Nayla Kei seorang gadis cantik dan manis memiliki sifat periang terpaksa dia menerima perjodohan dengan salah satu sahabatnya yang merupakan anak dari teman dekat ibunya.
Atas dasar balas budi Nayla menerima pernikahannya dengan terpaksa. Namun siapa sangka dalam perjalanan pernikahan itu Nayla mulai merasa hal lain pada suaminya.
Akankah suami Nayla menerimanya sebagai seorang istri?
Akankah Nayla mendapat perlakuan semestinya sebagai seorang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maciba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
“Hu ha hu ha hu ha” napas Nayla kelelahan seusai latihan perut di L gym, eh tunggu tempat ini mirip L gym namun kenapa rasanya ada diatas gedung. “Selesai juga latihan gue, kenapa ini berat banget ya, biasanya lebih dari ini gue kuat kenapa ini bikin badan gue susah gerak, tempat ini ngga asing tapi dimana ya?” ucap Nayla.
Kring
Kring
Kring
Nayla meraba kedalam tas mengambil ponsel, “Lho ini ada suara telepon tapi bukan handphone gue , ini juga kenapa rasanya berat yah padahal gue udah selesai dari tadi latihannya“
Kring
Kring
Kring
Jemari lentik Nayla meraih ponsel diatas nakas, namun sesuatu yang berat kembali menahannya. “Eh ya ampun, ini apaan ya, tadi bukannya gue latihan kenapa sekarang ada di kamar hotel?” batin Nayla merasa heran, padahal ia hanya bermimpi tengah nge-gym. “Ini tangan siapa woy, peluk gue, apa ini ada kaki, aduh gue bukan guling, siap Nayla satu dua tiga” Nayla langsung mendorong sekuat tenaga dan menggulingkan seseorang yang tertidur disampingnya hingga menyentuh lantai.
BUGH
“Aaaarrgh, apa-apaan ini?” seru Rayden seketika terjaga dan keningnya berdenyut nyeri.
“Eh kamu Ray? Aku ...aku ngga tahu, maap” cicit Nayla, menghampiri suaminya dan membantu duduk di sofa.
“Apa yang kamu lakuin Nayla?” pekik Rayden sembari menahan perih.
“Kamu Ray, kamu peluk-peluk aku. Kamu ngga sopan, aku lagi tidur, kamu mesum” sahut Nayla tak kalah sengit.
“APA? Hey, kita sudah menikah. Wajar. Kalau aku mau lakukan hal lebih pun bukan masalah” emosi Rayden, benar-benar heran pada istrinya ini.
“Ya tapi aku kaget. Kamu juga masuk ngga bilang-bilang” ujar Nayla tentunduk merutuki perbuatannya. Ia tahu akan hak dan kewajiban seorang istri, hanya belum terbiasa dan menerima saja sentuhan apapun dari suaminya.
“Kamu ini ngga berubah Nayla, sudah, ayo bersiap kita pindah ke rumah mama malam ini” perintah Rayden tegas.
“Hah, ke rumah kamu?” tanya Nayla dengan polos.
“Mmmmh” jawab Rayden
“Ray, aku tanya kenapa kamu ngga jawab. Pindah ke rumah kamu, maksud aku keluarga kamu?” ulangnya bertanya.
“IYA” sahut Rayden masih kesal dengan tingkah Nayla
“Kamu dasar es batu ketumpuk salju jadi makin dingin” ujar Nayla kemudian berlari ke kamar mandi.
Hanya senyum simpul saja memenuhi wajah Rayden. Baru satu hari sahabatnya itu menjadi istrinya sudah membuatnya memar pada dahi, namun belakangan ini Rayden merasa lebih terhibur bila bersama istrinya itu.
**
Kediaman Dave Bradley
Deru mesin mobil berwarna merah dengan logo kuda jingkrak mulai memasuki pekarangan rumah mewah dan besar. Hamparan bunga-bunga indah tertata dengan apik memanjakan indra penglihatan, tidak hanya bunga tetapi aneka jenis tanaman buah pot berbaris rapi. Tentu saja sang nyonya rumah kolektor beragam jenis tenaman.
Mama Anggi menjadikan rumah ini terlihat sangat mewah dan indah, walaupun tidak sebesar dan seluas mansion yang kini ditinggali Hendrik Bradley. Tidak hanya pekarangan depan, bagian belakang rumah pun, terdapat taman bunga milik Anggi, seperti kawasan wisata bunga saja.
Nayla dan Rayden mulai memasuki rumah, disambut beberapa pelayanan rumah tangga “Selamat datang den, nona” ucap pelayan dirumah tersebut.
“Mama ditaman?” tanya Rayden
“Iya den, biar bibi panggilkan nyonya, permisi” ujar seorang pelayan
“Mmmmhh tidak perlu, biar aku kesana” ujar Rayden.
Keduanya berjalan menghampiri Mama Anggi yang sibuk mengurus koleksi bunganya
“Ma, kita sudah sampai” ujar Rayden membuat Anggi menoleh dan menghambur memeluk anak serta menantunya.
“Ahhh sayang, mama pikir kalian masih betah di hotel” goda Mama Anggi.
“Mama kenapa diluar ini sudah malam” Rayden merangkul mamanya serta menggiring masuk
“Ah sayang, mama menunggu papa pulang disini, kalian sudah makan malam?” ucap Mama Anggi
“Belum ma, tadi Rayden langsung ajak pulang aja, Nayla sekarang laper banget” jawab Nayla polos
“Dasar kamu, istri masa ngga dikasih nafkah, ayo makan” Mama Anggi langsung membawa Nayla ke meja makan. Sepuluh menit berlalu, Papa Dave mulai bergabung bersama istri, anak dan menantunya. Mereka larut dalam canda tawa yang dilontarkan Mama Anggi juga Nayla, Papa Dave sangat senang kini kediamannya semakin ramai.
Berharap keduanya segera dikaruniai buah hati agar rumah ini semakin ramai dengan suara celotehan bayi. Bukan Mama Anggi tidak bisa memiliki anak kembali, hanya saja Papa Dave yang turut menyaksikan istrinya itu melahirkan, kesakitan sang istri ketika berjuang melahirkan hingga memberinya seorang putra, membuat seorang pria tampan blasteran Dave Bradley terkenal dingin bagai tumpukan salju menjadi sosok lembut dan perasa.
Ia hanya tidak mau melihat dan membiarkan wanita yang dicintainya merasa sakit lagi karena harus melahirkan keturunannya. Sudahlah cukup Rayden menjadi buah cinta mereka.
Sama halnya seperti Hendrik Bradley, mengetahui sang istri Anna kesakitan saat melahirkan membuatnya tidak berniat memiliki anak lagi setelah Adam Bradley lahir ke dunia ini. Kedua kakak beradik yang sangat menyayangi istri mereka bahkan terkesan berlebihan.
Menjadikan Rayden anak tunggal tentu saja sangat kesepian, terutama ketika Papa Dave bepergian ke luar kota atau bahkan luar negeri. Mama Anggi mengelola toko bunganya, walaupun tidak setiap hari pergi ke toko. Tidak ada teman main atau lawan biacara di rumah membuat Rayden pribadi yang cuek dan dingin.
“Sayang Papa dan Mama istirahat duluan ya, kalian masuk kamar juga ya” ujar Anggi mengecup pipi kedua anaknya. Kemudian merangkul erat lengan Papa Dave, benar-benar romantis pikir Nayla.
“Mama dan papa selalu romatis, bikin baper aja deh” gumam Nayla pandangannya tak terputus pada pasangan paruh baya tersebut.
“Kamu mau? Ayo” tanya sang suami.
Seketika Nayla langsung menoleh dan tersenyum kikuk “Makasih, tapi aku ngga bisa seperti itu, maap” jawab Nayla
“Sini ayo” Rayden menarik tangan istrinya lembut dan menautkan jemari keduanya.
“Eh Ray, lepas” pekik Nayla.
“Kamu harus terbiasa, bukahkah kita sudah menikah? Tidak salah kan bersentuhan fisik?” ucap Rayden tepat ditelinga Nayla.
Hembusan hangat napas suaminya membuat Nayla merasakan sesuatu. Mereka pun berjalan memasuki kamar tidur.
“Ray, apa maksudnya harus terbiasa?” tanya Nayla berdiri tepat di hdapan Rayden yang kini sedang duduk di tepi ranjang.
“Tentu saja kita jalani pernikahan ini seperti pada umumnya” jawab Rayden
“Tapi Ray, diantara kita tidak ada cinta dan kamu belum bisa lupain wanita itu” ucap Nayla hati-hati tak ingin menyinggung suaminya.
“Katakan bagaimana caranya supaya kamu cinta sama aku?. Nay Stop jangan bahas wanita lain, mulai saat ini hanya ada kisah kita, oke” Rayden menangkup wajah Nayla, diamati lekat-lekat
Satu detik
Dua detik
Tiga detik
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat dibibir mungil nan tipis milik Nayla.