Alvaro Galen Wijaya seorang pewaris yang terkenal kejam dan dingin. Diusianya yang masih muda Alvaro mampu menguasai dunia bisnis membuat pengusaha lain mengincar nyawanya.
Sampai suatu hari Alvaro yang terluka harus melarikan diri dari kejaran musuh. Langkah kaki Alvaro membawanya ke sebuah Desa yang tidak dia kenali. Di sanalah kehidupan baru Alvaro berawal.
Zahra Anindira gadis desa yang terkenal cantik dan menjadi rebutan pria di desa. Saat pergi ke toko kue miliknya Zahra bertemu dengan seorang pemuda yang terluka. Tanpa tahu apa yang terjadi Zahra membantu pemuda itu dan membawanya tinggal di desa.
Bagaimanakah kisah Alvaro dan Zahra berakhir? Akankah mereka bersatu atau justru harus terpisah karena status mereka yang berbeda jauh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MinNami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 - Si Pengkhianat
Perasaan Zahra mendadak tidak nyaman setelah menolak Riko. Entah mengapa Zahra merasa Riko terlihat berbeda, cara pria itu menatapnya seolah dia adalah musuh.
"Mas, Zahra merasa kurang sehat. Zahra pulang duluan ya, maaf Mas." Zahra tersenyum sungkan pada Riko yang menatapnya dalam diam.
"Kalau gitu saya antar," ucap Riko dengan senyum manis yang justru membuat Zahra semakin tidak nyaman.
"Nggak usah Mas, Zahra naik taksi saja." Tolak Zahra yang langsung keluar dari restoran.
Zahra pikir dia sudah aman ketika berada di luar. Namun, saat dai sedang menunggu taksi tiba-tiba seseorang membiusnya. Orang itu adalah Riko yang segera membawa Zahra pergi ke sebuah tempat.
Riko merasa marah atas penolakan Zahra, terlebih lagi dia juga tahu Zahra adalah wanita yang dicintai Alvaro. Riko berencana menggunakan Zahra untuk mendesak Alvaro agar memberikan saham Wijaya Group padanya.
"Kali ini rencanaku akan berhasil, kamu terlalu bodoh Alvaro membiarkan wanita yang kamu cintai dekat denganku." Riko tersenyum licik sambil menyetir mobilnya menuju tempat persembunyian.
...****************...
Willy yang mendapat lokasi terakhir Zahra segera menghubungi Alvaro. Mereka bergegas menuju restoran yang sayangnya sudah tidak ada Zahra di sana. Ketika bertanya pada pelayan, mereka mengatakan jika Zahra sudah keluar lebih dulu yang tidak lama diikuti oleh Riko.
"Gimana?" tanya Dani yang baru sampai.
"Sudah pergi, kita harus cari lewat CCTV sekitar restoran. Pelayan bilang Zahra keluar restoran lebih dulu, jadi kemungkinan Riko bawa Zahra pergi setelah keluar dari restoran." Jelas Alvaro pada Dani yang mengangguk mengerti.
Ketiga segera mencari CCTV di sekitar restoran dan mereka bersyukur bisa menemukan dengan cepat. Dari CCTV terlihat jelas Zahra sedang menunggu taksi dan Riko datang dari belakang kemudian membius Zahra.
"Willy, kamu cari ke arah mana mobil Riko. Aku dan Dani akan pergi mencari tempat yang mungkin didatangi oleh Riko. Kabari kami jika sudah menemukan lokasinya." Ucap Alvaro yang kemudian segera pergi bersama Dani.
Willy segera menjalankan perintah, melacak keberadaan Riko lewat CCTV jalan. Sedikit sulit karena tentu untuk mengakses CCTV harus memerlukan izin. Beruntung petugas mengetahui jika Alvaro adalah pengusaha yang memiliki nama sehingga bisa mendapatkan izin mengakses CCTV.
Sementara itu, Riko sudah sampai di sebuah gedung tua yang terbengkalai. Ini adalah bangunan yang tidak sengaja dia temukan dan sekarang sangat berguna untuk bersembunyi. Riko yakin Alvaro sudah tahu jika dia menculik Zahra.
"Sayang sekali kamu harus menjadi wanita yang dicintai Alvaro. Maaf Zahra, tapi hidupmu akan berakhir bersama dengan Alvaro. Kalian akan mati bersama!" ucap Riko penuh dendam.
Sejak dulu Riko tidak menyukai Alvaro karena menganggap sahabatnya itu selalu unggul. Alvaro menjadi pusat perhatian di manapun dia berada, selalu menjadi nomor satu dan hal itulah yang membantu Riko merasa iri.
Rasa iri menjadi dendam yang tersembunyi dan hal itu dimanfaatkan oleh Hermansya. Pria tua itu memancing Riko dengan mengatakan jika dia jauh lebih baik dari Alvaro. Hermansya juga mengajak Riko untuk bekerja sama menguasai Wijaya Group.
Efek bius pada Zahra telah hilang, gadis itu sudah sadar. Zahra melihat sekeliling yang sangat gelap dan menyeramkan. Di depan Zahra berdiri Riko yang sudah menunggu, wajah pria itu terlihat menyeramkan.
"Sudah bangun rupanya," gumam Riko.
Zahra berusaha untuk bangkit, akan tetapi Riko dengan kejam menarik rambut gadis itu. Riko tidak peduli pada teriakan kesakitan Zahra yang menyedihkan.
"Sakit Mas, tolong lepaskan Zahra!" Zahra meringis kesakitan berusaha untuk melepas tangan Riko dari rambutnya.
"Sakit? Aku suka melihat kamu kesakitan seperti ini. Bagaimana jika Alvaro juga melihatnya? Ah, pasti dia sangat sedih." Riko tertawa menyeramkan membuat Zahra semakin ketakutan.
Riko melepaskan jambakannya dengan kasar hingga Zahra terjatuh dengan keras. Gadis itu hanya bisa menangis ketakutan, selama ini dia mengira Riko pria yang baik. Ternyata dibalik kebaikan dan kesopanan Riko justru menyimpan sosok mengerikan seperti ini.
"Tunggulah sebentar, pangeranmu itu akan segera datang menyelamatkan Tuan Putri." Riko kembali tertawa seolah menyaksikan hal yang sangat lucu.
Tidak lama Alvaro benar-benar datang bersama Dani. Mereka mendapatkan lokasi Riko dari Willy yang sudah bekerja keras. Alvaro menyuruh Dani berjaga di luar untuk mengantisipasi hal buruk yang mungkin terjadi.
"Dan, tunggu di sini. Biar aku yang masuk ke dalam, Willy akan segera menyusul, kalau ada apa-apa segera hubungi polisi." pesan Alvaro sebelum akhrinya masuk ke dalam bangunan tua itu dengan diam-diam.
Alvaro masuk dan menemukan pemandangan menyedihkan, di mana Zahra duduk meringkuk sambil menangis. Sedangkan Riko berdiri dengan gaya angkuhnya, seolah dia adalah penguasa.
Tidak tahan melihat penderitaan Zahra akhirnya Alvaro bergerak maju mengundang perhatian Riko. Riko menoleh dan tersenyum puas mendapati Alvaro berada di sampingnya.
"Ah, pangeran kita sudah datang!" sambut Riko dengan senyum sinisnya.
"Lepaskan dia, Riko. Zahra nggak ada hubungannya dengan ini semua!" ucap Alvaro berusaha untuk tidak terpancing amarah.
"Dia jelas ada hubungannya dengan ini semua karena dia yang bisa membuat kamu berlutut di depanku!" Riko berucap dengan puas, seolah apa yang telah lama dia nantikan akan terwujud.
"Apapun itu asal kamu melepasnya," ucap Alvaro tanpa beban.
"Nggak 'A, jangan lakukan apapun. Dia cuma mau harta Aa, jangan mengorbankan apapun demi Zahra!" Zahra berteriak panik, dia tentu tidak mau Riko mendapat apa yang diinginkan.
Riko menoleh marah dan dengan kejam kembali menarik rambut Zahra. Alvaro yang tidak terima bergerak maju berusaha menyelamatkan Zahra. Namun, semua sudah diperkirakan oleh Riko. Pria jahat itu mengambil pistol dan menodongkannya ke arah Zahra.
"Maju selangkah dia akan mati!" ancam Riko.
"Aku akan mundur dan menuruti semua keinginan kamu, tapi jangan sakiti Zahra. Lepaskan dia dan kamu akan mendapatkan apapun." Alvaro mengangkat tangan tanda dia menyerah.
Zahra menangis, memohon pada Alvaro lewat tatapannya untuk tidak memberikan apapun yang diinginkan oleh Riko.
"Serahkan saham yang kamu miliki, serahkan semua itu dan kamu akan mendapatkan wanita yang kamu cintai ini!" ucap Riko masih sambil menodongkan pistolnya pada Zahra.
"Oke, aku akan menghubungi pengacaraku." Alvaro menjawab tanpa berpikir karena dia hanya mementingkan keselamatan Zahra.
"Jangan 'A, Zahra mohon jangan lakukan itu." pinta Zahra yang membuat Riko menguatkan jambakannya.
"Riko, jangan sakiti Zahra atau kamu nggak akan mendapatkan apapun!" ancam Alvaro terlihat menahan amarahnya.
Riko melepaskan rambut Zahra, tapi tetap setia menodongkan pistolnya. Alvaro menghubungi Willy dan memberi kode untuk membantu. Riko yang tidak tahu jika ada orang lain bersama Alvaro terlihat tenang.
Saat itulah Willy dan Dani masuk menyerang Riko dari belakang. Kesempatan itu digunakan oleh Alvaro untuk menarik Zahra menjauh. Kini tanpa ditahan Alvaro melampiaskan amarahnya, memukuli Riko tanpa ampun.
"Aa, sudah jangan seperti ini. Dia bisa meninggal hentikan 'A!" Zahra berteriak panik berusaha menghentikan Alvaro yang memukuli Riko tanpa henti.
Situasi semakin panas, Zahra berusaha menghentikan Alvaro karena takut membuat Riko meninggal. Dia tidak mau jika Alvaro sampai dipenjara karena Riko. Namun, tanpa diduga seseorang datang dan berusaha menembak Zahra. Beruntung Alvaro dengan sigap menarik Zahra, akan tetapi pria itulah yang justru tertembak.
《Bersambung》