Indonesia
NovelToon NovelToon
Little Dead Flower

Little Dead Flower

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Supernatural / Romansa Fantasi-Non-Human / Fantasi Timur
Popularitas:21.6k
Nilai: 5
Nama Author: Adinda Permata

Hellga Augeria, gadis remaja yang dilayani oleh tiga iblis yang datang dari neraka. Azel, sang iblis laki-laki dengan kemampuan magis dan fisik yang kuat. Magelynn, iblis perempuan dengan kemampuan magis. Amanda, iblis perempuan dengan kemampuan fisik. Mereka melayani Hellga sebagai tujuan hidup mereka.

hingga suatu hari, penyihir hitam bernama Fad Lee yang rupanya mengincar Hellga yang merupakan seorang Imortaz muncul. Azel dan kedua rekannya tak tinggal diam.

Dimulailah kisah Azel sang iblis dan kedua rekannya melayani sang majikan. Cerita penuh aksi dan sihir yang asyik untuk dinikmati.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Adinda Permata, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tweenty

Little Dead Flower

Tweenty

“Alright, akhirnya kau kembali, Mand,” sambutku pada gadis dengan jaket kulit hitam yang berjalan mendekatiku. Di kedua tangannya terdapat intisari yang jumlahnya lumayan banyak. Aku heran juga sih, dari mana dia mendapatkan intisari sebanyak itu? Memang di antara kami bertiga, Amandalah yang paling ganas dalam berburu intisari.

“Kau menungguku? Itu tidak perlu,” ucapnya dingin kemudian melangkah masuk ke dalam rumah. Dia pergi ke kamar Hellga untuk memberikan intisari yang didapatnya. Sambil menunggu Amanda, aku duduk di sofa di ruang tengah.

“Selanjutnya giliran Lynn, ya?” tebak Amanda yang muncul di belakangku. Dia segera duduk di sampingku.

“Ya, setelah itu baru aku. Ngomong-ngomong, kenapa kau agak lama? Kau mencari intisari di mana?” jujur saja aku penasaran. Kutatap Amanda sambil menunggu jawaban darinya.

“Ya, tadi aku bertemu Marley. Kebetulan lewat, akhirnya dia membantuku mencarikan sumber intisari yang bagus,” jelas Amanda.

“Waw, belakangan ini dia memang sering jalan-jalan. Sudah beberapa kali aku melihatnya.”

Amanda memutar kedua bola matanya. “Like i care.”

“Hei ayolah, kenapa kau ini?”

“Untuk apa juga mengurusi penyihir yang sama menyebalkannya seperti Lynn?” kedua tangan gadis itu kini terlipat di dada. Wajahnya beanr-benar menggambarkan ketidaksukaannya terhadap penyihir.

“Alright, sebaiknya kau kembali ke kamarmu dan istirahatlah.”

Amanda mengangguk. Dia beranjak dari sofa lalu pergi ke kamarnya. Aku pun demikian. Aku meninggalkan ruang tengah dan pergi ke ruanganku yang penuh benda-benda elektronik rusak serta perkakas.

***

Paginya, seperti biasa, seluruh penghuni rumah sarapan pagi bersama. Ada yang aneh pagi ini, suhu menjadi lebih dingin. Bahkan Hellga yang biasanya tak menggunakan jaket kini memakainya. Ketika aku menyentuh gelasku di meja, rasanya seperti menyentuh es.

“Wow, pagi ini dingin sekali,” komentar Kana yang menuangkan teh ke gelasnya.

Hellga mengangguk. “Yes, itu alasan mengapa aku mengenakan jaket. Biasanya aku malas memakainya karena gerah.”

Lynn tersenyum lebar. “Dingin ... dingin ... yaaay dingin ...!”

Amanda menepuk jidatnya. “Dasar tidak waras,” bisiknya pelan.

“Aku dengar itu, Mand.”

“Ya Lynn, kau selalu mendengar yang harusnya tak perlu kau dengar,” balas Amanda.

“Hei hei, ayolah, jangan mulai lagi. Ini masih pagi, masa kalian mau ribut pagi-pagi?” leraiku kemudian melirik mereka bergantian. Kalau sampai mereka berkelahi, bisa bisa seisi rumah tidak sarapan karena meja makan yang hancur.

Akhirnya dua gadis itu bisa diam.

“Baiklah, sebaiknya aku segera berangkat. Have a good day everyone.” Hanny beranjak dari kursinya setelah menyelesaikan sarapan. Dia pamit lalu pergi duluan.

“Lynn?” panggil Kana.

Gadis yang dipanggil menoleh. “Huh? Ya?”

“Kau tidak berangkat?”

“Belum, poti pagiku belum. Aku ke kamarku dulu,” ucap gadis pendek berambut abu-abu itu yang langsung melesat ke ruangannya. Ah aku ingat, poti yang dia maksud adalah cairan berbau aneh yang wajib dia minum setiap pagi. Kalau dia melewarkannya, pasti kakaknya akan mengomel.

“Lynn! Sudah kubilang jangan sampai telat, poti itu untuk kesehatanmu juga! Apa susahnya sih hanya dminum? Aku yang carikan bahannya, kau tinggal minum saja. Itu saja susahnya setengah hidup! Pusing aku lihat tingkahmu!” yep, seperti itulah jika Marley mulai mengomeli adiknya itu.

“Apa tidak bisa hari ini aku membolos aja, ya?” gumam Hellga pelan, yang pasti maish bisa didengar.

“Hah? Apa tadi kau bilang?” tanya Amanda, sengaja supaya Hellga mengulangi kalimatnya lebih keras.

“Apa? Aku hanya bilang ingin bolos. Di luar udaranya dingin sekali, malas aku sekolah.” Hellga menatap ke luar jendela, keadaan di luar sana memang terlihat sangat dingin. Ditambah lagi langit yang berawan, matahari bersembunyi di baliknya.

“Oh ayolah Hell, cuaca dingin tidak akan membunuhmu,” ucap Amanda seraya memutar bola matanya.

“I know Mand, i know, huuu dasar, tidak bisa diajak kompromi,” dumel Hellga yang langsung memasang ekspresi cemberut di wajahnya.

“Baiklah, sebaiknya kalian berangkat anak-anak. Jangan sampai terlambat,” ucapan Kana menjadi penutup obrolan di meja makan pai ini. Mereka berdua segera beranjak dari kursi lalu pergi. Disusul Lynn yang baru selesai dengan potinya. Seperti biasam, aku pun pergi ke ruanganku.

***

Malamnya, kuhabiskan malamku dengan duduk santai di teras rumah. Untuk iblis sepertiku yang tak memerlukan tidur, aku biasa menikmati suasana malam seperti ini sambil menunggu matahari terbit. Menikmati suasana malam yang gelap itu menyenangkan. Udara malam, suara-suara hewan malam, kalau kau beruntung kau bisa melihat bulan atau bintang di langit. Di waktu tenang seperti inilah aku bisa rileks sesaat, istirahaat sejenak. Sempat terpikir olehku jika kuhabiskan semalaman penuh dengan gadisku. Namun sayang dia harus terlelap dan pergi ke dunia mimpi.

Telingaku menangkap suara lolongan serigala yang cukup nyaring. Aku yakin suara itu berasal dari hutan. Kudongakkan kepalaku, padahal tidak ada bulan purnama. Lantas mengapa serigala melolong? Okay, kuakui hari ini memang cukup aneh.

“Oh?” mataku menangkap sosok kucing berwarna cokelat yang melintas. Aku mengenal kucing itu. Itu kucing Lynn, dia memberi nama Cleo, padahal kucing itu berjenis kelamin jantan. Lynn kurang memperhatikan hal itu ketika pertama kali dia bertemu Cleo. “Kau mencari Lynn, huh? Mungkin dia ada di ruangannya.”

Kurasa aku tak perlu memanggil si pemilik kucing karena suara langkahnya bisa kudengar mendekat kemari. Dengan buru-buru, Lynn menghampiri Cleo.

“Aw, hei Cleo, what are you doing here?” penyihir kecil itu mulai berbicara pada hewan peliharaannya seperti bicara dengan manusia. Memang, mereka penyihir memiliki kemampuan memahami bahasa hewan. Bahkan Marley juga memahaminya.

“Kau tampak menikmati berbincang dengan hewan itu, Lynn,” komentarku seraya mengamati gadis yang berjongkok di teras rumah. Tangannya mengusap-usap punggung Cleo.

Lynn tak menggubris ucapanku. Dia malah asyik sendiri dengan kucingnya.

“Alringt, aku masuk duluan. Jangan terlalu lama di luar Lynn,” pesanku sebelum masuk ke dalam rumah. Sekali lagi Lynn tidak merespon, tapi aku yakin telinganya mendengar ucapanku barusan.

Kuputuskan untuk menghabiskan malam di ruanganku. Menghabiskan waktu dengan alat-alat elektronik rusak, yep, sudah biasa. Kuambil buku panduan elektronikku di rak buku, lalu mulai mengutak-atik alat di depanku. Aku sengaja memilih pekerjaan ini bukan karena mudah, melainkan agar aku bisa stay di rumah. Kalau aku mau, bisa saja aku bekerja sebagai pegawai di kantoran. Tapi tidak, aku tidak bisa meninggalkan rumah, berada jauh dari tuan putriku.

“Lynn?” gumamku ketika melihat sosok Lynn yang melintas di depan ruanganku. Pintu memang sengaja tidak ditutup agar udara bisa masuk dan keluar.

Gadis itu tetap melangkah tanpa memperdulikanku. Di tangannya kulihat dia memnawa sesuatu. Karena penasaran, kuhentikan aktivitasku lalu kuikuti gadis itu. Dia pergi ke halaman belakang rupanya.

“Apa itu, Lynn?”

“Burung mati, Zel. Cleo yang menemukannya. Aku hendak menguburnya di halaman belakang,” gadis itu berjongkok lalu mulai menggali.

Aku terdiam sejenak.

Burung mati, huh?

***

“Hei, kalian lihat itu?” Lynn menatap jendela. Otomatis kami semua menoleh ke arah jendela. Di luar sana, langit mendung, bahkan agak gelap. Entah ke mana perginya matahari hari ini. Bisa kulihat butiran-butiran salju yang perlahan turun dan menempel di jendela. Wait, salju? Aku yakin musim dingin masih lama datangnya, lalu mengapa salju sudah turun?

“Bukannya musim dingin masih lama?” tanya Hanny heran.

“Nah itu, makanya aku juga bingung,” sambung Hellga.

“Siapa yang peduli? Yang penting salju turun, yaaaay!” seru penyihir muda itu seperti biasanya, kegirangan.

Eren melirik Lynn sekilas lalu menyeruput kopinya.

“Sepertinya kau tak suka musim dingin, Nona Eren?” tanya Lynn.

Wanita itu meletakkan gelasnya di meja. “Tumpukan salju bisa membuatku susah bekerja.”

“Tumpukan salju ...! Ada yang ingin membuat boneka salju?”

“Akuuu!” seru Hellga girang. “Kapan?”

“Oh please, girls. Daripada bicara tentang boneka salju, sebaiknya kalian berangkat.” Eren menatap Hellga dan Lynn bergantian, “dont be late, kids.”

“Yaw!” Hellga bangkit dari kursinya. Amanda yang duduk di sampingnya buru-buru menghabiskan kopinya lalu ikut menyusul Hellga.

“Aku berangkat,” pamit Hellga disusul Amanda.

“Perlu kuantar?” taawarku.

“No need, im with her,” sahut Amanda.

Tak lama kemudian, Lynn dan Hanny yang baru saja menyelesaikan sarapannya beranjak dari kursi. Senyum lebar itu belum lepas dari wajah Lynn, berbeda dengan Hanny yang wajahnya penuh keheranan.

“Baik, Kak, aku berangkat dulu. Semoga hari baik untuk kita semua,” pamit Hanny yang kemudian meninggalkan ruang makan.

“Mother earth bless we all!” ucap Lynn penuh semangat kemudian berlari menyusul Hanny yang sudah berdiri di depan pintu utama.

“Alright, i will go. Thanks Kana, thanks Zel, have a ood day.” Eren bangkit dari kursinya lalu meninggalkan ruang makan.

“Aku akan ke gudang sebentar,” ucap Kana sesaat kemudian mengangkat piring-piring kotor di meja. Dia pergi ke dapur, sedangkan aku pergi ke ruanganku.

“Alringt, time to work.”

***

“Oh my ... what happend to you, Hell?”

Aku buru-buru ke pintu utama. Di sana Kana menyambut Hellga dan Amanda yang baru saja pulang dari sekolah. Aku terkejut melihat Hellga yang separuh tubuhnya basah oleh tinta hitam. Tunggu dulu ... tinta hitam? Apa jangan-jangan ....

“Hell tak sengaja bertabrakan dengan seseorang di kelas seni dan botol tinta mengenai seragamnya, seperti yang kau lihat,” jelas Amanda.

“Dan kau pulang dengan noda hiram di bajumu?” tanyaku pada Hellga.

Hellga hanya memasang wajah cemberut lalu melenggang pergi ke kamarnya.

Kau tahu dia tidak begitu suka berurusan dengan murid laki-laki di sekolahnya kan, Zel?” tanya Amanda.

“Yep, you right.”

Begitu dua gadis itu masuk ke kamar Hellga, aku beralih kepada Kana.

“Hei, apa yang kau lakukan di gudang tadi?”

“Membersihkan lantai, menata buku-buku di rak, dan oh ... ada cermin retak di gudang, aku berniat membuangnya sih tadi.”

“Hold, cermin retak? Di mana?”

“Di gudang Zel, belum kupindahkan,” jawab Kana.

“Sebaiknya aku melihatnya, thanks Kana.” Aku bergegas pergi ke gudang yang terletak di halaman belakang. Benar saja, kulihat cermin berukuran cukup bersar kira-kira cukup untuk dua orang tergeletak di samping rak buku. Cermin itu penuh debu dan retak. Yap, Kana benar, cermin retak.

“Ini semakin aneh. Apa akan ada sesuatu yang terjadi?” gumamku tanpa melepas pandanganku dari cermin tua itu.

***

Malamnya, kulihat Lynn yang bersiap-siap untuk mencari intisari. Walau cuaca di luar sangat dingin, dia tak mengenakan jaket atau pakaian tebal lainnya. Tentu saja, aku lupa dia bukan manusia. Pastinya tubuhnya bisa beadabtasi dengan cuaca seksrim apapun.

“Aku harap kau pulang tepat waktu Lynn, atau kakakmu akan mulai menyemprtoku,” pesanku pada gadis itu.

“Yaz yaz yaz!” Lynn langsung melesat meninggalkan ruang tengah.

Tiga puluh menit berlalu, tak kunjung kutemukan Lynn. Kuharap tiga puluh menit setelahnya, gadis itu menampakkan batang hidungnya. Kulangkahkan kakiku meninggalkan ruang tengah, memutuskan untuk menunggu Lynn di teras rumah.

Tiba-tiba saja, kurasakan sebuah getaran di tanah. Spontan aku menunduk, mengamati tempatku berpijak saat ini. Untuk orang biasa, mungkin tidak akan terasa karena getaran itu lebih kecil dari gempa. Tapi untuk makhluk sepertiku yang lebih sensitif, tentu saja aku merasakannya. Firasatku tidak enak. Semua kejadian belakangan ini membuatku was-was. Apa ini sebuah pertanda? Tentu saja, tidak mungkin semuanya terjadi secara kebetulan.

“Zel ... oi oi!”

Suara cempreng itu membuyarkan lamunanku. Begitu aku menatap lurus ke depan, kudapati Lynn dengan intisari di tangan kanannya. “Ah, you back.”

“Hei, kau merasakan itu juga, ya?” tebaknya yang langsung bisa kupahami arah pembicaraan ini.

“Kukira hanya aku.”

“Aku yakin si fujoshi itu juga merasakannya tapi dia lebih memilih tidak berkomentar.”

“Ini semakin aneh, Lynn. Apa yang terjadi sebenarnya? Aku yakin kau penyihir pasti tahu sesuatu.”

Lynn tersenyum misterius. “Akan ada kejutan, kau harus menunggu. Aku masuk dulu, mau memberikan intisari ini pada Hellga. Bye Zel!” gadis itu langsung masuk ke dalam sambil melompat girang. Kenapa sih dia itu? Penyihir aneh.

***

Paginya, semua penghuni rumah memulai aktivitas seperti biasa. Kali ini bukan kana yang memasak, melainkan Hanny dan Lynn. Amanda tamapkanya ragu untuk mencicipi masakan itu. Dia lebih memilih menyeruput kopinya daripada mengambil suapan pertama. Berbeda dengan Amanda, Hellga, Kana, dan Eren tampak biasa saja. Begitu aku mengambil suapan pertama, kuakui rasanya biasa saja, tidak buruk, kok.

“Makan saja, Mand. Rasanya tidak buruk,” ucap Hellga meyakinkan.

“Apa yang membuatku bisa percaya? She is a witch, bagaimana kalau ada spell di makananku? Im sick of her trick!” sembur Amanda.

Okay, sepertinya mood paginya tak terlalu baik. Semuanya terdiam sedangkan Hellga menahan tawa.

“Yang tenang dong, aku juga makan, loh, mana mungkin dia memberi spell di makanan itu? Ayo dong Mand, jangan buang-buang makanan begitu.”

Amanda memasang wajah cemberut. “Fine.”

“Yaaay! Akhirnya Mand mau mencoba masakanku!” Lynn bersorak girang.

“Shut, Lynn!” balas gadis fujoshi itu.

“Oh ya, ngomong-ngomong, apa pendapat kalian tentang wanita buta yang bisa merajut selimut?” tanya Lynn tiba-tiba yang tentu saja menarik perhatian. Bahkan Eren sekalipun.

“Maksudmu Ms. Claire, Lynn?” tebak Hanny.

“Yes Hann, aku yakin kau juga menyadarinya.”

“Wanita buta yang merajut selimut? Itu aneh, bagaimana bisa orang buta merajut?” tanya Kana heran, keningnya mengerut mendengarnya.

“Mungkin dia tidak benar-benar buta?” tanya Eren.

“Wanita buta yang merajut selimut, huh? Ini semakin aneh,” tanyaku yang langsung membuat Amanda menoleh.

“Yes? What is it, brother?”

“No Mand, i think ... ah ... sudahlah. Tidak ada apa-apa, sebaiknya aku antar kalian ke sekolah, how is that?” tawarku.

“Sure!” justru Hellga yang menyahut.

“Baiklah, kami berangkat dulu, Kana, Hann, Eren, dan Lynn. Have a good day,” pamitku pada penghuni yang masih duduk di meja makan.

***

Setelah mengantar Hellga dan Amanda, aku tidak langsung pulang. Kuputuskan untuk melihat tambang tua yang sudah ditinggalkan yang terletak di pinggir hutan itu. Aku yakin sumber getaran yang kurasakan tadi malam adalah tambang tua itu. Entah apa yang akan temui nanti, yang pasti aku harus tetap waspada.

Begitu aku sampai di depan tambang yang disegel itu, langsung saja kujebol segel itu dengan mudah. Kini aku melangkah menuruni anak tangga di dalam tambang. Keadaan di sini sangat gelap dan kering, tapi tentu saja mataku bisa menembus dalam kegelapan. Jalan yang bercabang-cabang membuatku kesulitan memilih jalan. Aku hanya melangkah lurus, berjalan lebih dalam tambang. Suhu entah mengapa semakin hangat yang lama kelamaan menjadi panas. Telingaku menangkap suara samar-samar jeritan jiwa-jiwa yang meminta tolong dan meronta kesakitan.

Begitu aku sampai di dasar tambang, kulihat sebuah batu besar berwarna merah menghalangi jalanku. Kurasa aku sudah berada di ujung dari tambang ini. Suara jeritan itu semakin jelas kudengar. Begitu aku menyentuh batu besar itu, panas yang familiar seketika kurasakan, Familiar? Ya tentu saja, karena rumahku adalah neraka.

Tiba-tiba saja batu merah besar di hadapanku bergetar hebat, sampai-sampai tanah tempatku berpijak ikut bergetar. Aku melongo sesaat karenanya. Apa yang terjadi? Batu itu perlahan bergeser, bisa kulihat bara api dari celah itu. Beberapa jiwa mencoba menerobos keluar, tentu saja usaha mereka sia-sia. Begitu batu itu sudah terbuka separuhnya, kuambil langkah mundur untuk antisipasi.

Batu itu makin bergeser, makin memperlihatkan isinya.

Boom! Duaaar!

“Ughh ...!” ledakan besar barusan berhasil membuatku terpental keluar dari dalam tambang. Kini aku terduduk di tanah karena ledakan itu. Tak butuh waktu lama bagiku untuk bangkit berdiri. Kubersihkan jasku yang setengah terbakar dan juga celanaku yang kotor.

“Hampir saja ... harusnya itu bisa membunuhku.”

Tap-tap.

“My old friend, Tuhan akan kecewa jika kau mati hanya karena ledakan barusan.”

Suara asing itu berhasil membuatku memutar tubuhku seratus delapan puluh derajat. Kudapati dua sosok gadis berdiri tegap di hadapanku. Salah satu gadis tinggi, terlihat seperti wanita muda, berambut pirang panjang, hidungnya mancung, bibir tipis, serta kulit putih ersih layaknya malaikat. Oh aku mengenalnya. Dia Zeera, salah satu malaikat yang kukenal.

“Waw, kau rupanya, Zeera,” balasku.

“Yes, its me, aku tidak sendirian by the way,” Zeera menyingkir, kini sosok gadis lainnya bisa kulihat jelas.

Sosok gadis bertubuh lebih pendek dari Zeera, sedikit gemuk munkin lebih gemuk dibandingakan Marley, berambut pendek dengan model mirip laki-laki, serta kulit yang putih bersih. Aku tahu gadis itu, dia malaikat juga, Yuura namanya.

“Malaikat yang keluar dari gerbang neraka? Okay, itu aneh,” komentarku.

“Lebih aneh mana malaikat yang keluar dari gerbang neraka, atau iblis yang melayani manusia?” balas Zeera.

“Kami datang kemari karena perintah untuk memulangkanmu sudah keluar, Azel,” gadis yang satunya lagi, maksudku Yuura akhirnya bersuara.

“Memulangkanku, huh?”

“Pulang ke rumahmu, atau kami punya hadiah untukmu.” Yuura menatapku tajam.

“Aw, what is that? Tell me?”

Zeera menjentikkan jarinya, mendadak muncul simbol bintang di dalam lingkaran di tanah berwarna hitam. Dari lingkaran itu, muncul sosok laki-laki yang kukenal. Ya ampun, kenapa aku harus bertemu dengannya lagi?

“Dia? Kau menghadiahkanku penyihir itu? Apa-apaan?”

Fad Lee perlahan tersadar, dia mulai mengamati keadaan sekitar. “Where am i?”

“Welcome to human world, my old friend,” ucapku ketus.

Laki-laki itu memicingkan matanya begitu menangkap sosokku. “Kau ... iblis? Masih hidup rupanya kau.”

“Harusnya aku yang bicara begitu.”

Zeera menepuk pundak Fad Lee. “We bring you out from hell. Now, finish him for us,” jari telunjuk Zeera menunjuk lurus ke arahku.

1
Yoni Hartati
lanjut semangat
ineyyy🐿️
haloooo eh maap melenceng dr novel ya hihi aku minta follback nya dong tdi kamu lulus trial kn ya.. mau barter info gitu hihi
𝐀⃝🥀sa🅚ithat🅘kudito🅨a🥑⃟: follow back me
total 1 replies
🎐꧁༺𝒜𝒾𝓈𝓎𝒶𝒽༻꧂🦋
semoga diterima diperguruan yang diinginkan ya thor😊tetap semangat
Diana Garwinn: terima kasih kak
total 1 replies
Mpit
Salken kak, aku author dari Chika 😁 Aku udh mampir+like untuk kakak, ya? Sekarang ini udh ninggalin jejaknya :v

Diana Garwinn: terima kasih
total 1 replies
Mpit
Eps 1 panjang ya 😁
melza Chantik
bagi pembaca lain boleh coba baca novel aku juga.

- My Love is SUPERBOY
- Temen Tapi Sayang
melza Chantik
aku udah mampir
Diana Garwinn
Hai hai pembaca setia LDF. Mohon maaf ya LDF updatenya lama, dikarenakan author juga sibuk di dunia nyata. Terima kasih atas suport pembaca sekalian, kalau tidak ada kalian LDF tidak akan sesukses ini.

Mojon bersabar ya :)
Alsaeida
Sudah mampir kak.
Diana Garwinn: terima kasih
total 1 replies
Alsaeida
Lanjut kak. Selalu semangat dan terus berkarya.
kiki
Makasih like nya di proyek pencarian suara kk
Annha 🇲💫
Aku udh baca.
ya...kren thor lnjut..
Udh like

jgn lupa mmpir di karyaku
Misteri sang pemuja rahasia.
👑Ajudan Tante Lele💣
hai hai lele udh mampir ya.. udh kasih like disemua chapter dan bintang 5😁
tulisanmu rapi aku suka❤
btw 1 eps u smpi brp kata? 2 sd 3 kah?
wah keren,
semangat yak tamatin novelnya💪
Diana Garwinn: makasih kaka udah mampir 🤣 ga tau kak berapa kata, pokok nulis aha :v
total 1 replies
Diana Garwinn
kira kira ada reader yang nungguin next chapter nggak nih? :) komennya ya unruk suport :)
Larasati anugrah dewantari
profilnya kayak di anime
"diabolik lovers"
Annha 🇲💫: Hai kakak salam knl ya

mampir yuk di novelku judul'y
Misteri sang pemuja rahasia.
total 2 replies
NMarianna
semangat nulis ya
kayaknya per bab nya lebih dari 1200 kata ya? kalo aku, ntar selesainya sampe bertahun tahun wkwkwkwk
Diana Garwinn: iya lebih kak, panjang semua :v
total 1 replies
💐ANI💐
lanjut dong kak ceritanya
Diana Garwinn: ditunggu ya 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!