karya : Rosnila
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rosnila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
Tak berapa lama berselang,Aku kembali mendengar suara pintu diketuk, Bahkan tepatnya digedor, Namun bukan suara bibik yang kudengar, Melainkan suara mama.
Mama yang terus berulang kali memanggil nama ku, Sayup-sayup kudengar suara itu dan kemudian menghilang, Aku jatuh terkulai dan tak sadarkan diri.
Dan saat aku terbangun ,Dan membuka mata ku saat itu aku melihat, Mama, Papa dan bibik berada disamping ku, Bahkan seorang dokter yang berdiri tak jauh dari tempat ku berbaring.
"Sayang, Kamu sudah sadar?" Tanya mama pada ku.
Aku tak memberikan jawaban, Aku hanya menatap mereka Bergantian,Aku masih belum ingat kalau aku jatuh pingsan, Mungkin karena terlalu lama menangis.
"Icha, Apa yang terjadi?"Tanya papa.
Aku masih diam, Aku bingung harus bercerita dari mana, Aku hanya menatap papa. Dan saat itu aku melihat bibik keluar dari kamar, mengantarkan dokter yang kemungkinan datang untuk memeriksa ku.
"Icha, Ada apa nak?" Tanya mama mengelus kepala ku.
Aku mencoba mengumpulkan tenaga dan menggelengkan kepala ku.Aku tak ingin mereka tau apa yang terjadi, Mungkin akan sangat lucu untuk semua orang jika mereka tau aku jatuh cinta pada orang yang tidak ku kenal.
"Icha, Papa minta maaf jika selama ini papa tidak perhatian dengan kamu, Tapi papa harap kamu mau berbagi cerita dengan papa." Ucap papa.
"Tidak pa, Icha baik-baik saja." Jawab ku dengan suara lemah.
"Kamu lihat ini?"Papa menunjukkan handphone ku yang hancur.
"Mana mungkin tidak terjadi apa2 sampai kamu menghancurkan handphone kamu."Ucap papa.
"Iya Icha, Kamu terlalu lama menangis, Apa yang terjadi katakan pada Mama." Tambah mama.
Namun aku masih bungkam. Aku tak ingin bercerita apapun pada mereka berdua. Aku mencoba menahan kembali titik air yang akan jatuh dipipiku.
"Pa,Mana handphone Icha?"Tanya ku.
Sebenarnya itu pertanyaan yang tidak penting untuk saat itu, Namun aku tak ingin ditekan untuk menceritakan apa yang terjadi dengan ku, handphone ku dan juga mata yang begitu sembab.
"Nanti biar papa ganti dengan yang baru." Ucap papa.
"Tidak usah pa, Biar Icha perbaiki saja." jawab ku dengan suara pelan dan serak.
"Sudah kamu istirahat saja,Ditemani mama."Jawab papa.
Dan Papa pun berlalu meninggalkan ku dan mama, Juga membawa handphone yang sebenarnya sudah tak bisa digunakan lagi.
Aku mengalihkan pandangan menatap ke arah mama, Dan berusaha tersenyum walaupun sebenarnya senyum itu sudah tak ada.
"Ma, Apa bisa Icha istirahat dulu."Tanya ku sopan.
"Iya nak, Kalau begitu mama tinggal ya, Kalau ada apa-apa nanti hubungi saja kebawah dengan telpon kamar ini."Ucap mama.
Mama pun mengecup kening ku dan keluar dari kamar, Tinggalah aku yang masih sibuk dengan goresan luka, Sesekali aku menarik nafas panjang untuk sedikit meringankan rasa kecewa dihati ku.
Tak berapa lama bibik pun datang untuk mengantarkan obat yang harus ku minum, Dia menatap ku begitu lekat, Aku tau maksud bibik saat itu mencari pembenaran tentang apa yang terjadi pada ku.
Namun aku malah menundukkan kepala,Tak ingin bibik banyak bertanya. Aku langsung meraih obat yang sudah disiapkan dan meminumnya, Tepatnya mungkin vitamin untukku.
"Non!" Panggil bibik.
"Hmmm."Jawab ku.
"Tadi Den Angga telpon , Nanya kenapa handphone non tidak aktif." Kata bibik
"Mas Angga?" Tanya ku balik.
"Iya non." Jawab si bibik.
"Tadi bibik bilang handphone non rusak dan non sedang kurang sehat."Tambah bibik
"Habis nya bibik bingung mau bilang apa."Ucap Bibik lagi.
"Iya bik, Tidak apa-apa."Jawab ku.
"Non!"Panggil bibik lagi.
"Iya bik."Jawab ku.
"Apa non tidak ingin bicara kepada bibik?"Tanya bibik.
Aku diam, Tak memberikan jawaban.
"Ya sudah, Kalau non belum siap cerita tidak apa-apa, Istirahat lah."Ucap Bibik.
Bibik pun berlalu meninggalkan ku sendirian, Bibik memang orang yang selalu memahami ku.
Setelah bibik pergi aku pun berusaha untuk duduk bersandar ditempat tidur.Aku menyandarkan kepala ku dan memejamkan mata,Mencoba menenangkan hati ku yang baru saja terluka.
"Assalamualaikum!"
Terdengar ada yang memberikan salam dan membuka pintu kamar, Aku membuka mata dan menatap ke arah pintu, Seseorang sudah berdiri dan tersenyum ke arah ku.
Pria yang baru saja bibik bicarakan dengan ku.
"Mas Angga!" Ucap ku pelan.
Dan yang namanya baru saja ku sebut itu pun berjalan ke arah tempat tidur ku, Menatapku dengan senyuman.
"Kamu sakit Cha?" Tanya nya.
Aku hanya tersenyum, Dan Tampa kupersilakan mas Angga pun duduk disudut tempat tidur disamping aku berbaring. Dia masih menatap ku.
"Kenapa mas?" Tanya ku.
"Seharusnya Saya yang bertanya kamu kenapa?" Jawab Mas Angga.
"Icha tidak apa-apa"Jawab ku bohong.
"Icha, Penjahat saja bisa memberi pengakuan Apalgi kamu."Ucap Mas Angga sambil tersenyum.
"Tapi Icha bukan penjahat Mas."Jawab ku.
"Apa yang terjadi? Kenapa mata kamu sembab begitu, Apa kamu baru patah hati?" Tanya Mas Angga sambil tertawa.
Aku tau, saat itu mungkin dia bertanya sambil bercanda, Tapi pertanyaannya itu langsung pas dititik nya,Aku pun memalingkan wajah ku ke arah lain, Karena ada air disudut mata ku.
"Maaf kan Saya,Jika saya salah saya hanya bercanda saja."Ucap Mas Angga
Namun aku belum memberikan jawaban, Karena aku sedang berusaha menahan titik air agar tidak jatuh dipipiku. Dan tiba-tiba saja Aku merasakan tangan kekar itu menyentuh kedua pipiku.
Tentu saja Aku sedikit kaget, Dan berpikir mau apa Mas Angga,Karena Dia adalah lelaki pertama yang berani menyentuh ku, Saat itu aku ingin marah, Namun ku urungkan saat tau ternyata Mas Angga hanya ingin menghapus air mata disudut mata ku.
Sesaat mata kami beradu, Baru kali ini aku berada begitu dekat dengan pria Asing. Aku pun mencoba menghapus air mata ku sendiri untuk menghilangkan kegugupan ku, Karena di tatap oleh Mas Angga.
"Mas malam-malam kesini?" Tanya ku pelan.
"Iya, Karena kata bibik kamu sakit."Jawab nya.
"Tidak, Icha hanya tidak enak badan saja."Jawab ku sedikit gugup.
"Kamu bisa cerita dengan saya jika butuh teman."Ucap Mas Angga.
"Semua baik-baik saja mas."Jawab ku.
"Lalu, Kenapa mata mu bisa sembab begitu?"Tanya mas Angga lagi.
Namun aku hanya diam, Tak ingin memberikan jawaban apapun untuk pertanyaan itu, Saat ini aku memang sedang butuh teman, Tapi aku bukan tipe orang yang mudah bercerita dengan pria ,Apalagi yang baru ku kenal.
"Kamu kenapa diam? Apa kamu tidak suka bersahabat dengan saya?" Tanya Mas Angga.
"Tidak Mas, Icha hanya pusing saja." Jawab ku sedikit berbohong.
"Icha, Mas tau kamu sedang memikirkan sesuatu."Ucap Mas Angga.
"Mas jangan menduga-duga, Ini bukan persidangan."Ucapan ku.
"Hahahaha,Kamu bisa aja Cha."Terdengar suara tawa Mas Angga.
"Kadang kamu lucu juga ya Cha."Ucap mas Angga.
Bahkan dia bicara sambil menarik hidung ku, Seakan kami memang sudah sangat akrab.
"Apaan seh Mas, Sakit tau."Ucap ku sambil memegangi hidung ku.
Tampa kami sadari ternyata papa dan mama sedang memperhatikan ku dan Mas Angga saat itu. Sesaat kehadiran mas Angga memang menghibur hati ku bahkan sedikit membuat ku lupa dengan dengan luka yang baru saja aku tangisi.
Ternyata mas Angga yang terlihat begitu perfec, Bahkan berwibawa bisa juga membuat ku tertawa, Ada rasa kagum dihatiku saat itu, Namun hanya sekedar kagum.