Assalamualaikum sahabat
Salam bahagia...
Kisah romantis dibumbui dengan kisah-kisah yang lucu, seru dan menyebalkan. Yuk nikmati kisahnya...
Cekidot...
Adalah Dio, seorang mahasiswa semester akhir. Cerdas, ganteng penuh tanggung jawab. Idola para mahasiswi. Sifatnya yang terlalu baik, membuat mahasiswi banyak yang GeEr. Gelar Sholeh melekat padanya karena kesehariannya.
Sofi adalah seorang gadis yang mandiri, cerdas dan lembut. Kehidupannya penuh dengan Lika-liku yang sungguh menakjubkan. Banyak peristiwa aneh yang dialami berkat kesholehahannya. Sofi berasal dari keluarga sederhana. Bersama ibu dan kakak satu-satunya. Hidup damai dan bahagia. Ayahnya sudah meninggal saat usia Sofi lima tahun.
Rubby gadis manja, berasal dari keluarga tajir. Papahnya seorang pengusaha yang sukses. Semua yang diinginkan pasti dikabulkan. Keras kepala, mau menang sendiri. Mungkin karena anak tunggal dan orang tuanya kaya raya.
Iqbal, seorang dokter spesialis anak, dia cerdas, ganteng, menarik, Sholeh. Dia mencintai Sofi.
Noval, kakak Sofi yang mencintai keluarga. Orangnya sabar, baik dan penyayang.
Siapa yang dipilih Dio?
Siapakah jodohnya?
Apakah keduanya...?
Yuk simak kisah selengkapnya...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diyah Palupi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. dr. Iqbal Ramadhan, Sp. An.
Suasana di rumah sakit Harapan Kita masih lengang pagi itu. Ruang perawatan Novi, putri cantik kak Noval masih sepi.
Desah nafas halus terdengar. Rupanya mereka masih tertidur, karena semalam Novi rewel terus.
Kak Noval dan Kak Vivi selepas salat subuh tertidur kembali. Jam menunjukkan angka 06.00.
"Mamah...mamah..."
Novi mengguncang mamanya. Rupanya Novi sudah terbangun. Mama Vivi terbangun. Dikuceknya kedua matanya.
"Novi., kamu sudah bangun sayang...."
Vivi memeluk anaknya. Dipeluk dan dicium penuh kasih sayang.
"Novi mau minum sayang?"
Novi mengangguk. Wajahnya masih pucat. Bibirnya masih merah. Badannya masih hangat. Disesapnya air putih. Novi tersenyum.
"Mamah, papah mana?"
"Itu, papahmu semalam menjagamu, sekarang beliau masih tidur. Tadi habis subuh ketiduran lagi."
Novi melihat papahnya tertidur pulas. Hari ini Kak Noval sengaja ijin tidak masuk kantor.
Kemarin Sofi, Shali dan eyangnya pulang malam. Setelah melihat kondisi Novi sudah membaik.
Pagi itu, kamar-kamar dibersihkan.
Jam menunjukkan pukul 08.00. Dokter dan perawat visit.
"Assalamualaikum ananda Novi cantik..."
Dokter Iqbal datang memeriksa kondisi Novi.
"Wa Alaikum salam, Alhamdulillah makin baik dokter."
Dokter Iqbal memeriksa Novi dan melihat hasil pemantauan pasien. Dia manggut-manggut. Kak Noval mendekati dokter Iqbal.
"Bagaimana kesehatan putri saya Dok?"
"Alhamdulillah sudah membaik, nanti ikut saya ke ruangan saya ya."
"Baiklah Dok."
Selesai memeriksa Novi, dokter keluar. Kak Noval mengikuti dari belakang. Sedangkan kak Vivi menunggu Novi di kamar.
Sesampai di ruangan, dokter Iqbal mempersilakan kak Noval masuk.
"Silakan duduk Pak."
"Makasih dokter."
"Begini Pak, putri bapak menderita leukimia."
Blaaaaaaar
Bagaikan disambar petir di siang hari, Kak Noval syok.
"Apa Dok, Leukimia?"
"Iya, berdasarkan hasil lab, menyatakan demikian. Kami sudah mengecek sampaikan tiga kali. Hasilnya sama. Gejalanya nampak jelas. Dia sering pingsan kan? dan gejala yang lain."
"Kira-kira secara klinis bagaimana dokter?"
"Kita tidak bisa menentukan, paling tidak perkiraan saja. Karena sudah stadium lanjut, jadinya kira-kira..."
Dokter Iqbal tak sanggup melanjutkan perkataannya. Dipandang kak Noval sejenak.
"Kira-kira berapa Dok?"
Dokter Iqbal mengambil nafas dalam-dalam.
"Berdasarkan pengalaman, biasanya bisa bertahan Eman bulan Pak. Tapi, itu bukan kepastian. Kita harus berikhtiar sebaik-baiknya. Percayalah Pak, doa bisa mengubah takdir."
Air mata Kak Noval tidak terbendung. Meskipun tak bersuara, tapi dadanya berguncang hebat. Dokter Iqbal mendekati dan berusaha menguatkan.
"Sabar ya Pak, kami akan memberikan pengobatan yang terbaik untuk putri bapak."
Kak Noval menghapus air matanya. Dia mohon diri ke ruang perawatan putrinya.
"Makasih ya Dokter."
Dokter Iqbal mempersilakan kak Noval. Suasana penuh keharuan. Perasaan Kak Noval syok berat. Selama ini, dia sibuk dengan pekerjaannya, sehingga kurang memperhatikan Novi putri kecilnya.
Sesampai di ruang perawatan Novi, Kak Vivi menyambut dengan pelukan.
"Apa kata dokter Pah?"
Kak Noval memberikan kode, untuk membicarakan nanti saja ketika Novi tidur. Rasanya gak tega membicarakan. Kak Vivi mengangguk. Kak Noval mendekati Novi dan menciumnya.
"Gimana kabar putri cantik Papah?"
Novi tersenyum manis. Wajahnya terlihat pucat. Ibarat bunga, layu.
Anakku, andai kau tahu hati papahmu ini. Ingin rasanya menggantikan sakitmu dengan papah. Rasanya tak tega melihat kondisimu saat ini.
"Papah kok nangis??"
Kalimat Novi mengagetkan Kak Noval. Cepat-cepat dihapus air mata yang mengembang di sudut matanya.
"Ah, enggak kok. Mata Papah kelilipan. Tuh kan...sudah hilang."
Kak Noval berusaha tersenyum. Kak Vivi memperhatikan perubahan sikap suaminya.
Drrrttt
drrrttt
drrrttt
Ponsel Kak Noval bergetar. Diambilnya dari saku baju. Ada chat dari Sofi adiknya.
[Assalamualaikum Kak, gimana keadaan Novi?]
[wa Alaikum salam, Alhamdulillah sudah baik, tapi....].
Kak Noval tak sanggup menjelaskan
[Tapi, kenapa Kak?]
[Sebaiknya kamu ke rumah sakit sekarang]
[Baiklah kak, saya langsung ke sana]
Sementara di rumah Sofi.
"Buk, sepertinya Kak Noval ingin bicara penting. Saya ke rumah sakit dulu ya. Ibu di rumah aja, nanti kalau sudah selesai urusan, Sofi secepatnya pulang."
"Ada apa Sof, bagaimana keadaan Novi?"
"Itulah Buk, Kak Noval sepertinya ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting."
"Ya sudah sana, hati-hati di jalan ya."
Setelah berpamitan, Sofi memacu sepeda motornya menuju rumah sakit. Di sepanjang perjalanan, Sofi memikirkan keadaan Novi keponakannya.
Apakah Novi sakit parah? Terus sakit apa dia. Sepertinya kemarin biasa-biasa saja. Ah, semoga Novi tidak sakit parah.
Tiba-tiba...
Braaakkk...
"Oiiii, kalau naik motor lihat jalan dong...!!!"
"Maaf, maaf..."
Sepeda motor Sofi menabrak motor di depannya. Untunglah tidak terlalu kencang, sehingga hanya agak oleng dikit. Sofi berhenti di pinggir jalan.
"Astaghfirullahaladzim.... Alhamdulillah..."
Untunglah tidak jatuh terlalu parah, tapi Sofi kaget berat.
Ting
Ting
Ting
Ponsel Sofi berdering, diambilnya HP dalam tas. Rupanya telepon dari Dio.
"Assalamualaikum Sof, apa kabar? Kamu dimana sekarang?"
"Di jalan, mau ke rumah sakit."
"Emang siapa yang sakit?"
"Novi, putri kak Noval."
"Di rumah sakit mana?"
"Tempat papah Rubby dirawat dulu."
"Oke, aku ke sana ya, sampai ketemu nanti."
Sofi melanjutkan perjalanan ke rumah sakit. Begitu juga Dio, mereka akan bertemu di rumah. Tak berapa lama Sofi sampai di rumah sakit. Selang lima menit Dio juga sampai. Mereka bertemu di lobby rumah sakit.
"Assalamualaikum Sof, di rawat di ruang apa?"
"Ayo bareng aku aja."
Sofi berjalan beriringan.
"Apa kabarnya?"
Mereka bicara bersamaan...
"Eh, kamu dulu...."
Dio menyilakan Sofi.
"Kamu sekarang sibuk banget ya, gak pernah ke rumah."
"Maaf, pekerjaanku menyita waktu, aku diberikan kepercayaan papahnya Rubby untuk memimpin kantor cabang di kota lain. Jadi mesti kerja keras untuk mengembangkan di tempat baru."
"Oh, jadi gak sekantor lagi dengan Rubby dong."
"Enggak, Rubby di kantor pusat. Sekarang dia banyak berubah. Sifatnya jadi persis kamu. "
"Iya, dia benar-benar hijrah sesungguhnya. Sekarang namanya jadi Rubby Shalihah, kami sepakat memanggilnya Shali..."
"Ohya, dia nggak pernah cerita padaku. Yah, mungkin karena sibuk banget."
"Eh, sudah sampai. Sini kamarnya.."
Sofi mengetuk pintu, kemudian masuk.
"Assalamualaikum, kakak..."
"Wa Alaikum salam, Sofi."
Kak Vivi memeluk Sofi erat, sambil nangis.
"Gimana keadaan Novi kak?"
"Sudah baik, tapi..."
Kak Vivi melihat kak Noval. Air matanya berderai. Sofi bingung. Kak Noval mendekati Sofi dan Dio. Mereka di ajak keluar ruangan.
Novi masih tidur lelap.
Mereka mencari tempat yang nyaman. Di ruang tunggu yang sepi. Kak Noval menceritakan semuanya. Tentang keadaan Novi dan kemungkinan secara klinis. Mendengar semuanya, Sofi memeluk kak Noval dan menangis. Dio melihat mereka berdua dengan sedih.
"Ya Allah Kak..."
"Sabar Kak Noval... Kami akan selalu mendukung kalian. Novi pasti sembuh."
Dari kejauhan, terlihat dokter Iqbal lewat. Melihat mereka, dokter Iqbal mendekat.
"Assalamualaikum, eh pada ngumpul di sini..."
"Wa Alaikum salam. Eh, kamu sudah praktek di sini dok..."
Dio menyambut Iqbal. Iqbal menyalami Dio, Kak Noval juga Sofi.
"Alhamdulillah, aku sudah selesai. Ditempatkan di rumah sakit ini."
"Selamat deh, sukses selalu."
"Dokter, gimana perkembangan anak saya?"
"Perkembangan makin bagus. Tapi tetap pengobatan rutin.Dan harus disiplin minum obat."
"Kamu yang merawat keponakan saya?"
Sofi menyela percakapan mereka.
"Iya Sof, kamu sudah tahu kan. Apa sakit Novi?"
"Iya, kasihan Novi. Masih sangat kecil untuk menerima semua ini."
Suasana rumah sakit menjadi lengang. Mereka berada dalam pikiran masing-masing.
Wajah-wajah penuh duka.
Bersambung
🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃🌸🍃
Makasih ya...
sudah baca kisahnya
Tinggalkan jejak ya..
Like, komentar..
Makasih
cinta segitiga
cinta dalam diam
feedback totok pembangkit kk
⚘⚘⚘Pria Idola n Menikahi
pria Urakan⚘⚘⚘⚘
⚘⚘⚘Pria Idola n Menikahi
pria Urakan⚘⚘⚘⚘
⚘⚘⚘Pria Idola n Menikahi
pria Urakan⚘⚘⚘⚘
swmangat kakak ku
maaf...
makasih admin
semoga menghibur