Indonesia
NovelToon NovelToon
Sistem: Karir Mingguan

Sistem: Karir Mingguan

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Fantasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Rachmat Rachimullah

### KARIR MINGGUAN

Reyhan hanyalah pria biasa dengan kehidupan yang stagnan. Sampai suatu malam, sebuah sistem misterius muncul dan mengubah hidupnya.

**[SISTEM KARIR MINGGUAN TELAH AKTIF.]**

Setiap minggu, Reyhan akan mendapatkan profesi yang berbeda—kurir, guru, pedagang, mekanik, programmer, hingga pekerjaan yang tak pernah ia bayangkan.

Setiap profesi memiliki misi dan batas waktu tujuh hari.

Jika berhasil, **reward luar biasa** menantinya.

Awalnya Reyhan mengira semua ini hanya keberuntungan.

Namun semakin banyak profesi yang ia jalani, semakin ia menyadari bahwa semuanya saling terhubung.

**Sistem itu tidak sedang memberinya pekerjaan.**

Sistem sedang mempersiapkannya untuk menjadi seseorang yang jauh lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachmat Rachimullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Modal 500 Ribu

# Bab 17 — Modal Rp500 Ribu

Pagi itu Reyhan bangun jauh lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum azan subuh selesai berkumandang dari masjid dekat kosnya. Sisa modalnya tinggal seratus lima puluh ribu setelah membeli gerobak kemarin, dan dia tahu betul, kalau perhitungannya sampai meleset sedikit saja, dia bisa kehabisan bahan baku sebelum hari pertama jualan bahkan dimulai.

Ia duduk di lantai kamar kosnya, buku catatan kecil terbuka di depannya, ponsel di tangan kanan untuk menghitung, pulpen di tangan kiri untuk mencatat.

"Oke, seratus lima puluh ribu. Harus muat buat beras, minyak, telur, bawang, cabe, sama kecap," gumamnya sambil mencoret-coret.

Ia membuka aplikasi belanja online sebentar, membandingkan harga di pasar tradisional dengan toko kelontong dekat kosnya. Setelah menghitung-hitung, dia memutuskan langsung ke pasar pagi supaya dapat harga paling murah, meski itu berarti harus berangkat sebelum matahari benar-benar terbit.

Di pasar, Reyhan berjalan dari satu lapak ke lapak lain, mencoba menawar dengan gaya yang jauh dari lihai canggung, kaku, tapi penuh usaha.

"Bu, beras yang ini berapa seliternya?" tanyanya ke seorang penjual beras.

"Sepuluh ribu, Dek."

"Kalau saya beli lima liter, boleh kurang nggak, Bu?"

Ibu penjual itu tertawa kecil melihat wajah Reyhan yang serius sekali menawar untuk urusan sekecil itu. "Ya udah, empat puluh lima ribu aja buat lima liter."

"Wah, makasih banyak, Bu."

Ia melanjutkan ke lapak sayur dan bumbu, membeli bawang merah, bawang putih, cabe, dan kecap dengan jumlah seminimal mungkin tapi cukup untuk dua hari pertama jualan. Sampai di lapak telur, dia sempat berhenti lama, menghitung-hitung dalam hati.

"Bang, telur ayam yang ini satu kilo berapa?"

"Dua puluh delapan ribu."

Reyhan menatap uangnya yang tersisa, lalu menatap telur itu lagi. "Setengah kilo aja deh, Bang. Nanti kalau laris saya balik lagi beli lebih."

"Oke, empat belas ribu."

Setelah semua belanjaan terkumpul, Reyhan menghitung ulang sisa uangnya, dua belas ribu rupiah. Ia menghela napas panjang, merasa seperti baru saja melewati ujian matematika paling menegangkan dalam hidupnya bukan soal rumus rumit, tapi soal bagaimana membuat uang seratus lima puluh ribu benar-benar cukup.

Saat berjalan menuju keluar pasar, dia berpapasan dengan seorang penjual sayur keliling yang kebetulan dulu pernah jadi salah satu pelanggan kurirnya minggu lalu. Namanya Bu Painem, sudah berumur, tapi masih semangat mendorong gerobak sayurnya sendiri setiap pagi.

"Lho, ini kan yang dulu anter paket ke rumah saya?" Bu Painem menyapa duluan, agak kaget melihat Reyhan berdiri di pasar dengan kantong belanjaan penuh.

"Iya, Bu, saya. Sekarang lagi coba jualan nasi goreng, Bu," jawab Reyhan, sedikit malu mengakui perubahan pekerjaannya yang terkesan aneh dari luar.

"Wah, hebat. Dagang emang capek, tapi kalau tekun, lama-lama hasil kok." Bu Painem tersenyum, matanya menyipit karena bertahun-tahun terpapar terik matahari pasar. "Jualan di mana nanti?"

"Belum pasti, Bu. Lagi nyari lokasi yang rame."

"Coba deh, jangan cuma modal doang yang dipikirin. Rasa juga penting, tapi yang paling penting itu konsisten. Orang pasar itu ingetnya bukan yang paling enak, tapi yang paling sering ada di situ tiap hari."

Reyhan mengangguk-angguk, mencatat nasihat itu dalam hati meski tidak sempat menuliskannya di buku catatan. "Makasih, Bu. Bermanfaat banget itu."

"Ya udah, saya lanjut dulu ya, Dek. Semoga laris jualannya."

"Aamiin, makasih, Bu Painem."

Sekembalinya ke kos, dia menelepon Dimas lagi, kali ini bukan untuk resep, tapi untuk memastikan takaran bumbu yang benar supaya tidak ada bahan yang terbuang sia-sia.

"Dimas, sori ganggu lagi. Aku mau pastiin takaran sambal matahnya. Bawang merahnya berapa banyak buat satu porsi?"

"Sekitar tiga sampai empat siung per porsi, Pak. Tapi jangan dipotong tipis-tipis banget, biar teksturnya masih ada."

"Terus cabenya?"

"Dua sampai tiga, tergantung selera pedes orang situ. Kalau daerah Bapak jualan orangnya suka pedes, boleh nambah dikit."

"Oke, noted. Makasih, Dimas."

"Santai aja, Pak. Eh, boleh nanya balik nggak?"

"Boleh, kenapa?"

"Bapak jualan di mana, sih? Kalau deket, saya sama temen-temen mau mampir beli."

Reyhan tertawa kecil mendengar itu. "Belum tau lokasi pastinya, masih nyari. Nanti kalau udah fix, aku kabarin kamu deh."

"Siap, Pak. Semangat ya!"

Sore harinya, Reyhan berkeliling area sekitar kosnya dengan gerobak barunya, mencoba mencari lokasi paling strategis untuk mangkal. Ia teringat wejangan bapak tua penjual gerobak kemarin cari area yang dilewati orang pulang kerja, jam lima sampai jam delapan malam.

Ia berhenti di sebuah trotoar dekat kompleks perkantoran kecil, memperhatikan arus orang yang mulai keluar dari gedung-gedung sekitar situ. Seorang satpam yang berjaga di depan salah satu gedung menghampirinya.

"Mas, mau jualan di sini?" tanya satpam itu, nadanya tidak terlalu ramah.

"Iya, Pak. Boleh nggak ya kalau saya mangkal di sini?"

"Waduh, ini area gedung, Mas. Biasanya sih boleh asal nggak ganggu jalan orang lewat sama nggak numpuk sampah sembarangan."

"Siap, Pak. Saya jaga kebersihan, tenang aja."

"Ya udah, coba aja dulu. Tapi kalau ada komplain dari pihak gedung, saya minta pindah ya."

"Baik, Pak. Makasih banyak."

Satpam itu memperhatikan gerobak Reyhan sebentar, lalu tersenyum kecil. "Baru mulai jualan ya, Mas? Kayaknya gerobaknya masih kinclong, belum banyak baret."

Reyhan tertawa kikuk. "Ketauan ya, Pak? Iya, ini hari pertama saya."

"Nggak apa-apa, semua orang juga pernah jadi pemula. Dulu saya juga jualan gorengan sebelum jadi satpam di sini, tau nggak?"

"Serius, Pak? Kok bisa pindah jadi satpam?"

"Ya, capek juga jualan tiap hari, untungnya nggak seberapa. Tapi kadang saya kangen juga suasana jualan, lebih bebas rasanya dibanding kerja begini, meski gajinya lebih pasti." Satpam itu menepuk pundak Reyhan sekali. "Semangat ya, Mas. Kalau butuh bantuan apa-apa soal area sini, tanya saya aja, nama saya Pak Herman."

"Siap, Pak Herman. Makasih banyak buat izinnya."

Reyhan mengukur-ukur trotoar itu dengan matanya, membayangkan bagaimana dia akan menata gerobaknya besok pagi atau lebih tepatnya, besok sore, mengikuti saran "jam emas" dari si bapak tua.

Sebelum matahari benar-benar terbenam, Reyhan menyempatkan diri membersihkan gerobak barunya di halaman kos, menyikat sisa-sisa noda minyak lama yang menempel di dinding gerobak.

Anak kos sebelah kamarnya, seorang mahasiswa bernama Fajar yang kebetulan sedang duduk santai di teras, memperhatikan dari kejauhan.

"Bang Reyhan, itu gerobak buat apaan?" tanya Fajar, penasaran.

"Mau jualan nasi goreng, Jar. Long story."

"Wih, serius? Kirain bang Reyhan kerja kantoran gitu."

"Nggak, lagi coba usaha sendiri," jawab Reyhan sambil terus menyikat gerobaknya. "Kenapa, mau bantu-bantu?"

Fajar tertawa. "Boleh sih, tapi saya kuliah pagi terus, Bang. Paling saya bantu makan doang kalau udah jadi, hahaha."

"Ya udah, nanti kalau udah jualan beneran, kamu jadi pelanggan pertama saya deh."

"Sip, Bang. Semangat ya."

Reyhan melanjutkan membersihkan gerobaknya sampai benar-benar terlihat lebih layak, meski masih menyisakan beberapa bekas karat kecil di bagian roda. Ia mengecek kompor portable yang ikut dibeli sepaket dengan gerobak, memastikan apinya menyala normal, tidak ada kebocoran gas yang bisa membahayakan.

Malam harinya, sebelum tidur, Reyhan menghitung ulang seluruh persiapannya. Ia membuka layar holografik sistem sebentar, memeriksa progres yang masih menunjukkan angka nol besar.

> [Progres Misi: Rp0 / Rp15.000.000]

> [Sisa waktu: 6 hari.]

Ia menatap angka itu, lalu menatap gerobak barunya yang terparkir di halaman kos, masih kosong, belum tersentuh bahan apa pun selain sisa debu bekas pemilik lamanya yang belum sempat dia bersihkan total.

"Besok," gumamnya pelan, "ini harus mulai jalan."

Ia merebahkan diri di kasur, memejamkan mata sambil membayangkan wajah-wajah pembeli yang mungkin akan datang besok meski dalam hati kecilnya, dia juga tidak bisa menghilangkan rasa cemas kalau-kalau ternyata tidak ada satu pun yang mau mampir ke gerobaknya yang serba sederhana ini.

Ponselnya berbunyi sekali lagi. Pesan dari Dimas.

*"Pak, semoga besok lancar ya. Kalau ada yang kurang pas soal resepnya, kabarin aja, saya bantu semampu saya."*

Reyhan tersenyum membaca pesan itu, membalas singkat: *"Makasih banyak, Dimas. Kamu emang penyelamat minggu ini."*

Ia meletakkan ponselnya di samping bantal, menatap langit-langit kamar yang temaram, mencoba menenangkan diri sendiri sebelum menghadapi hari besar esok hari pertama dia benar-benar jadi pedagang nasi goreng, dengan modal yang nyaris habis dan harapan yang jauh lebih besar dari perhitungan matematisnya sendiri.

Menjelang tengah malam, saat Reyhan hampir tertidur, layar holografik sistem tiba-tiba menyala lagi, menampilkan satu baris tambahan yang tidak biasa muncul di luar jadwal.

> [Catatan tambahan: Pengamatan lapangan menunjukkan tingkat kompetisi rendah di lokasi yang dipilih. Peluang keberhasilan: sedang hingga tinggi, tergantung eksekusi.]

Reyhan membuka mata, menatap tulisan itu dengan heran. Biasanya sistem hanya memberi target dan hasil akhir, tidak pernah memberi semacam "analisis" seperti ini sebelumnya.

"Sejak kapan kamu jadi baik hati kasih bocoran, Sistem? Biasanya kamu diem aja," gumamnya setengah bercanda, sedikit curiga jangan-jangan ini pertanda sesuatu yang lebih besar sedang direncanakan di balik layar.

Tidak ada jawaban lain. Layar itu meredup lagi, kembali diam seperti biasa.

Ia teringat lagi kata-kata Bu Painem tadi pagi soal konsistensi, dan nasihat Pak Herman soal jadi pemula yang tidak perlu malu.

Dua orang asing yang ditemuinya hari itu, tanpa sengaja, sama-sama memberi bekal semangat yang terasa pas untuk menenangkan kecemasannya sendiri.

Reyhan menghela napas, mencoba tidak terlalu memikirkan keanehan kecil itu. Ia menutup mata, membiarkan rasa lelah dari perjalanan pasar pagi tadi perlahan menariknya ke alam tidur, sambil dalam hati berharap besok pagi atau tepatnya besok sore jam emas yang disebut si bapak tua penjual gerobak benar-benar membawa keberuntungan untuknya, dan bahwa gerobak sederhana yang baru sehari menjadi miliknya itu bisa jadi awal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar cara mencapai target sistem minggu ini.

1
Rizky Fadillah
tunggu katanya di awal duit cash di sompet sekitar 357rb dan ga cukup bayar kost lah ini duit di rekening ada juga 357rb jd total nya harus nya banyak dong ane ni atau aku yg salah mohon di koreksi lagi thor alur nya sebelum di upload
RR: siap salah. terimakasih sudah mengingatkan 😁
total 2 replies
Wega Luna
next update Thor
Wega Luna
ceritanya keren beda dari yg lain semoga kedepannya saat kaya jangan terlalu angkuh dan meremehkan orang serta jangan sombong , sesuaikan dengan dunia nyata saja😄
RR
bagi pembaca setia novel ini, yang menjadi peringkat pertama fans nanti. saya bakal masukan namanya jadi salah satu karakter utama pendamping MC 😁
RR
terimakasih yg sudah membaca 😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!