Setelah mengalami teror yang tiba-tiba, Ana menemukan dirinya dihantui tepat satu tahun setelah Richard secara sepihak putus dengannya dan pindah ke Texas. Di tengah kekacauan, kehidupan Ana berubah secara tak terduga saat dia bertemu Martin, seorang pria menawan dan penuh teka-teki yang membuatnya kembali merasakan jatuh cinta.
Saat teror yang menghantui berlanjut, Ana harus menghadapi ancaman tanpa akhir secara langsung yang menjerumuskan teman-teman Ana ke dalam lingkaran kematian.
Akankah Ana mengungkap kebenaran dan menemukan kekuatan untuk menentang siksaan yang berusaha melahapnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrilsant, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Revenge : Secret
Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Texas kembali disirami cahaya mentari pagi, dan pagi ini juga, Dawson dan Martin akan memulai rencana mereka yaitu mengamankan Ana untuk sementara.
Pintu kamar terbuka yang memperlihatkan Ana dengan tampilan khas baru bangun tidur. Gadis itu menguap lebar. "Ada apa?" tanya Ana.
"Maaf karena membangunkanmu, tapi sebaiknya kau bersiap-siap. Kita akan segera berangkat ke kota Valley mills." Sudah pasti itu adalah Dawson. Lelaki dengan tampilan yang sudah rapi itu mengintip ke dalam kamar Ana sebelum berkata, "baguslah kau sudah menyiapkan tasmu."
Mulut Ana terbuka. "Kau serius? Ini bahkan belum jam enam pagi!" seru Ana sambil berkacak pinggang.
Dawson mengusap sebelah alisnya. "Aku akan memberikanmu waktu beberapa menit untuk bersiap-siap," katanya sambil memasang senyum palsu.
Dan setelah Dawson mengatakan itu, Ana membanting pintu kamarnya dengan keras tepat di depan wajah lelaki itu.
Beberapa jam telah berlalu ....
Dua manusia berlawan jenis yang menghuni mobil ini tampaknya tak berminat melakukan percakapan. Untungnya musik yang terputar di radio sedikit menghalau suasana hening yang tercipta.
"Berapa lama lagi?" tanya Ana memulai percakapan.
"Sebentar lagi kita sampai."
Dan benar saja, tidak sampai satu jam, mobil yang dibawa Dawson berhenti di sebuah pekarangan yang sangat luas.
Mereka berdua lalu berjalan beriringan memasuki rumah besar atau sebut saja mansion dengan warna cokelat dan putih yang dominan.
"Kau membawaku ke mansion? Sangat mencurigakan," cibir Ana sambil melihat-lihat koleksi patung yang tertata rapi di sepanjang sudut mansion ini.
Merasa perkataannya tak direspon, Ana kemudian berbalik dan seketika itu juga dirinya terpaku seperti habis tersambar petir. Gadis itu bukan melihat monster mengerikan atau pun hantu yang ingin membalaskan dendam. Akan tetapi, dirinya tengah melihat Martin berdiri tak jauh dari tempatnya, dan pria itu sedang menatapnya dengan tajam.
Ana berusaha untuk bersikap biasa saja. Lidahnya mendadak kelu untuk sekadar mengucapkan "hai, bagaimana kabarmu?" atau "mengapa kau di sini? Sudah lama kita tak bertemu." Karena itu tak semudah dulu. Rasanya sangat aneh sekaligus menyakitkan saat melihat orang yang kau cintai, percaya, dan anggap baik ternyata ingin melenyapkanmu.
Martin berjalan lurus ke arah Ana, dan bodohnya gadis itu hanya diam mematung tanpa berpikir untuk melarikan diri.
"Dawson sudah pulang. Dia hanya mengantarmu ke sini," ujar Martin. Kini pria itu sudah berdiri di hadapan Ana.
Martin tersenyum manis. "Apa kau tidak merindukanku, Ana?"
"Tadinya ... sebelum kutahu kelakuan busukmu dengan paman dan sahabatmu yang memanipulasiku. Siapa namanya? Ah, aku ingat. Carnolius dan Frederico keparat," balas Ana dengan nyalang. Tapi tanpa Martin sadari, kaki Ana semakin bergetar di bawah sana.
Martin menghela napasnya sebentar, kemudian dengan cepat sesuatu yang kecil dan tajam menyentuh pundak Ana.
Perlahan tapi pasti, sensasi ringan menguasai tubuh gadis itu. Matanya membawa memasuki hitam yang siap menelannya jauh ke dalam kegelapan antah berantah. Sayup-sayup pendengarannya menangkap suara Martin yang sedang menopang tubuhnya. Hingga akhirnya semua terenggut bersama detik terlewat.
...----------------...
Jarum jam terus bergerak seiring waktu yang berjalan. Embusan angin membuat kain penutup jendela kamar, tempat tertidurnya seorang gadis berkibar pelan dengan sinar matahari yang menjadi satu-satunya penerangan di kamar yang bernuansa hijau tersebut.
Mata sang gadis lalu terbuka perlahan. Objek pertama yang ia lihat adalah langit-langit kamar dengan hiasan lampu kristal putih yang tergantung. Satu tangannya terangkat mengusap pundaknya yang terasa nyeri, kemudian memperbaiki posisi tubuhnya menjadi bersandar.
Tak lama setelahnya, pintu kamar terbuka memperlihatkan sosok Martin dalam balutan kaus polo berwarna biru kelasi sambil membawa nampan berisi semangkuk sup dan segelas air putih.
"Maaf. Ini semua kulakukan demi keselamatanmu," ungkap Martin sebelum menaruh nampan tersebut di atas meja samping tempat tidur.
"Kenapa aku harus percaya padamu?"
Martin kemudian duduk di samping Ana. "Seharusnya hari ini kau dibawa oleh Dawson ke ruangan bawah tanah dan disekap di sana, tetapi aku mengelabui pamanku karena ingin melindungimu. Aku tak akan bilang alasannya karena apa," jawabnya.
Ana mengangguk lalu mulai menyantap sup yang terletak di atas meja. Setelah beberapa suap, Ana mengangkat kepalanya ke arah Martin yang sejak tadi memandangnya. "Aku lebih baik mati karena keracunan daripada mati karena dibunuh oleh pamanmu." Setelah mengatakan itu, Ana meneguk segelas air putih.
"Kau masih tidak percaya padaku?"
"Sulit rasanya percaya padamu setelah semua hal yang terjadi."
"Tak apa, itu hal yang wajar." Senyuman tulus terpatri di wajah Martin. "Aku tahu kau pasti penasaran dengan semua rahasia peneroran yang kau alami. Aku akan menjelaskannya asalkan kau bersedia mengikuti dua permintaanku," katanya dengan serius.
Ana mengangguk samar.
"Alasan kau diteror adalah kakekmu. Seluruh keluargaku begitu benci pada kakekmu tapi tak sebesar kebencian yang dirasakan oleh pamanku, adik dari Mr. Bill, dan yah ... Mr. Bill itu adalah ayahku."
Ana terdiam meresapi setiap perkataan yang Martin lontarkan.
"Kenapa harus kau dan bukan ayahmu? Karena pamanku suka bermain-main, berbahaya, dan licik. Dia lebih memilih cucu dari musuhnya karena dia pikir permainan akan jauh lebih seru."
Ana mengusap dadanya yang bergemuruh. "Dasar orang sinting," hinanya.
Martin tertawa kecil. "Saking sintingnya aku sudah tak sabar untuk membunuhnya." Sudut bibir Martin tertarik ke atas.
"Kau akan membunuh pamanmu sendiri?" tanya Ana terperangah.
"Tentu saja. Itu adalah janjiku padamu."
"Lalu siapa yang menerorku selama ini?" tanya Ana mengalihkan pembicaraan.
"Dawson atau Richard. Yap, kurasa kau sudah tahu jika Dawson hanya nama samaran. Sebenarnya anak itu juga korban. Carnolius melakukan eksperimen ilegal pada otaknya. Bisa dibilang, memori ingatannya dikelabui oleh memori buatan Carnolius dan pamanku."
Rasa-rasanya Ana akan pingsan jika terus mendengar Martin membicarakan fakta yang mencengangkan.
Di tengah kesemrawutan yang dialami batin Ana, ponsel yang berada di balik kantungnya berbunyi. Nama 'Kak Loi' tertera di atasnya.
Satu alis Martin naik ke atas. "Ternyata kau bukan anak tunggal. Ayahmu memang pintar sekaligus ceroboh dalam melindungi kalian," ejeknya yang tak digubris oleh Ana.
Sebelum Ana mengangkat panggilannya, Martin berkata, "permintaan pertamaku. Katakan pada kakakmu bahwa kau baik-baik saja dan sedang liburan jadi tak bisa diganggu."
Ana hanya bisa pasrah dan mengiyakan.
"Dan permintaan kedua adalah temui aku di ruang baca setelah kau selesai dengan kakakmu." Pria itu kemudian berlalu pergi, meninggalkan Ana yang sedang kesal.
...----------------...
Ana menutup pintu dengan pelan lalu mencari keberadaan Martin. Tentunya gadis itu tak langsung sampai ke ruang baca dengan mudah, karena Martin membiarkannya mencari ruangan itu sendiri. Ana bahkan sempat tersesat. Untung saja dia gadis yang penyabar.
Ana sempat terpukau beberapa detik saat menemukan Martin sedang memetik gitar di pangkuannya sambil bersenandung kecil.
Saat menyadari keberadaan gadis itu, Martin menyuruh Ana untuk duduk di sofa. Kini mereka saling berhadapan satu sama lain.
"Kau ingin aku nyanyikan lagu apa?" tawar Martin sambil tersenyum.
Jantung Ana berdebar. Sungguh dia tak bisa membenci Martin sepenuhnya, karena biar bagaimana pun, pria ini telah membuatnya jatuh hati sejak awal bertemu. Ana sadar jika dia mencintai orang yang salah dan hidupnya akan merana bila terus bersama pria ini. Tapi, dia tak bisa membohongi perasaannya sendiri.
"Jadi ini permintaan keduamu?" Bukannya menjawab, Ana malah balik bertanya.
Martin menganggukkan kepalanya.
"Lagu apa saja yang memiliki unsur kematian di dalamnya," kata Ana sarkastik.
Pria itu malah tertawa. "Kau banyak berubah sekarang. Tapi tak masalah, aku saja yang pilihkan lagunya untukmu," ucapnya yang membuat Ana tak mengeluarkan sepatah kata lagi.
Martin kemudian memetik gitarnya dan mulai bernyanyi, sambil sesekali menatap wajah Ana. Seperti ingin memberikan gadis itu sebuah pesan melalui pandangan mata lewat lirik yang ia bawakan. Sedangkan Ana hanya terdiam dan menghayati lagu yang Martin bawakan.
"I'm not a perfect person. There's many things i wish i didn't do. But i continue learning. I never meant to do those things to you. And so, i have to say before i go. That i just want you to know. I've found a reason for me. To change who i used to be. A reason to start over new. And the reason is you...
I'm sorry that i hurt you. It's something i must live with everyday. And all the pain i put you through. I wish that i could take it all away. And be the one who catches all your tears. That's why i need you to hear. I've found a reason for me. To change who i used to be. A reason to start over new. And the reason is you...."
NOTE : judulnya The Reason - Hoobastank.
Dan begitulah siang hari ini berakhir bagi keduanya. Yang mungkin seharusnya hari ini merupakan kencan antara Dawson dan Ana, berubah menjadi kencan tak sengaja antara Martin dan Ana.
...----------------...
Frederico menggeram. Rahangnya mengeras, dan matanya memperlihatkan kilatan amarah yang begitu mengerikan. Kursi dan benda-benda yang ada di sekitarnya sampai terlempar dari tempatnya akibat kemurkaan pria tua ini.
Carnolius yang baru saja turun ke ruang bawah tanah seketika dibuat kaget dengan kondisi Frederico yang sudah seperti orang kesurupan.
Gulungan tali tambang yang rencananya akan digunakan untuk mengikat Ana terlepas dari tangan Carnolius. "Kau ini sudah gila ya?!" bentaknya.
Frederico kemudian berbalik dan menarik kerah baju Carnolius. "Jam berapa sekarang?" Nada suaranya rendah namun begitu menusuk.
"Jam tiga sore." Carnolius meneguk salivanya susah payah. 'Kakek ini benar-benar, deh.' Batinnya berucap.
"Menurutmu ... seharusnya Richard membawa Analeigh ke sini jam berapa?"
Carnolius melepaskan cengkraman Frederico dari kemejanya, lalu memperbaiki letak kacamatanya. "Seharusnya mereka sudah tiba tadi siang," jawab Carnolius dengan heran.
"Lalu menurutmu, kenapa mereka belum tiba juga? Hah?"
"Mungkin masalah lalu lintas."
Frederico memijit pelipisnya frustrasi. Kalau bisa ia ingin tertawa keras melihat kepolosan Carnolius menanggapi masalah mereka. Namun, situasi sedang tidak mendukung.
"Sadarkah kau bahwa kita sedang dikelabui? Perjalanan dari kota Waco ke kota Valley mills bahkan tak sampai satu jam, mustahil mereka terjebak macet selama ini. Kau ini memang bodoh!" cerca Frederico.
Wajah Carnolius berubah masam. "Hei Pak tua, kalau aku bodoh, tak mungkin aku jadi profesor di usia muda," balasnya.
"Terserah kau saja. Yang jelas, aku mau kau mencari keberadaan Analeigh," tegas Frederico tak ingin dibantah.
Carnolius mengangguk patuh dan mengeluarkan ponselnya, ia lalu mengetik sesuatu di sana.
"Tidak kusangka akan dikhianati oleh keponakanku sendiri," desis Frederico.
"Martin? Dia yang mengelabui kita?"
Frederico tersenyum miring. Seperti tahu seluk beluk keponakan kesayangannya itu. "Dia orang yang penuh ambisi. Kau pikir apa yang akan dia lakukan saat tahu pujaan hatinya akan menderita sengsara?"
"Melindunginya."
"Benar ... dan anak itu sedang cari mati."
Bersambung...