Agung Pramono adalah seorang mahasiswa disebuah fakultas kuliner di sebuah kota Jakarta.Hidupnya berubah total setelah bertemu dengan Sarah Athala Nanda, bosnya di restoran tempatnya bekerja.Sarah seperti malaikat yang datang menolong kehidupannya. Walau beda usia tidak menyurutkan niat Sarah untuk melamar Pramono. Dengan sabar Sarah membimbing Pramono menjadi seorang Chef yang terkenal.Akankah perjalanan cinta beda usia akan berjalan lancar?Atau harus kandas di tengah jalan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Callmeyusri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Welcome To Palembang
Pesawat yang saya tumpangi sudah mendarat di Bandara Sultan Mahmud Badarudin II Palembang.
Pramugari mulai mengumumkan kepada para penumpang untuk membenahi kursi dan segala barang yang dibawa.
Aku bersiap untuk meninggalkan pesawat itu. Kubereskan semua barang-barang dan kutaruh di dalam tas ransel. Tanganku menyenggol pundak kakek yang duduk di sebelahku agar bangun karena kakek tidur dari memulai perjalanan sampai tiba di bandara Palembang.
Saya berdiri mengantri untuk keluar. Dengan perasaan was-was kalau nanti melihat Santi.
Ketika melewati bangku Santi, aku hanya meliriknya. Wanita itu masih duduk nyantai. Tak sengaja aku berdiri tepat di samping Santi. Wanita itu masih belum bersiap. Laki-laki yang duduk di sebelahnya hanya memeluknya. Ada perasaan yang tidak enak dalam hatiku mengapa dia melakukannya dan aku harus melihatnya.
Aku mencoba melihat ke arah lain untuk menghindari perasaan aneh yang bergolak aneh. Ada apa sih Pram? Lenyapkan rasa itu dan buang jauh dari dasar hatimu!
Perlahan para penumpang segera menuruni pesawat satu persatu. Para penumpang meninggalkan pesawat itu. Aku berjalan santai mencari jalan keluar setelah pengecekan surat-surat aku menunggu di troli untuk mengambil barangku. Tak terasa hanya sebentar menunggu, aku mengambil barang yang hanya satu koper dan satu tas makanan dari Sarah.
Di situlah aku kembali melihat Santi dengan suaminya. Tanpa sengaja Santi melihatku dan memberikan kode untuk menelponnya. Tangan kanannya diangkat ke arah telinga. Dasar wanita tidak tahu malu. Apa kau pikir aku akan menghubungimu?
Kutahan langkahku agar terhindar dengan Santi dan suaminya. Sepasang suami istri itu perlahan pergi dengan menggunakan taksi bandara.
Setelah mereka lenyap dari pandangan mata, aku segera menuju ke halaman parkir untuk mendapatkan taksi.
Sebuah taksi berhenti di depanku. Pengemudinya sudah setengah tua, dengan rambut yang dipenuhi uban. Dia sangat sopan. Dengan tergopoh- gopoh sopir taksi itu membantu membukakan pintu dan membawakan barang-barang ke dalam taksi. Senyuman khasnya menandakan dia adalah seorang pribumi yang ramah.
"Selamat malam, Mas!" sapa supir taksi itu.
"Selamat malam juga, Pak," jawabku ramah.
"Mau diantar ke mana, ya?" "Tolong antar saya ke hotel Kartika!" pintaku kepada pak supir.
"Oh iya baik, Mas," jawab pak supir.
"Tolong pakai sabuk pengamannya, Mas!" perintah pak supir.
Dia menoleh ke bangku belakang, tempat aku duduk. Segera kupakai sabuk pengaman agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
Karena hari sudah malam, aku menginap di hotel terdekat dengan bandara. Jarak hotel dengan bandara hanya memerlukan waktu 15 menit.
Pak supir tanpa banyak bicara langsung mengendarai mobilnya menuju hotel yang kumaksut.
Welcome Palembang...
Baru pertama kali ini aku menginjakkan kakiku di kota yang terkenal dengan makanan empek- empek. Kota ini juga terkenal dengan kain songketnya yang indah. Juga wanitanya yang cantik-cantik. Pantas saja Sarah berpesan kepadaku untuk tidak jelalatan.
Tidak terasa taksi itu sudah sampai di halaman hotel. Pak sopir kemudian membantu mengeluarkan barang- barangku. Aku memberikan uang sesuai yang tertera di tarif Argo taksi.
"Terima kasih banyak ya, Mas," ucap sopir taksi.
Dia memberikan beberapa lembar kembalian kepadaku. Dengan halus aku menolak uang kembalian dari Pak sopir.
"Tidak usah,Pak. Ambil aja buat bapak," kataku.
"Aduh, terima kasih banyak ya, Mas," kata pak supir dengan mata terharu.
Aku tersenyum dengan membawa koper dan barangku keluar dari taksi. Kemudian aku menuju ke lobi hotel untuk check in. Segera kau sodorkan tanda pengenal ku dan nomor registrasi melalui ponsel.
Sebuah kartu dan kunci kamar diberikan resepsionis kepadaku. Aku melangkah menuju kamar sesuai dengan nomer yang tertera di kunci. Sampai di kamar kurebahkan badan sejenak di kasur.
Ingin secepatnya mandi untuk menghilangkan keringat dan bau asam di tubuh ini. Sebelum pergi ke kamar mandi tiba-tiba ponsel berbunyi.
Deat... deat....
Pasti Sarah yang menelpon. Siapa lagi? Hanya dia yang usil yang mengganggu hidupku. Mulut ini tersenyum bahagia. Rasanya seperti ini bila diperhatikan dengan wanita.
"Dih, yang nggak percaya, ya?" sindirku.
Sambil membuka bajuku dan hanya menggunakan celana sehingga terlihat badanku yang kekar d dan tubuh yang atletis.
"Sayang kamu udah nyampe belum?" tanyanya di seberang sana.
"Baru nyampe, Sayang."
"Nih, kamu nggak lihat aku nggak pakai baju. Kamu pengen, ya" godaku melihat senyumnya yang merekah.
"Duh ... Sayang kok gitu sih!"
"Anak-anak lagi ngapain, Sayang?" tanyaku.
"Anak-anak sedang belajar," cakap Sarah.
"Katanya mereka kangen sama Mas
Pram.'
Sambil menatapku dengan wajah yang lucu. Nampak di layar ponsel, dia tiada henti melihatku.
"Yang kangen mamahnya apa anaknya!" godaku.
"Iya dua-duanya," jawabnya manja.
"Kamu menginap sendiri, kan?"
"Dih kamu nggak percaya, ya?" Ponsel kuperlihatkan seisi kamar.
Terdengar dia tertawa kecil sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Rambutnya yang panjang dia biarkan tergerai. Andaikan kamu di sini pasti langsung kupeluk dan kugendong.
"I believe you, Honey," ujarnya manja dengan ******* yang khas.
"Nah gitu dong. Kamu cantik deh!" pujiku.
"Aku mau dong?" rayuku ketika melihat sembulan besar menonjol di balik baju tidurnya.
"Ih maunya," katanya sambil tersenyum.
"Ya udah aku mandi dulu. Badanku udah bau asem. Nanti telepon lagi ya, Sayang," kataku.
"Ikuuut!" rajuknya manja.
"Ssssst. Gak boleh," jawabku sambil terkekeh.
" Baru ditinggal sehari saja kok."
"Ya sudah. Aku juga masih ada berkas yang harus selesai besuk. Muuaaah."
Sarah mematikan ponselnya. Segera aku bergegas ke kamar mandi.
Malam ini, aku menginap di hotel terdekat dengan bandara. Karena hari sudah malam. Besuk setelah sarapan aku akan melanjutkan ke tempat magang. Sebuah restoran asing yang berada di dekat sungai Musi.
Aku benar-benar hidup seperti di negeri dongeng. Secara mendadak telah menjadi pangeran yang mendapatkan segala kemewahan.
Badan terasa segar setelah air hangat mengguyur badanku. Segera kutunaikan solat yang tertinggal. Ucapan syukur berkali-kali atas segala nikmat yang diberikan Tuhan.
Perlahan kurebahkan badan di atas ranjang hotel. Membayangkan wajah dan tubuh Sarah yang wangi dalam pelukku. Seandainya bisa bulan madu di sini. Jalan berdua menyusuri jalan- jalan di sepanjang sungai Musi. Bergandengan tangan. Menikmati makanan khas kota Palembang.
Duuh ... romantis sekali.
Perutku mulai memanggil untuk minta diisi. Aku memesan makanan yang untuk makan malam. Apa ya? Semua menu sudah tertera di buku paduan. Ketelusuri satu persatu. Akhirnya menemukan makanan yang sesuai lidahku. Yang penting pedas.
Tiba-tiba bayangan Santi kembali berkelebat dalam benakku. Wanita itu tertawa dengan manis. Menggelendot manja di pundak suaminya. Aku pernah merasakan yang sama. Bahkan dulu hampir saja aku ingin menikmati seluruh tubuhnya. Tapi aku tersadar.
Wajah itu sekarang tambah cantik dan bercahaya. Ditambah dengan balutan baju mahal dan perhiasan mahal. Terlihat Santi seperti nyonya besar.
Senyumnya yang khas kembali mengganggu ingatanku. Kuusap wajahku.
Aduuh ... jangan sampai bayangan wanita itu kembali menggangguku. Aku sudah lama berusaha melupakan wanita itu.
Tok ... tok.
Suara ketukan pintu membuyarkan lamunanku. Segera kuhampiri pintu dan membukanya. Seorang pelayan hotel membawa makanan yang kupesan.
Sebelum makan kuambil foto dan mengirimkan ke Sarah. Tanggapannya penuh dengan emoji love.
Segera kunikmati makanan itu dengan lahap. Rasanya kalau belum makan, aku tidak bisa tidur. Mie kuah dengan bakso ikan yang super pedas. Mulutku hanya mendesis.
Tok ... tok...
Kembali ketukan membuat aku terperanjat. Siapa lagi sih? Aku tidak merasa memesan sesuatu. 1 Mungkinkah Santi?
Hah... mengapa pikiranku menjadi kacau.
saling support yuk, mampir juga di karya ku " Akhir Penantian Elina " 🙏