Anya Dien gadis SMA berumur enam belas tahun harus meregang pendidikannya. Merombak sagala planingnya di masa depan kelak akibat kecerobohan- Bima Albara Sakti yang bergelar ketua osis di SMA Bangsa.
Bima yang notabenya senior Anya di Osis yang seharusnya bersifat baik malah berhasil mengempaskan segala cita-cita Anya. Bahkan sebab kejadian tersebut Anya harus kehilangan segalanya. Mulai kebahagiaan dan keluarga.
Lalu akankah Anya mampu bertahan di fase menyakitkan tersebut?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaV, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
00.19 Inilah Kekecewaan (B)
..."Jika egois bisa menyelesaikan masalah, maka gak akan banyak pertengkaran hanya karena satu keegoisan."...
...»Ambara Sakti«...
...***...
Menangis hanya mampu mengurangi lara bukan menyelesaikan perkara. Tak ada jalan jika tak dicari, tak akan keluar jika tak berusaha, tetap akan tersesat pada kelam yang tak kunjung hilang. Merenung tanpa berjalan tak akan pernah bisa menyelesaikan, maka tetap berjalan dan berjuang lalu semua pasti berakhir baik.
"Hidup itu pilihan Bim ... kalo lo berbuat salah maka lo memilih untuk mengakui dan tanggung jawab. Kalo lo berbuat baik maka lo memilih ingin dipuji. Jika lo memilih keduanya berarti lo rakus!" Ambara terkekeh geli seraya ikut melempar kerikil ke sungai.
Bima menoleh sekilas lantas kembali memandang aliran sungai. "Kalo gue datang ke rumah dia dan menikah dengan dia berarti semua cita-cita gue hilang Bang," ujar Bima sendu seraya menunduk.
Ambara mengulas senyum. "Kesalahan lo itu bukan seperti mahasiswa salah bikin skripsi. Tapi kesalahan lo itu menyangkut nyawa manusia. Gue, kan, udah bilang hidup itu pilihan. Kalo lo salah maka harus tanggung jawab!" Ambara mengembuskan napas panjang.
Sebenarnya Ambara juga khawatir bahkan emosi ketika mendengar bahwa Bima telah menghamili adik kelasnya bahkan atas dasar ketidaksengajaan. Ambara membogem pipi Bima hingga akhirnya sadar bahwa sang adik tengah dirundung masalah.
"Respon gue ke lo udah cukup kasar, Bim. Apalagi kalau Papa tahu mungkin dia bakalan penggal leher lo!" Ambara membayangkan hal itu sambil bergidik ngeri.
Bima menarik napas panjang. "Gue tetep bakalan diam!"
Ambara spontan menghadap ke arah Bima. "Maksud lo?" tanya Ambara tersentak.
Bima ikut menghadap Ambara. "Bukannya hidup itu memilih? Gue memang membuat kesalahan besar tapi gue udah minta maaf dan sekarang gue memilih untuk menjadi orang baik dan dipuji seperti biasanya!"
Ambara sempat mematung sebelum akhirnya berkata, "Lo emang udah minta maaf. Tapi, apa dia menerima maaf lo yang basi itu? Nggak, kan. Berarti lo sama aja pengecut Bim!" Tatapan Ambara serius. "Perempuan itu mahal— derajatnya tinggi. Jadi lo gak boleh sembarangan. Bayangin kalo itu terjadi sama Mama apa lo terima gitu aja?" Bima menggeleng. "Itu yang dirasain dia dan keluarganya. Jangan menganggap ini semua sepele Bim!" Ambara menggeleng lelah lantas berbalik badan, sungguh dia sangat kecewa pada Bima.
"Gue takut sama Papa Bang." Bima menunduk.
"Kalo lo emang laki-laki terjang semua risikonya!" Ambara menunggu jawaban dari Bima yang malah mengontrol deru napasnya. "Gue bantu lo buat ngomong sama Papa. Apapun yang terjadi nanti lo harus terima asalkan lo bertanggung jawab! Soal masa depan bisa dipikirin belakangan." Ambara melenggang meninggalkan Bima yang memandang kepergiannya.
...***...
Anya membuka pintu rumah sambil menatap kosong dan menangis lara. Mungkin bagi Bima ini adalah masalah sepele tapi bagi siapapun ini adalah masalah besar yang dapat menghancurkan segalanya.
Saat sampai ruang tamu Anya berhenti karena Vanya berdiri di undak tangga terakhir sembari menangis namun tak menghampiri Anya yang diam memandangnya. "Kak," lirih Anya yang perlahan menghampiri namun di langkah ketiga Vano menghalangi tubuh Vanya dan menatap Anya penuh intimidasi.
"Ingat bahwa Ayah melarang kamu buat deket sama Anya!" peringat Vano pada Vanya yang membuat kedua adiknya menggeleng pilu.
Vanya bahkan berlari ke atas, sedangkan Anya menunduk dengan air mata yang terus mengalir menembus udara. "Sejijik Itu'kah Anya, Kak?" Vano tak menjawab pertanyaan Anya ia hanya memalingkan wajah lantas melenggang mengikuti adik kesayangannya—Vanya.
Anya menengadah hingga tatapannya menemukan sosok Vanila di balik pintu kamar. "Bunda!" Namun Fathur dengan sigap menutup pintu kamar begitu keras hingga Anya terkejut.
Anya akhirnya merenung bersama denting jam dinding yang setia menemani kehampaan hari-harinya. Anya selalu sadar bahwa kesalahannya patut menerima kekecewaan sebagaimana sikap keluarganya saat ini. Bukannya cinta akan perlahan hilang karena kekecewaan yang dalam? Mungkin itu juga yang tengah dirasakan keluarganya.
Awan boleh saja menampakkan diri di malam hari, tapi tidak dengan cinta yang telah menerima kecewa. "Kesayangan yang berakhir mengecewakan." Hembusan angin menerpa wajah Anya selaras dengan ayunan kaki di pembatas balkon kamar.
Anya menoleh ke arah kamar samping tepatnya kamar Vanya yang telah gelap gulita. "Anya kangen sama kakak." Lantas air mata kembali luruh.
Anya kembali memandang ke depan lantas berusaha tersenyum walau ia ingin terisak lalu meraba perutnya. "Aku pasti bisa bahagia dengan kamu. Tapi untuk saat ini─ biarkan aku menyesuaikan diri dengan keadaan."
Surat pertama untuk anakku kelak
Anya Dien
Beberapa bulan lagi akan ada kaki yang berjalan menghampiri dan ada tangan yang akan
memeluk setiap hari, lantas mengucapkan selamat pagi Bundaku. Mungkin nanti kita tidak akan disebut sebagai seorang ibu dan anaknya, melainkan kakak-beradik sebab umur yang tak terpaut jauh. Bunda memang terluka sebab kamu datang tanpa Bunda minta, tapi bukan berarti Bunda tak menerima, Bunda hanya membutuhkan waktu dan menunggu kehadiran Ayahmu.
Jakarta, 11 Agustus 2005
Meja belajar menjadi saksi bisu atas air mata yang terus mengalir hingga membasahi setiap lembar putih itu. Mengingat keadaan yang telah membuat Anya dirundung pilu. Tak dipedulikan bahkan dibiarkan begitu saja membuat dirinya seperti orang asing yang hidup satu atap.
Kakinya seperti ingin mencari keceriaan di malam ini walau semuanya telah terlelap di balik selimut tebal dan kenyamanan. Anya berhenti tepat di tengah-tengah dua kamar orang yang sangat ia sayangi.
Kamar Vanya yang sedikit terbuka dan menampakkan kegelapan serta kamar kakak kembarnya yang tertutup rapat. "Kenapa semua orang pergi? Apa aku semenjijikkan itu?" lirihnya lantas dengan lunglai melangkah ke kamar Vanya.
Derap langkahnya pelan sebab tak ingin mengganggu tidur nyenyak sang Kakak. Anya duduk di tepi ranjang sembari mengembuskan napas panjang. "Maafin Anya, ya, Kak. Anya rindu yang dulu ... sekarang gak ada lagi cium kening setiap pagi dari Ayah, gak ada jeweran sayang khas Bunda, gak ada lagi panggilan jahil khas kakak kembar dan gak ada lagi keluhan konyol khas kak Vanya. Semuanya hilang dalam sekejap dan semua karena kesalahan Anya." Anya terisak kecil seraya mengelus kepala sang kakak.
Dapat Anya lihat bantal Vanya yang basah bahkan ada beberapa tisu berserakan di bawah. "Aku tahu kak Vanya pasti kecewa dan sakit hati karena aku yang seperti ini," lirihnya sambil menunduk.
Tatapan Anya tertuju pada satu foto yang terletak di nakas, di bawah temaram lampu tidur Anya mampu melihat senyum bahagia dari dua gadis kecil dengan gigi ompongnya. "Andai waktu bisa diulang dan takdir bisa dirubah mungkin semuanya gak akan serumit ini."
Anya mencoba untuk tersenyum walau seorang diri. Lantas ia memandang wajah tenang Vanya. "Kakak aku cantik banget kalo tidur. Rasanya kalo diganggu gak enak." Anya berdiri tanpa beralih menatap.
Anya membungkukkan badannya lantas mencium kening Vanya cukup lama. "Good night kakak cantik." Bersamaan dengan air mata yang jatuh tepat di mata Vanya hingga akhirnya sang empu membuka mata.
Namun, semuanya tetap sama tidak ada siapapun. Tapi sungguh tadi Vanya merasa bahwa ada seseorang yang mencium keningnya sambil menangis. Vanya bahkan duduk dan melihat jam yang telah menunjukkan pukul 21.10. "Mungkin cuma mimpi." Vanya kembali menutup matanya dan tak sadar di luar kamar ada seseorang yang berusaha menahan isak tangis.
Saat Vanya membuka mata Anya buru-buru keluar kamar dan membiarkan tubuhnya merosot ke lantai seraya menangis pilu. "Maaf."
Setelah puas menangis Anya memilih turun dan berjalan menuju dapur, namun langkahnya terhenti kala mendapati sosok Fathur tengah bergelut di balik pintu kulkas.
Saat Fathur menutup kulkas Anya menyapanya. "Ayah belum tidur?" Fathur membeku dan berbalik badan.
Tatapan yang awalnya heran berubah datar ketika melihat sosok Anya. "Kelihatannya?" Fathur minum dengan mimik tak enak membuat Anya merasa bersalah telah memanggil ayahnya.
"Anya tahu Ayah benar-benar kecewa. Tapi Anya juga gak mampu jika harus kehilangan kasih sayang kalian." Anya menatap Fathur sendu membuat sang Ayah menatapnya datar.
"Udah malam!" Fathur ingin melenggang namun Anya menghentikan langkahnya.
"Anya minta maaf Ayah!" Akhirnya Fathur kembali membalikkan tubuhnya.
"Apa maaf kamu berguna?" Nada dingin Fathur sukses membuat Anya mematung.
"Lalu, sekarang Anya harus apa Ayah?" Fathur malah terkekeh dan meletakkan gelas cukup keras.
"Pikirkan saja sendiri, udah cukup Ayah mikirin kamu!" Lantas setelahnya Fathur langsung meninggalkan Anya yang membeku dengan derai yang mengalir.
Anya membekap mulut agar isak tangisnya tak terdengar selaras dengan gelengan kepala. "Ini baru satu hari. Bagaimana dengan hari besok?"
Anya tumbang dan sesenggukan di tengah malam. Jadi ini yang dinamakan patah hati? Dibiarkan sendiri tanpa dipedulikan padahal semuanya selalu peduli bahkan tak ingin dirinya terluka—sedikit pun.
Karena cinta perlahan akan hilang jika menerima kekecewaan.
...***...
...TBC... ...