keinginan Irapanusa-putri Panglima Kerajaan Na hanyalah sederhana: membatalkan rencana pernikahannya dengan putra Panglima Kerajaan tetangga~Kerajaan Re yang bernama Samadara. Sayangnya keinginan itu tidaklah mudah karena untuk mewujukannya Irapanusa harus menyamar jadi pria mengikuti kompetisi dua kerajaan, menjadi pemenang agar permintaannya bisa dikabulkan oleh Sultan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mahesvara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEKALAHAN RATI
Prok, prok!!
Prok, prok!!
“Ayo bangun!!”
“Jangan menyerah!!”
“Ayo bangun!!”
“Kamu pasti bisa!”
Irapanusa membuka matanya dan menemukan kepalanya diserang oleh teriakan, sorakan dan tepuk tangan yang memekakkan indra pendengarannya.
Ngingggg!!
Untuk sejenak indra pendengaran Irapanusa berdengung karena belum siap menerima suara-suara kencang itu. Sebagai gantinya … Irapanusa melihat sekelilingnya berusaha untuk mengumpulkan informasi yang ada dari indra penglihatannya.
Aku berada di dekat arena. Informasi pertama yang Irapanusa dapatkan adalah gambaran arena di mana dirinya sebelumnya berduel dan berakhir kelelahan.
Arena, dua orang, mereka berduel. Duel?? Irapanusa menajamkan penglihatannya untuk melihat jelas siapa yang sedang berduel di atas arena saat ini dan menemukan sosok Rati di sana. Apa itu Rati?
“Saira! Apa kamu mendengarku??”
Kali ini Irapanusa mendengar suara yang tidak asing dan terkesan memberikannya rasa nyaman. Suara siapa ini? Kenapa rasanya nyaman sekali didengar? Bersamaan dengan itu, Irapanusa merasakan sensasi hangat di tubuhnya.
“Saira!! Bangun!! Lihat ke depan!! Rati dalam bahaya!!”
“Hah??” Teriakan kali ini berhasil membuat Irapanusa yang sempat dalam keadaan setengah sadar akhrnya benar-benar mendapatkan kesadarannya.
“Kamu sudah sadar??”
Irapanusa kali ini benar-benar sudah sadar dan menemukan dirinya berada di punggung Mada. “Y-ya.”
“Bisa berdiri sekarang??”
“Y-ya. Ba-bagaimana aku bisa ada di punggung Tuan? Dan apa yang terjadi pada Rati?”
Mada menurunkan Irapanusa dari punggungnya dengan perlahan dan kemudian mulai memberikan penjelasan mengenai apa yang terjadi pada Rati sebelum Irapanusa akhirnya membuka mata.
“Pengawalmu itu … dia memberikanmu obat tidur. Sejak awal dia berniat untuk bertarung sampai mati hanya untuk lolos dari babak kedua ini!” Mada menjelaskan dengan nada kesal. “Aku sudah membujuknya dan bahkan berusaha menyadarkannya tepat sebelum pertandingan. Tapi pengawalmu itu benar-benar keras kepala!”
Prok, prok!!
Prok, prok!!
“Ayo, ayo!!”
“Jangan kalah!!”
“Bertahanlah!!”
“Kamu pasti bisa!”
Irapanusa melihat sekelilingnya dan menyadari semua penonton yang ada saat ini sedang memberikan dukungannya kepada Rati. Di sisi lain … Rati yang berada di atas arena terlihat sudah babak belur dengan beberapa luka di wajah dan bahkan bibirnya berdarah.
“Sudah aku bilang, lawan Rati itu adalah lawan yang menyusahkan!” Mada bicara lagi. “Lawan Rati adalah pria dari Kerajaan Re yang dikenal ahli dalam bergulat. Sampai hari ini dia adalah satu-satunya pegulat yang disenangi Sultan Jamal karena tak pernah kalah. Moreo sangat terkenal suka bermain-man dengan lawannya, membuat lawannya mengira dia dengan mudah dikalahkan padahal sebaliknya, Moreo sedang menunggu kesempatan membalik keadaan dan berbalik menyiksa lawannya.”
“Dia benar-benar buruk!!”
“Maka dari itu minta Rati untuk menyerah sekarang juga!! Atau dia akan mati perlahan-lahan di tangan Moreo!”
Tanpa banyak berpikir, Irapanusa berteriak pada Rati yang terus berusaha untuk melawan Moreo dengan senjatanya-tombak di tangannya. “Menyerah, Rati!! Menyerahlah!! Masih ada adikmu yang menunggu kepulanganmu di rumah!!”
Buk, buk!!
Rati yang terkejut mendengar terakan dari Irapanusa, menbeku sejenak dan membuatnya mejadi sasaran empuk bagi Moreo.
“Rati!!” Irapanusa berteriak melihat Rati menerima pukulan dari Moreo dan terhempas ke arah belakangnya.
Huek!! Rati mengeluarkan darah dari mulutnya karena pukulan Moreo yang sepertinya mekukai giginya.
Tes, tes!! Irapanusa menangis melihat keadaan Rati, mulut Irapanusa tidak berhenti memohon pada Rati untuk menyerah demi dirinya dan jga adik laki-lakinya yang sedang menunggu kepualangannya di rumah.
“Rati, menyerah sekarang juga!! Tolong!!”
Buk, buk!
Rati terus bertahan menerima pukulan-pukulan dari Moreo bahkan setelah beberapa kali tubuhnya terpental dan menghantam arena dengan cukup keras. Tapi Rati terus bangkit dan menyerang Moreo seolah dirinya harus melakukan itu.
“Rati, kumohon!! Menyerah sekarang!!” Irapanusa yang tidak sanggup melihat bagaimana Rati terus bertahan bahkan dengan keadaan yang sangat-sangat parah, hanya bisa berteriak memohon pada Rati dengan air mata yang jatuh bercururan.
Buk!
Wush!! Buk!!
Moreo melakukan pukulan telaknya, membuat Rati terhempas ke belakang sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri di atas arena.
Prok, prok!!
Semua penonton bertepuk tangan untuk usaha Rati bertahan melawan Moreo meski tahu dirinya pasti akan kalah.
Tak seperti semua penonton, Irapanusa hanya bisa menangis melihat keadaan Rati yang kini benar-benar buruk.
*
Plak!
“Ini semua karenamu, Dawan!!”
Tepat setelah Rati dibawa turun dari arena, Dawan menyelinap dari pandangan Kaimana dan pejabat lainnya.
Begitu bertemu dengan Irapanusa di tenda di mana Rati dibawa dan dirawat lukanya oleh Irapanusa sendiri, Irapanusa langsung menampar Dawan dan marah besar pada Dawan.
“Maaf, Ira.” Dawan hanya bisa mengatakan kata itu setelah menerima tamparan dari Irapanusa di wajahnya.
“Apa nyawa orang lain tidak berharga di matamu, Dawan? Sejak awal aku sudah menolak idemu ini! Aku bahkan berulang kali meminta Rati untuk menyerah jika tahu nyawanya dalam bahaya dalam kompetisi ini! Tapi karena ucapanmu yang selalu menekankan bahwa aku adalah penyelamatnya, Rati akhirnya berada dalam keadaan begini!”
“Maaf, Ira. Aku benar-benar tidak menyangka Rati akan mempertaruhkan nyawanya untuk terus bertahan denganmu di babak selanjutnya.”
Huft!! Irapanusa berusaha menahan amarahnya karena tidak ingin memukul Dawan untuk kedua kalinya. Sejujurnya, Irapanusa ingin sekali memukul Dawan lagi dan lagi karena telah membuat Rati mempertaruhkan nyawanya demi dirinya, demi terus bersamanya dan melindunginya.
“Bawa Rati ke walyan terbaik di Ibu kota. Apapun yang terjadi Rati harus hidup! Jika Rati mati, aku tidak akan pernah memaafkanmu, Dawan!”
Setelah memastikan keadaan Rati stabil, Dawan mengirim kereta kuda dan beberapa prajuritnya untuk mengirim Rati ke Ibu kota untuk mendapatkan perawatan terbaik.
“Tu-Tuan.” Dalam keadaan lemah, Rati memanggil Irapanusa sebelum kembali ke ibu kota.
“Kamu akan pulang ke ibu kota dan mendapatkan perawatan terbaik. Tunggu aku pulang membawa kemenangan, Rati!”
“Ta-tapi, Tuan. Tu-gas sa-ya adalah-“
“Cih!!” Irapanusa benar-benar kesal karena melihat Rati masih terus mengkhawatirkannya padahal keadaan Rati jauh lebih buruk darinya. “Apa kamu benar-benar pengawalku, Rati??”
“Ten-tu Tu-an.”
“Tapi kenapa kamu tidak menaati perintahku saat aku memintamu menyerah??” Irapanusa bicara dengan nada kesalnya meski hatinya sebenarnya merasa benar-benar sakit melihat keadaan Rati. “Kali ini kalau kamu tidak menaati perintahku lagi, aku akan membuangmu, Rati!”
“Ma-maaf, Tuan!”
“Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika kamu mati, Rati! Ingat itu! Apapun yang terjad, kamu harus bertahan hidup!!”
Tepat setelah itu, kereta kuda yang membawa Rati ke ibu kota berangkat dan Irapanusa hanya bisa berdoa dalam hatinya agar Rati tiba dengan selamat, mendapatkan perawatan terbaik dan bisa bertemu lagi dengan adik laki-lakinya.
“Ira … “ Dawan masih berusaha untuk meminta maaf pada Irapanusa mengenai apa yang terjadi pada Rati.
“Aku tidak ingin bicara denganmu, Dawan!” Irapanusa yang benar-benar kesal pada Dawan, hanya bisa mengatakan hal itu pada Dawan sembari mengabaikan Dawan setelah itu.
Syut!! Begitu kembali ke tenda dan tidak menemukan Mada, Irapanusa mencari Mada di hutan dekat tenda mereka dan menemukan Mada berada di bawah pohon dengan mata terpejam. Mada tiba-tiba melemparkan sesuatu pada Irapanusa dan membuat Irapanusa terkejut.
“A-apa ini??” Irapanusa menerima kantong kecil dari Mada dan melihatnya dengan tatapan heran dan bingung.
“Buka saja.”
Irapanusa membuka kantong kecil itu dan menemukan manisan buah kering di dalamnya. Irapanusa tersenyum melihat manisan buah kering itu dan ingin memakannya. Tapi sebelum memakan manisan kering itu, Irapanusa ingat bahwa sejak siang dirinya masih belum makan apapun.
“Sejujurnya ini sangat menggiurkan. Tapi aku tidak bisa memakannya karena sejak siang aku belum makan apapun.”
Syut!!
Mada melemparkan sesuatu lagi. Tapi kali ini bukan kantong melainkan sesuatu yang dibungkus daun pisang.
“Kamu tentu ingat nasi gulung yang kita makan bersama terakhir kali kan?”
Irapanusa tersenyum mengingat kenangan itu. “Ya, aku ingat.”