Rosetta Luwig di hidupkan kembali setelah mengalami sebuah kecelakaan dimana ia sedang mengandung anak kakak tirinya. Dia mencintai Jhonatan Maxiliam, namun ternyata pria itu justru mencintai adiknya. Dengan berbagai cara dia menjebak Jhonatan hingga mengandung anaknya, namun sayang ternyata anaknya tidak di akui bahkan keluarganya membencinya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sayonk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tidak Mengakui Ku
“Kau tidak ingin bertemu dengannya?” Tanya Maxiliam tak menyangka. “Bisa saja Mommy dan Daddy merindukan mu.” Ia berharap Rosetta mau ikut, justru ia lebih leluasa bersama dengan Javer.
“Aku tidak bisa Maxiliam, sudahlah aku tidak ingin berdebat dengan mu.” Rosetta membuang wajahnya, ia malas jika harus berdebat dengan Maxiliam.
“Ya sudah, kalau itu mau mu.”
Maxiliam pun melirik Javer, muncul sebuah ide di benaknya. Seharusnya ia membujuk Javer agar Rosetta mau.
Sesampainya di sebuah restorant, Maxiliam membukakan pintu. Ia mengambil Javer dari dari pangkuan Rosetta.
Maxiliam pun menaruh Javer di kursi sebelahnya, kemudian ia memesan tiga es krim untuk mereka. Saat tiga mangkok es krim itu datang, Javer begitu antusias. Dia bisa makan sepuasnya.
“Javer tidak boleh makan terlalu banyak,” ucap Rosetta. Ia sangat takut jika terlalu banyak, Javer akan terkena flu.
“Iya Mom.”
Maxiliam tersenyum, ia merasa sebuah keluarga, rasanya hangat dan hatinya merasa senang. “Javer, katakan pada Daddy kau ingin apa pun.”
Javer menoleh, ia ingin meminta sebuah mobil kecil. “Tapi kan Paman, olang lain bukan Daddy Javel.”
Maxiliam berusaha meredakan amarahnya. “Semenjak kapan? Kalau Javer sudah memanggil Daddy, berarti Javer adalah putra Daddy.” Sungguh ia tidak ingin di panggil paman, rasanya ia dan Javer sangat jauh. Ia ingin jarak mereka dekat walaupun untuk memeluknya harus melewati duri. “Javer putra Daddy, Javer anak Daddy.”
Rosetta menaruh sendoknya, hatinya merasa tak karuan. “Sayang kau boleh memanggilnya Daddy seperti dulu walaupun Javer bukan anak kandung Paman, tapi Paman menyayangi dan mencintai Javer.”
Javer menggelengkan kepalanya, ia teringat saat seorang pria bertanya siapa dirinya pada Maxiliam. “Tidak, Paman tidak mengakui ku saat ada orang yang bertanya siapa aku.”
Deg
Hati Maxiliam teriris, siapa sangka ucapannya menyakiti hati putranya. “Maafkan Daddy sayang.”
“Selamanya Paman tidak akan pernah mengakui ku.”
“Aku mau pulang.” Tambahnya, suasana hatinya mendadak tidak enak. Kedua matanya berkaca-kaca.
Maxiliam menggenggam tangan Javer. “Maafkan Daddy sayang.” Ia sungguh menyesalinya, hatinya terasa perih dan sakit. Ia sebagai seorang ayah telah gagal memberikan kebahagian. Seandainya saja ia memiliki keberanian untuk mengakui Javer, mungkin sudah ia lakukan.
Javer menatap dalam kedua netra Maxiliam. “Jangan pernah memaksa ku memanggil mu Daddy karena kau buka Daddy ku.”
Deg
Seperti di hantam oleh benda panas dan meledakkan hati Maxiliam. Tubuhnya seakan tak memiliki tenaga, kedua matanya terasa panas dan tak terasa air matanya mengalir begitu deras.
Javer menoleh dengan wajah murung. “Mommy aku mau pulang.”
“Dad-Daddy antar kamu.” Tenggorokannya tercekat. Ia berusaha untuk manahan air matanya.
Sedangkan Rosetta, ia memilih diam. Biarlah Maxiliam merasakan apa yang Javer rasakan saat itu. Ia tidak ingin menahan rasa sakit hati putranya.
Selama di perjalanan tak ada satu pun pembicaraan menghiasi perjalanan mereka, tak ada lagi celoteh Javer hingga tanpa terasa mobil milik Maxiliam berhenti di basemant. Dari jarak jauh seorang pria datang, dia membukakan pintu untuk Rosetta.
“Biar aku saja,” ucap Mario. Dia mengambil alih Javer yang sedang tertidur.
Rosetta hendak menuruni mobil namun Maxiliam menghentikan lengannya.
“Maafkan aku, aku tidak memikirkan perasaan Javer, tapi tolong jangan jauhkan aku dari Javer.”
Rosetta mengangguk namun ia tak menjamin, saat ini bukan dirinya yang membuat Javer menjauh tapi Maxiliam sendiri.
“Kau seharusnya tau, bukan aku yang membuat Javer menjauh, tapi dirimu sendiri. Aku harap kau mengerti.”
"Dan satu hal lagi, jangan pernah memaksa Javer menyebut mu seorang ayah. Apa kau ingin menyakiti Javer, aku tidak yakin Lili akan menerima Javer. Mungkin mereka akan menghina ku kembali."
Rosetta pun pergi, perlahan Maxiliam melepaskan tangannya. Sebenarnya ia tak ingin melepaskannya rasanya sangat berat.
Ia mengepalkan kedua tangannya dan memukul setirnya.
Di tempat lain.
Rosetta baru sampai, ia berpapasan dengan Mario yang sepertinya ingin keluar. "Kau mau kemana?"
"Aku ingin menjemput mu, aku rasa kau tidak akan aman bersama dengan Maxiliam."
Rosetta tersenyum, pikiran Mario ada-ada saja. "Maxilian tidak mungkin melakukannya. Malam ini kau menginaplah di sini."
"Rosetta sebenarnya apa status ku di hati mu." Mario menunduk, ia sepertinya terlalu cepat meminta jawabannya.
Rosetta menatap lembut di iringi beberapa kenangan bersama dengan Mario. Bahkan teman-temannya dulu pernah mendoakannya bersama dengan Mario, rasanya geli mendengarkan perkataan mereka. "Kau seorang yang spesial. Aku tidak bisa mengungkapkannya"
Mario tersenyum, jantungnya berdetak lebih cepat. Ia begitu malu hingga rasanya ia ingin bersembunyi. "Ka-kau pasti mau istirahat kan. Kau pasti mau tidur, aku, aku di sini saja."
"Ya sudah, aku mau menemani Javer."
Tepat di ujung anak tangga paling bawah, Rosetta menghentikan langkahnya. Ia menoleh dan melihat punggung Mario, kedua telinganya memerah sepertinya dia malu karena ucapannya.
Rosetta meneruskan langkahnya, namun beberapa menit kemudian Mario melihat ke arahnya. Ia merasa seperti terbang di atas awan. Rasanya sangat begitu indah hingga ia tak bisa mengungkapkannya.
Ia membaringkan tubuhnya di sofa dan tersenyum sambil mengingat ucapan Rosetta.
Di tempat lain.
Maxiliam pulang ke rumah ibu mertuanya, ia merasa tak memiliki tenaga untuk melakukan apa pun. Rasanya sangat malas.
Ia melihat Lili menghampirinya dan wanita itu menatap tajam ke arahnya. "Apa maksud mu menemai Javer? Kau bermain dengan mereka? Aku sudah melarang mu Maxiliam."
Maxiliam menunduk, ia sangat malas untuk berdebat. "Aku memang bertemu mereka Li, cobalah kamu bertemu dengan mereka." Jika ia sering mempertemukan Lili dengan Javer mungkin saja akan tumbuh rasa suka di hati Lili pada Javer.
"Aku tak ingin alasan apa pun, yang jelas aku tidak ingin kamu menemui mereka."
Tanpa mereka sadari, Diane mengintip di sela-sela pintu dan mendengarkan semuanya.
"Sepertinya aku harus berbicara dengan Maxiliam."
....
Keesokan harinya.
Diane menemukan kesempatan untuk berbicara berdua dengan Maxiliam. Ia menatap menantunya dengan tatapan takjub. Siapa sangka Maxiliam kini menjadi menantunya, anak yang ia rawat dulu.
"Max, Mommy ingin berbicara dari hati ke hati. Mommy ingin kamu sedikit menjauhi Rosetta."
Maxiliam menahan amarahnya, bukan hanya Lili tapi ibu mertuanya juga ingin ia menjauh dari Rosetta. "Kenapa Mom? Aku sangat menyayangi Javer."
"Mommy tau, tapi tidak baik untuk hubungan mu dan Lili."
"Mommy, seharusnya Mommy mendukung ku. Aku seperti ini karena kasihan pada Javer. Aku ingin membahagiakan Javer seperti anak ku sendiri. Cobalah Mommy membujuk Lili."
Diane menunduk, ia memikirkan ucapan Maxiliam. "Tapi Max, hubungan mu dan Lili tidak akan harmonis."
Mendengarkan ucapan Diane, ia memang merasa hubungannya dengan Lili tidak seperti dulu. Seakan tak ada lagi kehidupan bahagia di dalamnya.