Siapa sangka aku akan jatuh cinta pada seorang berandal mesum yang jelas-jelas telah merenggut masa depanku dan kesucianku? Jatuh cinta pada lelaki misterius yang telah membuatku mabuk kepayang.
Aroma gelapnya membuatku merasa penasaran namun siapa sangka jika dibalik sifatnya yang agak berantakan itu ada seorang lelaki yang butuh perhatian?
Seorang lelaki yang tak mengenal cinta dalam hidupnya dan bagaimana bisa aku mencintainya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widiamnd, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gara-Gara Kurir
Sepulangnya Iko dan Mike, kini hanya Widia dan Arthur yang duduk di living room menikmati film ditelevisi. Mereka menonton film amerika, Twilligh. Film yang terkenal dikalangan anak muda.
Walau hanya Widia yang menikmati film itu sementara Arthur hanya memainkan ponselnya. Dia bosan menonton film serigala dan vampire itu, tidak seru sama sekali.
"Ar," panggil Widia dengan cicitan.
Arthut langsung menatap Widia dengan sebelah alis terangkat. "Apa?" Sahutnya.
Widia duduk lebih dekat dengan Arthur, dia memasang wajah sok imutnya pada Arthur. "Gue laper," rengek Widia sambil memegangi perutnya yang memang dalam keadaan lapar total.
"Lo laper?" Tanya Arthur dan Widia menganggukinya dengan bibir cemberut. "Mau makan apaan?" Tanya Arthur lagi.
"Lo mau jalan beli makan?" Mata Widia berbinar.
Arthur berdecak. "Pesen online bodoh. Norak lo!" Cibir Arthur. "Mau makan apa cepet?" Tanya Arthur sekali lagi.
"Emm, apa ya? Kayaknya gue pengen— hamburger!" Kata Widia dengan semangat.
Arthur segera memesan apa yang diinginkan Widia diponselnya. Dia berkutik pada ponselnya. "Mau apa lagi?"
"Jus mangga! Sama ini— apa ya? Nuget, enak tuh."
Arthur terkekeh. "Banyak maunya lo." Cibir Arthur namun dia memesan makanan apa yang diinginkan istrinya lewat online dan setelah sudah memesan Arthur mematikan ponselnya dan menaruhnya diatas meja.
Dia akan bergabung menonton film bersama Widia walaupun film itu sangat membosankan. Dan dia pun meletakan kepalanya dibahu Widia, bersender dibahu Widia yang dimana membuat Widia sedikit terkejut dengan perlakuannya.
Lihatlah lelaki berandal itu. Kenapa tiba-tiba sikapnya menjadi manja dan menggemaskan begitu? Ya ampun, Widia rasanya gemas sekali.
"Lo suka sama Mike?" Tanya Arthur matanya menatap lurus layar televisi yang kini menampilkan adegan ranjang malam pertama antara Edward dan Bella.
Widia berubah gugup, melihat adegan itu siapa yang tidak gugup apalagi disebelahnya ada seorang laki-laki yang kini bersandar dibahunya?
"Emm, suka. Dia baik, asik juga orangnya. Emang kenapa?" Jawab Widia menyembunyikan rasa gugupnya melihat adegan ranjang itu yang masih saja ditampilkan dilayar tv.
Arthur menatap Widia, dia tahu betul gadis itu tengah gugup apalagi barusan film itu menampilkan adengan ranjang yang panas. Tanpa sadar Arthur tersenyum melihat tingkah gadis itu sekarang. "Lo imut." Ungkap Arthur.
Eh?
Widia menoleh, seketika tatapan mereka bertemu. Dengan debaran jantung yang tidak bisa Widia kontrol, Widia mulai menelan ludahnya tanpa sadar menyadari betapa dekatnya mereka saat ini.
"Tapi boong." Arthur tertawa dan itu membuat Widia jadi kesal.
Seharusnya Widia tahu kalau dia tidak akan bisa tulus memuji orang, yang ia bisa mengejek mereka bukan memuji mereka. Itulah Arthur sesungguhnya.
"Lo mau coba kayak di adegan itu? Dimana kita berdua menyatu dengan panasnya diatas ranjang, saling menyalurkan rasa kenikmatan yang ada juga saling memanggil nama dengan indahnya. Lo mau coba?" Arthur berceloteh tentang ranjang.
Wajah Widia memerah. Kenapa bisa lelaki itu mengatakan itu segampang itu? Apa dia tidak tahu kalau Widia saat ini tengah gugup setengah mati apalagi saat melihat adegan ranjang tadi. Dan kenapa dia mengatakan hal yang begitu tak senonoh ya ampun!
"Ya kita emang pernah ngelakuinnya sih, tapi gue ngerasa gak adil karna lo gak manggil nama gue. Lo gak menikmati itu, malah nangis-nangis gak jelas padahal rasanya enak kan?" Terlalu tak senonoh! Rasanya Widia ingin memukul wajah Arthur sekarang juga yang mengatakan kata-kata itu dengan wajah yang tidak berdosa.
"Ar, berhenti ngomong hal yang gak senonoh. Lo itu bener-bener sampah ya?" Widia berkata dengan nada ketus.
"Kenapa? Lo suka kan?"
"Gak! Berhenti ngomong hal yang gak berguna. Percuma aja lo provokasi gue, gak ngaruh sama gue. Lo pikir gue sama kayak cewek-cewek yang pernah lo tidurin?"
"Lo cuma belom ngerasain lebih jelas aja. Pas ngerasain juga lo bakal ketagihan. Mau coba sekarang?"
"Gak! Gak akan pernah! Udah lah gak usah ngomong hal ambigu begitu. Otak lo emang dipenuhi dengan hal-hal mesum ya?"
Arthur tertawa kecil. Dia memposisikan kepalanya lebih nyaman di bahu Widia, dia kembali menonton film membosankan itu.
"Kalo kata lo gantengan Jacob atau Edward?" Tanya Widia pada Arthur.
"Gantengan gue lah, gila."
Widia berdecak sebal dengan kepercayaan diri Arthur itu. "Lo gak ada dipilihannya. Pilihannya gantengan Jacob atau Edward?" Tanya Widia sekali.
"Mana gue tau. Gue bukan gay!"
"Lo kayaknya gak bisa sekali aja gak usah marah-marah. Udah mesum, tukang marah-marah. Lo itu emang nyebelin ya?"
"Ckk, berisik lo. Ya menurut lo aja gantengan siapa. Ya kalo menurut gue, gantengan gue lah kemana-mana."
"Menurut gue.... Jacob. Jacob ganteng, dia tipe gue."
"Gue juga mirip Jacob kalo dipikir-pikir."
"Idih najis!" Widia mencibir dengan sebelah sudut bibir terangkat.
Membosankan itulah satu kata untuk film itu. Tidak ada yang seru dari film itu, sangat membosankan bagi Arthur.
"Wid," panggil Arthur dan Widia hanya berdeham, dia fokus menonton film membosankan itu dan itu membuat Arthur berdecak.
Tangan Arthur menarik kepala Widia agar menoleh ke arahnya dan Widia menatapnya dengan wajah kesal. "Apaan sih lo?" Widia berdecak dengan kesal.
"Buka mulut lo." Suruh Arthur membuat Widia tidak mengerti.
"Hah?"
"Buka mulut lo, bodoh!" Arthur memaksa.
Widia pun dengan malas membuka mulutnya sendiri dan begitu ruang itu tersedia untuknya, Arthur mendekatkan bibirnya ke bibir Widia yang terbuka. Dia menjulurkan lidahnya ke bibir Widia dan saat sedikit lagi dia bisa mencium Widia suara bel berbunyi dengan keras.
****! Umpat Arthur dalam hati. Sebentar lagi saja dia bisa mencium Widia dan sialnya suara bel itu mengganggunya.
"Kayaknya udah dateng tuh. Gue ambil dulu ya." Widia langsung bangun begitu saja sehingga kepala Arthur langsung terjatuh disofa karnanya.
Tak lama kemudian Widia kembali dengan membawa makanan yang ia pesan ditangannya. Dia tersenyum lebar pada Arthur, gadis itu sangat senang akhirnya makanan datang juga.
Sedangkan Arthur, moodnya hancur begitu saja gara-gara kurir sialan yang menghantar makanan itu. Gara-gara dia, Arthur gagal mencium Widia padahal tadi ada kesempatan karna Widia lengah. Benar-benar menyebalkan.
"Ar mau tau gak?" Kata Widia setelah dia duduk kembali di sebelah Arthur.
"Apa?" Jawab Arthur dengan malas.
Widia cekikikan sendiri. "Abang kurirnya ganteng!" Hebohnya.
Hhh benar-benar. Apakah Widia tidak sadar jika lelaki yang paling tampan adalah lelaki di dekatnya ini? Ya ampun, gadis itu benar-benar sangat menyebalkan hari ini.
Saking kesalnya, Arthur pun terbangun dari sofa. Dia langsung beranjak pergi meninggalkan Widia sendirian di living room dan berjalan masuk ke dalam kamarnya.
"Lo gak makan?" Teriak Widia tapi Arthur tidak menyahut.
Widia mengangkat kedua bahunya tidak peduli. Lelaki itu seperti tengah mengalami menstruasi saja, hari ini dia banyak marah-marah dan Widia tidak tahu alasannya.
Tak sabar lagi Widia pun langsung melahap hamburger yang dibelikan Arthur. "Enak!" Katanya norak karna baru pertama kali merasakan hamburger.
di tunggu up nya
ditunggu secepatnya thor
biar nggak ngantung