Mia pikir hidupnya tidak akan bisa lebih sengsara lagi. Dia kira kecelakaan beruntun yang menewaskan kedua orang tuanya akan menjadi hari terburuk yang pernah dia alami. Tapi ternyata semesta masih ingin bermain dengannya.
Om David, adik papanya dalam waktu dua bulan menghabiskan semua harta benda peninggalan orang tua Mia. Seakan belum cukup, om David malah menjualnya.
Tapi siapa yang sangka ditempat kotor itu Mia akan bertemu dengan Angelio, pria dingin itu memilihnya. Menjadikan Mia pelampiasan karena wajahnya yang mirip dengan Ratna, si mantan pacar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon umericle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB XX: Hati yang Bimbang
Tubuh Lio terhempas di atas ranjangnya. Meletakkan tangan kirinya pada kening untuk menghalau silau matahari yang masih bersinar terang membuat kepalanya pening.
Awalnya Lio memang berencana langsung menuju penginapan untuk menebus semua rasa kantuk akibat kurang tidurnya selama beberapa hari belakangan. Namun semakin Lio membaca semua pesan dari Nadia membuat rasa rindu sekaligus khawatir menumpuk dalam hatinya.
Perasaannya amburadul sekarang. Lelah, kesal, kecewa juga sedih setelah ditolak Mia untuk kedua kalinya. Meski pun kali ini Lio tidak sepenuhnya ditolak, karena Mia memilih diam. Tidak merespon, tidak menolak tapi juga tidak menerima.
Perempuan itu pura-pura tidak mendengar namun Lio tau pasti Mia menyimak dengan jelas ucapannnya. Karena Lio merasakan tubuh Mia menegang selama beberapa detik.
Mungkin salah Lio juga mengatakan hal itu di timing yang tidak tepat, tanpa persiapan. Seakan ajakannya sesimpel mengundang Mia untuk makan bersama.
Salahkan jet lagnya. Juga delay pesawat yang menembus 16 jam. Oh ya mungkin bisa saja karena dermaga yang biasa buka 24 jam, tiba-tiba saja tutup hari itu karena salah satu kayu penyangganya jebol juga penyebabnya.
Membuat kesadarannya perlahan hilang dan meracau tidak jelas.
Ring Ring Ring..
Dengan tangan kiri yang masih di atas kening, Lio mencari hp nya. Meraba-raba permukaan ranjang. Dengan enggan menyipitkan mata untuk mengintip nama penelfon.
Lio langsung terduduk ketika mendapati nama Mia tertulis pada layar. Setau Lio, perempuan itu sudah memblokir kontaknya. Karena dia sempat menghubungi Mia kemarin namun tidak tersambung.
"PAPA!" Senyum Lio langsung merekah. tentu saja, siapa lagi yang bisa membuat Mia turut kalau bukan Nadia.
"Nadia? Kenapa sayang?"
"papa gimana?"
"gimana apanya sayang?"
"kata mama, Nadia ga boleh ganggu papa dulu karena masih capek. Tapi Nadia mau tanya papa gimana dulu"
"Kok ngomongnya gitu sih?" suara Mia terdengar pelan membisik.
"papa ga apa-apa kok"
"papa udah makan?"
Sepotong roti isi yang dia makan tadi pagi biasanya sudah cukup untuk menambah energinya. Namun tentu saja Lio tidak akan membuang kesempatan.
Jika dia bilang bahwa dia kelaparan, mungkin saja Mia akan mengunjunginya.
"belum nih, papa lapar banget tapi badannya masih pegal-pegal"
"ok pa! kalau gitu papa tunggu aja ya"
"loh? tunggu gimana maksudnya? Nadia mau ngap" Mia lagi-lagi menginterupsi sebelum sambungan telefon akhirnya terputus.
***
"ini kamu bawa apaan sih? banyak banget. Mau ngapain?" tanya Lio disela kunyahan tumis dagingnya.
Belum selesai dengan suapan pertamanya, Lio kembali menyendokkan suapan kedua. Dia tidak bercanda ketika mengatakan skill memasak Mia menjadi lebih berkembang dibanding sebelumnya.
"hari ini aku udah janji buat kue cokelat. Tapi karena Nadia minta ke sini jadi ya ga ada pilihan. Aku harus pinjam dapur kamu" ucap Mia mdngeluarkan semua bahan kuenya ke atas meja dapur.
"oh, kue cokelat buat ditaruh di restoran Gita ya?"
Mia berbalik. Menatap Lio sinis "Nadia ceritain apa aja sih sama kamu?"
"seemuanyaa.. " ucap Nadia sambil merentangkan tangannya lebar.
Lio mengangguk setuju. Menyodorkan hpnya sebelum berkata "mau baca?"
Mia hanya membuang muka kesal. Mulai menakar semua bahan dan menuangkannya ke atas loyang besar. Pemandangan saat ini, Mia sedang sibuk memakai dapurnya sudah lama Lio impikan.
Andai saja Ratna tidak datang malam itu, mungkin kegiatan ini sudah menjadi hal rutin bagi mereka.
"kamu cantik banget kalau lagi masak. Sering-sering ke sini ya masakin aku"
Bola mata Mia memutar jenuh "gimana jalan-jalannya sama Ratna? udah puas?"
Lio membelalak. Hampir tersedak. Dari mana Mia tau dia pergi sama Ratna?
"heh.." Mia berdesis meremehkan. "kamu herankan dari mana aku tau?" sambungnya.
"ga, aku tau kamu pasti liat aku malam itu" Lio berusaha tenang. Mengingat kejadian malam itu dan menggunakan logikanya.
Dia sebenarnya merasa malam itu ada yang melihatnya bersama Ratna. Tapi tidak berpikir terlalu jauh karena sibuk memikirkan bagaimana caranya mengusir Ratna tanpa menyakiti perasaannya.
"kamu ga nanyain aku selama ini kemana dan ngapain?" Sejujurnya Lio sudah mengatur kata-kata apa yang akan dia katakan ketika bertemu Mia. Namun masih ragu kapan waktu yang tepat.
"ga perduli" ucap Mia cuek. Meskipun hatinya cemburu ingin tau, tapi Mia memilih untuk tidak perduli. Jangan sampai penjelasan Lio membuka hatinya lagi.
"aku pergi ke Melbourne, antar Ratna ke rumah orang tuanya"
"papa kok ga telefon mama? Nadia udah coba telefon papa pakai banyak nomor kok ga aktif?"
Nadia seakan bisa membaca pikiran Mia. Hal itu yang mengganggunya selama sebulan belakangan. Mia bukannya tidak pernah menghubungi Lio.
Pagi hari saat kepergian Lio, Mia sempat menghubungi pria itu sekali dan mendapati nomornya tidak aktif. Mulai saat itu dia memutuskan untuk berhenti mengharapkan Lio dan kembali menjalani hidup sebagai orang tua single.
"nomor papa ga aktif karena di atas pesawat. Terus pas sampai, hp sama tas papa hilang"
Ralat. Yang sebenarnya terjadi adalah hp dan tas Lio dibuang oleh Ratna karena mendapati niat Lio membawanya pulang bukan untuk kembali menjalin hubungan melainkan menyerahkannya kembali ke orang tuanya.
"jadi butuh waktu lama supaya nomor papa bisa dipakai lagi" lanjutnya.
"tapi kok papa datangnya hari ini? papa udah janji sama Nadia mau datang kemarin pagi loh ya"
Mia masih memasang telinganya. Bberusaha menahan diri untuk tidak berbalik. Ternyata Nadia sudah tau Lio akan kembali tapi tidak memberitahunya untuk bisa bersiap-siap.
"Nadia tau ga dermaga kota ditutup?"
Nadia menangguk "iya, soalnya kemarin tante Gita ngomel stok ikannya ga bisa dikirim"
"iya, papa juga gitu. Jadi pagi tadi papa nyebrangnya sama kotak ikannya tante Gita"
"oh ya? hahahaa.. pantes papa bau amis" Nadia mengibas hidungnya bercanda. Kemudian melambaikan tangannya mengundang Lio untuk mendekat.
"tugas Nadia udah selesai, Nadia pergi main dulu ya. Papa jangan bikin masalah lagi" bisiknya pelan kemudian mengelingkan matanya.
"ma, Nadia mau main sama om Rian dulu ya. Kalau udah selesai, mama telefon om Rian aja. Nanti Nadia balik sendiri ke sini" pamit Nadia sambil mrngenakan sepatunya.
"loh?" Mia baru sempat mengucapkan satu kata sebelum diinterupsi Lio.
"nanti biar papa sama mama yang jemput ya" ucapnya sebelum dibalas tatapan sinis oleh Mia.
"mau aku bantuin ga?" Tanya Lio menghampiri Mia.
"kamu ngebantu banget kalau ga ganggu aku"
Lio berdiri di sudut meja dapur. Bersender pada wastafel sambil melipat tangannya di dada.
"kalau aku berdiri di sini liatin kamu ga ganggukan? Kalau ganggu juga ga masalah sih pokoknya aku mau berdiri di sini liatin kamu"
"bantu aku cari mangkuk aja deh, kamu adakan?"
Tangan Mia mencari, bolak balik mencari di segala laci dapur. Kakinya berjinjit. Berusaha menggapai laci diatasnya.
Sosok gelap mengurung Mia dari belakang. Nafas Lio berhembus meniupkan wangi khasnya memenuhi hIdung Mia. "ada dong" ucapnya pelan dengan nada rendah.
Tangan besar Lio melampaui tangannya. Meraih mangkuk bening yang diinginkan Mia.
"nanti kalau kita tinggal bareng, dapurnya dibikin pendek aja ya biar kamu ga usah jinjit-jinjit gini. Aku jadi gemes liatnya"
Jika situasinya tidak seperti sekarang, Mia pasti akan meninggalkan Lio tanpa sepatah kata pun. Namun kali ini dia tidak bisa. Seluruh tubuhnya lemas. Ribuan kupu-kupu berterbangan diperutnya.
Mia menggigit bibir, berusaha menahan ******* ketika tangan kanan Lio memeluknya. Tubuh Mia tenggelam dalam dekapan Lio.
"Mia" bisik Lio didekat telinga Mia.
"aku ga bercanda pas kemarin aku ngajak kamu balikan. Kamu mau ya, kita mulai dari awal. Aku janji ga akan nyakitin kamu kali ini. Sengaja atau pun ga sengaja. Ga akan. Janji"
Fighting!!!