Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20
Wanita paruh baya itu Nyonya Martha seketika tersungkur di atas lantai kayu yang dingin. Tubuhnya gemetar hebat bak dihantam badai ketakutan saat mengenali wajah bertudung di hadapannya. Rambut perak dan iris mata biru yang amat pekat itu... sama persis dengan sosok mendiang Ratu yang pernah dilayaninya.
"P-Pangeran Mahkota...!" jerit Martha tertahan, air matanya menetes merintik-rintik membasahi pipinya yang keriput. Ia berlutut membenturkan dahi ke lantai, menyatukan kedua telapak tangannya yang gemetar. "Mohon ampun, Yang Mulia! Mohon ampun! Saya tidak tahu apa-apa! Jangan bunuh saya... Tolong kasihanilah saya!"
Eliana yang iba melihat pemandangan memilukan itu segera berlutut. Ia memegang bahu renta Martha dengan lembut, membantunya bangkit perlahan dan menuntunnya duduk di atas kursi kayu kusam di sudut ruangan.
"Nyonya Martha, tenang dulu," tutur Eliana halus sambil mengelus punggung wanita tua itu demi meredakan panik. "Kami ke sini bukan untuk menyakiti Anda. Tolong beri tahu kami... apa yang sebenarnya terjadi malam itu? Apa yang Anda lihat sebelum mengundurkan diri dari istana?"
Martha menggelengkan kepalanya dengan histeris, menyembunyikan wajahnya di balik kedua telapak tangannya. "Saya tidak tahu apa-apa, Nyonya! Saya benar-benar tidak melihat apa-apa! Tolong pergilah... Jika ada yang tahu kalian ke sini, nyawa saya dan keluarga saya akan melayang!"
Mendengar penolakan berulang yang dipicu ketakutan itu, kesabaran Lucien mendadak habis. Aura maut yang teramat dingin dan pekat meledak dari tubuh Pangeran Mahkota. Rahangnya mengetat, dan raut wajahnya berubah sangat menakutkan saat ia melangkah maju, siap menekan wanita tua itu untuk memaksakan jawaban.
Namun, sebelum Lucien sempat mengintimidasi lebih jauh, jemari mungil Eliana dengan sigap meraih dan menggenggam pergelangan tangan sang Pangeran.
Eliana menatap mata biru Lucien dengan binar lembut namun tegas, menyalurkan rasa tenang lewat sentuhan tangannya. Ia menggelengkan kepala pelan, menyuruh Pangeran untuk menahan amarahnya dan membiarkan dirinya yang menangani situasi ini.
Lucien mematung. Cengkeraman hangat Eliana di tangannya perlahan melunakkan aura membunuh yang semula menyelimuti ruangan. Pangeran Mahkota itu akhirnya menghela napas berat dan mengurungkan niatnya, memilih mundur satu langkah di balik bayangan Eliana.
Eliana berbalik kembali menatap Nyonya Martha yang masih terisak.
"Nyonya Martha, dengarkan saya," ucap Eliana dengan nada suara yang mantap dan penuh ketulusan. "Saat ini keadaan di istana sedang sangat genting. Kami membutuhkan kebenaran untuk membersihkan tikus-tikus busuk yang sudah merusak kerajaan dan membunuh Ratu. Jika Anda tidak berani bicara sekarang, kami sangat memahaminya."
Eliana merogoh saku gaunnya, meletakkan selembar kertas kecil berisi nomor kontak darurat di atas meja kayu.
"Jika Anda berubah pikiran dan ingin keadilan untuk mendiang Ratu ditegakkan, Anda boleh menghubungi kami kapan saja," lanjut Eliana ramah, lalu tersenyum tipis. "Kami permisi dulu, Nyonya."
Eliana memberi isyarat pada Lucien untuk menyamarkan kembali wajahnya di balik tudung mantel. Mereka berdua membalikkan badan dan mulai melangkah menuju pintu keluar yang lapuk.
Namun, baru saja kaki mereka melewati ambang pintu...
"Tunggu!"
Suara serak Martha memecah keheningan. Eliana dan Lucien menghentikan langkah mereka secara bersamaan.
Martha berdiri dari kursinya dengan napas memburu. Matanya berkaca-kaca menatap punggung tegap Lucien. Keberanian dan ketulusan Eliana, dipadu dengan rasa bersalah yang terendam bertahun-tahun atas kematian majikan tercintanya, akhirnya menumbangkan dinding ketakutannya.
Dengan jemari yang gemetar hebat, Martha merogoh bagian dalam jahitan kasur tuanya. Ia menarik keluar sebuah chip memori berukuran sangat kecil berbalut kain kusam yang tersembunyi rapat selama bertahun-tahun.
Martha berjalan cepat dan menyerahkan chip tersebut tepat ke atas telapak tangan Eliana.
"Ini..." bisik Martha dengan suara bergetar dipenuhi air mata. "Malam itu... sebelum Perdana Menteri Oberon mengancam akan membantai keluarga saya jika saya tidak pergi, saya sempat menyelamatkan rekaman cadangan dari kamera tersembunyi di ruang peraduan Ratu. Semua bukti kejahatan mereka... ada di dalam sini."
Mata Eliana membelalak lebar, tak menyangka akan mendapatkan bukti se-krusial ini lebih cepat dari dugaannya.
"Nyonya Martha... terima kasih banyak," bisik Eliana tulus, menggenggam erat tangan renta wanita itu. "Saya janji... pengorbanan dan keberanian Anda tidak akan sia-sia."
Lucien menundukkan kepalanya tipis ke arah mantan pelayan ibundanya sebuah gestur penghormatan tertinggi yang amat langka dari seorang Pangeran Mahkota.
Tanpa membuang waktu lagi sebelum mata-mata musuh menyadari pergerakan mereka, Lucien dan Eliana segera melangkah cepat membelah lorong permukiman kumuh, masuk ke dalam mobil pengawalan, dan melaju kembali menuju keamanan penthouse mereka.Setibanya di penthouse, atmosfer di dalam ruangan langsung berubah menjadi tegang dan penuh desakan. Kenneth yang sudah menunggu di ruang tengah segera menyiapkan sebuah laptop khusus yang terhubung ke layar monitor besar tanpa koneksi internet demi menjaga kerahasiaan data.
Eliana menyerahkan chip memori kecil itu kepada Kenneth. Jemari Kenneth bergerak cepat memasukkan chip tersebut ke dalam pembaca kartu. Tak butuh waktu lama, sebuah folder berisi berkas rekaman video tua dari belasan tahun lalu muncul di layar.
"File ini berhasil dipulihkan, Yang Mulia," ujar Kenneth rendah.
Mereka bertiga Lucien, Eliana, dan Kenneth berdiri mengelilingi meja, menatap layar monitor yang mulai memutar rekaman hitam-putih bersudut pandang agak tinggi.
Kamera kecil itu rupanya tersembunyi dengan sangat cerdik di balik ukiran vas bunga di sudut peraduan Ratu. Waktu di sudut kanan bawah menunjukkan pukul sembilan malam, tepat satu jam sebelum kabar duka kematian Ratu diumumkan ke publik belasan tahun lalu.
Di dalam rekaman, mendiang Ratu terlihat sedang terbaring lemah di atas ranjang akibat racun dosis rendah yang telah menggerogoti fisiknya selama berbulan-bulan. Tak lama kemudian, pintu kamar peraduan terbuka. Dua sosok melangkah masuk tanpa suara.
Mata Eliana membelalak lebar melihat siapa yang muncul di layar.
Sesosok pria jangkung dengan senyum culas yang tak lain adalah Perdana Menteri Oberon, dan di sebelahnya berjalan seorang wanita bergaun mewah dengan paras cantik namun dingin Ibu Suri Seraphina, ibu tiri Lucien saat ini.
Di dalam video tanpa suara itu, terlihat adu mulut yang sengit antara Ratu dan Seraphina. Oberon hanya berdiri menyilangkan tangan di dekat pintu, memblokir akses keluar. Hingga akhirnya, pertengkaran itu mencapai puncaknya.
Seraphina merogoh bagian dalam gaunnya, menarik sebilah belati panjang yang berkilat, lalu dengan raut wajah keras kesetanan... menancapkan belati itu bertubi-tubi ke dada sang Ratu yang tak berdaya. Darah memercik ke mana-mana, membasahi sprei putih dan ukiran kayu ranjang istana.
"BANGSAT!"
PRANGGG!
Suara erangan penuh murka yang amat dahsyat meledak dari tenggorokan Lucien. Pangeran Mahkota itu benar-benar kehilangan kendali atas emosinya. Pemandangan ibu kandungnya dibantai secara keji di depan matanya sendiri menghancurkan seluruh benteng ketenangannya.
Dengan mata merah padam yang dipenuhi kilatan maut, Lucien menghentakkan tangannya dengan keras. Meja kaca di hadapannya hancur berkeping-keping! Lampu meja, vas porselen mahal, hingga dokumen-dokumen yang berada di dekatnya dilempar dan dihancurkan hingga membentur dinding stone penthouse.
BARRANG! PYAR!
Suara pecahan kaca dan barang-barang mewah yang hancur berkerontangan bergema memekikkan telinga di seluruh ruangan. Kenneth refleks menghentikan pergerakannya, menunduk dalam-dalam menahan aura membunuh Lucien yang bergulung-gulung bagaikan badai gencar.
Lucien berdiri terengah-engah di tengah reruntuhan kaca, dadanya naik turun tajam, dan kepalan tangannya yang gemetar hebat kini mengeluarkan darah segar akibat goresan pecahan kaca.
Melihat Lucien yang tenggelam dalam lautan duka dan dendam yang teramat pekat, Eliana menepis semua rasa takutnya. Ia melangkah menerobos tumpukan pecahan kaca di lantai, menghampiri Pangeran Mahkota yang berdiri kaku bak patung murka.
"Pangeran..." bisik Eliana lembut.
Tanpa ragu, Eliana menjangkau kedua tangan Lucien yang gemetar dan berdarah, menggenggamnya erat-erat dengan kedua telapak tangannya yang hangat.
Lucien tersentak kecil. Manik mata birunya yang menyala liar mendadak bergulir menatap Eliana. Tatapan mata gadis itu tidak memancarkan rasa takut sedikit pun, melainkan ketulusan dan keyakinan yang amat dalam.
"Pangeran, tolong lihat saya..." panggil Eliana lagi, suaranya sangat tenang namun bergetar oleh emosi. "Tahan amarah Pangeran... Tolong bersabar sedikit lagi."
Eliana mengelus jemari Lucien yang kaku, menyalurkan seluruh kekuatan yang ia miliki demi meredakan amuk di dalam dada sang Pangeran.
"Nanti... saat Pesta Dansa Musim Panas itu tiba," tutur Eliana lurus menatap iris mata biru Lucien, "kita akan bongkar semuanya di depan seluruh pejabat, rakyat, dan Kerajaan Valdoria! Kita seret Oberon dan Seraphina turun dari tahta palsu mereka dan buat mereka membayar setiap tetes darah Ibunda Ratu!"
Eliana mengetatkan cengkeraman tangannya.
"Jadi saya mohon... bersabarlah sekarang," lanjut Eliana mantap. "Kita masih harus mengumpulkan sisa-sisa bukti pengkhianatan mereka agar tak ada satu pun dari mereka yang bisa meloloskan diri. Jangan biarkan emosi detik ini merusak rencana besar kita untuk menghancurkan mereka sampai ke akar-akarnya."
Di dalam kepala Lucien, gemuruh amarah yang semula berisik dan menyiksa mendadak mereda saat menyimak suara batin Eliana yang dipenuhi kekhawatiran tulus dan janji kesetiaan yang tak tergoyahkan.
Napas Lucien perlahan-lahan mulai teratur kembali. Pangeran Mahkota itu menatap jemari Eliana yang membalut tangannya yang berdarah, lalu menghembuskan napas panjang yang amat berat. Kilatan maut di matanya perlahan berganti menjadi tekad dingin yang seribu kali lebih mematikan.