mengumpat.
"Aku sudah bilang jangan terlalu sering bergerak."
"Jangan menyalahkanku. Kalau aku jatuh, aku akan buka semua tentang Wira Sandang."
"Kamu mengancamku?"
"Aku mengingatkan."
Adrian tertawa pendek.
"Hati-hati, Clara. Orang yang terlalu banyak mengingatkan biasanya lebih dulu dibungkam."
Panggilan terputus.
Clara menggenggam ponsel sampai tangannya gemetar.
Di rumah sakit Menteng, Naya baru saja selesai berdiskusi dengan dokter ayahnya saat monitor di kamar Pak Bagas berbunyi sedikit lebih cepat.
Perawat menoleh.
"Bu Naya, sebentar."
Naya mendekat.
Jari Pak Bagas bergerak.
Sangat kecil.
Hampir seperti ilusi.
"Ayah?"
Dimas yang baru masuk membawa kopi langsung berhenti.
"Nay?"
"Mas, jari Ayah..."
Perawat memanggil dokter. Dalam beberapa menit, kamar yang biasanya sunyi menjadi penuh gerakan. Dokter memeriksa refleks, pupil, respons nyeri, dan memanggil nama Pak Bagas berulang.
"Pak Bagas, bisa dengar saya?"
Tidak ada jawaban.
Lalu kelopak mata Pak Bagas bergetar.
Naya menutup mulutnya.
Dimas mencengkeram sandaran kursi.
Perlahan, sangat perlahan, mata Pak Bagas terbuka.
Kosong.
Bingung.
Namun terbuka.
"Ayah," suara Naya pecah.
Ibu Mira yang baru tiba di pintu hampir jatuh jika tidak ditahan Dimas.
"Mas Bagas..."
Pak Bagas menggerakkan mata. Napasnya berat. Bibirnya terbuka sedikit, tapi tidak ada suara yang jelas.
Dokter meminta semua orang tenang.
"Beliau baru sadar. Jangan banyak pertanyaan. Responsnya masih sangat lemah."
Naya mengangguk sambil menangis.
Ia tidak berani menyentuh terlalu kuat. Ia hanya menggenggam tangan ayahnya.
"Ayah, ini Naya."
Mata Pak Bagas bergerak ke arahnya.
Ada air di sudut mata pria itu.
"Na..." Suaranya serak, nyaris hilang.
"Iya, Yah. Naya di sini."
Ibu Mira menangis. Dimas memalingkan wajah, tetapi bahunya bergetar.
Setelah lima tahun, rumah mereka seperti mendapat satu napas kembali.
Lala dan Rafi datang satu jam kemudian bersama Rendra. Mereka diminta tidak terlalu dekat, tapi Lala tetap berdiri di ujung ranjang dan melambaikan tangan kecil.
"Kakek, Lala datang."
Rafi berdiri tegak.
"Kakek harus cepat sembuh. Banyak yang perlu kita bicarakan."
Naya menatapnya.
Rafi menunduk sedikit.
"Nanti kalau dokter izinkan."
Pak Bagas menatap dua anak itu dengan bingung, lalu matanya kembali pada Naya. Seolah bertanya.
Naya tersenyum sambil menangis.
"Mereka anak Naya, Yah. Lala dan Rafi."
Pak Bagas berkedip lambat.
Air matanya bertambah.
Malam itu, kabar Pak Bagas sadar sampai ke Arga lewat Banyu.
Arga langsung menuju rumah sakit.
Namun di depan ruang perawatan, Dimas menghadangnya.
"Kamu mau apa?"
"Aku dengar Pak Bagas sadar."
"Lalu?"
"Aku ingin melihatnya."
Dimas tertawa dingin.
"Waktu dia jatuh, kamu tidak datang. Waktu dia koma lima tahun, kamu tidak pernah bertanya. Sekarang dia sadar, kamu ingin melihat?"
Arga menerima setiap kata.
"Aku tahu aku tidak punya hak."
"Bagus kalau tahu."
"Tapi ada hal yang harus aku sampaikan. Tentang Wira Sandang."
Dimas menatapnya tajam.
"Sampaikan lewat pengacara."
Pintu kamar terbuka. Naya keluar.
Matanya masih merah, tapi wajahnya tenang.
"Mas, biarkan dia masuk sebentar."
Dimas menoleh.
"Nay."
"Ayah yang memutuskan."
Arga menatap Naya. Ia ingin berkata terima kasih, tapi kata itu terasa terlalu kecil.
Ia masuk dengan langkah pelan.
Pak Bagas berbaring lemah. Wajahnya kurus, tapi matanya bergerak saat melihat Arga.
Reaksi itu langsung jelas.
Marah.
Monitor berbunyi lebih cepat.
Dokter yang masih di dalam memperingatkan, "Jangan buat pasien stres."
Arga berhenti beberapa langkah dari ranjang.
"Pak Bagas," katanya rendah. "Saya Arga."
Pak Bagas berusaha menggerakkan tangan. Naya mendekat, menggenggam tangan ayahnya.
"Ayah tenang."
Pak Bagas menatap Naya, lalu Arga. Bibirnya bergerak.
Suaranya sulit keluar.
Dimas mendekat.
"Ayah mau bilang apa?"
Pak Bagas memaksa. Kata-katanya patah.
"Bu...kan... Naya..."
Naya membeku.
Arga menatapnya.
Pak Bagas mengulang dengan napas berat.
"Bukan... Naya... yang salah..."
Air mata Naya jatuh lagi.
Arga merasa dadanya dihantam.
Pria yang baru sadar dari koma lima tahun, dengan tubuh lemah dan suara hampir habis, masih memakai tenaga pertamanya untuk membela Naya.
Karena dulu tidak ada yang membelanya.
Pak Bagas menatap Arga, matanya basah tapi tajam.
"Kamu... salah..."
Arga menunduk.
"Iya, Pak. Saya salah."
Pak Bagas memejamkan mata, lelah.
Dokter meminta semua orang keluar.
Di lorong, Naya berdiri diam.
Arga ingin mendekat, tapi Dimas berdiri di antara mereka.
"Cukup untuk hari ini," kata Dimas.
Arga mengangguk.
Sebelum pergi, ia menatap Naya.
"Aku akan cari semua yang terjadi."
Naya tidak menjawab.
Pak Bagas yang berbaring di ranjang membuka mata sedikit. Suaranya hampir tidak terdengar, tetapi cukup membuat mereka berdua menoleh.
"Jangan cari untuk menebus rasa bersalah saja."
Arga menunduk. "Saya mengerti, Pak."
"Belum tentu." Pak Bagas menarik napas. "Cari karena anak saya berhak hidup tanpa fitnah."
Naya menggenggam tangan ayahnya. Arga tidak membela diri. Untuk pertama kalinya, ia menerima bahwa orang yang pernah ia sebut keluarga punya hak untuk tidak percaya padanya.
Namun kali ini, ia juga tidak menyuruhnya berhenti.