Odette Yeva, gadis bangsawan cantik berambut pirang emas yang merupakan putri kedua dari keluarga Yeva.
Kehidupannya selama sembilan belas belas tahun hanya dihabiskan untuk merawat burung Elang kesayangannya dan menjelajah penjuru hutan.
siapa sangka? Dexter dari keluarga Cyrus, anak dari wanita bangsawan yang akan mengadakan pernikahan dengan Ayahnya.
Mereka berdua malah bertemu karena kejadian di hutan pada malam itu. Akibat dari ulah Dexter yang memburu Elang miliknya. Menimbulkan sedikit rasa kekesalan pada hati gadis cantik itu.
Namun pada akhirnya mereka harus bersama dan saling bersatu melawan kedua belah pihak keluarga untuk membatalkan pernikahan kedua orang tuanya.
Akankah perlawanan mereka berhasil? Mungkinkah Odette jatuh cinta juga pada Dexter?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon xesoxe.d, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di mana Odette-ku?
Pagi hari...
Dexter sudah bersiap untuk pergi ke istana keluarga Yeva. Kabarnya Odesa dan Liam sudah kembali liburan. Sayangnya sampai saat ini dia belum tahu dimana keberadaan Odette.
Sakit sekali tahu gadisnya menghilang begitu saja. Entah Odette pergi karena urusan yang mendesak, atau memang tidak ingin menikah dengannya.
Setelah rapih dengan sarapan miliknya, Dexter menghampiri Braman yang sudah siap disamping mobil untuk segera berangkat.
"Apa kau yakin mereka berdua sudah kembali?" tanya Braman.
Dexter mengangkat kepalanya memandang pria setengah baya yang tengah menyetir, "Kenapa kau bertanya seperti itu?" balasnya bertanya balik.
"Hanya saja... Kalau Liam sudah selesai liburan, kenapa tidak langsung kembali ke kediaman Cyrus?"
"Hanya karena itu?" Dexter tersenyum simpul padanya, "Kak Liam mana suka tinggal di istana? Pastinya lebih pilih berduaan dengan pacarnya."
Benar. Bisa-bisanya Braman segala melontarkan pertanyaan begitu. Kakak dan adik ini jika sudah jatuh cinta memang sangat tidak waras.
Sayangnya nasib mereka untuk sementara ini berbeda, hanya Dexter yang belum terbalaskan cintanya. Berbeda dengan Liam yang saling mencintai dengan Odesa.
Tanpa disadari Braman berdecih sendiri seraya bergumam, "Dunia memang suka bercanda..."
Dexter pun seketika menatap heran padanya, "Apa kau tidak waras? Kenapa bicara sendiri?" cibirnya.
Braman seketika menutup mulutnya rapat-rapat. Padahal hanya bergumam saja, masih juga salah di matanya.
Tak lama mobil yang di kendarai sudah tiba pada perkarangan istana keluarga Yeva. Dexter memperhatikan dengan intens apakah gerbang istananya sudah terbuka.
"Paman Braman, langsung masuk saja." ucapnya. Dexter dapat melihat pintu gerbang itu sudah terbuka lebar lagi.
Ciiitt,,,
Pria itu turun dari mobil dan menghampiri orang yang sangat dia kenal sedang bermesraan di dekat kolam ikan.
"Enak, ya?" ujar Dexter berjalan mendekat.
Keduanya menoleh bersamaan dan tersenyum mengejek padanya, "Adikku tersayang..."
Benar, tak lain dan tak bukan orang itu adalah Liam dan Odesa. Sepertinya kakaknya ini sangat bahagia berada dekat dengan gadis yang dicintainya.
Tidak heran orang itu sampai tak mau pulang. Kebahagian Liam adalah bersama dengan Odesa. Sama sepertinya, namun sayang sekali Odette belum juga terlihat sejak kemarin menghilang.
"Odesa, kau lihat Odette?" Dexter penasaran, gadis itu kembali ke istana atau tidak.
Bukan mendapat jawaban yang sangat dia inginkan, Dexter malah mendapat pukulan dari kakaknya itu.
"Bisa nggak, jangan main tangan?" keluh Dexter seraya mengusap pelan bahunya, "Jangan-jangan Odesa sering di pukulin..."
"Enak saja, tidak boleh kasar dengan wanita." balas Liam.
Dexter mengangguk mengejek. Walaupun suasana hatinya sedang buruk, bertemu dan bercanda dengan Liam seperti ini sangatlah membuatnya tenang.
"Tapi... Kenapa kau mencari Odette? Apa dia tak bersama denganmu?" lerai Odesa.
Sengaja pergi agar Dexter dan Odette semakin banyak waktu untuk bersama. Tak disangka, adiknya ini malah begitu acuh sampai menghilang tak ada kabar.
Rupanya Odette masih belum bisa berfikir jernih. Dia masih saja memandang buruk semua pria. Padahal, Dexter begitu sangat mencintainya.
"Odette baru saja pergi kemarin siang." Jelas Dexter memberitahukan kebenarannya.
"Kenapa dia pergi? Apa... kalian bertengkar?" selidik Odesa memicingkan matanya.
"Enak saja! Aku mana pernah marah pada gadisku?" protes Dexter tak kalah ketusnya.
Odesa mengibaskan satu tangannya dihadapan Dexter, "Kalau memang benar begitu, kenapa Gadismu lari?"
Dexter terdiam, banyak sekali pertanyaan dalam benaknya saat ini. Walaupun tak suka dengan ucapan Odesa yang begitu terang-terangan, Dexter juga tak dapat membantah kenyataan kalau gadisnya benar menghilang.
Entah kemana Odette pergi sekarang ini. Dexter hanya ingin melihat wajahnya lagi. Rindu, dia teramat rindu sosok itu.
Odesa memperhatikan Dexter yang sepertinya terbebani akan pikirannya sendiri. Melihat adik pacarnya begitu menderita, dia jadi iba.
Sungguh pria yang malang bukan? Odesa ingin menyalahkan adiknya juga tidak bisa. Odette memang berhati batu, siapa suruh menyukai orang sepertinya.
"Ah sudahlah... Wajahmu sudah memelas begitu." ungkapnya.
"Aku bisa memberi bantuan untukmu," ucap wanita paruh baya datang menimpali pembicaraan mereka.
Wajah sudah penuh dengan kerutan dan lemak kulit, Tubuh tak lagi tegap akibat umur yang tak lagi muda. Bahkan hanya untuk berjalan saja butuh bantuan tongkat kayu itu.
"Nenek, tumben sekali kau keluar dari labirin menyebalkan itu..." cibir Odesa.
Ucapannya tertahan ketika mendapat tatapan sinis dari Neneknya. Dexter dan Liam saja sampai begitu tercengangnya dengan pemandangan ini.
Segera Dexter menggelengkan kepalanya mengembalikan kesadaran. Memberanikan diri untuk bertanya padanya, "Apa kau tahu dimana istriku berada?"
Astaga yang benar saja? Odesa sampai terbahak-bahak mendengar ucapan pria itu. Bicara begitu entengnya tanpa memikirkan sedang bicara sama siapa dirinya.
"Hei Nak, siapa yang kau sebut istri itu?" protes nenek itu menatap tak suka.
Dexter tersenyum kikuk, "Kalau boleh tahu, kau siapanya Odette-ku?" tanyanya.
Mungkinkah itu Neneknya Odette? Atau bisa saja orang yang selama ini menjaga gadisnya. Namun Dexter tetap tak ingin ambil kesimpulan sebelum mendapat jawaban langsung darinya.
Wanita paruh baya itu membalikkan badannya hendak kembali kedalam. Namun Dexter mencegatnya karena belum mendapat jawaban.
"Tidak apa kalau kau tak memperkenalkan dirimu. Setidaknya, beritahu aku dimana Odette sekarang." mohon pria itu benar-benar ingin menemukan gadisnya.
"Menyingkirlah dari jalanku..."
"Tidak, sebelum kau memberitahu aku." jawab Dexter tak kalah ketusnya.
Terdengar helaan nafas dari wanita paruh baya itu. Satu tangannya terangkat seraya mengibaskan ke hadapan wajah Dexter. "Baiklah, keras kepala sekali." cibirnya.
Barulah Dexter kembali berdiri tegap dan menunggu ucapan darinya.
"Saat kecil, Odette sangat suka pergi ke rumah pohon hutan Denalu. Bukan tanpa alasan, cucu tersayangku pergi kesana jika sedang bimbang dengan perasaannya." jelasnya memberitahu.
"Hutan Denalu?"
"Benar, tidak jauh dari kawasan hutan liar itu. Sudahlah, aku harus kembali... Kau ini membuat kepalaku pusing saja."
Dexter hanya memperhatikan wanita paruh baya itu yang sudah menjauh dari pandangannya. Pikirannya kembali teringat dengan Odette.
Benaknya bertanya-tanya. Apakah Odette kabur darinya karena merasa bimbang akan keputusannya sendiri? Mungkinkah Dexter terlalu terburu-buru tanpa menanyakan perasaan gadisnya?
"Odette, maafkan aku..." gumamnya pelan.
Liam dan Odesa saling melempar pandangan. Barulah Liam menghampiri adiknya dan menepuk pelan bahu Dexter untuk menenangkan.
Dexter mengangkat kepalanya yang tertunduk, "Kak, apa aku terlalu memaksanya?"
Liam bergeleng pelan, bagaimanapun ini keputusan mereka bersama. Adiknya ini hanya terlalu mencintai Odette, tidak salah baginya untuk terburu-buru memiliki gadis itu.
Ya... Mungkin Odette masalahnya. Liam dapat simpulkan bahwa Odette masih simpang siur akan perasaannya sendiri.
"Aku akan mencarinya, Kak. Jika dia memang tidak ingin menikah, aku akan berusaha untuk merelakannya." ucap Dexter mengambil keputusan.
"Jangan!" Timpal Odesa.
"Jangan lakukan itu, kau ini bodoh? Kalian berdua sama-sama sepakat untuk pernikahan ini." protes Liam tidak terima jika adiknya menyerah begitu saja.
Odesa dan Liam jelas tidak akan membiarkan kedua orang ini terpisah. Mereka harus bersama. Dexter sangat mencintai Odette, urusan tentang perasaan gadis itu bisa menunggu waktu.
"Kalian tunggulah disini. Biar aku yang menyelesaikan semuanya."
Liam hanya dapat memperhatikan punggung adiknya yang sudah menjauh dari pandangannya. Ada perasaan tak rela untuknya jika Dexter menyudahi ini semua begitu saja.
Tentu sebagai seorang kakak Liam sangat tahu. Dexter bukan orang yang mudah untuk melupakan cintanya. Odette yang pertama, pasti hanya akan menyiksa Dexter jika mereka benar-benar berpisah.
"Mereka benar-benar selesai?" lirih Odesa.
Liam menyapu bulir air mata yang sudah membasahi wajah gadisnya. "Apapun keputusan mereka, mungkin itu yang terbaik."
"Tidak, aku sungguh tidak rela..."
"Kita tidak rela, bagaimana dengan Dexter? Dia sangat mencintai adikmu, jika pernikahan batal, dia juga akan tersiksa dengan perasaannya sendiri."
Liam menggenggam erat tangan Odesa. Sebagai seorang kakak mereka hanya dapat menasihati tanpa bertindak. Selanjutnya bagaimana, biarlah mereka berdua yang memutuskan.