Indonesia
NovelToon NovelToon
Menyambut Takdir : Ketika Cinta Dipertaruhkan

Menyambut Takdir : Ketika Cinta Dipertaruhkan

Status: tamat
Genre:Poligami / Cinta setelah menikah / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Tamat
Popularitas:25.1k
Nilai: 5
Nama Author: Titik Kedua

Cerita ini benar karya asli dan hasil imajinasi Author!

✅️BACA DENGAN BIJAK
🚫DILARANG LOMPAT BAB❗️
🚫DILARANG BOOM LIKE❗️
🚫KALAU TIDAK MAU BACA, JANGAN RUSAK KARYA ORANG❗️

Adlia terperangkap dalam labirin pernikahan tanpa cinta dengan Azam, suami Jihan. Ia harus mengorbankan cinta pertama yang telah lama bersarang dalam hatinya.

Seiring berjalannya waktu Azam mulai menaruh hati pada Adlia. Jihan resah dan semakin cemburu, ia meminta Azam menceraikan Adlia.

Merasa wanita yang dicintai semakin terluka, Hilmi dengan cintanya yang tulus, berusaha selalu ada untuk Adlia.

Lantas, akankah Azam menuruti permintaan Jihan atau tetap mempertahankan Adlia? Akankah Adlia bisa menerima Azam? Atau ia berpaling pada Hilmi, yang selalu ada dalam hatinya?

Ikuti kisah Menyambut Takdir : Ketika Cinta Dipertaruhkan, sebuah kisah tentang cinta dan pengorbanan untuk mempertahankan apa yang telah ditakdirkan.

Cover by ig : @desainnyachika

Follow author ig : @titikk_keduaa & TT : @titikk_keduaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Titik Kedua, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Di ruang keluarga yang telah disulap dengan dekor pernikahan sederhana, Adlia duduk di samping Azam, sedangkan Jihan duduk di samping kanan Azam, namun tidak sejajar dengan Azam.

Tamu yang datang hanya keluarga dan kerabat terdekat, serta RT dan Tokoh Masyarakat setempat yang akan menjadi saksi pernikahan Azam dan Adlia.

Di depan Azam dan Adlia, yang dibatasi oleh meja kecil dan pendek, yang pas untuk duduk lesehan, sudah siap pak Penghulu dengan baju koko putih dan kopiah hitam polos.

Pak Penghulu menatap Azam, Adlia, dan Jihan secara bergantian. Kemudian, pak Penghulu beralih menatap kertas pernyataan bahwa pernikahan ini atas izin dan permintaan istri pertama Azam, Jihan.

"Mas Azam Gumelar Abidin?" panggil pak Penghulu.

"Saya, Pak," jawab Azam sopan.

"Sudah yakin dan mantap dengan keputusan ini?" tanya pak Penghulu, memastikan keputusan Azam untuk menikah lagi adalah keputusan yang sudah disepakati bersama dan diyakini oleh Azam sendiri.

Azam tidak langsung menjawab. Ia memutar kepala, menoleh ke arah Jihan. Merasa suaminya seolah berbicara padanya, Jihan mengangguk pelan menahan luka yang mendalam.

Azam kembali menatap Pak Penghulu. Ia pun menjawab, "Saya yakin, Pak!"

"Mbak Adlia Azkia Jatmiko?" Pak Penghulu beralih memanggil Adlia yang terus menundukkan pandangan.

"Sa ... saya, Pak!" jawab Adlia terdengar parau.

"Apakah Mbak Adlia menerima pernikahan dengan mas Azam, yang artinya juga harus menerima mbak Jihan Nur Almaira sebagai istri pertama mas Azam?"

Pertanyaan pak Penghulu membuat tenggorokan Adlia tercekat. Hatinya terasa tertusuk ribuan sembilu. Luka batinnya yang masih basah, terasa perih bak disiram cuka. Adlia menunduk dengan tatapan kosong. Wanita itu merasa ingin menghilang saat itu juga.

"Bagaimana, Mbak Adlia?" Pak Penghulu kembali bersuara memastikan tidak ada paksaan pada pernikahan Azam dan Adlia.

Lagi-lagi Adlia merasakan getar kepiluan dalam dada. Adlia mencoba menjawab pak Penghulu. Akan tetapi, lidahnya kaku, kata-kata yang hendak keluar dari pikiran dan hatinya seakan tersangkut di tenggorokan.

Fira yang berada di belakang Adlia, terpaksa menyadarkan Adlia. Ia tidak ingin Adlia menjadi pembicaraan buruk bagi tamu yang hadir.

"Mbak ..." lirih Fira berbisik pada telinga kiri Adlia. Ia menyadarkan Adlia dari kebisuan sementara.

Adlia tersenyum getir. Sekuat tenaga ia menahan air mata yang akan terjun bebas. Adlia beralih pandang menatap pak Penghulu. Tatapannya penuh luka, senyum yang terlukis pun hanya sebuah topeng yang tidak bisa dilepas.

"Sa ... saya ...."

Adlia berhenti sejenak. Ia menatap sekeliling, seakan mencari seseorang. Saat ia mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, mata Adlia terhenti pada sudut tembok yang menghubungkan ruang tamu dan ruang keluarga. Di sana, pria yang ia cari berdiri menatapnya penuh luka.

Tatapan mata Hilmi dan Adlia bertemu. Begitu kosong namun menyiratkan luka yang dalam. Hilmi tersenyum getir, ia mengangguk pelan.

Melihat anggukan Hilmi, air mata Adlia perlahan menetes. Adlia tersenyum pahit, hatinya benar-benar merasakan pilu yang luar biasa hebat. Adlia menyeka air mata, ia kembali menatap pak Penghulu.

"Sa ... saya siap, Pak." Getar suara Adlia terdengar di telinga Hilmi, membuat matanya berkaca-kaca.

Kalau tidak denganmu, maka tidak dengan yang lain. Biarlah ini menjadi kisah yang kusimpan rapi. Kisah yang tidak akan tersentuh oleh cinta manapun, kecuali cinta-Mu, Yaa Rabb.

Ikhlasku mencintai Lia karena-Mu, ikhlasku juga merelakan dia karena-Mu. Jika kelak air matanya tidak mampu berhenti, maka izinkan aku yang menjadi penghapus air mata itu, Yaa Allah.

Jika itu terjadi, aku memohon ampunan pada-Mu.

Hilmi berseteru dengan batinnya. Ia teringat saat pertama kali Lia hadir dalam kehidupan mereka. Pikirannya melayang, menerawang jauh mengingat momen saat pertama kali Hilmi mematrikan nama Adlia dalam hatinya.

Saat itu, Hilmi berada di ruang keluarga, ia tengah asyik membaca buku favoritnya. Cahaya sore yang masuk melalui jendela membuat ruangan itu terasa hangat dan nyaman. Namun, bukan itu yang membuat Hilmi merasa tenang. Melainkan suara merdu yang datang dari dapur.

Dari arah dapur, terdengar seseorang melantunkan ayat suci Al-Qur'an, tepatnya surah Ar-Rahman. Suaranya merdu, seolah-olah melukiskan keindahan surga di hati siapa pun yang mendengarnya. Hilmi merasa seolah-olah waktu berhenti sejenak, hanya suara Al-Qur'an yang mengisi ruang itu.

"Siapa yang mengaji di dapur, ya?" gumam Hilmi muda, yang langsung bergegas menuju dapur.

Sesampainya di dapur, Hilmi terpaku menatap Adlia yang tengah memasak. Tangannya lihai mengaduk-aduk wajan menggunakan spatula. Meskipun raganya tengah sibuk memasak, namun bibirnya tak henti dalam melantunkan surah Ar-Rahman dengan syahdu, sehingga menyusup menyelimuti kalbu.

Adlia tidak menyadari kehadiran Hilmi yang mematung menatap dirinya. Saat Adlia selesai mengaduk-aduk wajan, yang ternyata sedang memasak nasi goreng, Adlia mematikan api kompor, ia membalikkan badan dan terperanjat karena Hilmi sudah berada beberapa langkah di dekatnya.

"Astaghfirullah ..." kaget Adlia, seraya menodong Hilmi menggunakan spatula.

"Eh ... maaf ..." lanjut Adlia, lirih. Ia langsung gugup dan malu telah menodong Hilmi menggunakan spatula.

"Kamu hafal surah Ar-Rahman?" tanya Hilmi, penasaran. Rasa penasaran Hilmi bukan tanpa sebab, pasalnya ia telah mendengarkan suara merdu dan syahdu Adlia.

"Eh ... itu ... Alhamdulillah," gugup Adlia. Ia merasa malu karena tidak sadar Hilmi mendengar saat ia melantunkan surah Ar-Rahman. "Maaf ... saya mau ambil piring. Kamu mau nasi goreng?" tanya Adlia, menawarkan nasi goreng buatannya.

"Boleh?" ucap Hilmi, memastikan.

Adlia mengangguk, ia tersenyum manis. Adlia langsung melangkah menuju rak piring, ia mengambil sendok dan piring untuknya dan Hilmi.

Tidak membutuhkan waktu lama, Adlia telah menghidangkan dua porsi nasi goreng. Ia meletakkan sepiring di hadapan Hilmi yang telah duduk di kursi makan.

"Kamu bisa masak?" tanya Hilmi.

"Bisa," jawab Adlia. Ia tersenyum kecil dan langsung duduk di seberang Hilmi.

Hilmi dan Adlia langsung membaca doa makan dan menyantap nasi goreng buatan Adlia. Hilmi menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, tanpa sadar matanya terbelalak saat nasi goreng telah menyentuh lidah. Ia mulai menggerakkan gigi, mengunyah secara perlahan.

Setelah makanan di mulutnya ia telan, Hilmi menatap lekat wajah Adlia. Ia memandangi Adlia yang lahap menyantap nasi goreng buatannya sendiri. Hilmi tersenyum, saat sebutir nasi menempel di sudut bibir Adlia.

Manis sekali. Pandai mengaji. Pandai masak. Nasi goreng ini jadi favoritku mulai sekarang. Tapi buatannya, bukan buatan yang lain.

Hilmi bercengkerama dalam hatinya. Matanya tak beralih dari wajah ayu saudari angkatnya. Adlia yang merasa Hilmi terus menatapnya menjadi canggung. Perlahan ia meletakkan sendok pada piringnya yang telah kosong.

"Maaf ... saya menggunakan dapur tidak izin padamu. Tapi ... saya sudah izin dengan bu Ina," tutur Adlia. Ia memberitahu Hilmi bahwa dirinya telah izin menggunakan dapur pada ART keluarga Edi.

Adlia berpikir kalau tatapan Hilmi adalah tatapan intimidasi. Ia mengira Hilmi tidak suka kalau Adlia sembarangan melakukan sesuatu. Sedangkan Hilmi yang mendengar Adlia menaikkan alis sebelah kanan.

"Maksudnya?" heran Hilmi

"Kamu tidak suka kalau saya pakai dapur tanpa izin, kan?" ujar Adlia, polos.

"Saya tidak bilang begitu!" ujar Hilmi, langsung menyuapkan nasi goreng yang telah menjadi favoritnya.

"Lalu ... kenapa kamu memperhatikan saya?" ujar Adlia, ia terus mencecar Hilmi dengan pertanyaan.

"Saya hanya terkesan padamu. Kamu bisa masak, mbak Jihan yang sudah SLTA saja tidak bisa masak. Lagi pula ...."

Ternyata kamu gadis yang salihah. Menutup aurat di dalam rumah, karena tau aku dan ayah bukan mahramnya. Bahkan ... lantunan surah Ar-Rahman telah menyentuh hatiku.

Hilmi melanjutkan kalimat dalam hatinya. Dengan cepat ia menghabiskan nasi gorengnya. Adlia yang penasaran dengan ucapan Hilmi, menatap lekat Hilmi, seakan berusaha menemukan jawaban di wajah Hilmi.

"Ada apa?" tanya Hilmi, merasa diperhatikan oleh Adlia.

"Kenapa yang tadi tidak dilanjutkan? Lagi pula apa?" cecar Adlia.

"Tidak ada!" Hilmi menjawab dengan singkat. Ia pun bergegas bangkit dari duduknya. "Nasi gorengnya enak. Saya menyukainya. Saya sangat menyukai nasi goreng," imbuhnya.

"Terima kasih." Adlia tersenyum hangat. Ia juga bangun dari duduknya, dan membereskan peralatan masak dan makan yang telah dipakai.

Hilmi beranjak meninggalkan dapur. Ia melangkah menuju kamar. Hilmi yang saat itu sudah menginjak kelas dua SLTP, sudah mengerti bagaimana rasanya menyukai lawan jenis. Untuk pertama kalinya, Hilmi jatuh hati pada seorang gadis seumurannya, Adlia, yang merupakan saudari angkatnya.

Mulai saat ini, hanya Lia yang berhak ada dan akan selalu ada di dalam hatiku.

"SAH?"

"SAH!"

"SAH!"

"SAH!"

Suara para saksi dan tamu membuyarkan lamunan Hilmi. Air matanya menetes, setelah memori kepalanya memutar kenangan belasan tahun lalu, saat Adlia baru masuk dalam kehidupan mereka.

Hatinya pilu melihat Azam menyematkan mas kawin di jari manis Adlia.

Harusnya aku yang di sana. Harusnya aku yang membacakan doa di ubun-ubunnya. Harusnya aku yang mencium keningnya. Ya Allah ... bagaimana nanti saat aku bertemu dengannya, bagaimana aku bisa menganggap seperti sedia kala, setelah dirinya telah menjadi milik orang lain?

Tidak! Seperti sedia kala? Bagaimana bisa? Sedangkan dari awal sampai akhir aku tetap mencintainya.

Lagi-lagi Hilmi hanya bisa berdebat dalam batinnya. Tak kuasa dirinya terlalu lama menatap Adlia, Hilmi membalikkan badan meninggalkan ruangan itu. Ia melangkah menuju ke pintu.

1
Oma yeni*🦋
maaf, baru ketemu akun mu 🙏
Titik Kedua: Nggak apa2, Kak. Selamat membaca, Kak💞
total 1 replies
☠✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🐠⋆🔹
Habis 😭
Titik Kedua: Sudah tamat, Kak. Terima kasih sudah membaca sampai selesai, Kak🙏🫶
total 1 replies
☠✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🐠⋆🔹
Azam kasian juga, tp mau bagaimana lg
Titik Kedua: Begitulah, Kak. Demi menyambut takdir indah, Azam juga harus rela melepaskan Adlia.
total 1 replies
☠✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🐠⋆🔹
talak 3 loh
Titik Kedua: Harus, Kak. Karena takdir mereka begitu🥹
total 1 replies
☠✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🐠⋆🔹
cerai juga akhirnya
Titik Kedua: Kasihan mereka, Kak😭, kelamaan menguras air mata🥹🥲
total 3 replies
☠✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ🐠⋆🔹
Azam lebih cinta Lia sepertinya,
Titik Kedua: mungkin karena Azam merasa lelah dengan sikap Jihan. Tapi, cintanya tetap lebih besar pada Jihan
total 1 replies
keren ada bahasa melayu nya,
5 bunga meluncur..
lanjut besok baca nya
binggung komen apa, cerita ini terlalu bagus
nyesek aku baca cerita ini
alurnya bgus bnget
bagus bnget
Titik Kedua: Terima kasih,💞
total 1 replies
anjurna
Ceritanya bagus. Penulisannya juga enak dan mudah untuk aku pahami. Perjuangan cinta yang buat gregetan. Sedih, kesel, tapi disini kita juga bisa melihat hasil dari sebuah kesabaran dan ketulusan cinta😊😊😊

Semangat untuk Kakaknya selalu/Determined/
Titik Kedua: Terima kasih sudah mendukung cerita ini, Kak. 🥹🥹🫶

Semangat dan sukses untuk kakak♥️♥️🌹
total 1 replies
anjurna
/Rose//Rose//Rose//Rose/ untuk Kakak atas ceritanya...
anjurna
Insyaallah aku dukung Kakak😁
anjurna
Akhirnya penantian Adlia dan Hilmi berbuah manis. Mereka bersama pada akhirnya😊😊😊
Titik Kedua: Alhamdulillah, Kak. Penantian dan pengorabanan yang tidak sia-sia, hingga membuahkan hasil dari bentuk kesabaran🥹🫶
total 1 replies
anjurna
Ikhlaskan. Adlia bahagia bersama Hilmi.
anjurna
Sedih Fira. Cerita mereka sedih banget😭🤧
anjurna
Manikah, ya. Akhirnya🥳
Elok Oren 🤎
Alhamdulillah akhirnya happy ending juga🥰🥰🥰🥰
Elok Oren 🤎
loh loh, udah tamat aja. 🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!