Clarissa Pratama, istri lemah dari Dominic sang pewaris klan elit, selalu menjadi korban fitnah kejam Helena yang mengincar posisinya. Namun, setelah insiden fatal yang hampir merenggut nyawanya, tubuh Clarissa tidak lagi sama. Jiwa Ratu Victoria, seorang penguasa tangguh dari masa lalu, terbangun di dalam dirinya. Bagi Victoria, intrik domestik klan Pratama hanyalah permainan amatir. Dengan kecerdasan tajam dan wibawa mutlak, Clarissa yang baru mulai membalikkan keadaan. Ia mematahkan setiap perangkap Helena secara elegan, membuat Dominic terpikat sekaligus curiga. Sang Ratu telah kembali, siap mempertahankan mahkotanya dan menghancurkan siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 17. Ular terjepit
Kediaman utama klan Pratama siang itu diselimuti suasana tegang yang mencekam. Suara bisik-bisik ketakutan dari para pelayan terhenti seketika begitu derap langkah sepatu hak tinggi Clarissa bergaung membelah lantai marmer ruang tamu utama.
Di tengah ruangan megah tersebut, suasana sudah bagaikan neraka yang siap meledak. Bibi Sarah berdiri dengan napas memburu dan raut wajah yang hancur, pucat pasi bercampur merah padam akibat rasa malu yang tak tertahankan.
Paman Harun, suaminya, berdiri di sudut ruangan dengan wajah kelam menahan murka mutlak, sementara Aris menunduk kaku tanpa berani mengangkat wajahnya.
Skenario di hotel semalam adalah mahakarya kehancuran yang sangat memalukan. Di depan mata Kakek Silas, Paman Harun, seluruh keluarga besar klan Pratama, hingga puluhan jepretan kamera wartawan, Bibi Sarah tertangkap basah sedang berada dalam situasi panas yang sangat memalukan bersama pria sewaan di kamar VIP tersebut!
Di kepala Bibi Sarah yang mendidih dan
dipenuhi dendam membara, ia sangat meyakini bahwa seluruh malapetaka dan kehancuran harga dirinya ini pasti ulah Clarissa—si menantu yang belakangan ini mendadak berubah licik.
Melihat Clarissa melangkah masuk dengan gaun sutra marun dan jubah hitam yang melambai amat anggun, seluruh histeria dan rasa malu Bibi Sarah seketika meledak liar.
"PEREMPUAN IBLIS!" jerit Bibi Sarah dengan suara parau melengking.
Dengan mata membelalak penuh dendam, Bibi Sarah menerjang maju dan melempar pukulan penuh amarah.
PLAK!
Suara tamparan keras memecah keheningan ruangan. Wajah Clarissa sedikit tersengkelit ke samping. Namun, tidak ada jeritan, tidak ada tangisan, dan tidak ada raut kesakitan di wajah cantik itu.
Clarissa secara perlahan menegakkan punggungnya. Ia merapikan helai rambutnya yang sedikit berantakan dengan jemari lentiknya, lalu menatap Bibi Sarah dengan sepasang mata jernih yang amat tenang, menyunggingkan senyuman paling anggun sekaligus paling menyengat emosi.
"Aduh, Bibi..." tutur Clarissa dengan suara yang mengalun amat lembut, bernada manis yang begitu memancing amarah.
"Mengapa Bibi menumpahkan amarah dan tamparan keras ini padaku? Bukankah bukan aku yang memandu Kakek Silas, Paman Harun, dan semua orang ke kamar panas itu?"
Bibi Sarah mendesis, dadanya naik turun dengan mata bersimbah amarah.
"KAU! KALAU BUKAN KAU, SIAPA LAGI YANG SANGGUP MENJEBAKKU SEPERTI INI, HAH?!"
Clarissa menyunggingkan senyuman tipis yang sangat berkelas, memancing emosi Sarah makin membara.
"Buka matamu lebar-lebar, Bibi," bisik Clarissa dengan suara jernih yang memotong keheningan.
"Siapa yang kemarin malam berlari-lari membawa Kakek dan semua orang ke depan pintu kamar itu dengan wajah berbinar sok pahlawan? Helena. Helena kesayangan Bibi sendiri yang membawa seluruh klan Pratama dan wartawan ke sana untuk menyaksikan pertunjukan 'panas' milik Bibi."
Deg!
Kata-kata Clarissa menghantam kesadaran Bibi Sarah bagaikan godam besar. Kejadian semalam berputar liar di kepalanya. Barulah detik itu kesadaran itu menamparnya telak.
Benar... Helena! Helena yang begitu gencar memandu Kakek Silas dan mengarahkan rombongan ke kamar VIP tersebut! Helena yang berakting histeris memanggil semua orang!
Di mata Sarah yang baru tersadar, Helena kesayangannya yang selama ini ia belakangi justru menjadi pengkhianat busuk yang mempermalukannya di depan suami, anak, Kakek Silas, dan seluruh bursa saham nasional!
"H-Helena...?" bisik Bibi Sarah gemetar, raut wajahnya berubah dari syok menjadi murka yang amat sangat mengerikan. "Anak jalang itu... dia yang mempermalukanku?!"
Amarah Bibi Sarah membakar habis sisa akal sehatnya. Ia berbalik histeris, berniat melangkah pergi.
"AKU AKAN MEMBUNUHNYA! AKU AKAN—"
PRANG! BRAK!
Sebuah kayu ukir naga tebal melayang keras di udara dan menghantam meja kaca di tengah ruangan hingga hancur berkeping-keping.
"CUKUP!"
Suara menggelegar Kakek Silas memecah udara. Sang Patriark berjalan turun dari puncak tangga dengan langkah lebar dan wajah yang merah padam oleh murka mutlak. Matanya memancarkan amarah besar yang menghancurkan wibawa klan.
Kakek Silas berdiri tepat di hadapan Bibi Sarah. Sebelum Bibi Sarah sempat menyadari posisinya.
PLAK!
Tamparan dahsyat dari tangan Kakek Silas mendarat telak di pipi Bibi Sarah hingga tubuh wanita itu terhuyung dan tersungkur ke marmer yang dingin.
"Kakek... dengarkan aku dulu, aku—"
PLAK!
Belum sempat Bibi Sarah menyelesaikan kalimatnya, tamparan kedua kembali dilayangkan Kakek Silas dengan kekuatan yang tak kalah keras, membungkam mulut wanita itu seketika.
"K-Kakek, ini semua jebakan—"
PLAK!
Untuk ketiga kalinya, tamparan keras Kakek Silas kembali menghantam wajah Bibi Sarah, membuat sudut bibir wanita itu berdarah. Suara tamparan beruntun itu bergaung memenuhi seluruh ruangan yang membisu.
"Wanita tidak tahu diri!" bentak Kakek Silas dengan suara menggelegar, dadanya naik turun menahan amarah yang membakar. "Kau sudah mempermalukan nama besar Pratama di depan puluhan kamera! Kau membuat keluarga ini menjadi bahan tertawaan seluruh negeri!"
Bibi Sarah memegangi pipinya yang bengkak dan memerah, tersungkur di lantai sambil menangis histeris tanpa berani membuka mulutnya lagi. Paman Harun dan Aris hanya bisa memalingkan wajah dalam kehinaan mutlak.
Di tengah pemandangan yang teramat memuaskan tersebut, Clarissa berdiri sangat anggun. Ia mengusap pipinya sendiri yang tadi sempat ditampar Sarah, lalu menyunggingkan senyuman dingin yang sangat halus di balik jemari lentiknya.
Melihat wanita yang dulu sering meracuninya kini tersungkur bagai anjing terbuang di kaki Kakek Silas memberikan kepuasan yang teramat manis bagi Victoria.
Clarissa merapikan jubah hitam di bahunya, menatap sosok Bibi Sarah yang meraung kesakitan dari sudut matanya.
Sarah... ini baru permulaan.
sangat menarik sekali