Terpaksa menikah dan tinggal bersama keluarga istri, Steven menjadi menantu sampah yang dihina ibu mertua. Namun, suatu ketika ia mendapatkan kembali ingatannya yang ternyata merupakan seorang dokter genius. Ia bahkan mengingat tentang identitasnya yang bukan orang biasa seperti hinaan banyak orang padanya. Semua yang terjadi padanya, akhirnya mampu ia pecahkan. Ia memulai perjalanan mengubah takdirnya dari seorang menantu sampah menjadi sosok yang disegani oleh semua orang.
"Aku, Steven. Seseorang yang kalian hina dan maki. Aku akan membuat kalian tunduk dengan kemampuanku. Karena aku adalah dokter genius." ~ Dokter Steven.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myra Eldane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 22
Deg!
Jantung Steven berdetak sangat kencang saat melihat wanita di depannya. Ia merasa seperti tertangkap basah tengah berselingkuh. Wanita itu berjalan ke arahnya dengan membawa banyak makanan. Itu istrinya—Clara.
Dan kini Clara menatap Steven penuh curiga. "Steven, apa yang kau lakukan dengan Dokter itu? Kenapa posisi kalian begitu intim?" tanya Clara ketika sudah dekat dengan suaminya.
Steven merasa sangat gugup. Ia langsung menjauhkan tubuhnya dari Melody. Menatap Clara dengan tangan menggaruk tengkuknya sambil berpikir. "Ah, kau sudah kembali membawa makananku. Ayo, aku sudah sangat lapar," ucapnya mencoba mengalihkan pikiran Clara.
Tapi Clara sepertinya sudah dikuasai cemburu. Ia menarik tangan Steven ke sisinya. Menatap tajam wanita yang ia kira sebagai dokter yang menangani penyakit Steven selain sepupunya—Dini. "Kalian terlalu dekat untuk seorang pasien dan dokter," ucapnya dengan nada datar sambil menatap Steven dan Melody bergantian.
"Clara, ini tidak seperti yang kau pikirkan." Steven benar-benar gugup. Ia merasa otaknya yang jenius mendadak beku.
Clara menatap Steven sambil menaikkan satu alis kirinya. "Memang kau tau apa isi pikiranku, Steven?"
Skakmat!
Steven benar-benar mati gaya di depan wanita yang merupakan istrinya ini. Bagaimana ini? Ia mungkin bisa bersikap menyeramkan di depan Melody. Tapi kenapa dengan Clara, ia merasa takut? Seolah perasaannya untuk cinta pertamanya dulu, sudah ditelan habis olah Clara.
Steven masih berfikir keras. Hingga satu ide muncul di otak jeniusnya. Ia menyentuh kepalanya sambil sedikit terhuyung ke depan. "Clara, bisakah kau membantuku berdiri? Aku merasa sedikit pusing," pinta Steven dengan wajah memelas. "Tadi itu, aku hanya tersandung karena kepalaku tiba-tiba terasa sakit," sambungnya berbohong untuk memberi alasan saat Clara mendadak memeluknya.
Steven bisa melihat wajah Clara yang beransur berubah menjadi khawatir. Ia berjalan pelan ke arah tempat tidur dengan bantuan Clara. Kemudian tersenyum tipis ke arah Melody. Sangat tipis dan tidak akan diketahui Clara yang saat ini sedang membenarkan posisinya di ranjang.
"Kenapa tidak bilang jika kau pusing? Lagi pula, di mana Dini? Kenapa hanya ada kalian berdua di sini?" Clara menata segala arah mencari keberadaan sepupunya.
"Dia tadi dapat telpon mendadak dari rumah sakit," jawab Steven berbohong. Entah berapa banyak kebohongan yang akan ia buat pada gadis di depannya ini. Bahkan ia belum mengatakan pada istrinya ini tentang identitasnya yang sudah ia ingat.
Mereka berdua seolah mengabaikan kebaradaan Melody yang saat ini masih bersandar di dinding. Tangannya menyentuh dadanya yang berdetak kencang.
"Oo.... Seharusnya Dini segera menelponku jika dia pergi. Huh, jadi kalian dari tadi hanya berdua saja?" dengus Clara fokus menatap Melody.
Melody yang mendengar itu tersadar dari lamunannya. Ia menatap dua pasang manusia itu dengan iri. Bahkan dalam hatinya terasa terbakar.
Steven menggenggam tangan Clara lembut. Membawanya untuk ia cium dengan penuh perasaan. Ia melirik Clara yang terpaku karena kelakuannya. "Dia dokter yang menyembuhkanku, Clara." Steven menurunkan tangan Clara seraya mengelusnya. "Apa saat ini kau merasa cemburu karena aku dekat dengannya?" tuduh Steven bertanya.
Clara glagapan mendengar tuduhan Steven yang tepat sasaran. Ia juga merasa aneh dengan perasaannya. Menganggap Steven hanya suami sementara. Namun merasa tak suka melihat Steven bersama wanita lain. "Lepaskan tanganku, Steven. Kau terlalu percaya diri mengatakan aku cemburu. Memangnya kau siapaku?" elak Clara yang justru membuat Steven tertawa.
"Hahaha... Aku ini suamimu. Jadi aku bisa melihat kecemburuanmu itu dari wajahmu. Lihatlah sekarang, wajahmu memerah sudah seperti kepiting rebus, Clara." Steven mencubit pipi Clara.
"Aw, kau melakukan kekerasan. Ini tindak KDRT, Steven. Aku akan membalasmu! Rasakan ini," seru Clara tidak terima. Ia pun membalas Steven dengan cubitan di perutnya.
"Ah, jangan lagi! Clara! Hahaha..." tawa Steven menggelegar memenuhi ruangan.
"Rasakan, Steven!"
Pasangan suami istri itu bercanda dan tertawa tanpa menghiraukan Melody yang saat ini tengah menatap keduanya tajam dengan tangan terkepal. Ia membalikkan badannya meninggalkan ruangan itu tanpa disadari dua insan yang asik dengan kemesraan mereka.
.
.
.
Di dalam ruangan rawat inap Steven yang tadinya penuh dengan canda tawa, kini menjadi senyap. Clara yang kelelahan, tertidur setelah makan bersama dengan Steven. Wanita itu tertidur dengan nyenyak di atas paha Steven yang duduk di atas ranjang.
Ceklek....
Pintu terbuka menampilkan wajah Dini yang terlihat sangat kusut. Dini berjalan lemas ke arah Steven yang menatap penuh tanya. "Steven, bagaimana ini?" ucap Dini menyerahkan sebuah kertas pada Steven.
Steven menerima kertas yang diberikan Dini. Ia menundukkan kepalanya. Fokus menatap dan membaca rentetan tulisan yang ada di kertas itu. Setelah membacanya dengan seksama, ia langsung mengangkat kepalanya menatap Dini. "Dini, ini..." lirihnya dengan raut wajah sendu.
"Ada Clara di sini, Steven. Kau sepertinya harus menemui anak itu, Steven. Saat ini dia memang sudah bisa tertawa. Tapi—" ucap Dini menggantungkan ucapannya.
Steven menundukkan kembali pandangannya ke kertas yang ia pegang. "David? Namanya, David. Nama yang sangat bagus. Tapi Tuhan membuatnya harus menerima penyakit yang sangat serius. Apakah pria kecil itu bisa kuat menahannya?" batin Steven membaca nama yang tertera di kertas itu. Ia melirik sekilas Clara yang masih menutup mata. Kemudian menatap lurus ke depan sambil mengelus rambut wanita itu dengan lembut. "Dini.... Tolong untuk sementara waktu, kita biarkan anak itu dirawat lebih lama di rumah sakit ini. Sambil mencarikan donor ginjal yang cocok untuk anak itu. Aku akan menemui anak itu nanti," pintanya pada Dini yang menatapnya ragu.
"Steven, apa kau yakin?"
"Aku yakin seratus persen, Dini. Aku yang menanganinya dari awal. Jadi harus aku yang menyelesaikannya," tutur Steven mengangguk dengan yakin.
"Lalu bagaimana jika Clara tau?" tanya Dini menunjuk Clara dengan dagunya.
Steven menatap Clara yang tertidur pulas di pangkuannya. Ia merasa kakinya saat ini sudah keram karena istrinya. Tapi ia tidak mencoba untuk memindahkan Clara. "Biarkan dia tau, apa yang ingin dia ketahui."
Setelah mendengar jawaban Steven, Dini tampak berfikir sebentar. "Kalau begitu, aku akan pergi mencari donor ginjal mulai dari sekarang. Mungkin aku harus menghubungi kenalanku," ucap Dini seraya meninggalkan Steven.
Sementara Steven melihat kepergian Dini bergantian dengan kertas di tangannya. "Aku akan berusaha menyembuhkanmu sepenuhnya, David. Anak kecil yang kekurangan uang untuk berobat. Mungkin Tuhan mempertemukan kita agar aku mampu mengingat kembali kemampuanku sebagai dokter jenius. Dan bisa menyelamatkanmu. Aku harap kau bisa bertahan hingga donor untukmu ditemukan," batinnya seolah berbicara dengan anak kecil yang ada diingatannya. "Kerusakan ginjalnya memburuk karena obat-obatan yang dikonsumsi terlalu sering. Apalagi daya tahan tubuhnya lemah. Aku harus mengerahkan kemampuanku di meja operasi," gumamnya seraya meletakkan kertas yang berisi pemerikasaan anak bernama David di tangannya ke atas meja.
.
.
.
siapa yang menjadi musuh dr Steven sehingga melakukan percobaan pembunuhan.