Indonesia
NovelToon NovelToon
Janji Sahabat

Janji Sahabat

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Romansa / Persahabatan
Popularitas:223
Nilai: 5
Nama Author: Keke Ganteng

"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Tersembunyi di Balik Pingsan

Raka dan Salsabila tiba di rumah Naya dengan napas terengah-engah setelah berlari dari halte angkutan umum. Di depan gerbang, Adit sudah menunggu dengan wajah pucat, ikut cemas menanti kabar dari dalam rumah.

"Gimana keadaannya?" tanya Raka, suaranya bergetar.

"Tadi udah dibawa masuk sama Ibunya. Dokter keluarga lagi meriksa di dalam," jawab Adit, mondar-mandir gelisah di depan pagar.

Beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam kemudian, pintu rumah terbuka, menampilkan ibu Naya yang keluar dengan wajah lega meski masih menyisakan kekhawatiran.

"Naya udah sadar, kok. Dokter bilang cuma kecapekan sama tekanan darah rendah aja, kayaknya kurang tidur sama kurang makan teratur belakangan ini," jelas ibu Naya, mempersilakan ketiga anak itu masuk untuk menjenguk.

Di dalam kamar, Naya terbaring lemah namun sudah bisa tersenyum tipis melihat kedatangan ketiga sahabatnya. "Maaf ya, bikin kalian panik," katanya pelan.

"Untung aja kamu nggak apa-apa," gumam Raka, duduk di tepi ranjang dengan raut wajah yang masih menyisakan kekhawatiran mendalam. Ada sesuatu dalam caranya menatap Naya saat itu—sebuah kelegaan yang jauh lebih besar dari sekadar rasa lega seorang sahabat biasa, meski ia sendiri belum sepenuhnya menyadarinya.

Adit, yang berdiri di sisi lain ranjang, memperhatikan momen itu dalam diam, menangkap sesuatu yang berbeda dari cara Raka menatap Naya kali ini—sesuatu yang membuat dadanya kembali terasa berat, meski ia berusaha menyembunyikannya di balik senyum seperti biasa.

"Kamu harus jaga kesehatan lebih baik lagi," tambah Salsabila, ikut duduk di kursi dekat ranjang. "Kalau ada masalah, cerita aja ke kita. Jangan dipendam sendirian."

Naya menatap ketiga sahabatnya bergantian, merasa sedikit tersentuh sekaligus bersalah karena tahu betul apa yang sebenarnya menjadi salah satu penyebab kecapekannya—pikiran yang terus berkecamuk soal perasaannya terhadap Raka, ditambah kurangnya waktu istirahat karena terus memaksakan diri tersenyum normal di depan teman-temannya.

"Iya, makasih ya," jawabnya lirih, menghindari tatapan langsung dengan Raka.

Ibu Naya kembali dari dapur membawa nampan berisi empat gelas teh hangat, membagikannya satu per satu kepada anak-anak yang duduk mengelilingi sofa. "Minum dulu, biar tenang. Ibu tadi udah telepon sekolah, izinin Naya nggak masuk beberapa hari buat istirahat total."

"Makasih, Tante," sahut Raka, menerima gelas teh itu sambil sesekali melirik Naya yang masih tampak lemas namun mulai lebih segar dari sebelumnya.

Adit, yang duduk di kursi seberang, memperhatikan interaksi kecil antara Raka dan Naya dengan seksama, menyimpan pengamatannya sendiri dalam diam. Ia menyesap teh hangatnya perlahan, sesekali melempar candaan ringan untuk mencairkan suasana yang masih terasa sedikit tegang di ruang tamu itu.

"Untung tadi aku bawa payung," celetuknya asal, mencoba mengalihkan perhatian. "Kalau hujan turun pas kita lari ke sini, bisa-bisa dua orang pingsan sekaligus."

Naya tertawa kecil mendengar lelucon garing itu, untuk pertama kalinya sejak siuman tadi. "Dasar, di saat kayak gini masih sempet becanda."

"Ya biar kamu nggak makin tegang," jawab Adit sambil tersenyum, meski di balik candaannya, ia diam-diam lega melihat sahabatnya mulai kembali menunjukkan tanda-tanda pulih.

Sepulang dari rumah Naya, Raka dan Salsabila berjalan bersama menuju rumah masing-masing, sementara Adit memilih pulang lebih dulu dengan alasan lelah.

"Kamu tadi keliatan panik banget pas denger Naya pingsan," celetuk Salsabila di tengah perjalanan, menatap Raka dengan seksama.

"Ya jelas panik lah, dia sahabatku," jawab Raka spontan.

"Hmm," gumam Salsabila, tersenyum tipis namun tidak melanjutkan komentarnya lebih jauh. Ia mulai menangkap sesuatu yang belum sepenuhnya dipahami oleh Raka sendiri—perasaan yang jauh lebih dalam dari sekadar persahabatan biasa, tersembunyi di balik kekhawatirannya yang begitu besar terhadap Naya.

Malam itu, sebelum tidur, Raka termenung lama menatap langit-langit kamarnya, memikirkan kembali momen ketika ia duduk di tepi ranjang Naya, menggenggam tangannya yang masih terasa dingin.

Sebuah pertanyaan baru mulai muncul di benaknya, pertanyaan yang selama ini enggan ia akui—apakah perasaannya terhadap Naya memang sebatas persahabatan, atau ada sesuatu yang lebih dari itu?

1
Dini
jangan lupa mampir juga di karya ku
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan
Keke Ganteng: ok siap
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!