Bagi Amara, Juan adalah batu yang menyimpan berlian. Keras di rupa, tapi penuh kejutan di dalamnya. Lain lagi dengan Hilmi, sang heroik masa kecilnya yang datang kembali membawa harapan.
Siapa yang akan dipilih Amara nantinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni_Hana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21 . HUBUNGAN YANG KEMBALI
Amara langsung masuk rumah usai Hilmi menghilang dari pagar kediamannya tersebut. Ia tidak langsung ke kamar, melainkan menuju kamar Juan yang pintunya sedikit terbuka. Bi Darmi yang melihat pun tidak bisa menghentikan langkah gadis tersebut.
Juan tampak sibuk dengan gawainya saat Amara masuk. Gadis itu melangkah perlahan, tapi kemudian berhenti saat pemuda tersebut mengucapkan sesuatu tanpa sedikitpun melirik kepadanya.
"Udah kelar pacarannya?"
Liur Amara tertelan sejenak. Matanya memandang lurus ke arah pemuda yang masih sibuk mengetik sesuatu di laptopnya itu.
"Lo pucat banget," lirihnya tanpa sadar.
Jemari Juan berhenti bergerak kala mendengar lirihan sosok yang berdiri tidak jauh dari pintu kamarnya. Netranya perlahan menoleh, memandang Amara yang mematung kini. Salivanya turut tertelan sempurna saat mendapati wajah gadis yang tidak kalah pucat dengannya itu.
Amara kembali melanjutkan langkah, lantas duduk di tepi ranjang dengan kedua tangannya yang tiba-tiba saja menyentuh pipi Juan. Pemuda itu tersentak, tapi dirinya tidak bisa menghindari perlakuan Amara padanya detik ini. Gadis itu memeluk erat tubuhnya seketika.
Juan hanya bisa terdiam. Satu tangannya beralih meletakkan gawai yang tadi di pangkuannya ke atas kasur. Jantungnya berdegup kencang dan ia juga bisa merasakan detakan jantung Amara sekarang.
Namun, ada yang berbeda. Amara tidak seperti biasanya. Samar-samar, Juan bisa mendengar dia menangis. Liur pemuda itu kembali tertelan. Tangannya refleks terangkat, membalas pelukan gadis tersebut.
Juan tidak sanggup berucap. Tangannya mengelus serta menepuk pelan punggung pemeluknya kini. Dadanya memang terasa sesak, terlebih saat mengingat sosok yang bersama gadis itu tadi. Namun, hati kecilnya memberi sebuah rasa yang tidak dimengerti olehnya. Tiba-tiba saja semuanya luruh dan sesak itu kian menghilang seiring detik waktu yang terus berjalan.
***
Pak Ujang yang sejak tadi menyetir, kini melihat dua remaja di kursi belakang dengan seukir senyuman. Ia bernapas lega karena majikannya itu sudah baikan sekarang dan tentu saja gajinya bulan ini dipastikan cair dengan cepat.
Seorang gadis tampak sesekali melirik ke sebelah kanan. Telinganya mendengarkan dengan saksama suara pemuda di sampingnya yang tengah menerima panggilan dari seseorang.
"Nanti malam? Jadi?" tanya pemuda tersebut kepada lawan bicaranya.
"Iyalah. Datang sama Amara, ya," balas seorang pria dari balik panggilan.
Pemuda itu berdeham membalas. Ia sedikit menatap gadis yang meliriknya sejak tadi.
"Iya."
"Jangan telat!"
"Iya, Pa."
Juan bergegas mematikan panggilan. Ia kembali memandang gadis di sampingnya.
"Nanti malam ulang tahun Adrian Group," katanya kemudian.
"Bokap lo nyuruh lo datang?" tanya Amara, gadis yang melirik Juan sejak tadi.
"Sama lo juga."
Amara lantas mengerutkan kening, sementara Juan yang melihatnya langsung mengulurkan tangan dan mengelus puncak kepala gadis itu.
"Cuma datang bentaran doang. Gue juga enggak mau lama-lama di sana," ujar pemuda tersebut.
***
Setelah Juan tidak masuk sekolah beberapa hari yang lalu, rasanya suasana kelas jadi berbeda. Pemuda itu melangkah masuk bersama Amara di sampingnya. Matanya tertuju pada murid-murid perempuan yang mengerumuni seseorang yang duduk di kursi belakang. Ia mendengkus kecut seraya duduk di bangku, sementara Amara juga turut menempati bangku di depannya.
Gadis itu menoleh ke belakang, mendapati sekerumunan murid perempuan yang tengah mencandai Hilmi. Kakak kembar Juan itu sepertinya mudah bergaul dengan siapa saja. Terbukti selama dirinya berada di sini, banyak sekali penghuni sekolah yang sudah mengenalnya. Namun, yang dirasakan Amara berbeda. Ia terdiam dengan matanya memandang lurus ke arah pemuda tersebut, padahal Juan yang duduk di belakangnya justru mengerutkan kening padanya detik ini.
"Hust!" Pemuda itu mengulurkan satu tangan yang langsung menghalangi pandangan gadis di depannya.
Amara sontak mengerucutkan bibir. "Apa sih?" desisnya setengah kesal.
"Kalo cemburu bilang aja, enggak usah melotot sampai segitunya," ucap Juan.
"Siapa juga yang cemburu? Yang ada lo kali yang cemburu kalo gue ngeliatin dia."
Juan terdiam, sementara Amara yang merasa keceplosan langsung menampar bibirnya sendiri dan meringis ke arah pemuda tersebut. Ia berbalik ke depan dan mencoba melupakan perkataannya berusan.
Kejadian yang sama terulang kembali di jam istirahat. Juan dan Amara yang baru saja menginjakkan kaki di kantin melihat tim cheerleaders dan basket berada dalam satu meja yang biasanya ditempati mereka saat berkumpul bersama kedua remaja tersebut. Namun, kali ini sebuah pemandangan asing terlihat. Mereka tampak menikmati setiap detik obrolan dengan seorang pemuda yang mirip Juan. Siapa lagi jika bukan Hilmi Adrian, kakak si Arogan itu?
Saliva Juan tertelan sejenak, sebelum akhirnya ia berjalan menuju meja yang berbeda dan duduk di sana. Amara yang bersanding dengannya sejak tadi pun turut mengikuti pemuda tersebut. Netra gadis itu memandang ke arah meja dua tim populer di sekolahnya tersebut dengan pikirannya yang merumit.
Kenapa mereka enggak ngajak Juan lagi, ya?
Juan memandangi gerak-gerak gadis di hadapannya yang tengah gelisah itu. "Kenapa?"
Amara lantas menoleh ke arah pemuda tersebut dan menggeleng tanpa menjawab sedikitpun.
"Oh, iya, lo mau pesen apa?" tanyanya berusaha merubah suasana.
Juan menggeleng. "Enggak usah. Lo mau makan?"
"Enggak." Amara menggelengkan kepalanya. "Kalo lo enggak makan, gue juga enggak makan."
Juan sontak terkekeh membalasnya. "Lo bisa pingsan kalo enggak makan. Energi lo, kan, energi kuli pasar," katanya. "Gue pesenin batagor aja, ya."
Gadis itu menggangguk. Senyumnya merekah menatap punggung Juan yang berdiri dari kursinya dan menuju salah satu stan penjual di sana. Baginya, pemuda itu tampak berbeda kini. Entah apa yang membuat Juan berubah selembut ini padanya.
Kurva menanjak di sudut bibir Amara itu tidak memudar bahkan setelah Juan kembali ke mejanya. Pemuda itu menatap bingung ke arahnya.
"Lo ngapain?" tanyanya, membuat Amara tersentak.
"Ng ..., enggak apa-apa kok!" Gadis itu tersenyum kuda lalu bergegas melahap batagornya yang baru saja datang. Sementara Amara mengunyah potongan batagor, Juan menyedot jus jeruk di hadapannya.
Sesekali Juan melirik ke arah meja teman-teman satu timnya yang berada di pojok kantin. Alvi terlihat tertawa keras sampai harus ditabok oleh Irwan. Celetukan kasar yang dilontarkan beberapa temannya turut membuat suasana meja tersebut semakin menghangat. Namun, berbeda rasanya saat Juan menatap sang kakak. Aura dendam kesumat di masa lalu kembali membara. Sedotan yang dipegangnya bahkan sampai keriput diremas oleh jemarinya.
Amara yang melihat hal tersebut lantas menoleh ke arah perhatian Juan sejenak. Ia kembali menatap pemuda di hadapannya itu lalu dengan tangkas merampas gelas jus jeruk sampai pemuda tersebut hampir menyemburkan sisa jus di mulutnya ke meja.
"Lo apa-apaan sih?!" cela Juan setengah terkejut.
"Ya, lo mesen minum cuma satu, Paijo! Terusan gue minum apa?!" balas gadis itu tidak mau mengalah, padahal dirinya hanya berusaha merusak fokus Juan kali ini. Ia lantas meneguk jus tanpa sedotan.
Helaan napas panjang lolos dari lubang hidungnya. "Gue pesen lagi aja," katanya seraya hendak berdiri, tapi urung karena Amara menahannya.
"Enggak usah. Gue cuma minta dikit kok! Ini aja buat berdua, biar so sweet ...."
Kerutan di kening Juan semakin bertumpuk. "So sweet?" Ia melihat gadis itu mengangguk manja. "Jorok, Bego!"
Pemuda itu bangkit dari kursinya dan langsung menuju stan thai tea tanpa memedulikan respons Amara yang merengut menatap kepergiannya.
***