Alina harus menghadapi sebuah pernikahan yang tak pernah ia harapkan, dipikirkan saja tak pernah. Namun, jika tak ia lakukan semua kerja kerasnya akan sia-sia. Gadis itu harus menikahi seorang pria beristri yang memiliki seorang putra berusia 3 tahun.
Gila bukan?
Sangat gila. Bagaimana akhirnya kehidupan gadis 24 tahun itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chocolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Classic House
Pekarangan mewah milik keluarga Xylia menjadi tujuan kendaraan roda empat mereka berhenti.
Arkasa masih membiarkan mesin mobilnya menyala. Menatap sekeliling pemandangan luar rumah itu.
Mendapati salah seorang mertuanya sedang asik bercocok tanam di ujung sana.
Arkasa tersenyum sumringah. Melihat Papa mertuanya yang selalu rajin di pagi hari setelah masa pensiunnya.
Arkasa menoleh ke samping. Mendapat istrinya nampak tenang di alam mimpi. Arkasa tersenyum sebentar, menyadari betapa keras kepalanya Alina tadi yang ingin menemaninya namun telah terkalahkan oleh kantuknya.
Melepas seatbelt dan mencondongkan tubuhnya mendekati istrinya.
Napas pria itu terasa hangat di pipi Alina. Itu mengganggu wanita itu. Mata Alina yang telah diberi maskara mengerjap.
Arkasa mengurungkan niat untuk mengecup pipi lumayan berisi milik istrinya.
"Udah sampai" beritahunya.
"Huh?." Alina mengumpulkan kesadarannya, menatap ke sekeliling.
Arkasa tertawa pelan. Mengelus pucuk kepala istrinya.
Alina merapihkan rambut yang ia gulung tadi. "Ngantuk" gumamnya.
"Ngeyel sih tadi. Lanjut nanti ya, kita ke dalem dulu!"
Alina mengangguk, menerima sodoran botol air mineral dari suaminya.
"Mau cuci muka" pinta Alina.
"Ayo keluar, di depan ada keran!"
Alina mengangguk, lalu membuka pintu mobil.
Ia menuju ke pintu belakang, berniat membangunkan putranya dahulu.
"Biar aku aja, sayang. Kamu ke dalem dulu, sana!."
Alina mengerutkan kening dan menggeleng cepat. Tentu saja dia menolak.
"Ya udah, ayo cuci muka dulu! Habis itu bangunin Lion."
Mereka mencuci muka di keran air yang tak jauh dari mobil mereka yang terparkir.
Alina membangunkan Lion dan Arkasa mengambil barang putranya di bagasi.
Tak lama, seseorang keluar dari dalam rumah di barengi dengan pria baruh baya berjalan mendekati mereka.
Lion nampak membuka matanya, namun menutup kembali setelah mendapat kehangatan dari tubuh Mami nya.
"Lion, sayang. Bangun yuk!" ajak Alina sambil menatap wajah putranya yang terlelap.
Lion nampak menggeleng, sepertinya anak itu masih mengantuk berat. Padahal ini sudah pukul 7.
"Arka, sudah sampai. Kenapa gak telpon dulu?"
Alina melihat interaksi antar pria diantara suaminya dan Ayah Xylia dari balik mobil.
Alina tersenyum, namun juga gugup melihat kedekatan mereka.
Namun, lagi-lagi pikiran random muncul di pikirannya. Membayangkan sesuatu yang membuatnya sakit.
Bisa gak ya, ayah gitu sama Mas Arka?
Alina segera menggeleng, enggan membayangkan itu semua.
Alina masih belum berani memunculkan diri dari balik mobilnya.
Ia melihat seseorang mendekati mereka.
"Den Arka, biar Bibi yang bawa barangnya."
Arkasa nampak menoleh. "Oh iya, Bi. Makasih."
Lalu, pria itu nampak kembali berbincang dengan Ayah Xylia. Hingga, tatapan keduanya tertuju kepadanya.
Alina yang mendapati tatapan dari Ayah Xylia nampak terkejut. Jantungnya berdetak tak karuan, ia takut akan sesuatu yang entah akan terjadi atau tidak.
Alina tersenyum canggung ke arah pria paruh baya itu.
Suaminya nampak berjalan ke arahnya, mendekat.
Arkasa mencoba mengambil alih putranya. "Biar aku aja, sini! Kamu pasti capek."
Namun, ternyata Lion menolak. Interaksi ketiganya terlihat oleh Kevin Cemal Cameron, ayah Xylia.
"Masih ngantuk dia, aku gak apa-apa."
Ketiganya pun masuk. Dengan sambutan dari Ayah Xylia kepada Alina sebelumnya. Sambutan biasa selayaknya seorang tamu.
Alina mengamati bangunan bernuansa klasik itu. Dapat ia simpulkan bahwa Xylia memang setara dengan Arkasa.
Maksud dia adalah Arkasa dan Xylia dari keluarga terpandang. Mereka seperti pangeran dan putri yang memang ditakdirkan bersama.
Alina membuntuti dua pria di depannya sambil membenahi tubuhnya agar Lion nyaman dalam dekapannya.
Mereka sampai di ruangan penuh pajangan di dalam lemari kaca yang menyatu dengan dinding.
Alina dapat mengamati semua isi di dalamnya. Terdapat beberapa piala dan juga beberapa barang lain.
Alina juga mendapati pigura besar yang diisi oleh foto keluarga. Sepertinya keluarga Xylia. Alina menebak bahwa Xylia memiliki seorang kakak laki-laki.
Alina dan Arkasa duduk di sofa dan Kevin meninggalkan mereka untuk pergi membersihkan diri.
"Sayang" panggil Arkasa yang dijawab deheman Alina.
Wanita itu asik dengan rambut tebal putranya. "Kayaknya Lion harus potong rambut" gumamnya.
"Tapi aku suka Lion rambut panjang, nanti bisa aku kuncir satu gitu kaya Sam."
Arkasa kebingungan. "Sam?"
Alina mengangguk. "Itu, aku suka nonton acara tv luar yang ada anak-anak. Dia lucu banget."
Arkasa nampak mengangguk saja sambil tersenyum menatap istrinya. Pria itu menyandarkan kepala di pundak Alina.
"Aku juga mau" manja pria itu sambil menatap istrinya gemas.
"Ish, apaan. Kamu mah gak cocok" komentar Alina yang membuat Arkasa kesal.
Pria itu merasa cemburu dengan putranya sendiri karena lebih mendapat perhatian.
Arkasa kembali mendekatkan kepalanya. Yang awalnya hanya di ujung pundak, malah semakin mendekat ke leher Alina.
"Parfum kamu apaan sih, Yang? Aku mau."
Alina kebingungan, tiba-tiba suaminya menanyakan soal parfum, aneh sekali. "Kenapa deh?"
Pria itu hanya tertawa. "Tau aja, kalo kangen kamu kan bisa aku pake parfumnya."
Alina jengah, bisa-bisanya suaminya menggoda dirinya di rumah orang lain. "Apa deh."
"Beneran. Nanti, aku beli banyak."
Alina hanya menggeleng dengan kelakuan suaminya. Enggan menanggapi, memang suka aneh-aneh suaminya ini.
Tak lama mereka disambut hangat oleh asisten rumah tangga yang langsung mempersilahkan untuk menuju meja makan atas perintah Kevin sebelumnya.
Alina mencoba membangunkan putranya itu.
"Lion" panggilnya lembut sambil menepuk pelan pundak anak itu.
"Sayang, bangun yuk!"
"Aku gak tidur" suara bariton Arka terdengar saat pria itu membenahi posisi dari pundak Alina.
"Bukan kamu." Arkasa mengerucutkan bibirnya.
"Kamu duluan sana! Biar aku bangunin Lion dulu" suruh Alina yang tentu ditolak Arkasa.
"Mas Arka." Pria itu masih enggan.
"Pasti Papa nya mbak Xylia udah nungguin. Kamu duluan aja, Lion bentar kok kalo dibangunin."
Arkasa masih menggeleng dengan muka merajuknya.
"Jangan gitu! Aku gak kemana-mana. Khawatir banget."
Pria itu akhirnya menuruti perintah istrinya. Sepertinya, memang Arkasa tipe yang harus disuruh berkali-kali baru beranjak.
Arka mengecup puncak kepala Lion. Lalu, berpindah ke bibir Alina.
Alina mendorong pria itu pelan sebelum suaminya kembali berulah karena terlalu lama di bibirnya. Walaupun hanya sekedar kecupan tapi itu cukup lama dari seharusnya.
"Sana!" usir Alina.
"Iya" jawab Arka, lalu beranjak dengan gontai.
Alina dan juga Lion telah bergabung di meja makan yang diisi oleh Arkasa, Lion dan Alina yang duduk berurutan dengan di tengah adalah sang Tuan rumah, Kevin.
Ternyata anggota mereka belum lengkap. Sehingga, untuk beberapa menit Alina hanya diam sambil mengusap wajah Lion yang basah setelah cuci muka tadi dan Arka yang berbincang dengan Kevin.
Seseorang datang. Membuat semua mata tertuju dengan kehadirannya.
Ternyata itu adalah ibu Xylia, Hanania Ivanka Cameron. Alina sadar sekarang darimana kecantikan Xylia. Seperti tidak dimakan oleh waktu kecantikan Ibu Xylia.
Wanita itu duduk di seberang Arkasa yang berarti berhadapan dengan menantunya.
Sedikit basa-basi dilontarkan oleh wanita paruh baya itu kepada Arkasa dan sedikit menanyakan kabar cucunya tanpa peduli dengan sosok perempuan di sebelah Lion.
Alina meringis kala sarapan dimulai dengan tenang. Alina sebenarnya tidak nafsu untuk sarapan pagi ini.
Ia hanya meminum segelas susu hangat yang sebenarnya bisa dibilang mencicipi bukan meminumnya.
Ia merasa mual setelah meneguknya setara dengan se-sendok makan cairan itu. Namun, wanita itu menahannya agar tidak menarik perhatian.
Ia masih sibuk menyuapi putranya yang sepertinya masih belum seratus persen sadar karena kepalanya yang masih menyandar di tubuhnya.
Alina ingin mengucapkan sesuatu kepada putranya, namun ia urungkan karena meja makan yang terkesan dingin untuknya. Apalagi dengan tatapan Ibu Xylia yang dapat Alina lihat dari ujung matanya.
Alina tidak nyaman.
ka jgn lama3x dunk updateny
ka bikin dia bahagia dan buat arkasa nyesel seumur hidup
sama pria yf g bisa setia sam 1 hati
justri klo lo pergi menepi
arkasa akan tau kamu berharga ketimbang seliweran dpn mata tp g dianggap