Genre: Fantasi Modern, Romantis-Komedi, Isekai
Elia said : Gue boleh jadi antagonis, tapi minimal tetep punya akhlak lah ya!
Gimana jadinya kalau seorang gadis Gen Z super santuy bernama Elia tiba-tiba terbangun di dalam dunia webnovel romansa klise yang sering dia baca? Alih-alih jadi tokoh utama yang disayang semua orang, Elia malah apes tingkat dewa: dia masuk ke tubuh si villainess (tokoh jahat) yang punya nasib tragis dan bakal mati mengenaskan di pertengahan cerita!
Novel itu berjudul "Gadis Desa dan Sang Taipan" sebuah kisah cinta menye-menye tentang gadis kampung polos yang dicintai setengah mati oleh seorang taipan muda nan kaya raya. Masalahnya, si taipan kaya ini adalah tunangan Elia di dunia tersebut. Berdasarkan alur asli, Elia harusnya mati karena terlalu bucin dan terobsesi merusak hubungan mereka.
"Yang bener aja?! Masak gue harus jadi villain? Mana mati di tengah cerita lagi. Sial banget!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blumoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 — Triliunan dan Kepiting Alaska
~ HAPPY READING ~
|
Tiga puluh menit berlalu, Elia akhirnya sampai di depan sebuah gedung pencakar langit yang megah. Di bagian depan gedung, terpampang logo besar bertuliskan Arton Group.
"Arton Group..." gumam Elia pelan seraya mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobby yang mewah.
‘Ah, iya... kalau gak salah perusahaan ini didirikan oleh Arton sendiri dari nol, dan 50% sahamnya milik Leila. Di novel aslinya, setelah kematian tragis Helena, Arton ngasih perusahaan ini ke Leila sebagai bentuk pelampiasan rasa bersalah, terus dia sendiri balik buat nerusin bisnis keluarganya, Veradoux Group. Setengah tahun kemudian, Leila sukses jadi business woman terkenal, baru deh mereka berdua nikah,’ batin Elia mengingat-ingat plot luar kepala itu.
"Hemmm... kesetaraan yang hakiki," gumamnya santai sambil melangkah menuju meja resepsionis.
"E... halo, Mbak," sapa Elia ramah.
Melihat siapa yang datang, sang resepsionis langsung menegakkan tubuh. "Nona Helena! Silakan langsung naik saja, Nona. Tuan Arton sudah menunggu di ruangannya."
"Ruangannya di lantai berapa ya, Mbak? Saya agak lupa," ujar Elia sambil tersenyum kikuk. ‘Sialan, bisa-bisanya gue lupa ruangan kerja si Arton lantai berapa!’ umpat Elia dalam hati.
"Oh... mari saya antar, Nona," jawab resepsionis itu dengan senyum ramah profesional, meski matanya menyipit penuh arti.
‘Lupa? Enggak mungkin cewek gila ini lupa ruangan Tuan Arton! Seorang Helena yang bucin akut, yang bahkan hampir setiap hari ke kantor ini cuma buat numpang lewat, gak masuk akal banget pake alasan lupa. Bilang aja mau diantar biar kelihatan berkuasa, heh,’ batin si resepsionis sewot.
"Mbak, kenapa muka mbaknya kayak kesal gitu? Lagi pusing?" tanya Elia blak-blakan saat menyadari perubahan ekspresi di wajah wanita itu.
Resepsionis itu tersentak, lalu buru-buru memaksakan senyum. "Ah, tidak apa-apa, Nona. Saya sedang dapat bulan biasa, hormonnya agak berantakan."
"Oh... PMS, ya? Pasti gak nyaman banget ya, Mbak? Sakit banget pasti perutnya," ujar Elia berempati. Namun, belum sempat si resepsionis menjawab, suara pintu lift yang terbuka memotong obrolan mereka.
Ting!
"Mbak, antar gue—eh, saya sampai ruangannya Pak Arton, ya."
Resepsionis itu hanya mengangguk patuh, walau dalam hatinya kembali berteriak, ‘Apa tadi dia bilang? Pak Arton?! Biasanya juga manggil "Sayang" atau "Arton-ku"!’
"Ini ruangannya, Nona," tunjuk resepsionis itu sesampainya mereka di depan pintu kayu mahoni yang besar.
"Oke, makasih banyak ya, Mbak!" ujar Elia riang, lalu langsung melenggang masuk begitu saja.
Sementara itu, si resepsionis wanita mematung di depan pintu. Matanya mengerjap tidak percaya. "Barusan... Helena bilang makasih? Wah, hal langka bin ajaib ini! Harus masuk berita!" gumamnya berbisik. Ia bahkan sedikit berlari menuju lift agar cepat sampai ke lantai bawah untuk bergosip dengan karyawan lain. "harus kasih tahu yang lain! Helena bilang makasih! Wow!"
Sementara itu, di dalam ruangan kerja yang dingin, Elia langsung duduk di sofa tanpa disuruh.
"Ada apa ngajak ketemu? Mana di kantor lagi, gak romantis banget," ujar Elia ketus, berusaha berakting memainkan perannya sebagai Helena yang egois dan bucin.
Arton yang duduk di balik meja kerjanya menghela napas panjang, menatap wanita di depannya dengan tatapan serius. "Aku mau membatalkan pertunangan kita."
"Apa?! Membatalkan pertunangan?!" Elia langsung berdiri, berpura-pura terkejut setengah mati. "Enggak! Gue—eh, maksudnya aku gak mau! Pertunangan ini udah resmi direstuin sama kedua orang tua kita!" tolak Elia dramatis, meniru reaksi villainess di kepalanya.
"Tapi, Helena, aku tidak mencintaimu. Hatiku sudah milik orang lain," potong Arton dingin. "Aku tidak ingin kita berdua terjebak dalam pernikahan tanpa cinta seperti ini."
"Tapi aku... aku cinta... aku cinta banget sama k-kamu, Arton!" seru Elia, menutup wajahnya dengan kedua tangan sambil berpura-pura menangis sesenggukan. ‘Huekkk! Mau muntah gue sama dialog gue sendiri! Geli banget, demi apa!’ batin Elia menjerit jijik.
Melihat Helena menangis, Arton mengeluarkan sebuah kartu hitam dari dompetnya dan meletakkannya di atas meja. "Helena, di dalam kartu ini ada uang senilai satu triliun rupiah. Kalau kamu setuju untuk membatalkan pertunangan kita, kartu ini jadi milikmu sepenuhnya."
Seketika, tangisan palsu Elia mereda. Matanya langsung berbinar menatap kartu hitam itu.
"Deal!" ujar Elia tanpa basa-basi.
‘Demi satu triliun! Pertunangan gak berfaedah ini emang kudu batal!’ teriak batin Elia kegirangan.
"Gue setuju," lanjut Elia, saking senangnya sampai dia lupa mengontrol cara bicaranya yang santai. "Tapi... pengumuman pembatalan pertunangan ini harus keluar dari pihak lo. Karena gue gak mau nyokap bokap gue kecewa sama gue. No, no, no, gue mau tetep jadi anak yang baik di mata mereka. Jadi, gue setuju batal, tapi lo yang maju duluan ke keluarga besar. Deal?"
Arton melongo. "Hel—"
"Oke, mana kartunya? Pin-nya apa? Buruan, gue banyak urusan nih. Masalah pembatalan pertunangan terserah lo mau kapan aja diatur, pokoknya gue tinggal datang dan bilang setuju aja, kan? Hei, kenapa malah diem aja? Pin-nya apa, woy?" tagih Elia sambil menadahkan tangannya di depan muka Arton.
"U-ulang tahun..." jawab Arton terbata-bata karena syok.
"Ulang tahun gue?" sambar Elia cepat.
"Ya..."
"Oke, bye! Thanks duitnya, Ganteng!" ujar Elia riang. Ia menyambar kartu itu, berbalik, dan pergi begitu saja meninggalkan ruangan kerja Arton.
Di tempatnya, Arton masih mematung dengan mulut sedikit terbuka. Ia benar-benar syok. Sifatnya, cara bicaranya, tingkah lakunya... semuanya berubah drastis. Arton memijat pelipisnya yang mendadak pening. "Itu tadi... beneran Helena? 'Gue'? 'Lo'? Terus dia langsung setuju?"
Arton menggelengkan kepala, mencoba menetralisir kebingungannya. "Ah, kesampingkan dulu masalah keanehannya. Yang penting dia udah setuju. Sekarang tinggal urusan Mama sama Papa," gumamnya, menarik napas lega.
Sementara Arton sedang kebingungan, Elia sudah berada di pusat perbelanjaan paling mewah di kota. Ia melompat dari satu butik ke butik lain, memilih barang-barang bermerek yang ia sukai sambil bersenandung ceria. Elia bahkan belum sadar kalau tindakannya tadi sudah melenceng jauh dari alur cerita asli novel di mana seharusnya Helena menolak mentah-mentah pembatalan itu, membuang kartu dari Arton, bahkan mengancam akan bunuh diri agar Arton dilingkupi rasa bersalah seumur hidup.
Saat sedang asyik memilih tas mewah, tiba-tiba sebuah suara imut berdengung di telinganya, memberikan peringatan.
[ Peringatan: Tuan Rumah terdeteksi keluar dari peran asal. ]
"Keluar dari peran apanya?" tanya Elia bingung. Detik berikutnya, Plak! Elia menepuk jidatnya sendiri di depan umum. "Sial! Gue lupa kalau di part ini harusnya Helena ngamuk dan gak setuju ya sama pembatalan pertunangan ini?!"
[ Benar. Di alur asli, Helena menolak keras, bahkan mengancam akan bunuh diri. ]
Jantung Elia langsung berdebar kencang karena panik. "Haduh, gimana dong? Gue udah terlanjur nerima kartunya lagi! Gue bakal dapet penalti atau hukuman gak nih dari lo?!"
[ Tuan Rumah, silakan lanjutkan saja alur yang sekarang. ]
"Hah?" Elia kaget. "Gak ada hukuman atau penalti karena gue melenceng dari alur sebenarnya?"
[ Misi utama Anda adalah mengubah takdir Helena agar tidak mati muda. Lepas dari Arton adalah salah satu cara paling efektif untuk menghindari kematian tragis tersebut. Jadi, tindakan Anda dinilai efisien. ]
Elia bernapas lega, mengusap dadanya. "Iya juga, sih. Terus kenapa lo tadi ngasih peringatan? Bikin gue jantungan aja, tahu gak!"
[ Anda melenceng karena Tuan Rumah bersikap terlalu baik kepada Arton dengan langsung menyetujui permintaannya tanpa syarat yang memberatkan. ]
"Gue baik? Enggak kok, gue kan peras duitnya satu triliun!" bela Elia tidak terima.
[ Angka itu kurang banyak untuk ukuran ganti rugi nama baik keluarga Anda. Seharusnya Tuan Rumah meminta minimal lima triliun sebagai kompensasi. ]
Elia melongo mendengarnya. "Iya juga, sih... Arton kan tajir mampus. Eh, tunggu, tunggu... lo ini sebenarnya sistem macam apa, sih? Kok malah ngajarin gue jadi matre?"
[ Saya adalah sistem pemandu Anda, Tuan Rumah. ]
"Gak percaya gue. Dasar sistem aneh," gumam Elia pelan. Namun, sebelum ia sempat membalas lagi, wujud sistem itu sudah memudar kembali. "Loh, hilang lagi? Muncul tiba-tiba, hilang juga tiba-tiba. Benar-benar deh."
"Nona..." sapa seorang karyawan toko dengan ramah, memutus monolog Elia.
"Eh, iya? Maaf, tadi agak ngelamun," ujar Elia buru-buru menguasai diri.
"Ini kartunya, Nona. Terima kasih sudah berbelanja di toko kami. Tolong tuliskan alamat Anda di sini, nanti staf kami yang akan mengantarkan semua barang belanjaan ke kediaman Anda."
"Oh, oke. Makasih ya, Mbak," ujar Elia. Setelah menuliskan alamat rumah mewah Helena, ia segera pergi menuju sebuah restoran seafood terkenal milik Meilin, kakak perempuan Helena.
"Di sini kan ya tempatnya?" gumam Elia memastikan setelah sampai di depan restoran bernuansa elegan itu.
"Nona Helena! Silakan masuk, Nona," sambut pelayan restoran yang langsung mengenali wajahnya.
"Helena...!"
Suara pekikan riang terdengar. Seorang wanita cantik berbalut pakaian modis langsung berlari dan memeluk tubuh Elia erat-erat. Itu Meilin. "Tumben banget kamu ke sini? Ada apa?" tanya Meilin heran, karena biasanya Helena terlalu sibuk mengejar Arton sampai melupakan keluarganya sendiri.
"Laper, Kak," jawab Elia singkat dan jujur.
Meilin tertawa kecil, menggandeng tangan adiknya menuju meja VIP. "Ayo duduk. Kakak sengaja buka restoran ini dulu kan karena kamu suka banget makan seafood."
"Aku...?" Elia menunjuk dirinya sendiri.
"Iya, kamu lupa ya? Dulu ada yang pernah bilang ke Kakak: 'Kalau aja Kakak punya restoran seafood, pasti Helena bisa makan di restoran setiap hari.' Padahal kalau mau makan tiap hari di rumah juga bisa, tapi kamu malah bilang: 'Suasananya beda, Kak,' sambil gelendotan di pundak Kakak," tutur Meilin dengan mata berbinar hangat.
Elia tersenyum tulus mendengarnya. "Hahaha, iya aku inget. Gak nyangka Kakak beneran wujudin omongan aku dulu." ‘Eh, tapi perasaan adegan manis kayak gini gak ada deh di novel aslinya...’ batin Elia mendadak bingung.
[ Sekadar informasi untuk Tuan Rumah: Dunia yang Anda tempati sekarang telah bergeser menjadi dunia multiverse akibat adanya sinkronisasi jiwa Anda. ] Suara sistem tiba-tiba menyahut di kepalanya.
"Loh, bukannya ini cuma dunia novel biasa?"
[ Sekarang sudah tidak sepenuhnya sama. Kemungkinan besar beberapa adegan utama akan tetap terjadi sesuai novel, namun detail hubungan antar-karakter dan kejadian sehari-hari bisa berubah tergantung tindakan Anda. Tetapi, misi utama Anda tidak berubah. Misi Anda adalah— ]
"Mengubah takdir Helena supaya gak mati muda. Iya, iya, gue inget," potong Elia dalam hati.
Tep. Suara sistem itu langsung menghilang lagi dari benaknya. ‘Kan... hilangnya selalu gak pamit. Kebiasaan banget,’ gerutu Elia.
"Siapa yang gak pamit, Hel?" tanya Meilin yang menangkap gumaman adiknya.
"Eh, enggak kok, Kak! Enggak ada apa-apa. Mana makanannya? Udah laper banget nih," alih Elia buru-buru. Namun, di dalam hatinya, Elia tiba-tiba merinding. ‘Mati gue... tadi pas gue nerima duit dan langsung mutusin hubungan sama Arton, semoga pria itu gak syok berat terus nyelidikin perubahan gue,’ batinnya panik.
"Makanan datangg!" seru Meilin riang. Beberapa pelayan datang membawa beraneka macam olahan seafood premium ke atas meja.
"Wah... gila sih ini! Kepiting Alaska?! Seriusan nih, Kak? Kakak bener-bener the best!" seru Elia girang, lagi-lagi lupa mengontrol cara bicaranya yang terlalu santai sebagai seorang Gen Z.
"Hel..." panggil Meilin pelan.
"Hemmm?" Elia mendongak dengan mulut yang masih penuh dengan daging kepiting yang manis.
"Kamu gak mau pakai nasi? Ini Kakak ambilkan ya?" tawar Meilin.
"No, no, no! Kalau pakai nasi, perut gue bakal langsung kenyang dan gak bisa nyobain semua menu mewah ini, Kak!" tolak Elia cepat, kembali melupakan cara bicaranya.
Meilin tersenyum tipis, matanya menatap adiknya dengan tatapan yang sulit diartikan. ‘Sejak kapan Helena berubah jadi lebih hangat dan ekspresif kayak gini? Biasanya dia selalu jaga imej dan ketus kalau diajak ngobrol...’ batin Meilin penuh tanya.
Sementara itu, jauh di pinggiran Kota A yang padat dan kumuh...
Seorang gadis berambut hitam legam tampak sedang duduk di teras sebuah bangunan tua. Ia sedang tersenyum sabar, mengajari anak-anak jalanan cara membaca, menulis, dan berhitung. Gadis itu adalah Leila, sang tokoh utama wanita yang asli.
"Leila...!" sebuah suara bariton yang terengah-engah memanggil namanya dari kejauhan.
Leila menoleh, mendapati seorang pemuda berpakaian lusuh berlari ke arahnya. "Bagas? Ada apa?"
"Buruan pulang, Lei! Ibu mu... Ibu mu meninggal!" ujar Bagas dengan raut wajah panik luar biasa.
Deg.
"Apa...?"
Tanpa berpikir panjang, dunia Leila seolah runtuh seketika. Ia langsung bangkit dan berlari sekencang yang ia bisa, mengabaikan rasa perih di kakinya. Begitu sampai di depan rumah kecilnya, pemandangan bendera kuning dan kerumunan tetangga yang berbisik duka langsung menyambutnya.
"Ibuk...!!!" teriak Leila histeris, menerobos masuk ke dalam rumah. Ia langsung berlutut di samping tubuh ibunya yang sudah terbujur kaku ditutupi kain jarik.
"Ibu... tadi Ibu sehat-sehat aja. Kenapa... kenapa bisa begini? Apa yang terjadi sama Ibuk? Leila cuma punya Ibuk di dunia ini... kenapa Ibuk ninggalin Leila?! Hiks..." Leila menangis sejadi-jadinya, memeluk tubuh dingin sang ibu.
Seorang bibi tetangga sebelah rumah mendekat, mencoba menenangkan Leila sambil mengusap punggungnya. "Ibumu jatuh di kamar mandi, Lei. Nggak ada yang tahu... Tadi bibi ke rumahmu mau nganter lauk pauk. Semalam bibi minta sayuran di kebunmu, jadi bibi mau barter sedikit lauk buat kamu dan ibumu. Tapi pas bibi panggil-panggil, ibumu gak nyaut. Pintunya juga gak dikunci. Bibi kaget pas lihat ibumu udah tergeletak di lantai kamar mandi... Bibi panik langsung panggil warga dan minta Bagas buat jemput kamu di tempat mengajar."
"Ibuk... hiks... Leila udah gak punya siapa-siapa lagi, Buk..." ratap Leila pilu.
Hari itu resmi menjadi hari paling buruk dan kelam dalam hidup Leila. Ia kehilangan ibunya satu-satunya tempatnya pulang, satu-satunya tempat untuk mengadu dan mengeluh di dunia yang kejam ini.
Bersambung 🫰🏻🤗
ku sumpahin lu Arton, jadi bucin sama Helena wlek !!! trus rebutan sama Alex whahahaha
emang kamu dpt apa sih sistem kok gitu amadt, amadt aja gk gitu...
harusnya alex ngomong gitu wkwkwk
duh keinget kartun Syifa dari prindavan 😭