Bijak-bijaklah membaca, karena novel ini mengandung unsur perundungan/Pembully-an, serta menguras hati pembaca.
Kejadian yang tak benar adanya itu mampu merenggut kebahagiaan Senja & Lengkara.
Dia, Senja Cencal Aurora si gadis yang memendam luka dengan watak kerasnya. Memiliki janji untuk tidak menangis di hadapan manusia-manusia yang mempunyai nilai bejat.
Cinta beda keyakinan adalah cinta yang memiliki jarak paling jauh bukan? tak terlintas di dalam pikiran Aksa dan Senja untuk kedepannya dengan menjalani hubungan yang tak memiliki masa depan.
Lengkara menjadikan Aksara rumah untuk pulang, sebaliknya, laki-laki itu membuat Lengkara patah hingga pincang.
Sesederhana bahwa mereka adalah dua insan yang saling mencintai, namun putaran takdir yang melibati kehidupan mereka berakhir dengan yang namanya perpisahan.
Lengkara sangat mencintai Aksara bahkan sampai akhir hayatnya.
Senja sangat menyukai Angkasa, bahkan dengan nyawa taruhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon -DeniAn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19. Runtuh
Aksa merebahkan tubuhnya di ranjang empuk miliknya. Bayangan saat Senja di bully tadi masih terekam jelas di benaknya.
Hatinya berdenyut nyeri saat melihat Senja di perlakukan seperti itu. Aksa tau perbuatan mereka salah, namun Aksa tak bisa berbuat apapun. Ia merasa menjadi manusia paling bodoh.
Darahnya berdesir saat melihat tatapan Senja kepadanya, seperti ingin mengatakan sesuatu dan ada sebuah harapan di sana. Laki-laki itu membuka ponselnya, banyak sekali notifikasi dari Senja, namun ia tak berniat membalas satupun pesan itu.
Sungguh, Aksa merindukan Senja. Sangat merindukan kebersamaannya. Tapi Aksa sudah terlanjur kecewa dan entah sampai kapan akan seperti ini.
"Assalamualaikum," ucap umi memberi salam.
Aksa langsung mendudukan posisinya "waalaikumsalam,"
"Kamu kenapa kak? Umi perhatiin dari tadi kamu ngelamun terus," tanya umi lembut lalu duduk di sebelah Aksa.
"Umi," panggil Aksa pelan.
"Iya? Kenapa?" Sahut umi.
"Aksa sama Senja selesai mi," ucap Aksa berat. Yang membuat Umi cukup terkejut.
"lhoo, ada masalah apa? Bukannya kalian baik-baik aja?" Tanya umi.
"Gapapa mi, umi kan tau kita beda," ucap Aksa terdengar lesu.
"Lalu siapa yang bakal jaga Senja? Kita kan tau bagaimana keluarganya,"
"Senja udah ada pengganti mi, dia Fajar,"
Mendengar namanya saja umi sudah bisa mengira bahwa mungkin saja lelaki itu satu keyakinan dengan Senja. Tangan Rifda bergerak mengelus pundak putranya dengan bangga.
"gapapa, umi tau ini berat, kita berdoa aja supaya lelaki itu bisa menjaga Senja,"
"Aksa harap gitu mi," jauh dari lubuk hati Aksa, bagaimana ia melihat Senja di perlakukan seperti itu.
"Tapi kalau ada waktu ajak Senja main ya? Kalian harus jadi teman. Akhas juga nanyain mulu,"
"Iya mi, insyaallah Aksa usahain" ucap Aksa.
...****************...
"Aksa, kamu tau kan Bunga mawar warna putih itu?" Tanya Senja.
Aksa mengernyit, "emang ada bunga mawar warna putih?"
"Ada Sa, tapi kayaknya langka deh," ucap Senja lesu.
"Ya pasti ada kan? Memang kenapa?" Tanya Aksa seraya membenarkan poni Senja.
"Beberapa bulan lagi kita lulus, aku mau di kasih itu sama kamu boleh gak?" Tanya Senja.
"Boleh, nanti aku cari. Itu aja? Ada lagi gak?" Tarya Aksa memastikan.
Senja sedang berfikir, "emm, aku mau ngerayain hari kelulusan sama kamu aja, berdua, di pantai ini, ya boleh ya?" Tanya Senja sembari menunjukan puppy eyesnya pada Aksa.
Aksa di buat gemas sendiri, tangan terulur mencubit pipi Senja. "Mau sekarang ga bunga mawarnya?"
Senja menggeleng, "nanti aja kalo lagi kelulusan, kan yang lain pasti di kasih hadiah sama pasangannya,"
"Nanti aku kasih lagi yang lebih, kamu sekarang mau gak?"
"Engga deh, kelulusan aja nanti hehe,"
"Kamu suka banget ya warna putih?" Tanya Aksa.
"Hehe iya, warna Lilac apalagi, ya mirip-mirip warna itu lah. Soalnya bagus bangett ihhh, aku jadi gemes sendiri,"
Aksa terkekeh, apa saja tentang Senja sangat ia sukai, baginya Senja adalah gadis yang unik.
Si gadis pecinta desiran ombak dan penyuka warna putih.
Sebulan telah berlalu, Senja tersenyum getir mengingat itu semua, apakah janji Aksa saat itu akan di tepati? la rasa tidak akan. Hubungannya dan Aksa bukanlah apa-apa lagi. Senja bingung harus berbuat apa. Sekarang dirinya merasa seperti wanita bodoh.
"Ja." Tegur Wena salah satu temannya yang bekerja juga di cafe ini.
Saat ini Senja sedang bekerja karena keuangannya yang menipis, dan mamanya yang sudah tidak pernah mengirim sepeser pun uang untuk menunjang hidup Senja. Maka Senja harus bekerja untuk melanjutkan hidupnya.
"Eh iya mba?" Tanya Senja terkesiap.
"Kamu kenapa ngelamun? Banyak pikiran ya? Curhat sama mba sini,"
"Eh engga mba, aku gak ada pikiran apa-apa,"
Wena mengangguk paham, "oh iya, tuh ada pelanggan datang, kamu layani ya."
"Oke siap mba,"
Senja menghampiri tempat duduk pelanggan yang baru datang dengan menunduk, bersiap menyatat apa yang akan di pesan.
"Mau pesan apa?" Tanya Senja kepada pelanggan itu.
"Pesan in-," ucapan pria itu terpotong saat melihat Senja.
"Senja?" Tanyanya.
Merasa di panggil Senja mengangkat wajahnya, dan ia terkejut ternyata pelanggan itu adalah Arkan, ia melirik ke samping papanya. Fela dan Angel juga ikut.
"Kamu kerja di sini?"
Sungguh! Senja merasa malu saat ini. Apalagi saat melihat wajah Angel dan Fela yang menatap remeh ke arah nya.
"Lo malu-maluin banget deh Ja. Kerja kayak gini," celetuk
Angel.
"Kerja ini gak nimbulin dosa, buat apa malu," jawab Senja.
Arkan menatap putrinya iba. Tubuh Senja terlihat lebih kurus, matanya seperti kurang tidur, dan juga terdapat beberapa lebam di sekitar wajahnya.
Fela yang mengerti tatapan Arkan, langsung menyikut lengan Arkan pelan. Mau tak mau Arkan harus bersikap lagi.
"Tapi pekerjaan kamu itu memalukan bagi saya!" Ucap
Arkan tegas.
Senja memandang ayahnya tak percaya.
"kenapa? Emang saya siapa anda?" Tanya senja angkuh.
"Jangan belaga lupa kamu, anak pembangkang!"
"Jangan berbuat ribut di sini, saya hanya bekerja, kalian ingin memesan apa?" Tanya Senja.
Cekrek!
Mata Senja tertuju pada Angel yang mengambil fotonya tanpa seijin Senja. Angel tersenyum puas.
"Gak sopan banget Lo!" Ucap Senja marah.
"Hapus gak?!"
"Dih? Apaan si Lo, gitu aja baper," ujar Angel, lalu ponselnya dia masukkan ke dalam tas mewahnya.
Senja berusaha sabar dan mengingat di mana ia sekarang.
Jika berada di luar, sudah pasti ia akan menjambak Angel, jika perlu Fela juga.
"Saya gak punya waktu banyak, cepet mau pesan apa!" Tanya Senja ketus.
"Ini cara kamu melayani pelanggan yang baru datang? Seperti tidak punya sopan santun," tanya Fela mendesis.
Seketika Senja menatap Fela sewot, "emang anak Lo ada
Sopan santun?"
"Ya punya, emangnya Lo!" Celetuk Angel.
"Kalo punya, Lo gak bakal ngusik privasi orang!"
"Sudah Senja! Kamu itu hanya pekerja di sini! Saya bisa membuat kamu di pecat begitu saja dari tempat kerja seperti ini," ucap Arkan.
"Yaudah, gue kan nanya Lo mau mesen apa?" Tanya
Senja dengan tidak sopan ya kepada sang ayah.
la sudah lelah mengahadapi keluarga ayahnya ini, sungguh menguji kesabaran.
"Mba Wena!" Senja memanggil Wena.
"Iya? Kenapa?" Tanya Wena saat sudah berada di hadapan
Senja dan keluarganya. Namun ia tidak tahu jika itu adalah keluarganya Senja.
"Layanin mba!" Ucap Senja memberikan buku dan pena kepada Wena. Lalu Senja melenggang ke arah dapur begitu saja. Wena hanya mengernyit heran menatap Senja yang sudah pergi ke dapur.
...****************...
Di balkon kamarnya, pandangan Senja kosong, ia sudah tak habis pikir dengan nasibnya yang seperti ini. Lalu apa alasan ia bahagia untuk kehidupannya yang sekarang ini?
Semua orang satu persatu pergi dari hidupnya. Bahkan
Aksa yang selalu ada di sampingnya kini berdalih kepada mereka semua, seolah bersatu untuk menghancurkan hidup Senja.
Kepala Senja terasa sakit, kakinya bahkan sangat lemas. Kemudian ia jatuh terduduk di atas dinginnya lantai.
Setidak perduli itukah kedua orang tuanya? Sebenci itukah Aksa terhadapnya? Sejahat itukah semua orang kepadanya?
Pertahanan Senja runtuh, air matanya jatuh. Dada kian terasa Sesak.
"Tuhan, jemput aku, aku sudah tidak punya tujuan untuk hidup," ucapnya lirih.
"Semua orang sudah tidak menginginkan ku lagi...,"
Perlahan Mata Senja tertutup. Dan benar-benar tertutup rapat.
Senja terlihat sangat tenang.