Siang itu seorang pria berbadan tinggi tegap dengan tubuh yang bidang wajah rupawan mengedong seorang bayi yang baru berumur satu bulan. Dia bawanya bayi itu ke depan rumah seorang gadis bernama Laurinda.
“Laurinda tolong terima kami.” Triak pria itu dari luar rumah.
Laurinda adalah seorang mahasiswa yang baru lulus kuliah S1 di korea selatan tepatnya Soul.
Laurinda yang baru pulang dari korea dua bulan yang lalu.
Dua bulan lalu
“ayah. Bunda. Lala pulang.” Ucap Laurinda yang baru datang dari perjalanan tempuh selama kurang lebih 10 jam.
“sayang kamu sudah pulang. Bagaiman? Sehatkan?” tanya bunda yang langsung memeluknya.
“sehat bunda.” Jawab Laurinda dengan bahagia membalas pelukan bunda.
“anak perempuan ayah.” Ayah yang datang memeluk bunda dan Laurinda.
“adik mana?” tanya Laurinda.
Laurinda memiliki adik laki – laki yang baru masuk SMA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon c@f, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUKOANSA BAB XVIII
Duda Korea anak satu bab 18
“sebentar.” Sohan menahan tubuh Laurinda. “biarkan seperti ini.” Ucap Sohan meminta agar Laurinda tetap memeluknya. Sohan mendekap Laurinda lebih erat.
Laurinda tersenyum dalam pelukan Sohan begitu pula Sohan yang merasa nyaman di dalam pelukan istrinya.
“mama.” Panggil Kyoso untuk pertama kalinya dia mengucapkan kata kata. Kyoso merangkak menuju Laurinda dan Sohan. Menghancurkan keromantisan mereka.
“dia ngomong?” tanya Sohan, melepas pelukannya dan mengendong Kyoso. “coba panggil papa.”
“mama.” Kyoso hanya bisa mengatakan satu kata.
Laurinda tersenyum begitu pula dengan Sohan.
Laurinda menghubungi bunda.
[Assalamualaikum bunda.]
[waalaikum salam sayang, ada apa sayang, tumben malam malam, telfon Bunda]
[uumm, begini Bunda, lala mau minta tolong boleh?]
[boleh sayang ada apa?]
[begini bunda, kandungan Lala sekarang sudah membesar, dan Lala sedikit kerepotan jika harus menjaga Kyoso, sedangkan Sohan tidak suka ada orang asing di rumah, kalau boleh Bunda temenin Lala jaga Kyoso, masalah rumah Sohan yang handle]
[kalau masalahnya begitu Bunda pamit ayah dulu sayang. Kalau ayah mengizinkan bunda bantu kamu.]
[iya bunda.]
[nanti bunda hubungi kamu lagi ya.]
[iya bunda]
[Wassalamualaikum]
[waalaikum salama]
“bagaimana?” tanya Sohan yang duduk di sebelah Laurinda menggendong Kyoso yang telah terlelap.
“kata bunda mau izin ayah, kalau boleh bunda berangkat.” Ucap laurinda. “kalau bunda tidak boleh bagaimana?” Laurinda terlihat sedih.
“nanti saya minta Jimi untuk membantu kita.” Ucap Sohan. “mala mini saya tidur bersama kalian.” Sohan berdiri berjalan menuju kamar Laurinda.
“umm.” Laurinda mengikuti Sohan dari belakang.
Sohan menidurkan Kyoso di kasur Laurinda.
“sini saya bantu.” Sohan membantu Istrinya membuka resleting pakaian Laurinda. Terlihat punggu istrinya yang putih mulus, ada dua tahi lalat di bahu kirinya.
“apa yang kau lakukan?” ucap Laurinda kepada Sohan. Sohan memeluk Laurinda dari belakang.
“sebentar saja. Akhir- akhir ini saya begitu menyukai aromamu.” Ucap Sohan memejamkan matanya sambil meletakkan dagungnya di bahu istrinya.
“kenapa? Apa ada masalah?” tanya Lauridan membelai kepala suaminya.
“entah lah. Saya merasa lelah.” Ucap Sohan melepas pelukannya.
Laurinda membalikkan badannya menghadap Sohan. Menatap wajah suaminya.
“apa ada masalah di kantor?” tanya Laurinda.
“tidak.”
“lalu?”
“saya hanya merasa lelah.” Sohan mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Kemudian mencium bibir istrinya.
“aaauh.” Keluh Laurinda.
“ada apa?” Sohan melepas ciumannya. Memegang perut istrinya.
“dia menendang terlalu kencang.” Ucap Laurinda memegang perutnya.
“sayang jangan begitu kasian mama.” Ucap Sohan berbisik ke perut Laurinda kepada bayi yang di kandung istrinya. “kamu ganti baju dulu.” Ucap Sohan membantu laurinda berganti pakaian.
Setelah itu Sohan membantu Laurinda berbaring, menata bantal supaya Lauridan merasa nyaman.
“bagaimana?” tanya Sohan.
“sudah begini cukup.”
“sebentar saya ambil kompres dulu.” Ucap Sohan pergi ke dapur.
Sohan berjalan menuju dapur untuk mengambil kompres di laci dan memanaskan di microwave, setelah 5 menit Sohan menggambil dan berjalan kembali menuju kamar.
Sohan meletakkan kompresan hangat ke samping perut istrinya. “sayang jangan nakal ya, kasian mama kalau tengah malam harus terbangun karena kamu.” Ucap Sohan kepada bayi dalam kandungan Laurinda.
Laurinda tersenyum melihat Sohan yang begitu perhatian. Laurinda berharap Sohan akan selalu seperti ini kepadanya.
(saya berharap kamu bisa menerima saya sebagai istri kamu bukan sebagai pengganti) batin Laurinda menatap Sohan yang sedang berbicara dengan bayi dalam kandungannya.
Keesokan paginya.
Sohan yang bisanya berangkat ke kantor setelah menyiapkan makanan. Hari ini dia di rumah membereskan rumah.
“untung saja ada debot. Atau saya harus menyapu semua lantai.” Ucap Sohan mengatur pengaturan debot miliknya.
“Han, tidak ke kantor?”tanya Laurinda yang baru keluar dari kamar sehabis mandi.
“mulai sekarang saya akan bekerja di rumah menjagamu dan Kyoso.” Ucap Sohan mempersilakan Laurinda untuk duduk dan sarapan. “Kyoso belum bangun?”
“belum mungkin sebentar lagi. Hari ini masak apa?”
“hari ini menunya salmon saus creamy.” Sohan menyajikan ikan salmon dengan saus.
“salmon lagi?” tanya Laurinda. “bisa tidak besok makan tahu tempe?”
“di sini sulit mencari tahu dan tempe.” Ucap Sohan.
“besok saya akan masakkan daging lain ya, hari ini kamu makan ini dulu.”
“bosan lah setiap hari harus makan salmon.” Ucap Laurinda merengek, Karena setiap hari Sohan memasak salmon, meski dengan banyak farina baru namun rasa salmon sudah menguasai lidah Laurinda. “janji besok tidak masak salmon lagi??”
“iya besok tidak masak salmon.”
Suara tangisan Kyoso dari dalam kamar Laurinda.
“sepertinya Kyoso sudah bangun.” Ucap Laurinda hendak berdiri.
“kamu makan saja, biar saya yang urus.” Sohan berjalan menuju kamar Laurinda untuk mengambil Kyoso.
Laurinda melanjutkan makan, dia menatap bosan melihat Salmon lagi yang dia makan. “iya salmon baik buat bayi tapi tidak setiap hari juga.” Ucap laurinda mengeluh.
Sohan di dalam kamar menggendong Kyoso, yang menangis.
“Kyoso.” Panggil Sohan berusaha menenangkan putranya. “kenapa kamu menangis terus? Ha” Sohan kewalahan.
Dari luar kamar Laurinda mendengar Kyoso tidak berhenti menangis, dia kemudian menghampiri Kyoso dan Sohan di dalam kamar.
“kenapa masih menangis?” tanya laurinda memasuki kamar.
“mama mama mama.” Ucap Kyoso merengek minta di gendong Laurinda.
“tidak bisa. Mama sekarang tidak bisa menggendong kamu.” Ucap Sohan kepada Kyoso. Kyoso tetap menangis meminta untuk bersama Laurinda.
“sini, tempelkan Kyoso ke pelukanku.” Ucap Laurinda merentangkan kedua tangannya.
“tapi…”
“tidak apa, kasian dia menangis terus.”
Laurinda menghampiri Sohan yang sedang mengendong Kyoso. Di pemeluknya Kyoso oleh Laurinda, seketika tangisan Kyoso berhenti.
“mama mama.” Ucap Kyoso memegang erat baju Laurinda.
“iya mama di sini sayang.” Ucap Laurinda membelai kepala putranya.
Setelah tenang Sohan memandikan Kyoso, Laurinda hanya menunggu sambil duduk di dekat Kyoso.
“mama mama.” Kyoso berulang kali memanggil Laurinda. Laurinda membalasnya dengan senyuman.
“kamu ini anak papa. Coba bilang papa.” Ucap Sohan kepada Kyoso.
“mama.” Jawab Kyoso.
“papa. Kyoso coba papa.”
Laurinda tersenyum melihat perdebatan anatar Sohan dan Kyoso. Sohan meminta Kyoso untuk memanggil papa namun Kyoso hanya menyebut mama mama dan mama.
Setelah selesai memandikan Kyoso dan memakaikan pakaian kepada Kyoso. Sohan mengendong putranya untuk sarapan.
“Kyoso, buka mulut.” Ucap Sohan menyodorkan sendok berisi bubur kepada Kyoso. Namun Kyoso engan membuka mulutnya. “Kyoso papa bilang sekali lagi cepat buka mulut.”
“begini caranya.” Laurinda mengambil sendok dari Sohan. “sayanggg aaaaa.” Laurinda mempraktekkan membuka mulutnya, Kyoso melihat Laurinda kemudian dia mengikuti Laurinda membuka mulutnya Laurinda kemudan memasukkan bubur ke mulut Kyoso perlahan. “begitu caranya, anak kecil tidak suka di pakasa.” Ucap Laurinda. “dia sukanya di bujuk dan di sayang.”
“oooh. Sini saya coba.” Sohan mempraktekkan apa yang Laurinda lakukan. Kyoso pun makan dengan lahap. “benar apa yang kamu katakana, dia makan dengan lahap.” Ucap Sohan tersenyum bahagia.