Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Mobil yang membawa Zara itu akhirnya berhenti secara halus di depan kediaman Benedict.

Halaman luas dengan cahaya lampu taman itu terasa sunyi, Pak Karta segera turun dan membukakan pintu dengan sangat sopan.

Zara mengusap jejak air mata di pipinya, lalu menghela napas panjang untuk meredakan gejolak di dadanya dan melangkah keluar.

Pipinya yang memerah akibat tamparan Hendra kini mulai membengkak tipis, hingga membalikkan warna kulitnya yang semula mulus.

"Terima kasih, Pak Karta." bisik Zara pelan, ia berusaha menyunggingkan senyum tipis meski bibirnya terasa agak kelu.

"Sama-sama, Nyonya silakan istirahat." sahut Pak Karta sambil menunduk hormat.

Zara mengangguk pelan. Ia menarik napas dalam-dalam, untuk menguatkan langkah kakinya menyusuri lorong utama kediaman Benedict yang megah namun hening.

Langkah kaki Zara terhenti tepat di depan pintu ruang kerja pribadi Regantara yang sedikit terbuka, hingga cahaya kuning keemasan di dalam sana keluar ke atas lantai marmer.

Dari dalam ruangan, terdengar suara langkah tegap yang perlahan mendekat ke arah pintu.

Zara membeku, ia tahu betul siapa yang berada di dalam sana. Rasa perih di pipinya mendadak berdenyut kembali oleh rasa takut jika pria itu melihatnya dengan kondisi berantakan.

Ia tidak ingin Regantara melihat wajahnya yang sembap, apalagi memar merah yang mencolok di pipi kirinya. Bagi Zara, memperlihatkan kelemahan di hadapan pria sedingin Regantara sama saja seperti menyerahkan senjata kepada musuh.

Zara berbelok cepat, ia mengambil jalur melingkar menuju lorong sayap timur yang lebih remang untuk mencari jalan lain agar tidak berpapasan dengan pria itu.

Langkah kakinya begitu pelan, nyaris tanpa suara di atas karpet tebal yang melapisi lantai agar Regantara tak sadar. Namun, di kediaman Benedict, tidak ada satu pun sudut yang benar-benar lepas dari pengawasan Regantara.

"Ingin bersembunyi dari siapa, Nyonya Benedict?"

Suara bariton yang berat, dan dalam itu tiba-tiba bergema dari sudut lorong yang gelap, persis di dekat tangga menuju lantai atas.

Zara membeku di tempat, jantungnya serasa berhenti berdetak sesaat.

Dari balik bayang-bayang pilar besar, sosok Regantara melangkah keluar dengan anggun namun mengintimidasi.

Pria itu masih mengenakan kemeja hitam yang lengannya tergulung hingga siku, sambil membawa cangkir kopi di satu tangan, sementara tangan satunya lagi masuk ke dalam saku celananya.

Regantara berjalan mendekat.

Zara refleks memalingkan wajahnya sedikit ke kanan, membiarkan helaian rambut panjangnya terurai hingga menutupi pipi kiri yang membengkak, sambil menunduk pelan.

"Saya... saya hanya ingin cepat istirahat, Tuan Benedict. Acaranya cukup melelahkan."

"Melelahkan?" ulang Regantara dengan nada datar.

Pria itu kini sudah berdiri sangat dekat, hingga Zara bisa mencium aroma maskulin dan samar wangi kopi dari tubuh suaminya.

Tanpa aba-aba, jadi tangan Regantara yang panjang dan dingin itu terulur. Ia menyelipkan jemarinya di antara helai rambut Zara, untuk menyibakkannya ke belakang telinga, lalu menyentuh lembut dagu Zara untuk memaksa wajah cantik itu mendongak menatapnya.

Mata kelam Regantara seketika menyipit tajam saat pendar lampu temaram menyinari bekas tamparan merah yang kontras di kulit Zara, seketika udara di lorong itu membeku hingga menusuk tulang.

BRAK!

PRANG!

Bunyi pecahan yang memekakkan telinga bergema keras di sepanjang lorong.

Vas bunga porselen antik yang berdiri di dekat pilar hancur berkeping-keping di atas lantai marmer setelah dihantam tendangan keras oleh Regantara, beserta cangkir kopi yang pria itu lempar ke sembarang arah.

Puing-puingnya tersebar ke segala arah.

Zara tersentak kaget, ia refleks memejamkan matanya rapat-rapt saat serpihan tajam itu berterbangan. Napasnya tertahan di dada.

Aura dingin yang biasanya menyelimuti pria itu kini berganti menjadi nyala api amarah yang mengerikan.

Beberapa pengawal dan pelayan yang bertugas di lantai bawah langsung berlari mendekat dengan wajah pucat pasi. Namun, langkah mereka terhenti mendadak saat melihat posisi sang tuan.

Tak seorang pun berani bersuara, apalagi bergerak setelah sampai di sana.

Regantara tidak mengalihkan pandangannya sedetik pun dari wajah Zara, jemari tangan kirinya yang masih mencengkeram dagu Zara gemetar halus bukan karena takut, melainkan menahan murka yang siap meledak dan membakar apa saja.

"Siapa..." bisik Regantara dengan suara yang amat bahaya, "...yang berani menyentuhmu?"

Zara menatap tepat ke dalam manik mata kelam suaminya. Di balik pupil mata Regantara yang berkilat, tidak ada lagi ketenangan dingin, yang ada hanyalah emosi yang siap meledak-ledak.

"Hendra Adhitama?" tanya Regantara lagi, ia melontarkan nama ayah kandung Zara dengan nada begitu mendinginkan darah hingga pelayan yang berdiri jauh di belakang mereka merinding ketakutan.

"Regantara, ini..." suara Zara terdengar parau dan bergetar, hingga memanggil Regantara tanpa kata Tuan Benedict lagi.

"Jawab aku, Zara!" potong Regantara, suaranya menggelegar menembus keheningan malam.

Cengkeraman lembutnya di dagu Zara sedikit mengencang, menuntut kejujuran mutlak dari bibir wanita itu.

"Pria tua bangkai itu yang menamparmu?"

Zara bungkam.

Bibir tipisnya terkatup rapat, ia membiarkan tatapan matanya beradu dengan iris kelam Regantara yang tampak membara. Tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, namun kebisuan itu justru menjadi jawaban paling jujur yang mengonfirmasi segalanya.

Pria itu memejamkan matanya sejenak, untuk menghembuskan napas beratnya.

Saat kelopak matanya kembali terbuka, emosi meledak-ledak yang tadi membakar mukanya mendadak lenyap, berganti dengan ketenangan yang jauh lebih mengerikan.

Regantara perlahan mengendurkan cengkeramannya di dagu Zara, jemari panjangnya yang dingin itu kini berpindah, mengusap lembut pinggiran memar di pipi kiri istrinya.

Sentuhan itu begitu protektif dan hati-hati, seolah-olah kulit Zara adalah kaca berharga yang tak boleh tergores lagi.

"Diammu sudah cukup, Zara." bisiknya.

Regantara berbalik sedikit tanpa mengalihkan pandangannya dari Zara, untuk menyapu pandang ke arah deretan pengawal yang masih membeku di ujung lorong.

"Alaric." panggil Regantara dingin.

Alaric, yang baru saja tiba di lorong dengan langkah cepat, langsung menunduk dalam.

"Saya di sini, Tuan."

"Jadwalkan pertemuan langsung dengan Hendra besok jam sembilan pagi di kantor pusat, biar aku sendiri yang mengajarinya bagaimana cara memperlakukan seorang Nyonya Benedict."

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!