Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.
Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.
Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.
Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Beberapa tahun kemudian
Waktu terus bergulir, membawa Haruna melewati tahun demi tahun dengan satu tujuan yang selalu menyala terang dalam benaknya. Sejak pertemuannya dengan wanita kaya di depan sekolah dulu, semangat belajarnya berlipat ganda, seolah setiap lembar buku yang ia baca adalah anak tangga menuju mimpi besarnya.
Cibiran dan hinaan yang dulu begitu melukai hatinya, kini seakan berubah menjadi bahan bakar tersembunyi. Setiap kali ada yang berbisik sinis di belakangnya, atau menatapnya dengan pandangan merendahkan karena kakinya yang berbeda. Haruna hanya tersenyum tipis, lalu kembali membenamkan diri dalam buku-buku pelajarannya. Ia memilih untuk tidak membalas dengan kata-kata kasar atau kemarahan, melainkan dengan sesuatu yang jauh lebih berbicara... prestasi.
Dari bangku sekolah dasar, deretan piala dan sertifikat juara kelas mulai memenuhi rak kecil di gubuk mereka. Memasuki SMP, prestasinya semakin gemilang, namanya selalu tercantum di urutan pertama setiap kali pembagian rapor tiba. Dan kini, di penghujung masa SMA, tepatnya kelas dua belas, gelar juara umum sudah menjadi hal yang lumrah disandingkan dengan nama Haruna, seolah tak ada yang sanggup menggeser posisinya dari puncak.
Namun di balik segudang prestasi itu, kehidupan sosial Haruna di sekolah tetaplah sunyi. Waktu istirahatnya lebih sering dihabiskan di perpustakaan yang lengang. Ditemani tumpukan buku dan keheningan yang menenangkan, dibandingkan bercengkerama dengan teman-teman sekelasnya.
Sejak Kirana melanjutkan ke sekolah lain yang lebih jauh, praktis Haruna kehilangan satu-satunya teman dekat di lingkungan sekolah. Meski begitu, persahabatan mereka tak pernah goyah... setiap akhir pekan, Kirana selalu menyempatkan diri berkunjung ke gubuk Nek Lasmi, sekadar melepas rindu atau membantu Haruna mengemas dagangan.
"Kamu tuh ya, udah cantik, pintar pula. Kok betah banget sih sendirian mulu di perpus?" celetuk salah seorang teman sekelasnya suatu siang, nada suaranya campuran antara kagum dan heran.
Haruna hanya tersenyum tipis tanpa menoleh dari bukunya. "Lebih tenang aja belajar sendiri."
Memang benar, selain kecerdasannya yang jauh di atas rata-rata, Haruna juga tumbuh menjadi gadis dengan wajah cantik dan kulit putih bersih, warisan yang tak pernah ia ketahui dari mana asalnya.
Kecantikan itu membuat banyak siswa laki-laki diam-diam mengaguminya. Namun tak sedikit pula yang justru semakin gencar melontarkan ejekan, seolah kecantikan wajahnya adalah sebuah kontradiksi yang harus terus-menerus diingatkan ketimpangannya dengan kondisi kakinya.
"Sayang banget ya, secantik itu tapi cacat," bisik salah satu siswi suatu hari, sengaja tak berusaha merendahkan suaranya agar terdengar oleh Haruna yang sedang berjalan melewati koridor.
Haruna hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan langkahnya tanpa ekspresi berarti. Bertahun-tahun menghadapi cemoohan serupa membuatnya kebal, bahkan nyaris tak lagi merasakan sakit seperti dulu saat masih kanak-kanak.
Sementara itu, di rumah sebuah keajaiban kecil terus terjadi setiap harinya. Nek Lasmi, yang usianya sudah renta bahkan sejak pertama kali menemukan Haruna belasan tahun silam. Entah mendapatkan berkah dari mana, masih diberikan umur panjang untuk terus menyaksikan tumbuh kembang cucu kesayangannya.
Namun seiring bertambahnya usia, tenaga wanita tua itu semakin berkurang drastis, membuatnya tak lagi sanggup berkeliling menjajakan peyek seperti dahulu.
Menyadari kondisi itu, Haruna dengan sigap mengambil alih usaha peyek yang telah menjadi tulang punggung keluarga mereka selama bertahun-tahun. Namun berbeda dengan cara tradisional Nek Lasmi, Haruna membawa sentuhan baru tanpa mengubah cita rasa otentik yang sudah melegenda. Ia mengganti kemasan sederhana menjadi lebih menarik dan modern, lengkap dengan label dan logo yang ia desain sendiri menggunakan komputer sekolah.
Tak berhenti di situ, Haruna juga mulai memasarkan produk mereka lewat media sosial, mengunggah foto-foto menarik disertai cerita tentang perjalanan hidupnya bersama sang nenek. Tanpa disangka, unggahan itu justru viral, menarik simpati banyak orang yang penasaran sekaligus terharu dengan kisah di baliknya. Pesanan mulai berdatangan dari berbagai penjuru, bahkan dari luar kota yang sebelumnya tak pernah terjangkau.
Sore itu, Haruna pulang dengan wajah berseri-seri, langkahnya meski tertatih terasa jauh lebih ringan dari biasanya. Ia baru saja selesai mengantarkan pesanan sebanyak seribu bungkus peyek kepada seorang pelanggan dari luar kota yang kebetulan singgah di desanya saat perjalanan bisnis.
"Nek! Nek, lihat ini!" seru Haruna riang begitu memasuki gubuk, menghampiri Nek Lasmi yang tengah berbaring di ranjang kayu sederhana, kondisi tubuhnya kini memang lebih banyak dihabiskan untuk beristirahat.
Nek Lasmi tersenyum lemah, mencoba bangkit sedikit dari posisi berbaringnya. "Ada apa, Nak? Kok kelihatan senang sekali?"
"Tadi Haruna dapat pesanan seribu bungkus peyek, Nek! Dari orang luar kota, katanya suka banget sama rasa peyek buatan Nenek," jelas Haruna bersemangat, sambil menyodorkan segepok uang hasil penjualan hari itu kepada neneknya. "Ini semua hasilnya, buat Nenek."
Nek Lasmi menatap uang itu, lalu beralih menatap wajah cucunya dengan sorot mata penuh kebanggaan yang tak terbendung. "Alhamdulillah... Nenek bersyukur sekali punya cucu sepintar dan sebaik Haruna. Dulu Nenek nggak pernah nyangka, bayi kecil yang dulu Nenek temukan menangis sendirian, sekarang tumbuh jadi gadis cantik, pintar, pekerja keras pula."
Haruna tersenyum haru mendengar pujian tulus itu, mendekap tangan keriput neneknya erat-erat. "Semua ini juga berkat Nenek, kok. Kalau Nenek dulu nggak nemuin Haruna, mungkin Haruna nggak akan jadi seperti sekarang."
Nek Lasmi tersenyum lembut, lalu tiba-tiba raut wajahnya berubah serius. "Haruna, tolong ambilkan Nenek kresek hitam yang ada di bawah lemari itu, ya."
Haruna mengernyit heran, namun tetap menuruti permintaan itu. Ia berjongkok, meraih sebuah kantong kresek hitam lusuh yang tersembunyi jauh di sudut bawah lemari kayu, tampak sudah lama tersimpan di sana, berdebu di beberapa bagian.
"Ini, Nek," ucap Haruna, menyerahkan kresek itu kepada neneknya.
Dengan tangan gemetar, Nek Lasmi membuka kresek itu perlahan, memperlihatkan gulungan-gulungan uang kertas yang sudah agak lusuh, tersusun rapi dan terikat dengan karet gelang. "Ini, ambil, Nak. Ini buat biaya kuliah Haruna nanti."
Mata Haruna membelalak kaget, tak menyangka jumlah uang sebanyak itu bisa dikumpulkan oleh neneknya yang selama ini hidup begitu sederhana. "Nek... ini uang dari mana? Banyak sekali!"
"Ini hasil tabungan Nenek, Nak. Sedikit demi sedikit Nenek sisihkan dari jualan peyek, sudah bertahun-tahun lamanya," jawab Nek Lasmi, suaranya bergetar menahan haru. "Nenek simpan diam-diam, khusus buat biaya kuliah Haruna kelak. Nenek pengen Haruna bisa terus sekolah setinggi-tingginya, biar cita-cita Haruna jadi orang sukses itu kesampaian."
"Tapi, Nek, ini kan uang Nenek. Haruna nggak bisa terima ini," Haruna menggeleng cepat, mendorong kembali kresek itu ke tangan neneknya. "Lagian sekarang kan Haruna udah bisa cari uang sendiri dari jualan peyek. Nenek simpan aja buat kebutuhan Nenek."
Namun Nek Lasmi menggeleng tegas, memaksakan kresek itu kembali ke pangkuan Haruna dengan sisa tenaga yang ia miliki. "Nenek nggak butuh banyak uang lagi, Nak. Kebutuhan Nenek udah nggak seberapa di usia segini. Justru ini kesempatan Nenek buat bantu Haruna wujudkan mimpi. Tolong, terima ini, ya, buat Nenek."
Ada sesuatu dalam nada suara neneknya yang membuat Haruna terdiam. Sebuah kesungguhan yang begitu dalam, hampir seperti permohonan terakhir. Tanpa sepenuhnya Haruna sadari, jauh di dalam hati Nek Lasmi, wanita tua itu telah lama merasakan firasat bahwa waktunya di dunia ini tak akan lama lagi. Dan ia ingin memastikan, sebelum napas terakhirnya, bahwa masa depan cucu kesayangannya sudah cukup terjamin untuk melangkah sendiri.
Dengan mata berkaca-kaca, Haruna akhirnya mengangguk pelan, menerima kresek hitam itu dengan kedua tangan gemetar. "Makasih, Nek. Haruna janji, Haruna nggak akan sia-siakan uang ini. Haruna akan buktikan, Haruna bisa jadi orang sukses seperti yang Nenek harapkan."
Nek Lasmi tersenyum lega, mengusap lembut pipi cucunya yang mulai basah oleh air mata. "Nenek percaya sama Haruna. Nenek yakin, suatu hari nanti, Haruna akan jadi orang hebat."
aq GX bakal bosen buat ngucapin kata tu ,,
disaat org yg sempurna byk yg malas2aan ,, Krn merasa punya hidup yg serba berkecukupan ,,
malah menyia2kan hidup muda ny ,,
sedangkan km yg punya kekurangan tdk prnh menyrut kan semangat mu ,,
nenek mu pasti bangga melihat mu dari atas sana haruna ,,
tau2 keliatan ny sembuh seperti biasa ,, yx pertanda kalo tu kondisi sementara sebelum mereka pergii ,, 🥹😭😭😭 ,,
semangat trus haruna ,, km boleh berduka ,, tp cita2 jgn sampe di lupain,,
semangat haruna ,,
ni hanya kesuksesan yg tertunda ,,
msh ad jalan lain menuju sukses yg bisa km raih ,,
km harus tunjukin ma org2 yg jahatin km ,,
kalo keterbatasan km tdk menghilang kan semangat km belajar ,,