Indonesia
NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Serangan Balik

Kabar tentang akta pengakuan anak dan kelengkapan surat kuasa Sari rupanya sampai ke telinga Ratna lebih cepat dari yang mereka duga. Tiga hari setelah momen mengharukan di ruang perawatan Bapak, Pak Wibowo menelepon Sari dengan nada yang jauh lebih tegang dari biasanya.

"Ratna baru saja mengajukan gugatan ke pengadilan," ujar Pak Wibowo tanpa basa-basi begitu Sari mengangkat telepon di ruang tamu, dengan Kirana dan Denis yang segera mendekat begitu mendengar nada seriusnya. "Dia mempertanyakan keabsahan surat kuasa yang ditandatangani Bapak Hartono, dengan alasan bahwa penandatanganan dilakukan saat kondisi mental beliau sudah mulai terpengaruh oleh penyakitnya."

"Itu tidak benar," Sari langsung membantah, suaranya penuh amarah. "Surat itu ditandatangani berbulan-bulan sebelum Bapak jatuh sakit. Kondisinya masih sepenuhnya sehat waktu itu."

"Aku tahu," Pak Wibowo menjawab tenang, meski nada suaranya menunjukkan keseriusan situasi. "Tapi Ratna punya cukup uang untuk menyewa 'ahli' yang bersedia memberikan kesaksian yang menguntungkan pihaknya, mengklaim bahwa gejala awal penyakit jantung bisa memengaruhi kapasitas kognitif seseorang jauh sebelum gejala fisik muncul. Ini taktik kotor, tapi bisa efektif kalau kita tidak menanganinya dengan hati-hati."

Kirana merasakan amarah membakar dadanya mendengar taktik licik itu. "Jadi apa yang harus kita lakukan sekarang?"

"Kita butuh kesaksian dari orang-orang yang berinteraksi dengan Bapak Hartono sekitar waktu penandatanganan surat kuasa itu," jelas Pak Wibowo. "Rekan bisnis, karyawan, siapa pun yang bisa membuktikan bahwa kondisi mental beliau sepenuhnya sehat dan kompeten waktu itu."

Sari mulai mencatat daftar nama yang bisa mereka hubungi, sementara Denis mengusulkan untuk memeriksa rekaman rapat perusahaan sekitar waktu itu, yang mungkin bisa menunjukkan Bapak dalam kondisi prima memimpin diskusi bisnis.

"Aku juga akan menghubungi dokter keluarga kita," tambah Ibu, yang sejak tadi duduk mendengarkan dengan wajah tegang. "Bapak rutin kontrol kesehatan setiap enam bulan. Catatan medisnya seharusnya bisa membuktikan tidak ada indikasi masalah kognitif sebelum serangan jantung yang membawanya ke rumah sakit."

Selama beberapa hari berikutnya, rumah keluarga Wijaya kembali sibuk dengan persiapan menghadapi gugatan baru ini. Kirana mengambil peran mengumpulkan dan menyusun bukti-bukti digital—email bisnis, pesan, dan dokumen yang menunjukkan Bapak aktif dan kompeten dalam mengelola perusahaan hingga beberapa minggu sebelum ia jatuh sakit.

Di tengah kesibukan itu, Kirana menerima telepon dari Pak Anton, atasannya di kota. "Kirana, aku ingin memberitahumu progres proyek berjalan baik dengan pengaturan kerja jarak jauhmu. Tapi klien meminta pertemuan langsung minggu depan untuk presentasi final. Apa kamu bisa hadir?"

Kirana merasakan dilema baru muncul. Minggu depan adalah waktu yang sama dengan persidangan awal gugatan Ratna. "Saya... saya akan usahakan, Pak. Tapi situasi keluarga saya sedang cukup genting minggu ini."

"Aku mengerti," Pak Anton menjawab, meski nada suaranya menunjukkan sedikit kekhawatiran soal komitmen Kirana. "Tapi ini presentasi penting, Kirana. Kalau kamu tidak bisa hadir, aku mungkin perlu menugaskan orang lain untuk memimpin bagian ini."

Panggilan itu berakhir dengan kegelisahan baru bagi Kirana—dilema antara tanggung jawab profesional yang sudah ia bangun susah payah, dan kebutuhan mendesak keluarganya menghadapi ancaman hukum dari Ratna.

Malam itu, ia membicarakan dilema itu dengan Raka, yang kebetulan datang berkunjung untuk memeriksa kondisi Bapak.

"Aku tidak tahu harus bagaimana," Kirana mengeluh, duduk di teras rumah bersama Raka setelah pemeriksaan rutin selesai. "Rasanya aku selalu harus memilih antara satu hal dan hal lainnya, tidak pernah bisa memberikan seratus persen untuk keduanya."

"Mungkin kamu tidak perlu memberikan seratus persen untuk keduanya secara bersamaan," Raka menjawab bijak. "Mungkin kamu perlu belajar menerima bahwa dalam periode tertentu, satu hal akan butuh lebih banyak perhatian dibanding yang lain, dan itu tidak apa-apa."

"Bagaimana kalau aku memilih salah, dan kehilangan kesempatan karier yang sudah kubangun bertahun-tahun?"

"Atau," Raka menatapnya lembut, "bagaimana kalau kamu percaya bahwa keputusan yang kamu ambil dengan hati yang jujur, apa pun hasilnya, akan membawamu ke tempat yang seharusnya kamu tuju?"

Kata-kata itu memberi Kirana sedikit ketenangan, meski dilema itu masih belum sepenuhnya terselesaikan dalam pikirannya.

Beberapa hari kemudian, persidangan awal gugatan Ratna berlangsung di pengadilan. Pak Wibowo mempresentasikan bukti-bukti yang telah mereka kumpulkan dengan susah payah—catatan medis yang menunjukkan Bapak dalam kondisi kognitif prima, kesaksian dari beberapa rekan bisnis yang berinteraksi dengannya sekitar waktu penandatanganan surat kuasa, dan rekaman rapat perusahaan yang menunjukkan kepemimpinan Bapak yang masih tajam dan terorganisir.

Namun di luar dugaan, pengacara Ratna menghadirkan seorang ahli kardiologi forensik yang bersaksi dengan sangat meyakinkan, menjelaskan secara teknis bagaimana penyumbatan pembuluh darah yang dialami Bapak bisa saja sudah memengaruhi aliran oksigen ke otak berbulan-bulan sebelum gejala fisik yang parah muncul. Penjelasan itu, meski terdengar spekulatif bagi keluarga Wijaya, cukup teknis dan meyakinkan untuk membuat raut wajah hakim berubah lebih hati-hati.

"Berdasarkan keterangan ahli dari kedua belah pihak yang saling bertentangan," hakim akhirnya mengumumkan setelah berjam-jam persidangan, "pengadilan belum bisa mengambil keputusan final hari ini. Saya memerintahkan dilakukannya pemeriksaan independen oleh tim medis netral yang ditunjuk pengadilan, untuk mengevaluasi ulang rekam jejak kesehatan kognitif Bapak Hartono pada periode yang dipermasalahkan. Sementara itu, surat kuasa tetap berlaku, namun berstatus sementara sampai hasil pemeriksaan keluar dalam dua minggu ke depan."

Kirana merasakan campuran kelegaan dan kekhawatiran mendengar keputusan itu. Bukan kekalahan, tapi juga bukan kemenangan penuh yang mereka harapkan—dua minggu ke depan akan menjadi masa penantian yang menegangkan, dengan hasil yang masih belum bisa dipastikan.

"Ini tidak seburuk yang kita takutkan," Pak Wibowo mencoba menenangkan di luar ruang sidang, meski nada suaranya sendiri menyiratkan kewaspadaan. "Tapi kita tidak boleh lengah. Tim medis independen ini harus benar-benar netral, dan kita perlu memastikan semua rekam medis Bapak yang relevan sudah lengkap sebelum pemeriksaan dilakukan."

Di luar ruang sidang, mereka berpapasan dengan Ratna dan pengacaranya. Wanita itu, meski hasil hari ini belum sepenuhnya menguntungkannya, tetap mempertahankan senyum dinginnya, seolah sudah memperhitungkan kemungkinan ini sejak awal.

"Dua minggu adalah waktu yang panjang," ujarnya pelan, hanya cukup terdengar oleh keluarga Wijaya. "Banyak hal bisa terjadi dalam dua minggu. Aku sarankan kalian mempersiapkan diri untuk segala kemungkinan."

Ancaman itu, dibungkus dengan nada tenang yang justru terasa lebih mengancam dibanding kemarahan terbuka, mengingatkan seluruh keluarga bahwa perang sesungguhnya melawan Ratna masih jauh dari selesai—dan kali ini, hasilnya benar-benar berada di luar kendali mereka, bergantung pada pemeriksaan independen yang belum tentu berpihak pada mereka.

Dalam perjalanan pulang, Sari mengemudi dengan tangan yang masih sedikit gemetar oleh ketegangan yang baru saja mereka lalui. Kirana duduk di kursi penumpang, menatap keluar jendela mobil sambil merenungkan seluruh rangkaian peristiwa yang telah mereka hadapi bersama dalam waktu singkat ini.

"Kau baik-baik saja, Kak?" tanya Kirana, memperhatikan ekspresi kakaknya yang masih tegang.

"Aku hanya lelah," Sari mengakui, menghela napas panjang. "Menjadi penanggung jawab atas keputusan besar seperti ini bukan hal yang mudah, terutama dengan ancaman yang terus-menerus dari Ratna."

"Kau melakukannya dengan luar biasa hari ini," Kirana menghibur, menggenggam tangan kakaknya sejenak. "Bapak pasti bangga melihatmu memimpin dengan begitu percaya diri."

Sari tersenyum tipis, meski kelelahan masih terlihat jelas di wajahnya. "Aku hanya berharap ini semua segera berakhir, agar kita bisa fokus sepenuhnya pada pemulihan Bapak, tanpa perlu terus-menerus melihat ke belakang, khawatir Ratna akan menyerang lagi dari arah yang tidak terduga."

Kirana mengangguk setuju, menyadari bahwa meski hari ini membawa kemenangan kecil yang berarti, jalan menuju ketenangan sepenuhnya masih panjang dan penuh ketidakpastian bagi keluarga mereka.

---

*Bersambung ke Bab 21...*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!