"Semua orang memiliki kisahnya sendiri dengan Dia yang menjadi tokoh utamanya. Kita adalah tokoh utama dalam cerita kita. Namun, Kita juga adalah tokoh tambahan atau bahkan antagonis dalam cerita orang lain."
Benarkah begitu?
Amaline Dwi Cahya Putri
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indigo Name, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20. Kejujuran
Amaline tidak bisa berhenti memikirkan Dinda .Apalagi mengingat Ia sama sekali tidak membalas chatnya seharian penuh. Apa yang
dilakukannya hingga Amaline terlihat jahat seperti ini. Akhirnya Amaline harus berangkat sekolah lagi dengan pikiran kacau dan tidak bisa tenang.
Lagi-lagi Amaline dibuat terkejut pagi hari itu. Belum Amaline memasuki ruang kelas ataupun duduk. Naura berlari kearahnya hingga nafasnya tersengal-sengal. Amaline berhenti mencoba memahami Naura yang terlihat ingin berbicara.
"Hosh!" Naura sampai memeluk lututnya karena kelelahan.
"Hei! Kenapa Kamu begitu terburu-buru seperti ini? Memangnya ada kabar buruk apa?" Dilihat dari keadaan Naura saja Amaline sudah pasti menebak jika ada kejutan besar pagi hari untuknya. Ia terdiam menunggu Naura mengumpulkan nafasnya.
"Dia tidak berangkat hari ini" ucap Naura jelas dengan sedikit sisa nafasnya.
Amaline yang paham akan siapa Dia yang dimaksud Naura terdiam. Seolah sudah bisa menebak apa yang terjadi.
Memangnya separah apa masalah yang terjadi pada Dinda hingga Ia melarikan diri dengan cara seperti ini. Amaline semakin bersikeras untuk mencari permasalahan Dinda setelah mengetahui Ia tidak berangkat hari ini.
"Ra, ayo ikut Aku. Aku mau menceritakan sesuatu kepadamu" Mendengarnya Naura langsung bangkit dan setuju. Naura paham betul hal apa yang ingin diceritakan oleh Amaline itu.
Amaline berjalan bersama Naura untuk meletakkan tasnya didalam kelas. Melewati teman-teman mereka yang terus tertawa tanpa tahu masalah yang memang mereka sembunyikan sebisanya. Naura menunggu Amaline dari depan kelas, Ia tahu Amaline akan mengajaknya pergi kemana.
Mereka pergi ke tempat duduk dekat lapangan. Yang biasanya digunakan untuk bersantai beberapa siswa kebetulan pagi itu masih kosong. Amaline dan Naura duduk berhadapan dan membuka pembicaraan. Naura tidak bertanya ataupun memberontak sedikitpun. Ia diam menunggu Amaline berbicara.
"Lupakan temperamen buruknya akhir-akhir ini. Aku mengetahui sedikit masalahnya dari teman-teman kelas sebelah. Sepertinya tidak banyak yang mengetahui ini dan hanya MIPA 1 yang tahu" ucap Amaline sedikit pelan. Naura bahkan harus merendahkan telinganya agar dapat mendengarnya. Ia percaya akan apa yang dikatakan Amaline dan sekarang berniat mendengarkannya dengan seksama.
"Sepertinya Ia ada masalah dengan anak bernama Shela dari ekskul Seni Cinematography" ucap Amaline. Sontak hal singkat itu dapat membuat Naura terkejut. Apalagi melihat Shela ikut gerombolan Amel ketika kekelas mereka kemarin. Mendengarnya Naura semakin yakin dan percaya akan perkataan Amaline.
Naura kebetulan sangat kenal dengan Shela karena satu SD. Dan Naura tahu, jika sangat merepotkan bermasalah dengan orang sepertinya. Apalagi sekarang Ia selalu dalam perlindungan Amel. Tidak akan ada yang berani mengusiknya sedikitpun.
"Memang apa masalah Dinda dan Shela?" Tanya Naura yang tentu Kita tahu tidak akan mendapat jawaban.
"Aku tidak tahu, saat Aku bertanya pada temanku ia hanya mendengar jika anak-anak itu sedang membicarakan Dinda saja. Dan sepertinya memang bermasalah dengan Shela" lanjut Amaline menundukkan kepalanya kebawah. Entah memikirkan apa Ia tidak tahu, pikirannya benar-benar Ia kosongkan karena ingin.
Naura terdiam dan menggelengkan kepalanya. Tidak ingin menebak akan ada hal lain yang terjadi setelah ini. Namun, tidak mungkin pasti akan ada masalah yang menimpa Dinda lagi setelah ini.
"Setelah pulang, anak-anak itu datang lagi kekelas Kita. Namun, pergi setelah sepertinya tidak menemukan apa yang mereka cari lagi" lanjut Naura terdengar ingin membenarkan.
"Mereka berarti mengincar Dinda, tapi Dinda terus menghindar karena tahu." Lanjutnya.
"Bagaimana Dinda tahu mereka akan mencari Dinda saat istirahat kemarin dengan tepat?" Amaline langsung terkejut mengingat satu fakta ini. Berfikir jika pasti ada teman lain yang tahu dan membantu dari belakang atas masalah ini.
"Kamu benar Lin! Kamu pikir bukankah itu anak dari kelas yang sama dengan mereka?" Ucap Naura.
Amaline mengangguk dan berusaha berpikir bersama Naura. Mengingat siapa yang kira-kira dekat dengan Dinda dari kelas itu.
Amaline dan Naura tidak tahu jelas siapa yang akrab dengan Dinda dari kelas itu namun mereka tahu ada satu orang yang kenal dengan Dinda yang kebetulan satu ekskul dengannya. Kemungkinan Dia orang yang tahu dan membantu Dinda beberapa kali dari Shela.
Amaline dan Naura yakin dengan hal ini dan berniat mencari tahu lebih. Namun Amaline tiba-tiba saja berpikir keras. Mengingat ada hal yang Ia lupakan lagi. Amaline memutar lagi satu persatu setiap detail yang dikatakan Devi dan Galang.
Naura terkejut saat tiba-tiba Amaline menarik tangannya yang berada diatas meja. Terlihat menurutnya Amaline hendak mengatakan hal yang penting hingga membuatnya tidak jadi bertanya dan terus menyiapkan telinga.
"Kamu tahu! Menurut temanku Devi dan Galang, sepertinya masalah mereka berdua berkaitan dengan anak cowok kelas IPS yang ikut ekskul Basket" ucap Amaline yang kali ini membuat Naura benar-benar terkejut karena Ia tahu betul akan sebuah fakta penting.
"Hei Lin! Jika itu benar, yang Aku tahu memang pacar Shela anak dari ekskul Basket" lanjut Naura.
Mendengar sesama dari mereka mengatakan hal demikian. Mereka sepakat jika benar Dinda dan Shela sedang dalam masalah percintaan saat ini. Tidak tahu siapa antagonisnya disini yang jelas. Mereka perlu tahu masalah Dinda dan membantu hal yang diperlukan.
Akhirnya Amaline dan Naura sedikit menemukan titik terang. Kebetulan bel masuk hampir berbunyi saat itu. Amaline dan Naura hendak berdiri dan pergi kekelas mereka bersama namun terhenti melihat Amel dan Shela dengan gengnya yang lain berjalan dari arah yang sama seperti mereka.
Namun Amaline dan Naura berusaha bersikap acuh seolah tidak tahu akan masalah yang terjadi. Dan berpura-pura berjalan seperti biasa didepan mereka.
Sepertinya Amel dan Shela memang mengincar mereka. Mereka menambah laju kecepatan dan disadari oleh Amaline dan Naura.
Tentu mereka berdua tidak akan mungkin lari. Hanya bisa menambah laju sekecil mungkin berharap tidak akan sampai untuk menggapai mereka.
"Hei!"
Amel menarik bahu Amaline dengan kasar hingga tubuhnya berbalik kebelakang dan sekarang mereka berdua saling berhadapan.
Amaline benar-benar tidak suka atas sikap mereka yang sok seenaknya dan memelototi mereka satu persatu dengan berani. Naura yang biasanya tidak pernah berhadapan dengan masalah ini terdiam dan sesekali menarik Amaline kecil untuk mengalah dan tidak memberontak.
"Dimana jal*ng kecil bernama Dinda itu? Dia temanmu kami tahu!" Ucap Shela dengan tatapan kebencian kepada nama yang disebutkannya.
Amel yang pada dasarnya tidak suka pada Amaline terus meliriknya dengan sinis dan memelototinya. Sepertinya Ia terlihat sedikit senang bisa menemukan sedikit masalah yang akan menyeretnya dan Amaline dalam satu frame.
"Atau Kamu sudah tahu? Pasti temanmu itu menceritakan sesuatu kan?" Lanjut Amel dengan nada menghina. Benar-benar Ia lontarkan didepan wajah Amaline seakan ingin menampar dan memermalukannya.
"Kalian pikir Kami takut jika seperti ini?" Ucapan Amaline sontak membuat Naura yang disampingnya terkejut dan terdiam. Tidak bisa memikirkan apa yang dilakukan Amaline.
Amel yang mendengarnya terlihat sangat kesal sekarang. Begitu pula Shela dan tiga orang lain. Siapa yang berani menantang dan melawan mereka sekarang? Orang kecil yang tidak berguna dimana namanya saja tidak dikenal siapapun.
Dan Alhamdulillah semua sudah selesai dan Author minta dukungannya untuk Short Movie yang Author buat yah. Judulnya Glasses cek di ig/ae.rhyu, makasih banget buat yang mau mampir dan nonton. Cuma kalian yang selalu setia mendukung Author sejauh ini🤗❤️