Menikah dengan pria bertangan satu?! Its big NO! Kana tidak akan mau melakukannya. Sebagai putri satu-satunya Aris Daniswara yang merupakan salah satu orang terkaya di Kota J, Kana merasa dirinya pantas mendapatkan yang lebih baik. Minimal harus kaya, tampan, dan tidak cacat fisik.
Meskipun sepuluh tahun lalu Kana pernah bersumpah hanya akan menikah dengan Ray, tapi waktu itu Ray masih punya dua tangan dan sangat tampan. Sekarang keadaannya berbeda, Ray bukanlah pria impian Kana lagi.
Tidak mau menikah dengan Ray yang dianggapnya tidak layak, Kana memutuskan kabur dengan Denish, salah satu pengagumnya.
Namun, usahanya sia-sia, sebab pada akhirnya ia tetap berakhir di pelaminan bersama Ray.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ann Soe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 23
“Hanii,” panggilan Ray membuat Kana mengalihkan mata dari layar ponsel. “Ya?” tanya Kana bingung. Sejak tadi ia memang sibuk bermain game sehingga tidak memerhatikan Ray. Meskipun ingin membantu, tapi Kana sadar diri bahwa bantuannya tidak diperlukan sehingga lebih memilih menyamankan diri di sofa dan bermain game di ponsel.
“Maaf, sepertinya kita tidak sempat pergi ke butik Mama,” ujar Ray. “Ada hal penting yang harus kutangani.”
Kana yang memang sudah mengikhlaskan rencananya pergi ke butik Mama Anjani hanya mengangguk. Lagi pula, ajakannya pergi tadi pagi niat utamanya adalah mengusir aura muram pada Ray. Ternyata bukan hanya mengusir kemuraman Ray, malah membuat pria itu terlalu bersemangat dengan pekerjaan.
Entah Ray memang banyak pekerjaan atau sengaja ingin menunjukkan pada Kana bahwa dugaan Kana tentang suaminya yang pengangguran tidaklah benar. Namun, menurut Kana kemungkinan pertama lah yang benar. Sebab setiap kali melihat kea rah Kana, Ray terlihat merasa bersalah.
“Aku harus menghadiri rapat mendadak dan mungkin akan lama,” Ray menambahkan.
“Tidak masalah, pergilah. Lain kali saja kita ke butik Mama Anjani,” ujar Kana, “Besok masih sempat.”
“Thanks, Haniii, dan maaf karena membuatmu harus menungguiku seharian,” kata Ray sementara Nala menunggu di ambang pintu dengan tidak sabar.
“Sudah, sudah, pergilah. Aku baik-baik saja di sini,” Kana berdiri dan mendorong Ray ke arah pintu. Saat sampai di sebelah Nala, Kana bertanya, “Apa kalian perlu sesuatu? Kopi mungkin?”
Nala menggeleng. “Terima kasih, tapi tidak perlu repot, akan ada yang mengurusnya.”
Kana mengangguk mengerti.
“Kalau kau ingin pulang, tinggal panggil Pak Amrul, tidak perlu menungguku. Kabari saja, nanti aku bisa pulang dengan Nala,” kata Ray.
Kana menggeleng. “Aku akan menunggumu.”
Tiba-tiba Ray bergerak mengecup kening Kana, lalu berkata, “Terima kasih.”
Kana yang masih terkejut tidak bisa menjawab, bahkan ia baru tersadar setelah Ray dan Nala menjauh.
“Ish, dasar.”
Namun, Kana tersenyum kemudian masuk kembali ke dalam ruangan Ray.
Kana memutuskan sembari menunggu Ray, ia akan menonton film atau drama, dan kegiatan itu tidak akan lengkap tanpa camilan. Ia bergerak ke lemari pendingin yang ada di ruangan Ray, mengambil sebotol air mineral. Lalu beranjak ke kabinet yang menempel di dinding ruangan dan mengambil beberapa snack serta biskuit.
Kana membuka aplikasi nonton film dan drama berbayar di ponselnya. Memilih satu drama terbaru dari negeri tirai bambu untuk menemaninya. Drama itu bergenre komedi romantis, karena Kana ingin menonton sesuatu yang ringan untuk menghabiskan waktu. Lagi pula, Kana tidak tahan dengan drama yang membuatnya terlalu banyak berpikir. Menurutnya drama seperti itu membosankan.
Episode pertama dimulai, Kana membuka bungkus keripik kentang dan mulai makan. Baru setengah episode berjalan, keripik di tangan Kana habis dan ia mengambil bungkusan snack kedua.
Setelah episode pertama selesai dalam waktu 45 menit, Kana mengubah posisi menjadi tiduran di sofa panjang. Ia menyamankan diri sembari menyantap biskuit cokelat. Episode kedua belum selesai, mata Kana mulai mengantuk. Perlahan, matanya mulai terpejam dan Kana terbang terbawa mimpi, sementara ponselnya terus memainkan drama hingga beberapa episode usai.
“Hanii, bangunlah.” Sayup-sayup Kana mendengar suara Ray memanggil, ia berusaha membuka mata tapi terasa sangat berat. Tidurnya begitu nyenyak sehingga suara Ray terasa sangat mengganggu.
Namun, ketika guncangan di tubuhnya semakin kencang, Kana tidak bisa terus memejamkan mata. Dengan terpaksa ia mencoba membuka mata, mulanya cukup sulit, tapi kemudian ia memaksa dirinya sehingga bisa melihat Ray yang menunduk ke arahnya.
“Maaf, membangunkanmu.”
Kana tidak menjawab, tapi ia berusaha mengubah posisi ke duduk. “Jam berapa?” tanyanya dengan suara serak.
“Jam delapan.”
Mata Kana langsung terbuka sempurna. Jam delapan? Berapa lama ia tidur? Seingat Kana, saat Ray meninggalkannya baru pukul 4 sore.
“Maaf, aku ketiduran,” ucap Kana.
“Tidak apa-apa, kau kelelahan karena menungguku,” kata Ray.
“Kita pulang?” tanya Kana.
“Iya, rapatnya sudah selesai,” jawab Ray sambil memungut sampai plastik bekas snack yang Kana makan.
Tanpa sengaja Kana melihat tampilan dirinya di dinding kaca. Memang tidak terlalu kacau, tapi tatanan rambutnya tidak serapi sebelumnya dan riasan di wajahnya memudar, belum lagi remahan snack yang tersisa di pinggi bibir.
“Aku ke kamar mandi dulu,” kata Kana seraya berdiri dan bergegas ke kamar mandi.
Kana baru kembali sekitar lima belas menit kemudian. Saat ia masuk ke kantor Ray, dilihatnya Ray duduk di sofa yang ia tinggalkan sebelumnya, mata pria itu fokus pada layar ponsel milik Kana.
“Apa yang kau lihat?” tanya Kana sambil mendekati Ray.
“Drama yang kau tonton bagus juga,” jawab Ray.
Kening Kana berkerut bingung. “Kau suka nonton dracin?” tanyanya untuk memastikan, karena biasanya kaum adam tidak menyukai drama, terutama drama percintaan.
“Tidak juga, tadi kebetulan ponselmu belum dimatikan dan aku gabut, jadi kutonton saja. Ternyata tidak buruk juga. Aku suka peran utama wanitanya,” jawab Ray.
“Karena cantik?”
“Itu salah satu alasan yang harus kuakui,” jawab Ray dan jawaban itu membuat Kana sedikit cemburu. Rupanya, Ray juga tidak bisa menampik pesona aktris cantik.
“Namun, yang lebih kusukai adalah kegigihannya dalam mencintai. Dia bisa bertahan menyukai si pemeran utama pria bertahun-tahun, bahkan setelah patah hati pun tetap jatuh cinta pada orang yang sama.”
“Bukannya itu bodoh?” ujar Kana.
“Kenapa kau berkata begitu, Hanii?”
“Karena dia lagi-lagi jatuh cinta pada orang yang sama padahal sudah dibuat patah hati dan waktu berlalu bertahun-tahun,” sahut Kana.
“Jadi, kau tidak akan bisa menyukai orang yang sama lagi?”
Pertanyaan Ray membuat Kana terdiam. Pertanyaan itu terdengar seperti, “Jadi, kau tidak akan bisa menyukaiku lagi?”
Kana takut memberikan jawaban yang salah. Ia ingin mengatakan bahwa ia tidak mungkin menyukai Ray lagi, tapi pada kenyataannya jantungnya selalu dibuat berdebar lebih kencang oleh Ray. Bukan hanya itu, Kana juga lebih memerhatikan Ray dibandingkan hari-hari sebelumnya. Juga tentang cemburu yang tiba-tiba muncul. Jika ia tidak menyukai Ray, bukankah itu sebuah kebohongan.
Namun, apabila ia berkata bahwa dirinya menyukai Ray. Rasanya hal itu juga belum bisa dikatakan. Sebab Kana masih meragukan perasaannya dan masih terlalu dini untuk mengatakan apa yang dirasakannya adalah perasaan suka.
“Beda konteks.” Akhirnya, Kana memberikan jawaban. “Aku kan mengomentari si pemeran wanita. Menurutku, dia bodoh karena tetap mencintai laki-laki yang menyakitinya, bahkan sudah ditinggalkan bertahun-tahun. Harusnya, bisa move on dan cari pengganti.”
“Mungkin dia terlalu cinta,” Ray menanggapi.
Kana mengedikkan bahu. “Apa saja yang berlebihan tidak baik, termasuk cinta.”
“Jadi, menurutmu terlalu cinta tidak baik?”
“Iya,” jawab Kana.
“Jadi, kau tidak akan terlalu cinta kepadaku?”
Kana kembali terdiam ditodong dengan pertanyaan langsung itu. Namun, setelah berpikir beberapa saat, ia menjawab, “Iya, aku tidak mau terlalu mencintai. Kalaupun mencintai, aku ingin sewajarnya saja. Ibaratnya sebuah gelas, aku tidak ingin diisi penuh, karena jika sudah penuh tidak akan bisa diisi lagi.
Airnya akan tumpah dan jadi mubazir. Lebih baik tidak penuh, tapi bisa diisi kembali setiap waktu. Jadi, kadar cintaku akan terus bertambah dan tidak akan berlebihan.”
Lama Ray tidak merespon. Kana pikir suaminya itu akan menyanggah atau membawa obrolan mereka ke perdebatan.
Namun, Ray justru berkata, “Bisa diterima. Kurasa, aku pun akan mulai seperti itu. Jadi, cintaku padamu tidak akan berlebihan, tapi selalu bertambah dan pas porsinya.”
Kana terdiam. Benar-benar tidak menyangka Ray akan mengubah percakapan mereka menjadi sebuah pernyataan cinta. Memang terdengar santai, tapi Kana bisa merasakan ketulusan dalam perkataan Ray.
Dicintai tanpa berlebihan dengan porsi yang pas, Kana selalu menginginkan hal itu.