Beberapa hari setelah mengantarkan paket makanan ke sebuah keluarga konglomerat, Jingga mendapat kabar bahwa 2 orang yang memakan makanan yang ia antarkan meninggal dunia, sedangkan 1 orang lainnya dalam keadaan koma.
Jingga terpaksa menikah dengan pria koma itu agar terlepas dari tuntutan atas makanan beracun yang diantarkannya. Sebulan setelah pernikahannya, pria koma itu akhirnya tersadar tapi dalam keadaan kakinya lumpuh.
Pria itu membenci Jingga karena kebodohan Jingga menyebabkan aset peninggalan kedua orang tuanya berhasil dikuasai oleh tante dan sepupunya.
Jingga mencoba memperbaiki keadaan, ia membantu suaminya untuk bisa merebut kembali aset itu. Jingga berhasil memperbaiki hubungannya dengan suaminya dan mereka pun saling jatuh cinta tapi akhirnya suaminya itu mengetahui kalau Jingga yang mengantarkan makanan beracun untuk dirinya dan orang tuanya hingga menyebabkan orang tuanya meninggal.
Bagaimanakah nasib Jingga selanjutnya? Apakah suaminya akan memaafkan Jingga?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ind_Chris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20
Sudah berjam-jam Kovu hanya memandangi layar ponselnya dan tidak melakukan pekerjaannya sama sekali.
"Kamu tidak seperti biasanya!" tegur Jingga tiba-tiba. Kovu melirik ke arah Jingga.
"Sedari tadi kamu tidak mengurusi satu pun pekerjaanmu!" lanjutnya. Kovu mengalihkan kembali pandangannya ke layar ponselnya.
"Aku sedang menunggu kabar dari Andro!" ungkap Kovu.
"Tunggulah dengan sabar, mungkin dia tidak akan mengabarimu secepat itu, tapi mungkin dia memerlukan waktu beberapa hari." tukas Jingga. Kovu menghela nafasnya lagi.
"Aku sedang tidak semangat bekerja!" aku Kovu.
"Ayo kita pergi berlibur sejenak!" ajak Kovu. Jingga terkejut, semudah itu saja Kovu memutuskan untuk berlibur. Kovu langsung menghubungi sekretarisnya yang cantik itu, Sherly, untuk mempersiapkan tiket perjalanan dan penginapan untuk dirinya dan juga Jingga.
"Apa semudah itu orang kaya mengatur liburannya?" tanya Jingga.
"Ingat perkataanku waktu itu?" ucap Kovu balik bertanya. Jingga terdiam.
"Ada sebuah pengorbanan lebih untuk semua kemudahan!" terang Kovu.
Kovu benar-benar mengajak Jingga berlibur hari itu juga. Mereka pergi dengan menggunakan private jet milik keluarga Kovu dan lagi-lagi ini pertama kalinya Jingga bisa menaiki private jet semewah itu, ia tidak pernah menyangka bisa merasakan pengalaman ini di dalam hidupnya. Mereka tiba di tempat tujuan liburan mereka setelah menempuh sekitar 5 jam perjalanan. Sherly memesankan sebuah kamar hotel mewah dengan view pemandangan pantai yang sangat indah. Jingga terlihat sangat takjub dengan semua yang bisa ia rasakan saat ini.
Malam sudah sedikit larut ketika mereka selesai merapikan barang bawaan mereka dan membersihkan tubuh serta mengganti pakaian, tapi mereka belum sempat menikmati makan malam.
"Sudah larut malam, apa kamu masih ingin makan malam?" tanya Kovu.
"Eem..."
"Kamu tidak melakukan diet atau semacamnya kan?!" tanya Kovu lagi. Jingga menggeleng pelan.
"Baiklah, kalau begitu ayo kita turun ke bawah untuk makan malam!" ajak Kovu. Jingga mengikuti ajakan Kovu dan mereka akhirnya menikmati makan malam di restoran mewah yang ada di hotel tempat mereka menginap.
"Apa kamu selalu makan di tempat seperti ini?" tanya Jingga.
"Tidak juga!" jawab Kovu.
"Dulu ibuku sering memasakkan makanan untuk aku dan ayahku." ungkapnya.
"Meskipun beliau sangat sibuk tapi beliau sering menyempatkan diri untuk memasak makanan untuk kami." lanjut Kovu. Kovu terlihat berkaca-kaca ketika mengenang tentang ibunya itu.
"Kamu bisa memasak?" tanya Kovu tiba-tiba. Jingga menggelengkan kepalanya pelan.
"Tidak apa-apa, wanita tidak harus bisa memasak." ucap Kovu.
"Kekasih..." Kata-kata Kovu terhenti, ia sebenarnya hendak mengungkapkan kalau kekasihnya juga tidak bisa memasak dan ia tetap sangat menyayanginya, tapi ia tidak melanjutkan ucapannya itu karena takut Jingga akan marah karena ia kembali membicarakan wanita lain di hadapannya. Ia melirik ke arah Jingga.
"Sepertinya kamu sangat menyayangi kekasihmu itu!" ucap Jingga pelan. Kovu tidak memberikan respon dari ucapan Jingga itu.
"Hampir setiap kali kita membahas sesuatu, kamu selalu mengingatnya!" lanjut Jingga. Kovu menghela nafasnya pelan.
"Maaf!" ucapnya.
"Apa kamu juga pernah liburan bersamanya di sini?" tanya Jingga. Kovu diam, ia tidak ingin membahas tentang kekasihnya itu lagi, tapi Jingga terus menatapnya seakan menantikan jawaban darinya.
"Pasti pernah kan?!" terka Jingga. Kovu masih saja diam. Jingga menghela nafasnya.
"Apa kalian juga tidur dalam satu kamar?" tanya Jingga lagi. Kovu tersentak mendengar pertanyaan Jingga itu.
"Tidak! Kami tidak pernah tidur dalam satu kamar!" bantah Kovu.
"Walaupun kami berlibur bersama tapi kami tidur di kamar yang berbeda!" jelasnya.
"Lalu, mengapa kamu hanya memesan satu kamar untuk liburan kali ini?" tanya Jingga lagi. Kovu mengerutkan keningnya.
"Maksudmu?" tanyanya.
"Kamu ingin kita tidur di kamar yang berbeda?" lanjut Kovu.
"Ee.."
"Apa kita belum menikah?" cecar Kovu. Jingga terdiam, Kovu terlihat sedikit emosional.
"Kamu bilang pernikahan kita sah secara hukum negara dan agama, tapi sekarang kamu tidak memperlakukan aku seperti suamimu." protes Kovu.
"Atau memang kamu tidak menganggapku sebagai suamimu?" tanya Kovu.
"Oh ya! Kalau dipikir-pikir selama ini memang kamu tidak pernah menyebutku sebagai suamimu!" lanjut Kovu. Jingga tersentak. Kovu terlihat semakin emosional.
"Kenapa?" tanya Kovu lagi.
"Apa kamu malu memiliki suami yang lumpuh?" tuduh Kovu. Jingga sangat terkejut mendengar ucapan suaminya itu.
"Tidak! Bukan begitu.." Baru saja Jingga akan membantah ucapan Kovu tapi Kovu sudah memotongnya.
"Jadi, setelah semua permasalahan ini selesai, pernikahan kita juga akan selesai?" tanya Kovu.
"Kamu akan meninggalkan aku dan kita bercerai?" lanjutnya. Ucapan Kovu semakin menjadi-jadi.
"Mengapa kamu sensitif sekali?" tukas Jingga. Kovu menghela nafasnya dengan kasar. Jingga memperhatikan Kovu dengan seksama, Kovu memalingkan wajahnya dari Jingga.
"Bukankah aku sudah bilang padamu" ucap Jingga pelan.
"Aku akan pergi kalau kamu mengusirku!" lanjutnya. Jingga meraih tangan Kovu dan menggenggamnya erat.
"Lihat aku!" pinta Jingga. Kovu kembali menoleh ke arah Jingga.
"Aku akan tetap di sisimu selama kamu membutuhkanku!" tegas Jingga. Kovu hanya diam sambil memandangi wajah Jingga.
Kovu dan Jingga kembali ke kamar mereka. Jingga membantu Kovu untuk bisa berpindah dari kursi rodanya ke atas ranjang.
"Sepertinya berat badanmu bertambah!" gerutu Jingga yang merasa sedikit kewalahan saat membantu Kovu naik ke atas ranjang.
"Maaf!" ucap Kovu pelan. Jingga menarik selimut dan menutupi kedua kaki Kovu dengan selimut.
"Selamat tidur!" ucapnya dengan suara berbisik. Jingga berlalu dari hadapan Kovu dan hendak tidur di sofa yang ada di kamar hotel itu.
"Seharusnya aku yang marah tadi!" ucap Jingga. Kovu menoleh ke arah Jingga.
"Selain selalu membicarakan kekasihmu, kamu juga tidak memperlakukanku seperti istrimu sendiri!" lanjutnya.
"Mana ada seorang suami yang tega menyuruh istrinya untuk tidur di sofa seperti ini!" gerutu Jingga.
"Kamu kan punya banyak uang, seharusnya kamu memesankan kamar satu lagi untukku daripada aku harus tidur di sofa seperti ini!" tambahnya.
"Aku tidak menyuruhmu untuk tidur di sana!" tukas Kovu. Jingga menoleh ke arah Kovu.
"Aku tidak mengerti bagaimana menjelaskannya padamu, tapi bersikaplah seperti seorang istri pada umumnya!" pinta Kovu. Jingga terdiam.
"Tidurlah bersamaku!" ajak Kovu. Jingga tersentak, jantungnya berdebar sangat kencang setelah mendengar ajakan suaminya itu, darahnya seperti mengalir ke wajahnya dan membuat wajahnya itu memerah.
"Kamu lebih memilih tidur di sofa daripada bersama suamimu?" tanya Kovu. Jingga yang takut Kovu akan merajuk lagi seperti sebelumnya bergegas bangkit dari sofa dan naik ke atas ranjang yang sama dengan Kovu. Jingga terlihat kikuk.
"Kita sudah beberapa kali tidur bersama, mengapa kamu masih bersikap kaku seperti itu?" tanya Kovu.
"A.. Aku.." Jingga merasa sangat gugup.
"Mendekatlah padaku!" pinta Kovu. Jingga menggeser tubuhnya ke arah Kovu.
Kovu memandangi setiap sisi wajah Jingga, sikapnya itu membuat Jingga bertambah gugup dan memalingkan wajahnya dari Kovu. Jingga membalikkan tubuhnya membelakangi Kovu, tapi tiba-tiba ia merasakan tangan Kovu menyusup di antara lengan dan pinggangnya. Jingga tersentak, ia hendak membalikkan tubuhnya kembali menghadap Kovu tapi ternyata wajah Kovu sudah berada sangat dekat dengan wajahnya, mereka nyaris saja berciuman.
"Tu.. Tuan" ucap Jingga pelan.
"Jangan memanggilku tuan, kamu bukan pelayanku!" bisik Kovu.
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya Jingga dengan suara berbisik juga. Kovu menatap kedua mata Jingga dengan seksama.
"Panggil aku 'suami'!" pinta Kovu. Jingga terdiam, jantungnya seperti akan meledak.
"Su.. Suamiku!" panggil Jingga pelan. Belum sempat Jingga menutup mulutnya, Kovu sudah menyambar bibir tipis itu dengan bibirnya. Ia menyesap setiap sisi bibir istrinya dengan mesra.
...
mau nya
dilanjut thor!