Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Ayah tak kaget saat dokter membacakan hasilnya. Ada kerusakan pada livernya. Hal ini yang dirahasiakannya dari semua orang. Sekarang pun begitu. Ayah meminta dokter tak membacakan lagi hasil pemeriksaan baik itu pada putrinya atau suami putrinya. Kalau pun mendesak, katakan saja semua baik-baik saja. Tak ada penyakit berbahaya.
Ayah cukup minum obat dan suplemen. Tak ingin ada terapi yang harus dilakukannya di kota. Ayah akan bertanggung jawab pada tubuhnya sendiri. Ayah tahu resiko apa yang akan terjadi. Tetap saja bersikukuh tak ingin ada yang tahu sakitnya.
Dokter menyerah, semua kembali pada pasien.
Ayah sudah diperbolehkan pulang setelah mendapatkan perawatan yang cukup intensif selama dua hari. Ayah tak betah berlama-lama tidur di ranjang pasien.
Arfan dan Zuraida membawa pulang ayah ke rumah. Meminta ayah tinggal lebih lama lagi di rumahnya. Tapi ayah menolak. Ayah harus segera kembali ke desa.
"Pekerjaan di desa nggak ada yang megang. Ayah ke sini udah terbengkalai semua."
Ibu dan kakak tiri Zuraida memasang wajah tak suka dengan keputusan ayah. Mereka masih betah berlama-lama tinggal di rumah besar itu. Ada kolam renang luas yang belum mereka coba. Namun mereka tak bisa membantah. Mereka terpaksa diam dan setuju dengan ayah.
"Menginap lah satu malam lagi, besok pagi biar pulang diantar supir." Pinta Arfan.
"Iya." Ayah setuju.
Setelah berada di kamar baru ibu berani mendebat ayah. Protes kenapa mereka harus cepat-cepat pulang ke desa.
"Kita kan bisa seminggu atau sebulan tinggal di rumah ini, suamiku. Ini kan rumah anakku juga."
"Iya, kamu menganggap Zuraida anak kalau lagi ada maunya saja. Kalau nggak juga kamu usir Zuraida."
"Bukan begitu suamiku. Sebenarnya aku tuh sayang sama Zuraida, tak membeda-bedakan sama putri kandungku. Aku janji selama tinggal di sini aku akan bersikap dan bicara baik pada Zuraida."
Ayah tersenyum tipis.
"Nggak, besok pagi kita pulang ke desa."
"Kenapa sih kamu keras kepala? Zuraida sama suami aja meminta kita tinggal lebih lama."
"Iya, karena mereka orang-orang baik. Tapi aku nggak mau kamu memanfaatkan kebaikan mereka."
Seketika ibu diam. Kalau masih mendebat, bisa-bisa suaminya itu menguliti semua kesalahannya.
Di tengah malam Zuraida mengecek kamar anak-anak. Sean dan Sena sudah sama-sama terlelap. Zuraida merapikan buku-buku Sena dan Sena ke tempatnya. Ekor matanya menangkap ada sesuatu di bawah kolong ranjang Sena. Ia memfokuskan matanya, ternyata tas Sena.
Zuraida membungkuk mengambilnya. Ternyata berat. Zuraida membuka tas, mengecek isinya apa. Botor berwarna gelap yang masih tersegel.
"Botol apa ini?," batinnya. Menelisik botol itu. Membaca apa yang tertera di sana walau ia tak mengerti sebab menggunakan bahasa inggris.
Zuraida yang masih memegangi botol itu dibuat terperangah. Tiba-tiba saja Sena bangun lalu mengambil paksa botol tersebut.
"Itu punya temanku," katanya memasukkannya kembali ke dalam tas. Sena memegangi erat tas miliknya.
"Isinya apa, Sen?." Tanya Zuraida.
"Bukan apa-apa," ketus Sena.
"Udah ah sana balik ke kamar lagi sana. Ganggu orang tidur aja." Sena mendorong tubuh Zuraida masih dengan memegangi tasnya.
"Itu bukan minuman beralkohol kan, Sen?." Tanya Zuraida sebelum pintu kamar itu ditutup lalu dikunci Sena. Zuraida tak mendapatkan jawaban atas pertanyaannya.
Zuraida berjalan ke kamar sambil terus memikirkan Sena dan temuannya. Sampai pagi ia tak bisa lanjut tidur. Ada banyak yang dikhawatirkannya.
Keesokan paginya.
Ayah, ibu dan kakak tiri Zuraida sudah berpamitan pada Zuraida dan Arfan. Walau masih tak rela ibu dan kakak tirinya beranjak pergi dari rumah besar itu. Sebenarnya ayah juga belum mau berpisah dengan putrinya namun keadaan yang memaksanya harus pulang. Ayah tak mau kedua hama itu menggerecoki kehidupan roman tangga Zuraida dan Arfan.
"Aku akan sangat merindukan, Ayah." Air mata Zuraida gampang sekali menetes. Rasanya baru kemarin bersama ayahnya. Sekarang mereka harus berpisah lagi.
"Aku janji secepatnya kita akan mengunjungi ayah." Arfan memeluk istrinya. Menatap keberangkatan mobil yang membawa ayah.
Arfan tak berangkat ke kantor. Ia mau menemani istrinya di rumah namun ia yang mengantar Sena sekolah.
"Dad, aku minta uang lagi." Kata Sena di tengah perjalanan.
"Yang kemarin udah habis?." Tanya Arfan.
"Sudah, Dad, aku beli mainan lagi."
"Semuanya kamu belikan mainan?."
"Iya, Dad."
"100 jt buat beli mainan Sena?." Tegas Arfan memastikan.
"Iya, Dad, daddy tahu kan mainan itu nggak ada yang murah. Apalagi aku beli yang limitid edition."
Memang benar makanan kesukaan Sena bukan mainan biasa. Tapi baru dua hari kemarin 100 jt masa udah habis buat mainan semuanya.
"Ini terakhir deh, Dad. 50 jt aja." Janji yang disertai permintaan.
"Oke, ini terakhir ya." Arfan menyetujui. Sesampainya di depan gerbang sekolah, Arfan segera mentransfer uang yang diminta Sena. Kemudian Arfan kembali melakukan mobilnya arah pulang.
Sena tersenyum puas. Selalu mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa bersusah payah.
Jam istirahat digunakan Sena kumpul dengan kakak-kakak kelas. Mereka punya tempat khusus di dalam kantin untuk menghabiskan botol minuman itu. Tentu saja ada uang tutup mulut untuk penjaga kantin. Segalanya sangat mudah dengan uang.
"Rumahmu tak aman buat minum, Sen?." Celetuk salah satu kelas.
"Nggak, ada Zuraida." Jawabnya.
"Siapa Zuraida? Mamamu?."
"Bukan, kacung di rumah. Tapi kelakuannya udah kaya pemilik rumah. Takut aja ngadu ke daddy kalau Zuraida menemukan botol-botol ini."
"Iya, udah bener di sini paling aman. Kalau mau minum di rumah ke rumahku aja. Di rumahku selalu aman."
"Oke."
Mereka kembali minum sampai benar-benar habis. Sena tak lagi memusingkan bekal yang selalu habis di makan oleh teman-temannya karena ada minuman yang selalu mengenyangkannya. Lima menit sebelum bel berbunyi masuk kelas mereka sudah keluar dari tempat itu.
Sena sudah bukan seperti Sena yang baru kelas satu SD. Pergaulan menjadikannya lebih dewasa dari umurnya tapi sayang mengarah pada hal negatif.
Keluar dari sekolah Sena tak pulang dengan supir yang menjemput. Ia meminta supir ke kantor daddynya lagi. Ia menunggu kakak kelasnya di kantin sambil minum lagi. Sena benar-benar sudah kecanduan minuman itu. Tak apa tak makan asalkan bisa minum banyak dari botol tersebut.
Kelas enam sudah bubar, Sena ikut pulang dengan salah satu dari mereka yang menawarkan rumahnya tempat paling aman untuk minum. Mereka pulang naik mobil jemputan.
"Orang tuamu tak ada di rumah?."
"Mereka sibuk."
"Enak dong nggak ada yang mengawasi."
"Tentu saja, aku bahkan bisa pulang malam. Kadang mereka nggak pulang juga."
"Bebas ya hidupmu."
"Iya, kapan-kalanya kamu aku ajak keluar."
"Ke mana?."
"Club."
"Pernah denger tapi aku belum pernah ke sana."
"Kapan-mapan kita ke sana."
"Ternyata berteman dengan kalian sangat asyik."
Di rumah anak itu Sena bebas minum sepuasnya.
Bersambung