Tujuh tahun Cynthia Dewi mencintai YB dengan seluruh hatinya. Namun di hari yang seharusnya menjadi bahagia bagi mereka berdua, YB justru melamar Karen — wanita yang selama ini selalu ia anggap adik. Cynthia melihat semuanya dengan mata kepalanya sendiri, dan hatinya hancur seketika. Di saat ia merasa sudah tak memiliki siapa pun, Aloy datang menolongnya. Ia bukan hanya teman lama, tetapi juga sosok yang menyimpan rahasia besar dari masa lalu Cynthia. Mampukah Cynthia membuktikan jati dirinya, membalaskan dendam, dan menemukan cinta sejatinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefin Eka Ramana Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Di Balik Layar Persiapan Pernikahan
Langkah kaki Cynthia terasa berat namun mantap saat ia melangkah keluar dari ruangan tempat perdebatan yang menyakitkan itu baru saja berakhir. Di dalam hatinya, rasa sakit yang selama ini ia pendam sendirian perlahan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kuat — bukan lagi kelembutan yang selalu memaafkan, melainkan keteguhan yang tajam dan tak tergoyahkan. Selama bertahun-tahun ia telah bersabar, menundukkan kepala, membiarkan dirinya dihina, dipandang sebelah mata, dan dituduh tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan kebenaran. Namun kenyataan pahit yang kini akhirnya ia sadari membuatnya terpaku sejenak di tengah lorong yang sepi itu — bukan hanya YB yang telah diambil paksa dari hidupnya. Lebih menyakitkan lagi, haknya sebagai anak kandung Keluarga Hutapea pun telah direbut oleh Karen dan ibunya sejak ia masih bayi, sejak ia belum sempat mengenal dunia ini. Karen menikmati kemewahan, kasih sayang, dan kedudukan yang seharusnya menjadi milik Cynthia sejak lahir, sementara Cynthia hidup dalam bayang-bayang penderitaan, diperlakukan kasar, dan diabaikan di rumah yang seharusnya menjadi tempatnya pulang.
Darahnya mendidih perlahan, bukan karena keinginan untuk mencelakai siapa pun, melainkan karena rasa keadilan yang tertahan begitu lama di dadanya. Mengapa aku harus terus mengalah? batinnya bergumam penuh kepahitan. Mengapa aku harus melihat Karen bahagia dengan segala yang ia curi dariku, sementara aku diam saja membiarkan semuanya berlalu? Sebuah tekad mulai tumbuh di hatinya yang paling dalam — ia tidak akan membiarkan ketidakadilan ini berlanjut lebih lama. Ia akan membuat Karen merasakan apa rasanya kehilangan hal yang paling berharga di dunia ini, persis seperti apa yang selama ini ia rasakan sendirian. Bukan untuk menghancurkan hidup siapa pun, melainkan untuk mengembalikan keseimbangan yang telah dirusak sejak awal.
Malam itu, di bawah sinar remang-remang lampu kamarnya, Cynthia menceritakan semuanya kepada Aloy dengan jujur dan terbuka. Ia bercerita tanpa menyembunyikan sedikit pun niat yang mulai menguat di hatinya. Ia berbicara tentang bagaimana Karen merebut YB darinya di awal hubungan mereka hanya karena ingin menang, lalu bagaimana posisinya sebagai anak kandung Keluarga Hutapea pun diambil secara diam-diam sejak ia masih berada di ruang inkubator rumah sakit. Semua rasa sakit, kecewa, dan kepahitan yang menumpuk selama bertahun-tahun akhirnya tercurah dalam kata-kata yang tenang namun penuh luka yang masih menganga.
"Aku tahu ini mungkin terdengar keliru dan salah," ucap Cynthia dengan suara pelan namun tegas, matanya menatap lurus ke arah pria yang paling ia percayai di dunia ini. "Tapi aku ingin membuat Karen merasakan apa yang kurasakan selama ini. Aku akan mendekati YB, membuatnya kembali jatuh cinta padaku, dan ketika perasaan itu sudah cukup kuat, Karen akan melihat sendiri — ia akan kehilangan pria yang ia banggakan, persis seperti aku kehilangannya dulu. Bukan untuk kembali bersama YB... melainkan untuk memberi pelajaran bahwa tidak semua hal yang dicuri akan tetap terjaga selamanya."
Cynthia sempat menahan napas, takut reaksi Aloy akan berubah, takut pria yang dicintainya itu menganggapnya masih menyimpan perasaan kepada YB. Namun apa yang terjadi justru sebaliknya. Aloy menatapnya dengan pandangan yang begitu lembut dan penuh pengertian, lalu mengusap lembut puncak kepala wanita itu dengan senyum yang tak pernah berubah sedikit pun.
"Aku tahu hatimu, Cynthia," ucap Aloy tulus, suaranya begitu tenang dan menenangkan. "Aku percaya padamu sepenuhnya. Kau bukan orang yang akan kembali kepada masa lalu hanya karena kesepian. Kau melakukan ini karena selama ini kau tak pernah diperlakukan adil. Jika ini cara yang kau pilih untuk berdiri tegak dan membela dirimu, aku mendukungmu. Aku tidak akan cemburu, karena aku tahu kepada siapa hatimu berpulang."
Kata-kata itu menjadi kekuatan yang tak terduga bagi Cynthia. Ia memeluk Aloy erat, merasa bersyukur sekaligus terharu bahwa di dunia yang penuh kepalsuan ini, ada satu orang yang benar-benar memahaminya tanpa menghakimi. Dengan dukungan itu, tekadnya pun semakin bulat — ia akan melangkah sesuai rencananya, tetap menjaga hatinya milik Aloy sepenuhnya, sementara di luar sana ia akan menampilkan sisi lain yang selama ini disembunyikan: kecerdikan yang tenang untuk mengembalikan keseimbangan yang telah dirusak.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan kesibukan yang menyakitkan sekaligus menjadi awal dari rencananya. Sebagai bagian dari tugas pekerjaannya, Cynthia ditunjuk langsung mengurus seluruh persiapan pernikahan YB dan Karen — dari pemilihan gaun pengantin, pemesanan undangan, penyusunan susunan acara, hingga pengaturan tempat dan makanan. Setiap pertemuan yang seharusnya membahagiakan bagi calon pengantin justru menjadi momen di mana YB selalu mencari alasan untuk berada dekat dengannya. Di balik punggung Karen yang sibuk memeriksa kain atau berbicara dengan penata rias, YB menatap Cynthia lekat-lekat, matanya menyiratkan rindu yang tak pernah benar-benar hilang sejak mereka berpisah.
"Kau terlihat cantik sekali hari ini," bisik YB pelan di sela-sela pertemuan, saat Karen sedang membelakangi mereka berdua. "Persis seperti dulu, saat kita masih bersama." Cynthia hanya tersenyum tipis — bukan senyum yang tulus, melainkan senyum yang direncanakan dengan tenang dan cermat. Ia membiarkan tatapan mereka bertemu sedikit lebih lama dari yang seharusnya, membiarkan suaranya terdengar lembut saat menjawab pertanyaan-pertanyaannya. Dan perlahan namun pasti, benih perasaan itu kembali tumbuh di hati YB. Ia mulai mencari alasan untuk datang ke tempat kerja Cynthia lebih awal, pulang lebih lambat dari yang dijadwalkan, atau sekadar lewat untuk "memastikan semuanya berjalan lancar".
Suatu sore, saat mereka sendirian di ruangan tempat menyusun susunan acara pernikahan, jarak di antara mereka menyempit tanpa disadari oleh siapa pun. YB menatapnya dalam-dalam, lalu berucap lirih dengan suara yang bergetar: "Aku seharusnya menikah denganmu, Cynthia. Kau tahu itu, bukan? Pilihanku atas Karen hanyalah karena gengsi dan ego yang bodoh. Hatiku tak pernah benar-benar berpindah." Cynthia diam saja, namun hatinya mencatat setiap kata — ini adalah awal dari segala sesuatu yang akan terjadi. Tangannya tak menjauh saat lengan YB menyentuhnya. Ia membiarkan momen itu terulang, semakin sering, semakin dekat, hingga apa yang dulunya terasa salah kini terasa seperti rahasia yang menyatukan mereka berdua di balik punggung Karen.
Pernikahan itu akhirnya berlangsung — megah, dihadiri banyak orang, dan terlihat sempurna di mata semua orang yang hadir. Namun kehidupan rumah tangga mereka ternyata tidak mengubah apa pun. Bahkan sebaliknya, kedekatan rahasia itu justru semakin dalam. Di setiap acara keluarga, di meja makan saat makan bersama, YB selalu mencari cara untuk menyentuhnya tanpa diketahui orang lain. Di bawah meja, di antara tumpukan piring dan percakapan orang-orang di sekitar mereka, tangan YB diam-diam mencari tangan Cynthia, menggenggamnya erat seakan tak ingin melepaskan. Cynthia membiarkannya, membalas genggaman itu sejenak sebelum menarik pelan, memastikan Karen yang duduk di sebelahnya tidak menyadari apa pun.
Setiap pertemuan berikutnya selalu menyisakan momen rahasia serupa — tatapan mata yang berbicara ribuan kata, sentuhan tangan yang berlama-lama, bisikan di tempat tersembunyi. YB semakin terikat, semakin tak bisa melepaskan diri. Ia mengira Cynthia masih mencintainya, bahwa kedekatan ini adalah kembalinya masa lalu yang indah. Ia tidak tahu bahwa setiap sentuhan, setiap senyum, setiap kata manis yang diucapkan Cynthia semuanya bagian dari rencana yang telah disusun dengan hati yang terluka namun teguh. Dan di saat-saat itulah, Cynthia mulai menyadari satu hal penting — ia membutuhkan bukti. Bukti bahwa bukan ia yang mendekati duluan, melainkan YB. Niat itu perlahan menguat di benaknya, menunggu waktu yang tepat untuk dijalankan. Di balik senyum yang ia tampilkan, di balik setiap genggaman tangan di bawah meja, Cynthia tetap mengingatkan dirinya sendiri setiap malam: Ini bukan cinta. Ini adalah keadilan. Dan setelah semuanya selesai, aku akan kembali kepada Aloy — satu-satunya orang yang tak pernah meninggalkanku.