Siapa perempuan yang ingin menjadi mandul .?? tidak ada satupun yang menginginkan itu semua, setiap wanita pasti ingin punya keturunan punya buah hati yang akan menjadi pelengkap dalam bahtera rumah tangga nya, sebagai pemanis dalam cinta yang di arungi bersama teman hidupnya.
Namun rencana yang kuasa tetap lah rencana nya siapa yang dapat menghindar atau mengelak jika ia sudah berkehendak, itu lah yang di alami kora.
11 Tahun pernikahan nya ia selalu mendambakan ada buah hati yang sudi tumbuh dalam rahim nya, 11 tahun penantian yang panjang. Pernikahan yang sempurna, memiliki suami yang sempurna ternyata bukan lah obat dari sebuah penawar kebahagiaan.
pernikahan yang dikira akan berjalan seumur hidup harus kandas kala tuntutan dan penghianatan yang terjadi. kora tidak marah tidak juga menyalahkan siapapun ia memilih mengalah dan merelakan cinta nya pergi dan memilih menghilang untuk menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SeinXD, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH 17
Nisa sedang meninjau proyek yang sedang perusahaan jalankan, ia bersama asisten pribadinya pergi ke sebuah desa yang selama ini sudah mereka Target kan dari bisnis ini.
Namun langkah kakinya terhenti saat melihat sosok yang begitu ia kenali, Nisa mengejar nya namun tak mendapati sosok tersebut. Ia berusaha menenangkan dirinya ia mungkin sedang halusinasi, ia juga bingung kenapa sosok itu sering muncul akhir-akhir ini.
" apakah itu Dimas atau hanya bayangan dari masa lalu?"
Nisa memijit kepalanya ia berjalan ke mobil lalu masuk didalam mobil ia mengambil obat, ia makan obat penenang itu agar ia tak terlalu kepikiran soal sosok Dimas yang akhir-akhir ini sering mencul menghantuinya.
" ibu tidak apa?"
Asisten Nisa menatapnya iba perempuan yang selalu dikira kuat ini menyimpan sakit yang ia sembunyikan dari semua orang, ia selalu mengonsumsi obat penenang agar tampak baik baik saja selama ini.
" kita kembali kekantor!"
Asisten nya hanya mengaguk paham, tak banyak membantah ia menjalan kan mobil dan meninggalkan tempat itu, di balik itu sosok yang tadi Nisa kejar muncul dari persembunyiannya.
Ia menatap mobil itu hingga menghilang, ia tak bersuara hanya ada tatapan yang tak bisa di jelaskan.
2 jam perjalanan mereka akhirnya sampai di perusahaan dengan selamat, saat Nisa baru akan menaiki lift ia di tabrak oleh seseorang yang tengah membawa berkas begitu banyak.
Brughhh
Berkas tersebut berhamburan kemana-mana Leon panik sembari memungut berkas nya, lagi lagi begini Nisa hanya menggelengkan kepalanya kenapa pertemuan mereka selalu saja begini.
" kenapa membawa berkas yang bukan pekerjaan mu?"
Pertanyaan itu membuat Leon tersadar dari kesibukan nya, ternyata yang tadi ia tabrak adalah bossnya, Nisa memungut berkas itu dan memperhatikan nya satu persatu. Ia lalu menatap Leon yang seketika menciut seperti anak kucing, Nisa menatap nya tajam membuat Leon baru sadar betapa menyeramkan nya wanita ini.
Nisa berjalan meninggalkan Leon yang masih sibuk memungut berkasnya, setelah semua berhasil is kumpulkan ia berjalan menuju ruangan nya. Saat sampai disana semua orang tampak berdiri tengang sembari menatap nya.
Leon bingung kenapa semua orang hanya berdiri diam tak ada yang bersuara tak seperti biasanya, ia lalu memperhatikan orang yang duduk di depan menatapnya dengan tatapan dingin.
Leon seketika sadar ternyata ada bossnya di ruangan itu.
" sejak kapan kalian memperlakukan anak baru seperti ini?"
Semua orang diam tak ada yang bersuara, mereka saling pandang satu dengan yang lain nya.
Nisa terkekeh pelan ia memperhatikan wajah wajah angkuh yang selalu semena mena terhadap orang lain namun kini di hadapannya malah tak berani bersuara.
" urus mereka!"
Nisa memberikan isyarat kepada asisten nya untuk menangani ini semua, Leon menatap punggung Nisa yang pergi meninggalkan ruangan itu dengan angun.
...----------------...
Dimas Anggara
Kora terus membaca nama itu dari surat yang ia ambil kembali dari gudang belakang, kenapa nama ini seperti sesuatu yang seperti ia kenal.
kora mencoba mencari nama pria tersebut ke internet namun tak menemukan jejaknya, apakah ini hanya nama orang biasa namun kenapa bisa mengenal suaminya bukankah hanya orang-orang dari kalangan atas yang bisa kenal dekat dengan suaminya.
Sedari kecil Hendra hidup dan belajar di sekolah elit bahkan kehidupan nya juga tak mungkin bisa mengenal dan berteman dekat dengan orang biasa.
Memikirkan nya saja membuat kepalanya sakit, kora menyimpan kembali surat itu siapa tau suatu saat akan berguna nantinya. Ia memutuskan untuk ke perpustakaan sekedar menikmati waktu segang nya dengan membaca buku.
Kora melajukan mobilnya pergi ke grand media tempat biasa ia pergi kalau ia ingi membaca, disana sudah banyak orang yang juga hobi membaca sedang asik dengan kegiatan mereka.
Kora berjalan mendekati rak buku favorit nya buku tersebut adalah tentang novel romance yang sedang best seller, ia tersenyum kala mendapati buku yang sedang tren saat ini.
Sebuah tangan juga tiba-tiba meraih buku tersebut, mereka saling pandang saat tangan mereka sama sama menyentuh buku yang sama.
" maaf saya duluan mengambil buku ini!"
" oh iya sorry!"
Kora hanya menggelengkan kepalanya dan meningalkan pria tersebut yang Tempak seperti mencerna pikiran nya,
"tunggu!"
Kora terhenti saat pria tersebut menyuruh nya berhenti
" apa sebelumnya kita pernah bertemu?"
" ku rasa tidak!"
Kora kembali melangkahkan kakinya, namun pria tersebut kekeh pasti mereka pernah bertemu karena tampak wajah cantik kora tak asing baginya.
" papa!"
Pria tersebut menoleh ke sumber suara, gadis kecil tersebut berlari memeluknya dengan erat.
" lili kangen papa!"
" lili sayang, kenapa kamu ada disini?"
Andre mengusap rambut putrinya dengan penuh kasih sayang, kora memperhatikan mereka dari jauh.
" aku bersama ibu guru dan teman teman kesini!" lili menunjuk kearah sekumpulan anak seusianya dengan guru cantik yang tersenyum kearah nya.
Andre mengendong putri nya ia menatap kora sebentar lalu pergi membawa putrinya, kora sempat bertemu padang dengan lili. Mata gadis tersebut membuat nya seketika teringat seseorang namun hal itu tak bisa dengan benar ia ingat.
Kora terus memperhatikan wajah lili yang asik membaca bersama teman nya, sedari tadi ia tak dapat melepaskan padangan nya dari gadis kecil itu.
" apa yang kau lihat dari putri ku?"
Kora terkesiap saat ia terciduk sedang memperhatikan seseorang, Andre lalu duduk didepan nya Andre masih berpikir keras apakah ia pernah melihat kora sebelum nya
" apakah kita memang tak pernah bertemu sebelumnya?"
Kora menatap Andre dengan penuh tanda tanya, kenapa pria ini kekeh dengan pemikirannya.
" saya rasa tidak, sebaiknya anda jangan mengangu saya!"
" oke baiklah!"
Andre mengakat tangan nya menyerah tatapan tajam dari kora membuat menciut, gadis cantik ini tampak menyeramkan jika marah. Andre diam diam terus memperhatikannya kora ia sengaja duduk tak jauh dari kora agar bisa leluasa memperhatikan gadis itu.
Ckckck
Andre mengusap dagunya dengan pelan ia masih memikirkan apakah dia pernah melihat kora, tapi di mana kenapa wanita ini begitu familiar di matanya.
" apa sudah puas anda menatap nya tuan Andre!"
Andre menoleh ke sumber suara yang ternyata adalah asisten nya Adrian, Andre begitu malu saat keciduk sedang memperhatikan seseorang.
" sotoy!"
Andre mengeplak kepala Andrian dengan keras membuang rasa malu nya yang keciduk, kora menatap kedua manusia itu karena terganggu dengan suara mereka. Andre dan Adrian saling tatap mereka seperti anak kecil yang sedang ditatap sang ibu yang sedang terusik.
Mereka mengangukan kepala nya memberi isyarat mereka akan pergi dari sana, tatapan dingin kora tak berhenti sampai kedua nya benar-benar pergi dari sana.