Lima tahun lalu, Aluna dijebak, dihina, lalu diusir dari rumah dalam keadaan hamil. Semua orang mengira hidupnya hancur. Namun ia kembali sebagai wanita mandiri dan sukses, membawa sepasang anak kembar jenius: Arsen yang dingin dan pintar meretas sistem, serta Aruna yang manis tapi sangat cerdas.
Aluna hanya ingin membalas orang-orang yang menghancurkan hidupnya. Tapi semuanya berubah saat kedua anaknya bertemu Rafael Mahendra, CEO muda paling berkuasa dan terkenal dingin. Wajah Arsen yang sangat mirip Rafael membuat masa lalu mulai terbongkar.
Rafael pun curiga. Siapa sebenarnya dua anak itu?
Saat rahasia kelahiran si kembar terungkap, Aluna harus memilih: terus menyembunyikan kebenaran demi melindungi anak-anaknya, atau membiarkan Rafael mengetahui bahwa ia adalah ayah dari dua pewaris rahasia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Enzelynn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu yang Membawa Badai
Rumah keluarga Prameswari malam itu disiapkan untuk membuat orang terkesan.
Dari gerbang utama sampai aula, lampu taman menyala di sepanjang jalur masuk. Puluhan rangkaian bunga putih memenuhi meja. Para pelayan mondar-mandir membawa baki minuman, sementara tamu dari kalangan pengusaha, pejabat, dan relasi lama keluarga mulai memenuhi ruangan.
Di lantai dua, Bianca sama sekali tidak menikmati pesta yang sejak dua minggu lalu ia tunggu-tunggu.
Ia berdiri di depan meja rias.
Lapisan concealer sudah dua kali ditambahkan ke pipi kirinya, tetapi rasa panas bekas tamparan Aluna seolah tidak mau hilang.
Bianca meletakkan spons rias dengan kasar.
“Sialan.”
Ia masih bisa mendengar suara Aluna.
Kalau kamu punya masalah dengan saya, bicara dengan saya. Jangan bawa mereka.
Lima tahun lalu, Aluna tidak berbicara seperti itu.
Dulu perempuan itu menangis.
Memohon.
Mencari siapa pun yang mau percaya bahwa kejadian di Hotel Asteria bukan kesalahannya.
Tidak seorang pun percaya.
Termasuk ayah mereka.
Dan Bianca memastikan keadaan tetap seperti itu.
Ia membuka laci meja rias, mengambil ponsel, lalu memeriksa pesan yang dikirimnya beberapa menit lalu.
Rafael mulai menyelidiki Hotel Asteria. Apa yang harus saya lakukan?
Belum dibalas.
“Kenapa sekarang?”
Bianca meletakkan ponsel.
Di meja rias terdapat foto lama dirinya bersama keluarga. Ia masih remaja saat foto itu diambil. Aluna berdiri di ujung kiri, mengenakan gaun sederhana milik ibu kandungnya.
Bianca mengambil bingkai itu.
Wajah Aluna muda terlihat begitu mudah dikalahkan.
Tidak seperti perempuan yang baru ditemuinya di bandara.
Dan dua anak itu—
Terutama Arsen.
Bianca membuang bingkai kembali ke meja.
“Tidak mungkin.”
Namun semakin ia menyangkal, semakin jelas wajah bocah itu muncul dalam ingatannya.
Bentuk mata Rafael.
Alis Rafael.
Bahkan cara anak itu menatap orang seperti sedang menilai sesuatu.
Pintu kamar terbuka.
Miranda Prameswari masuk tanpa mengetuk.
“Kamu belum turun?”
Bianca tidak menjawab.
Miranda memperhatikan pipi putrinya.
“Masih terlihat?”
“Sedikit.”
“Tambahkan bedak.”
“Bukan ini masalahnya, Ma.”
Miranda mendekat dan mengambil spons yang tadi dilempar Bianca.
“Kalau bisa disembunyikan dengan kosmetik, berarti bukan masalah besar.”
“Aluna kembali.”
Tangan Miranda berhenti.
“Aku tahu.”
“Dia membawa anak.”
“Itu juga aku tahu.”
“Anak laki-lakinya mirip Rafael.”
Kali ini Miranda benar-benar menatap putrinya.
Bianca melanjutkan, lebih cepat.
“Bukan mirip sedikit. Kalau mereka berdiri bersebelahan, orang bodoh pun bisa melihat.”
“Anak-anak sering terlihat seperti orang lain.”
“Rafael memperhatikannya.”
Miranda meletakkan spons.
“Seberapa jauh?”
“Dia menanyakan nama. Umur. Siapa ayahnya.”
“Lalu?”
“Dia bilang akan menyelidiki.”
Wajah Miranda tidak menunjukkan panik, tetapi jari yang tadi memegang spons kini mencengkeramnya lebih erat.
“Semua bukti sudah dibersihkan?”
“Sudah.”
“Jangan jawab cepat.”
Bianca terdiam.
Miranda menarik kursi dan duduk.
“Sebutkan satu per satu.”
“CCTV koridor dihapus.”
“Siapa yang menghapus?”
“Dimas.”
“Dimas Wardana?”
Bianca mengangguk.
“Dia dibayar?”
“Dua ratus juta.”
“Dari rekening?”
“Perusahaan yang kita pakai waktu itu.”
Miranda mengusap kening.
“Bodoh.”
Bianca langsung tersinggung.
“Mama sendiri yang bilang pakai rekening itu.”
“Lima tahun lalu.”
“Dan selama lima tahun tidak ada masalah.”
“Karena selama lima tahun Rafael tidak punya alasan mencari.”
Kamar menjadi sunyi.
Dari lantai bawah terdengar suara musik klasik dan percakapan para tamu.
Miranda bangkit.
“Dimas sekarang di mana?”
“Aku tidak tahu.”
“Kamu tidak tahu?”
“Dia keluar dari hotel dua tahun setelah kejadian.”
“Dan kamu tidak pernah memastikan?”
“Untuk apa? Dia sudah dibayar.”
Miranda menatap putrinya seperti ingin mengatakan sesuatu yang kasar, lalu mengurungkan.
“Orang yang bisa dibeli dengan uangmu juga bisa dibeli dengan uang Rafael.”
Bianca berjalan ke jendela.
“Aku tidak pernah menyangka Aluna akan kembali.”
“Itu bukan alasan.”
“Aku juga tidak pernah menyangka dia hamil!”
Kalimat itu keluar lebih keras dari yang direncanakan.
Miranda langsung melihat pintu.
Untung tertutup.
Bianca menurunkan suara.
“Rencananya waktu itu cuma mempermalukannya. Membuat Papa mengusir dia. Setelah itu selesai.”
“Tidak ada yang pernah benar-benar selesai kalau masih ada orang yang tahu.”
Bianca memandang ibunya.
“Kalau anak-anak itu memang milik Rafael?”
Miranda merapikan kalungnya.
“Belum tentu.”
“Ma.”
“Jangan panik sebelum ada bukti.”
“Kalau dilakukan tes DNA?”
Miranda tidak langsung menjawab.
Bianca mendekat.
“Mama?”
“Kalau sampai sejauh itu, kita pikirkan cara lain.”
“Cara apa?”
Miranda memandangnya.
“Yang penting sekarang, jangan membuat Rafael semakin curiga.”
Bianca tertawa tidak percaya.
“Dia sudah curiga.”
“Belum tentu pada kamu.”
“Dia bertanya soal Hotel Asteria tepat di depan saya.”
Miranda kini berhenti sepenuhnya.
“Apa?”
“Di bandara.”
“Kamu tadi tidak bilang.”
“Aku baru mau—”
Ketukan terdengar.
“Nona Bianca?”
Seorang pelayan berbicara dari luar.
“Tuan Besar meminta Nona turun.”
Bianca menarik napas.
“Sebentar.”
Pelayan itu belum pergi.
“Ada satu lagi, Nona.”
“Apa?”
“Tuan Rafael Mahendra sudah tiba.”
Bianca dan Miranda saling menatap.
“Sekarang?” tanya Bianca.
“Iya, Nona.”
Langkah pelayan menjauh.
Miranda mengambil tas kecilnya.
“Dengar. Turun. Senyum. Jangan menjelaskan apa pun yang tidak ditanyakan.”
“Bagaimana kalau dia—”
“Bianca.”
Nada Miranda membuat putrinya berhenti.
“Orang akan curiga pada seseorang yang terlihat seperti sedang menyembunyikan sesuatu.”
Bianca mengangguk.
Ia menatap dirinya sekali lagi di cermin.
Senyum.
Dagu sedikit naik.
Punggung tegak.
Tidak terlihat takut.
Setidaknya dari luar.
Di aula utama, Surya Prameswari sedang tertawa bersama dua pengusaha ketika seorang pelayan datang berbisik.
Ekspresinya langsung berubah.
“Tuan Rafael sudah datang?”
Pelayan mengangguk.
Surya segera meninggalkan tamunya.
Kedatangan Rafael sebenarnya memang diharapkan malam itu, tetapi bukan secepat ini. Pembicaraan mengenai kerja sama Mahendra Group dan Prameswari Corp dijadwalkan setelah jamuan makan.
Surya berjalan ke pintu utama dengan senyum terbaiknya.
Kemudian ia melihat Rafael.
Pria itu datang bersama Raka dan tiga orang keamanan.
Tidak ada keluarga Mahendra.
Tidak membawa pendamping.
Tidak pula terlihat seperti seseorang yang datang untuk menikmati pesta.
“Tuan Rafael.”
Surya mengulurkan tangan.
“Selamat datang. Kehadiran Anda sungguh—”
Rafael menjabat tangannya singkat.
“Saya perlu bicara.”
Surya masih tersenyum.
“Tentu. Kita bisa ke ruang kerja setelah—”
“Di sini saja.”
Surya mulai merasa sesuatu tidak beres.
Beberapa tamu terdekat sudah memperhatikan.
Bianca turun dari tangga.
“Tuan Rafael.”
Ia memasang senyum seolah pertemuan di bandara tidak pernah terjadi.
“Saya tidak menyangka Anda datang secepat ini.”
Rafael menatapnya.
“Hotel Asteria.”
Bianca berhenti di anak tangga terakhir.
Surya menoleh.
“Apa?”
Rafael tidak memedulikan ayahnya.
“Lima tahun lalu. Lantai dua puluh delapan.”
Jari Bianca meremas sisi gaunnya.
“Saya tidak mengerti.”
“Bagus.”
Rafael memberi isyarat kepada Raka.
“Berarti kita bisa mulai dari awal.”
Raka membuka tablet.
Surya melihat sekeliling.
“Tuan Rafael, mungkin sebaiknya kita bicara secara pribadi.”
“Kenapa?”
Surya tidak memiliki jawaban yang cukup cepat.
Rafael melanjutkan.
“Kalau ini tidak berkaitan dengan keluarga Anda, pembicaraan ini akan selesai dalam beberapa menit.”
Bianca menyela.
“Apa sebenarnya yang Anda cari?”
Raka menunjukkan layar tablet.
“Catatan Hotel Asteria pada malam tanggal dua belas April lima tahun lalu.”
Wajah Bianca berubah sedikit.
Raka memperbesar satu dokumen.
“Rekaman CCTV lantai dua puluh delapan dihapus dari server utama dua hari setelah kejadian.”
Bianca mengangkat bahu.
“Apa hubungannya dengan saya?”
“Permintaan penghapusan dilakukan oleh manajer hotel bernama Dimas Wardana,” lanjut Raka. “Satu hari kemudian, dia menerima transfer dua ratus juta rupiah.”
Miranda baru tiba di ujung tangga.
Ia berhenti.
Rafael menoleh kepadanya.
“Rekening pengirim terhubung ke salah satu perusahaan milik Anda, Nyonya Miranda.”
Beberapa kepala langsung berputar ke arah perempuan itu.
Miranda turun tanpa terburu-buru.
“Perusahaan saya melakukan ratusan transaksi setiap bulan.”
“Benar.”
“Tidak mungkin saya mengingat transaksi lima tahun lalu.”
“Itu juga benar.”
Rafael tampak sama sekali tidak terganggu.
“Karena itu saya tidak mengandalkan ingatan Anda.”
Pintu utama terbuka lagi.
Kali ini bukan tamu pesta yang masuk.
Dua anggota keamanan membawa seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun.
Baju pria itu sudah kusut. Keringat terlihat di dahinya meskipun ruangan berpendingin udara.
Bianca mengenalinya.
Wajah yang sudah bertahun-tahun tidak ia lihat.
Dimas Wardana.
Dimas melihat Bianca.
Langsung menunduk.
Bianca merasa seluruh persiapan Miranda di kamar tadi tidak lagi berguna.
“Dimas?” Surya bertanya. “Siapa dia?”
“Mantan manajer Hotel Asteria,” jawab Rafael.
Bianca maju.
“Tuan Rafael, saya tidak tahu dari mana Anda mendapatkan orang ini, tapi—”
Rafael mengangkat satu tangan.
“Pak Dimas.”
Pria itu menelan ludah.
“Ya, Pak.”
“Katakan kepada mereka hal yang sama yang Anda katakan kepada tim saya.”
Dimas tidak langsung bicara.
Rafael tidak mendesak.
Justru keheningan itu membuat semua orang di aula menunggu.
Akhirnya Dimas berkata, “Lima tahun lalu saya diminta menghapus rekaman kamera di lantai dua puluh delapan.”
“Siapa yang meminta?” tanya Surya.
Dimas melirik Bianca.
Bianca langsung menunjuknya.
“Jangan coba-coba.”
Dimas memejamkan mata sebentar.
“Nona Bianca.”
Suasana yang semula hanya dipenuhi bisikan kecil seketika menjadi gaduh.
“Itu bohong!”
Bianca melangkah cepat.
“Kau dibayar siapa?”
Dimas mundur.
“Saya tidak dibayar siapa-siapa sekarang.”
“Rafael membayarmu!”
“Bianca,” Surya menegur.
“Papa tidak tahu orang ini!”
Rafael mengambil tablet dari Raka.
“Pak Dimas menyimpan salinan percakapan.”
Bianca berhenti.
“Sampai sekarang?”
Dimas mengangguk pelan.
“Saya takut suatu saat semuanya dilimpahkan kepada saya.”
Rafael menyerahkan tablet kepada Surya.
Di layar terlihat tangkapan pesan.
Nama.
Tanggal.
Instruksi.
Jumlah pembayaran.
Surya membaca satu halaman, lalu halaman berikutnya.
Tangannya mulai gemetar.
“Bianca.”
Putrinya tidak menjawab.
“Kenapa kamu menyuruh rekaman hotel dihapus?”
“Itu bukan seperti yang Papa pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
Miranda masuk.
“Surya, jangan mempermalukan keluarga di depan tamu.”
Surya berbalik.
“Kamu diam dulu.”
Nada itu membuat Miranda berhenti.
Rafael menoleh kepada Dimas.
“Apa yang terjadi sebelum rekaman dihapus?”
Dimas melihat Bianca sekali lagi.
Wajah perempuan itu hampir memohon sekaligus mengancam.
Namun lima tahun membawa ketakutannya sendiri.
Dimas memilih Rafael.
“Malam itu… ada seorang perempuan yang diarahkan masuk ke kamar Tuan Rafael.”
Rahang Surya mengeras.
“Perempuan siapa?”
“Jangan jawab!” Bianca berteriak.
Rafael tidak menaikkan suara.
“Jawab.”
Dimas menarik napas.
“Aluna Prameswari.”
Surya tidak bergerak.
Untuk beberapa detik, ia seperti tidak memahami nama itu.
Kemudian tablet di tangannya turun perlahan.
“Aluna?”
Dimas mengangguk.
Miranda memejamkan mata.
Bianca sudah tahu tak ada lagi cara berpura-pura tidak mengerti.
Rafael justru menjadi semakin tenang.
“Lanjutkan.”
“Nona Bianca meminta kartu akses kamar ditukar.”
“Apa maksudnya?”
“Staf hotel diarahkan supaya Nona Aluna masuk ke kamar yang sama dengan Tuan Rafael.”
Surya menoleh kepada Bianca.
Dimas masih berbicara.
“Minuman keduanya sudah diberi sesuatu.”
Rafael menajamkan pandangan.
“Sesuatu?”
“Saya tidak tahu jenisnya. Saya tidak mengurus bagian itu.”
“Siapa?”
Dimas menunduk.
“Saya hanya tahu instruksi datang melalui orang Nona Bianca.”
Bianca langsung berkata, “Dia bohong!”
Rafael tidak melihatnya.
“Setelah itu?”
“Kamera koridor dimatikan. Paginya, rekaman dihapus.”
“Kenapa?”
Dimas kini bicara sangat pelan.
“Supaya kelihatannya Nona Aluna masuk ke kamar atas kemauannya sendiri.”
Surya duduk di kursi terdekat.
Wajahnya berubah seperti baru saja menerima pukulan.
Lima tahun lalu.
Ia kembali melihat Aluna berdiri kehujanan di halaman.
Bibir anaknya berdarah setelah ia tampar.
Aku dijebak, Pa.
Surya tidak mendengarkan.
Ia bahkan tidak bertanya.
“Bianca.”
Suara itu keluar serak.
Bianca menggeleng.
“Papa, dengar dulu.”
“Benar atau tidak?”
“Dia memutar semuanya.”
“Benar atau tidak?”
Bianca melihat Miranda.
Ibunya tidak memberi bantuan.
Lalu Rafael berkata, “Aluna tidak tahu Pak Dimas berada di sini.”
Bianca memandangnya.
“Tidak mungkin.”
“Saya belum bertemu lagi dengannya sejak bandara.”
“Itu—”
“Jadi jangan gunakan Aluna sebagai alasan.”
Bianca menarik napas pendek.
Tekanan dari puluhan pasang mata membuat kalimat berikutnya keluar sebelum sempat ia pikirkan.
“Saya cuma ingin dia pergi!”
Surya menatap putrinya.
Bianca baru menyadari apa yang telah dikatakan.
“Apa?”
“Pa, maksudku—”
“Pergi ke mana?”
Bianca terjebak.
Ia menutup mata sebentar.
Ketika membukanya, air mata sudah menggenang.
“Saya menyukai Rafael.”
Rafael tidak bereaksi.
“Saya menyukai Anda sejak dulu,” lanjut Bianca kepadanya. “Tapi Anda tidak pernah melihat saya. Aluna selalu mendapatkan semua hal dengan mudah. Papa lebih memperhatikannya karena dia anak dari istri pertama. Orang-orang selalu membandingkan kami.”
“Jadi kamu menjebaknya?” tanya Surya.
“Saya cuma ingin keluarga berhenti menganggap dia lebih baik!”
“Dengan memasukkan obat ke minumannya?”
“Saya tidak tahu semuanya akan sejauh itu!”
Surya berdiri.
“Dia anak saya.”
Bianca tertawa pendek sambil menangis.
“Sekarang Papa ingat?”
Kalimat itu membuat Surya terdiam.
Bianca mengusap pipinya.
“Lima tahun lalu Papa bahkan tidak mau mendengarnya.”
“Karena kamu membuat kami percaya—”
“Tidak.”
Bianca menggeleng keras.
“Saya memberi kalian satu kebohongan. Kalian yang memilih mempercayainya tanpa bertanya.”
Surya kehilangan kata-kata.
Untuk bagian itu, Bianca benar.
Dan kebenaran itu jauh lebih menyakitkan daripada kebohongan sebelumnya.
Rafael tidak datang untuk menyelesaikan persoalan keluarga Prameswari.
Ia hanya membutuhkan satu hal lagi.
Tangannya masuk ke saku dalam jas.
Kotak beludru dikeluarkan.
Dibuka.
Anting bulan sabit terlihat di bawah lampu aula.
“Pak Surya.”
Surya menoleh.
“Anda pernah melihat ini?”
Surya mendekat.
Tidak sampai lima detik.
“Ya.”
Rafael menunggu.
“Itu milik Aluna.”
Bianca menahan napas.
Surya mengambil satu langkah lebih dekat.
“Mendiang ibunya memberikannya ketika Aluna berumur tujuh belas. Sepasang.”
Rafael menutup kotak.
Kini fakta-fakta itu membentuk garis yang terlalu lurus untuk diabaikan.
Aluna berada di hotel pada malam yang sama.
Ia masuk ke kamar Rafael.
Antingnya tertinggal.
Dua anak berusia lima tahun muncul kemudian.
Dan seorang dari mereka memiliki wajah yang membuat Rafael seperti melihat foto masa kecilnya sendiri.
“Raka.”
“Ya, Pak.”
“Hubungi laboratorium.”
Bianca langsung maju.
“Untuk apa?”
Rafael memandangnya.
“Tes DNA.”
“Tidak.”
Jawaban Bianca datang begitu cepat hingga semua orang mendengarnya.
Rafael memiringkan kepala.
“Kenapa?”
Bianca tersadar.
“Saya hanya… maksud saya, ini terlalu jauh. Anda bahkan belum tahu apakah Aluna mau.”
“Itu urusan saya dengan Aluna.”
“Dia bisa memanfaatkan anak-anak.”
“Jangan.”
Bianca berhenti.
Rafael tidak perlu mengancam dengan suara keras.
Tatapannya sudah cukup.
“Jangan pernah menghina mereka untuk menyelamatkan dirimu sendiri.”
“Tapi Anda belum tahu mereka benar-benar—”
“Saya akan tahu.”
Rafael memasukkan kotak ke sakunya.
Surya mendekat.
“Tuan Rafael.”
“Apa?”
“Kalau mereka memang anak Anda…”
Kalimat itu sulit keluar.
“…tolong jangan membuat Aluna menderita lagi karena keluarga ini.”
Rafael mengamati pria di depannya.
Kemudian berkata, “Anda sudah melakukannya lebih dulu.”
Surya menunduk.
Rafael berbalik menuju pintu.
“Tuan Rafael,” Surya memanggil lagi.
Rafael berhenti.
“Saya ingin bertemu Aluna.”
“Untuk?”
“Saya harus meminta maaf.”
Rafael menoleh.
“Kalau dia ingin bertemu Anda, dia akan datang sendiri.”
“Saya ayahnya.”
Kali ini Rafael tidak langsung menjawab.
“Apakah Aluna masih menganggap Anda begitu?”
Pertanyaan itu membuat Surya tidak mampu membalas.
Rafael pergi.
Begitu pintu utama tertutup, Surya berbalik kepada Bianca.
Tamparannya datang cepat.
Bianca kehilangan keseimbangan dan jatuh di samping kursi.
Beberapa tamu terkejut.
Miranda berlari mendekat.
“Surya!”
“Kau diam!”
Surya menunjuk putrinya.
“Kamu membuat saya mengusir anak saya sendiri.”
Bianca memegang pipi.
Air matanya kali ini bukan pura-pura.
“Kalian semua mengusirnya.”
“Kamu menjebaknya!”
“Dan Papa bahkan tidak memberinya lima menit untuk menjelaskan!”
Surya berhenti.
“Kalian begitu mudah percaya karena jauh sebelum malam itu, kalian sudah siap melihat Aluna sebagai masalah.”
“Cukup!”
“Tidak.”
Bianca berdiri.
“Kalian ingin semua kesalahan jatuh kepada saya sekarang karena lebih mudah.”
Ia menatap ayahnya.
“Silakan.”
Suaranya bergetar.
“Tapi jangan berpura-pura lima tahun lalu hanya ada satu orang yang menghancurkan Aluna.”
Tak seorang pun menjawab.
Untuk sekali ini, pesta mewah keluarga Prameswari tidak mampu menyembunyikan apa pun.
Di mobil, Rafael langsung berkata, “Alamat Aluna.”
Raka memeriksa tablet.
“Sudah ada.”
“Di mana?”
“Apartemen sewaan di pusat kota. Baru ditempati hari ini.”
“Ke sana.”
Raka memberi instruksi kepada pengemudi.
Setelah beberapa menit, ia menoleh sedikit.
“Pak.”
“Apa?”
“Kalau tes DNA positif…”
Rafael melihat keluar jendela.
“Apa?”
Raka sepertinya menyesal telah bertanya.
“Tidak ada.”
Rafael memahami pertanyaannya.
Kalau tes itu positif, berarti selama lima tahun ia memiliki dua anak yang tidak pernah diketahuinya.
Arsen.
Aruna.
Bayangan gadis kecil yang memanggilnya Om dingin muncul di kepala.
Lalu Arsen dengan wajah serius mengatakan mereka tidak perlu pura-pura saling menyukai.
Aneh.
Rafael mengenal ratusan orang yang berusaha membuatnya terkesan.
Dua bocah kecil itu justru sama sekali tidak peduli siapa dirinya.
Dan entah kenapa, itu terasa jauh lebih mengganggu.
“Percepat.”
“Baik, Pak.”
Di apartemen, Aluna sedang menemani Aruna tidur.
Perjalanan panjang dan kejadian di bandara akhirnya mengalahkan energi gadis kecil itu.
“Besok kita makan es krim?” gumam Aruna dengan mata setengah tertutup.
“Kalau bangun tidak rewel.”
“Aku tidak pernah rewel.”
Dari ruang tengah terdengar suara Arsen, “Data tidak mendukung pernyataan itu.”
Aruna membuka mata.
“Kakak jahat.”
Aluna tertawa.
“Tidur.”
Beberapa menit kemudian, napas Aruna sudah teratur.
Aluna menarik selimut sampai bahunya.
Ia keluar kamar.
“Arsen, sudah malam. Tutup lap—”
Kalimatnya berhenti.
Sofa kosong.
Laptop Arsen menyala di meja makan.
Anak itu duduk di depan layar dengan headphone menempel di telinga.
Aluna mendekat.
“Arsen?”
Anaknya tidak menjawab.
Ekspresinya membuat Aluna langsung waspada.
Bukan wajah anak yang ketahuan bermain komputer melewati jam tidur.
Arsen terlihat marah.
Benar-benar marah.
“Apa yang kamu lihat?”
Arsen melepas headphone perlahan.
Di layar terdapat arsip Hotel Asteria.
Nama Aluna.
Nama Rafael.
Nomor kamar.
Wajah Aluna berubah.
“Kamu janji tidak mencari sendiri.”
“Aku tidak meretas.”
“Arsen.”
“Akses lama hotel masih terbuka lewat arsip publik yang salah konfigurasi.”
“Itu tetap bukan—”
“Aku menemukan rekaman.”
Aluna berhenti.
“Rekaman apa?”
Arsen menatap ibunya.
Lalu memutar sebuah file suara.
Suara perempuan keluar dari pengeras laptop.
Suara yang Aluna kenal.
Suara Bianca.
“Setelah mereka masuk kamar, hapus semua rekaman. Besok pagi pastikan Aluna ditemukan lebih dulu. Aku ingin semua orang percaya dia sengaja menggoda Rafael.”
Aluna tidak bergerak.
Rekaman itu terus berjalan beberapa detik sebelum Arsen menghentikannya.
“Mama.”
Aluna meraih sandaran kursi.
Lima tahun.
Selama lima tahun ia mempertanyakan ingatannya sendiri.
Memikirkan kemungkinan bahwa mungkin keluarganya benar.
Mungkin ia memang melakukan sesuatu yang tidak ia ingat.
Mungkin ia pantas mendapat semua yang terjadi setelahnya.
Sekarang suara Bianca berada di depan dirinya.
Jelas.
Nyata.
Bukan ingatan.
Bukan mimpi.
Bukan pembelaan seorang perempuan putus asa yang tidak dipercaya siapa pun.
Bukti.
Arsen menatap ibunya.
“Mama benar.”
Aluna menutup mulut dengan tangan.
Air mata yang selama ini ia pikir sudah habis akhirnya jatuh.
Arsen berdiri.
Tidak mengatakan kalimat pintar.
Tidak menawarkan analisis.
Ia hanya mendekat dan memeluk ibunya.
Aluna langsung menunduk, memeluk tubuh kecil itu erat.
“Ma…”
“Tidak apa-apa.”
“Kamu menangis.”
“Iya.”
“Karena sedih?”
Aluna menggeleng di bahunya.
Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, tangis itu bukan karena ia tidak tahu apa yang terjadi.
Ia menangis karena akhirnya tahu.
Bel pintu berbunyi.
Arsen mengangkat kepala.
Aluna mengusap wajah.
Mereka saling memandang.
Tidak ada seorang pun yang seharusnya datang malam-malam begini.
Bel berbunyi sekali lagi.
Aluna berjalan ke pintu dan melihat monitor interkom.
Seorang pria bersetelan hitam berdiri di depan unit.
Rafael Mahendra.
Di belakangnya ada Raka.
Aluna menutup mata sebentar.
Tentu saja.
Malam ini rupanya belum selesai.
Ia membuka pintu hanya sedikit.
“Anda?”
Rafael hendak bicara.
Namun suara rekaman dari laptop di belakang Aluna kembali terdengar karena Arsen tanpa sengaja menyentuh tombol putar.
Suara Bianca memenuhi ruang tamu.
“…pastikan Aluna ditemukan lebih dulu.”
Rafael berhenti.
Aluna menoleh ke laptop.
Ketika kembali melihat Rafael, ekspresi pria itu sudah berubah.
“Apa itu?”
Aluna membuka pintu sedikit lebih lebar.
“Jawaban yang lima tahun terlambat.”
Rafael masuk.
Dan untuk pertama kalinya, mereka berdua memiliki musuh yang sama.