Lima tahun lalu, Aluna dijebak, dihina, lalu diusir dari rumah dalam keadaan hamil. Semua orang mengira hidupnya hancur. Namun ia kembali sebagai wanita mandiri dan sukses, membawa sepasang anak kembar jenius: Arsen yang dingin dan pintar meretas sistem, serta Aruna yang manis tapi sangat cerdas.
Aluna hanya ingin membalas orang-orang yang menghancurkan hidupnya. Tapi semuanya berubah saat kedua anaknya bertemu Rafael Mahendra, CEO muda paling berkuasa dan terkenal dingin. Wajah Arsen yang sangat mirip Rafael membuat masa lalu mulai terbongkar.
Rafael pun curiga. Siapa sebenarnya dua anak itu?
Saat rahasia kelahiran si kembar terungkap, Aluna harus memilih: terus menyembunyikan kebenaran demi melindungi anak-anaknya, atau membiarkan Rafael mengetahui bahwa ia adalah ayah dari dua pewaris rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rafael Menjadi Tameng
Pagi setelah makan malam keluarga Mahendra, nama Aluna kembali memenuhi media.
Bukan karena kontrak bisnisnya.
Bukan pula karena keberhasilannya membongkar pencurian desain Prameswari Fashion.
Sebuah foto dirinya bersama Arsen dan Aruna tersebar di berbagai portal berita dengan judul yang sengaja dibuat menghina.
DUA ANAK TANPA AYAH MASUK KE KELUARGA MAHENDRA
Artikel lain bahkan lebih kejam.
ALUNA PRAMESWARI DIDUGA MEMAKAI ANAK HARAM UNTUK MEREBUT WARISAN MAHENDRA
Berita itu diterbitkan hampir bersamaan pada pukul enam pagi. Dalam waktu kurang dari satu jam, ratusan akun anonim mengulang narasi yang sama.
Aluna disebut perempuan ambisius.
Arsen dan Aruna disebut alat untuk mendapatkan kekayaan.
Beberapa akun membandingkan wajah Arsen dengan Rafael, sementara yang lain menyebarkan hasil pemeriksaan palsu yang menyatakan kedua anak kembar itu memiliki ayah berbeda.
Aluna membaca semuanya tanpa bergerak.
Ia duduk di meja makan hunian aman dengan ponsel di tangan. Secangkir kopi di hadapannya telah dingin, tetapi tidak disentuh sedikit pun.
Rafael berdiri di dekat jendela sambil menerima laporan dari Raka.
“Sebagian besar akun dibuat dalam tiga hari terakhir,” kata Raka. “Penyebar pertama menggunakan jaringan media milik keluarga Prameswari. Setelah itu, berita diangkat oleh beberapa akun hiburan berbayar.”
“Celine,” ujar Rafael.
“Kami belum menemukan instruksi langsung atas namanya.”
“Karena dia tidak sebodoh itu.”
Aluna meletakkan ponselnya.
“Jangan terlalu yakin.”
Rafael menoleh kepadanya.
“Apa maksudmu?”
“Celine memang sering ceroboh kalau merasa hampir menang. Dia ingin saya tahu bahwa serangan ini berasal darinya.”
Raka menunjukkan layar tabletnya.
“Ada satu hal lain. Foto-foto anak-anak diambil dari jarak dekat saat makan malam tadi.”
Rafael mendekat.
Beberapa foto memperlihatkan Arsen dan Aruna ketika keluar dari rumah utama Mahendra. Sudut pengambilannya berasal dari balik pagar samping yang seharusnya tertutup bagi orang luar.
“Periksa seluruh petugas rumah utama,” perintah Rafael. “Siapa pun yang membawa perangkat pribadi selama acara harus diperiksa.”
“Baik, Pak.”
Aluna bangkit.
“Di mana anak-anak?”
“Masih di kamar,” jawab Raka. “Perangkat mereka sudah dibatasi agar berita ini tidak muncul.”
“Arsen akan menemukan cara membukanya.”
“Untuk sementara sistemnya aman.”
Aluna menatapnya.
“Tidak ada sistem yang aman kalau Arsen sudah penasaran.”
Seolah mendengar namanya disebut, pintu kamar terbuka.
Arsen berjalan keluar sambil membawa tablet.
Wajahnya terlalu tenang.
Aruna mengikuti di belakangnya dengan boneka kelinci di pelukan. Berbeda dengan kakaknya, mata gadis kecil itu terlihat sembap.
Aluna segera menghampiri mereka.
“Kalian sudah bangun?”
Aruna memeluk pinggang ibunya tanpa menjawab.
Aluna berjongkok.
“Ada apa?”
Aruna mengulurkan ponsel kecilnya. Seseorang telah mengirimkan tangkapan layar berita melalui pesan dari nomor tidak dikenal.
Di dalamnya terdapat foto Aruna dengan tulisan besar berwarna merah.
ANAK HARAM CALON PEWARIS MAHENDRA
Wajah Aluna langsung berubah.
“Siapa yang mengirim ini?”
“Aku tidak tahu.”
Aruna menunduk.
“Anak haram itu apa, Mama?”
Ruangan mendadak sunyi.
Arsen berdiri di samping adiknya, menggenggam tablet lebih erat. Sorot matanya dingin, tetapi rahangnya terlihat menegang.
Aluna memegang wajah Aruna dengan kedua tangan.
“Itu kata buruk yang digunakan orang jahat untuk menyakiti orang lain.”
“Apakah itu artinya aku anak yang buruk?”
“Tidak.”
“Karena Mama tidak menikah dengan Ayah?”
“Kamu dan Kak Arsen tidak pernah salah.”
“Tapi mereka bilang kami membuat keluarga Mahendra malu.”
Rafael melangkah mendekat.
“Kalian tidak membuat siapa pun malu.”
Aruna menatapnya.
“Berita itu bilang Ayah tidak mengakui kami.”
“Berita itu bohong.”
“Kalau begitu kenapa banyak orang menulis hal yang sama?”
“Karena kebohongan bisa disalin oleh banyak orang. Jumlah orang yang mengatakannya tidak membuatnya menjadi benar.”
Aruna terdiam sejenak.
“Apakah Ayah malu punya kami?”
Pertanyaan itu membuat Rafael berhenti bernapas selama sepersekian detik.
Ia berjongkok di depan gadis kecil tersebut.
“Tidak.”
“Bahkan kalau tesnya nanti bilang Kak Arsen bukan anak Ayah?”
Rafael melirik Arsen.
Anak laki-laki itu menatapnya tanpa berkedip, menunggu jawaban.
“Saya tidak akan malu kepada kalian dalam keadaan apa pun.”
Aruna mengulurkan tangan kecilnya.
“Janji jari?”
Rafael mengaitkan jari kelingkingnya.
“Janji.”
Arsen memalingkan wajah, tetapi ekspresinya sedikit melunak.
Aluna memeluk kedua anaknya.
“Kalian tetap di dalam hari ini.”
“Aku harus ke studio,” kata Arsen.
“Tidak.”
“Ada data yang perlu kuperiksa.”
“Tidak ada pekerjaan yang lebih penting daripada keselamatanmu.”
“Aku bisa melacak siapa yang mengirim pesan kepada Aruna.”
“Tim Rafael akan melakukannya.”
Arsen menatap Rafael. “Mereka lambat.”
Raka terbatuk kecil.
Rafael berdiri.
“Kali ini biarkan mereka bekerja.”
“Kalau gagal?”
“Baru kau membantu.”
Arsen mengangguk. “Dua jam.”
Raka menoleh tidak percaya. “Tuan Muda—”
“Dua jam cukup untuk menemukan satu nomor.”
Rafael menatap asistennya.
“Kau mendengarnya.”
Raka menghela napas. “Baik, Pak.”
Aluna memandang Rafael dengan tidak setuju.
“Jangan membiarkan dia merasa berhak mengatur tim keamanan.”
“Dia hanya memberi batas waktu.”
“Dan Anda menyetujuinya.”
“Batas waktu mempercepat pekerjaan.”
Arsen mengangguk. “Akhirnya ada orang dewasa yang memahami efisiensi.”
Aluna memijat pelipisnya.
Ponsel Rafael berdering.
Ia membaca nama penelepon, kemudian mengangkatnya.
“Nenek.”
Suara Nenek Mahendra terdengar cukup keras hingga Aluna dapat mendengar sebagian percakapan.
“Bawa anak-anak ke rumah utama.”
“Tidak aman.”
“Justru karena tidak aman mereka harus berada di tempat yang dijaga keluarga.”
“Rumah utama memiliki kebocoran keamanan.”
“Dan gedungmu baru saja dimasuki penyusup.”
Rafael mengatupkan rahang.
Nenek Mahendra melanjutkan, “Dewan keluarga sudah berkumpul. Mereka menuntut penjelasan tentang berita yang beredar.”
“Saya tidak peduli apa yang mereka tuntut.”
“Mereka membicarakan anak-anak itu sebagai ancaman terhadap pembagian saham.”
“Mereka tidak punya hak.”
“Karena itu datanglah dan hentikan mereka sebelum saya yang melakukannya.”
Panggilan berakhir.
Aluna menatap Rafael.
“Kita tidak akan membawa anak-anak ke sana.”
“Saya setuju.”
“Untuk sekali ini Anda tidak membantah?”
“Dewan keluarga tidak membutuhkan kehadiran anak-anak untuk menerima jawaban.”
“Apa yang akan Anda lakukan?”
“Saya akan mengadakan konferensi pers.”
Aluna langsung menggeleng.
“Tidak.”
“Mereka sudah menyeret nama anak-anak.”
“Justru karena itu mereka tidak boleh dipamerkan di depan kamera.”
“Saya tidak akan membawa mereka.”
“Tapi apa pun yang Anda katakan akan memperbesar perhatian.”
“Perhatian itu sudah ada.”
“Dan Anda ingin menambahnya dengan muncul di depan media?”
Rafael menatapnya.
“Saya ingin menghentikan ruang bagi orang lain untuk berbicara atas nama saya.”
Aluna berdiri dengan kedua tangan mengepal.
“Kalau Anda mengakui kemungkinan mereka anak Anda, seluruh dunia akan mengejar mereka.”
“Kalau saya diam, seluruh dunia akan menganggap saya menolak mereka.”
“Tidak semua masalah harus dijawab.”
“Masalah yang menyakiti anak-anak harus dijawab.”
Aluna terdiam.
Ia melihat Aruna masih memeluk pinggangnya. Wajah gadis itu dipenuhi pertanyaan yang tidak seharusnya dipikirkan anak berusia lima tahun.
Rafael merendahkan suaranya.
“Saya tidak akan menyebut hasil tes, pewaris, atau hubungan biologis.”
“Lalu apa yang akan Anda katakan?”
“Bahwa siapa pun yang menyerang mereka akan berhadapan dengan saya.”
Aluna menatapnya lama.
“Saya ikut.”
“Tidak.”
“Berita itu menyerang saya dan anak-anak saya.”
“Karena itu kau tetap bersama mereka.”
“Saya tidak akan bersembunyi.”
“Ini bukan bersembunyi.”
“Jangan menentukan posisi saya.”
Tatapan mereka bertemu.
Rafael memahami bahwa melarang Aluna hanya akan membuat wanita itu datang sendiri tanpa pengamanan.
“Baik,” katanya. “Tapi anak-anak tetap di sini bersama Raka.”
“Aku ingin ikut,” kata Arsen.
“Tidak,” jawab Aluna dan Rafael bersamaan.
Arsen mengangkat alis.
“Kalian mulai kompak.”
“Kamu tetap di sini,” tegas Aluna.
Aruna menarik tangan Rafael.
“Ayah jangan biarkan wartawan jahat menyakiti Mama.”
Rafael memandang gadis kecil itu.
“Tidak akan.”
Konferensi pers dijadwalkan pukul sebelas di lobi utama Mahendra Group.
Namun ketika Aluna dan Rafael turun dari lift eksekutif, keadaan telah berubah menjadi kekacauan.
Ratusan wartawan memenuhi bagian depan gedung. Barisan keamanan berusaha menahan mereka di balik pagar pembatas, tetapi jumlah orang terus bertambah.
Beberapa pengunjuk rasa berbayar berdiri di luar sambil membawa poster.
TOLAK ANAK ILEGAL MENGUASAI MAHENDRA
JANGAN GUNAKAN ANAK UNTUK MEREBUT WARISAN
Aluna berhenti di ujung koridor.
Wajahnya memucat ketika melihat foto Arsen dan Aruna dicetak besar pada poster-poster tersebut.
Rafael berdiri di sampingnya.
“Jangan lihat.”
“Itu wajah anak-anak saya.”
“Saya akan membersihkannya.”
“Membersihkan tidak menghapus apa yang sudah mereka lihat.”
Seorang anggota tim komunikasi berlari mendekat.
“Pak Rafael, situasi di depan tidak terkendali. Kami menyarankan konferensi dipindahkan ke lantai dua puluh.”
“Tidak.”
“Tapi keamanan—”
“Saya akan bicara di lobi.”
Aluna menoleh.
“Rafael.”
“Orang-orang itu datang untuk melihat apakah saya akan bersembunyi.”
“Jangan terpancing.”
“Saya tidak terpancing.”
Tatapan Rafael tertuju pada poster yang menampilkan wajah Aruna.
“Saya hanya mengubah sasaran mereka.”
Ia berjalan menuju panggung kecil yang telah disiapkan.
Aluna mengikutinya.
Begitu mereka muncul, kilatan kamera meledak dari segala arah.
“Tuan Rafael, apakah benar kedua anak itu darah daging Anda?”
“Apakah Nona Aluna menuntut pengakuan?”
“Bagaimana dengan hasil tes yang menyatakan hanya Aruna anak Anda?”
“Apakah Arsen memiliki ayah lain?”
“Benarkah Nona Aluna mencoba merebut saham keluarga?”
Pertanyaan terakhir membuat Aluna mengepalkan tangan.
Rafael berdiri di depan mikrofon.
“Saya hanya akan menyampaikan satu pernyataan.”
Para wartawan mulai diam.
“Tidak ada hasil pemeriksaan biologis yang telah saya nyatakan sah. Setiap dokumen yang beredar tanpa persetujuan pihak terkait sedang diselidiki.”
Seorang wartawan berteriak dari barisan belakang.
“Apakah itu berarti Anda menyangkal sebagai ayah mereka?”
“Saya tidak mengatakan demikian.”
“Lalu apakah Anda mengakui mereka?”
“Yang saya akui adalah dua anak berusia lima tahun sedang menjadi korban serangan orang dewasa.”
Suasana mendadak lebih sunyi.
Rafael melanjutkan, “Pihak mana pun yang menyebarkan identitas, foto, data sekolah, catatan medis, ataupun penghinaan terhadap mereka akan berhadapan dengan tim hukum Mahendra Group.”
Seorang wartawan perempuan mengangkat tangan.
“Apakah perlindungan itu diberikan karena mereka calon pewaris?”
“Tidak.”
“Lalu atas dasar apa?”
Rafael menatap kamera utama.
“Atas dasar bahwa mereka anak-anak dan tidak pernah meminta dilibatkan dalam konflik keluarga.”
Seorang pria di sisi kiri berteriak.
“Bagaimana dengan Nona Aluna? Apakah Anda memiliki hubungan khusus dengannya?”
Aluna hendak maju, tetapi Rafael mengangkat satu tangan.
“Hubungan saya dengan Aluna bukan alasan untuk menghina anak-anaknya.”
“Apakah Anda mencintainya?”
Pertanyaan itu memicu kegaduhan.
Rafael tidak langsung menjawab.
Aluna menoleh kepadanya, kemudian berkata ke mikrofon lain, “Kehidupan pribadi kami tidak berkaitan dengan tuduhan yang sedang dibahas.”
Seorang wartawan mendorong pagar pembatas.
“Apakah benar Anda tidur dengan Tuan Rafael lima tahun lalu?”
Petugas keamanan segera menahan pria itu.
Namun pertanyaan lain datang dari arah berbeda.
“Apakah kedua anak itu lahir dari hubungan gelap?”
“Apakah Anda sengaja menyembunyikan mereka untuk meminta kompensasi?”
“Berapa nilai yang Anda tuntut dari keluarga Mahendra?”
Wajah Aluna kehilangan warna.
Ia pernah menghadapi pertanyaan yang hampir sama di lobi Hotel Asteria lima tahun lalu.
Cahaya kamera.
Teriakan wartawan.
Tatapan yang menghakimi.
Tubuhnya mendadak terasa dingin.
Suara-suara di sekitarnya berubah menjadi dengung panjang.
Ia mundur satu langkah.
Rafael melihat perubahan tersebut.
“Aluna.”
Wanita itu tidak menjawab.
Seorang wartawan berhasil menerobos pagar pembatas. Ia berlari mendekati panggung sambil mengangkat mikrofon tepat ke wajah Aluna.
“Nona Aluna, apakah Anda bisa memastikan anak-anak Anda bukan hasil hubungan dengan beberapa pria?”
Aluna membeku.
Sebelum mikrofon itu menyentuhnya, Rafael menarik tubuh Aluna ke belakang.
Tangannya menangkap lengan wartawan tersebut, lalu mendorongnya menjauh.
Pengawal segera mengepung panggung.
“Jangan sentuh dia,” kata Rafael.
Wartawan itu masih berusaha berteriak.
“Publik berhak mengetahui siapa ayah kedua anak tersebut!”
“Publik tidak memiliki hak atas tubuh dan kehidupan seorang anak.”
“Tapi mereka mungkin menjadi pewaris Mahendra!”
“Dan itu bukan urusanmu.”
Suara Rafael terdengar rendah, tetapi kemarahannya membuat seluruh lobi mendadak sunyi.
Ia melepaskan jasnya, lalu menyampirkannya ke bahu Aluna yang mulai gemetar.
Rafael berdiri di depan wanita itu, menutupi tubuhnya dari kamera.
Sejumlah wartawan tetap berusaha mengambil gambar.
“Tuan Rafael, apakah tindakan Anda berarti mengakui mereka sebagai keluarga?”
Rafael menoleh perlahan.
Tatapannya menyapu seluruh orang yang berada di lobi.
Kemudian ia menggenggam tangan Aluna dan menariknya berdiri di sisinya.
“Dengar baik-baik.”
Suara Rafael memenuhi ruangan.
“Mulai hari ini, siapa pun yang menghina Aluna, memburu anak-anaknya, atau mencoba menyentuh mereka akan saya anggap menyerang saya secara langsung.”
Seorang wartawan mengangkat suara.
“Dengan kapasitas apa Anda melindungi mereka?”
Rafael menatap kamera tanpa berkedip.
“Dengan kapasitas saya sebagai orang yang berdiri di depan mereka.”
Ia menarik Aluna sedikit lebih dekat, menjadikan tubuhnya tameng dari kilatan kamera.
“Jangan sentuh keluarga saya.”