Luna tidak pernah menyangka bahwa pertemuannya dengan Alkins membawanya pada sebuah rasa yang yang tak pernah pernah ia rasakan sebelumnya.
kehidupannya yang biasa-biasa saja kini berubah bewarna namun satu hal yang tidak pernah dimengerti oleh Luna yaitu perubahan sikap Alkins jika itu menyangkut masa lalu pria itu.
Akankah Luna mengetahui rahasia besar Alkins?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arik Tri Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22. Kesalahpahaman
Saat ini aku duduk diam menatap Hana yang duduk di seberang, sementara Alkins duduk di sampingku. Aku tidak tahu mengapa Alkins membawa wanita itu ke mari. Kedatangannya sungguh membuatku kesal.
Tidak ada yang membuka percakapan diantara kami dan itu membuat waktuku terbuang percuma.
“Jadi untuk apa dia kemari?” Tanyaku.
“Dia ingin menjelaskan kesalahahpahaman yang terjadi,” ucap Alkins.
Aku menatap Alkins sebelum menatap Hana. Dia terlihat kesal meskipun dia sudah berusaha menutupinya. Wajahnya itu seperti tanpa rasa bersalah. Rasanya aku ingin mencabik-cabik wajahnya. Aku sudah bersikap berkelas kemarin. Saat ini aku ingin bersikap bar-bar di apartemenku.
“Maaf, semua ini karena aku. Apa yang aku katakan kemarin tidak benar. Karena kamu datang tiba-tiba, aku terkejut dan kesal jadi aku asal bicara sesuka hatiku. Hubungan kami tidak seperti yang kamu pikirkan. Aku memang menyukainya tapi dia selalu menolakku.”
Aku mendonggakkan kepalaku melihat ekspersinya namun dia menunduk.
“Aku sudah merekam percakapanmu yang mengakui kamu punya hubungan dengan Alkins. Aku bisa melaporkanmu dengan pasal perzinahan.”
Hana perlahan menatap mataku seakan terkejut mendengar apa yang aku bicarakan.
“Kamu sudah lama bekerja dengan Alkins?”
“Ya.”
“Kamu sungguh menyukainya?”
Hana tidak menjawab namun aku bisa melihat dari sorot matanya.
“Pergilah,” suruh Alkins.
“Kamu tidak boleh pergi, aku belum selesai denganmu.”
Aku melihat Hana melirik Alkins, sebelum ia berdiri. Tanganku sedari tadi sudah gatal ingin menampar wanita itu.
“Pergilah,” ucap Alkins sekali lagi.
Hana langsung pergi dan aku langsung berdiri menjangkau tangannya sebelum tanganku yang lainnya menampar pipinya. Ia melihatku, matanya berkaca-kaca dan memasang ekspresi teraniaya. Aku menamparnya bekali-kali di tempat yang sama.
...…...
Keesokan paginya aku mendapatkan kertas pesan yang ditempel di lemari es. Aku mencopotnya dari pintu. Itu adalah tulisan dari Alkins.
Datang di apartemen Royal Palace lantai dua belas. Apartemen 127
Sekita jam sepuluh aku pergi ke Royal Palace. Aku masuk ke lift dan menekan tombol lantai dua belas. Santai pintu lift terbuka aku menyusuri lorong menuju apartemen 127. Setibanya di sana, aku mengeluh pintu di sana.
Pintu mengayun membuka dan Alkins berdiri di sana. Dia tersenyum dan bersandar di ambang pintu. Dia lantas bediri di tengah dan langsung meraih tanganku lalu menggandeng ku masuk ke apartemen.
“Selamat datang di rumah, Luna.”
Aku tertegun, di tengah masalah kami yang pelik, dia sempat-sempatnya membeli apartemen.
“Kamu membeli apartemen?”
Dia mengangguk. “Aku ingin memulai dari awal denganmu di apartemen ini.”
Aku berputar pelan. Saat mataku mendarat di dapur. Aku terhenti sejenak. Aku pergi ke ruang duduk dan mengamati langit-langit tinggi.
“Luna?” Ujarnya di belakang ku. “Kamu tidak marah, kan?”
Aku membalik badan dan menatap Alkins, menyadari bahwa dia menungguku bereaksi selama beberapa menit terakhir.
“Aku masih marah denganmu.”
Dia menghampiri dan meraih tanganku, mengangkatnya diantara kami. Dia tampak cemas dan bingung.
“Aku sudah minta maaf, dan dia juga sudah menjelaskannya.”
“Sekarang kamu yang menjelaskannya. Apa hubunganmu dengannya.”
Alkins menghembuskan napas dan menarikku ke pelukannya.
“Aku tidak ada hubungan dengannya.”
Saat ini aku sudah duduk di sofa sementara Alkins sedang berlutut di depanku. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan namun dia berkata bahwa dia akan berlutut sampai aku bisa memaafkannya.
“Aku tidak bisa hidup tanpamu.”
“Pasti bisa. Berdirilah.”
Alkins berdiri dan duduk di depanku.
“Aku ingin tetap bercerai.”
“Luna, aku tidak menyukainya.”
“Entah kamu mencintainya atau tidak tapi dia sungguh menyukaimu.”
Alkins berdiri dan duduk di bawahku.ia meraih tanganku.
“Luna, yang kamu lihat adalah kesalahpahaman.”
“Apakah menciumnya juga kesalahpahaman?”
“Saat itu, dia berusaha untuk bunuh diri. Aku hanya membantunya tapi dia tiba-tiba berbuat seperti itu. Sebenarnya aku langsung mendorongnya bahkan memarahinya namun sepertinya kamu tidak melihat bagian itu. Luna, aku berkata yang sebenarnya.”
“Tapi kamu membelikannya mobil, tas—“
“Dia berbohong! Aku tidak membelikannya mobil, tas dan apa pun itu. Luna, percayalah padaku.”
Aku melihat matanya dan menganalisanya. Tak ada satu pun kebohongan yang ada di dalamnya. Melihatnya seperti ini, tiba-tiba aku merasa bersalah. Aku pun menangis.
Alkins langsung memelukku dengan erat.
“Kamu mencintaiku?”
“Apakah kamu meragukannya?”
“Apa yang terjadi nanti?”
“Kita akan saling mencintai dan kita akan mempunyai banyak anak.”
Ciuman Alkins, menyampaikan keyakinan sebagaimana kata-katanya. Itu adalah ciuman penuh hasrat yang membuatku lemas mendamba.
Debaran di dadaku terasa kian keras, apalagi ketika Alkins membimbingku tanpa kata. Alkins membimbingku tanpa kata, mendudukkanku di ujung ranjang lalu menahan tubuhku agar rebah.
...…...
Ketika aku memasuki ruangan tempatku bekerja, aku melihat kepala perawat sedang menelepon seseorang. Dia tampak menyelsaikan percakapannya dan menutup telepon. Dia mengangguk lalu menyuruhku untuk duduk.
“Luna, asisten rumah sakit baru saja menelepon dan memintaku menyampaikan pesan untukmu. Operasi kemarin sukses dan beliau sudah sadar.”
“Syukurlah.”
“Direktur juga ingin meminta sesuatu darimu.”
“Apa itu?”
“Apakah kamu bisa mendapingi dokter bedah saraf untuk pergi ke seminar minggu ini?”
“Kenapa aku?”
“Dokter Jeano sendiri yang memintamu untuk mendampinginya.”
Awalnya aku setengah hati ikut seminar dengan dr. Jeano namun setelah mendengar bahwa seminar yang kami datangi di selenggarakan di kota B, mataku begitu berbinar. Sebut saja sambil menyelam minum air.
Aku bisa mendapatkan ilmu baru sekaligus jalan-jalan gratis. Aku sudah mendapatkan izin dari Alkins, tentu saja aku tidak menyebutkan dengan siapa aku seminar. Aku hanya meminta izin untuk seminar dan dia mengizinkannya kebetulan dia juga ada penerbangan.
Dan siapa sangka dari sekian banyak pesawat kalau aku harus merasakan pesawat yang diterbangkan oleh suamiku. Ketika aku menunggu koperku di bagasi, dia malah menemukanku di sini dan aku tidak sendiri tapi bersama dr. Jeano tentu saja hal seperti ini malah dihadiahi olehnya dengan pandangan mencurigaiku.
“Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu padaku?”
Tatapan itu menerjangku dengan tatapan sinis ya seakan meminta penjelasan olehku.
“Kamu ingin seminar atau pergi liburan??”
“Seminar, kami tidak hanya berdua. Ada dua orang lagi namun mereka sudah sampai lebih dulu.”
“Dimana hotel kamu meningap?” Tanyanya tapi matanya itu sejak tadi sesekali memandang ke arah dr. Jeano seakan ia akan menerkamnya karena aku bersamanya saat tiba di sini.
Aku hendak menjawabnya namun suara seseorang membuatku jengah dan mendatangi kami. Cukup dimengerti suara itu berasal dari mana, suara menjijikkan dari ular betina yang berdesis.
“Peliharaanmu datang,” sindirku menunjuk wanita yang telah mendekat ke arah Alkins dengan daguku.
Ia menoleh ke belakang dan wanita itu semakin mempercepat jalannya ke arah Alkins. Tak berminat untuk melihatnya, aku mengambil koperku dan segera pergi sembari menarik tangan dr. Jeano untuk segera keluar.
“Pilot itu tadi pacarmu?” Tanya dr. Jeano.
Aku menggelengkan kepalaku. “Bukan tapi suamiku.”