Karena kenakalan remaja yang sudah di ambang batas wajar, sepasang suami istri memutusakan untuk mengirim anak bungsunya ke sebuah pesantren di pedesaan.
Namun, hal ini menjadi awal konflik batin terbesar untuk seorang gadis bernama Azizah. Gadis berusia 18 tahun yang masih duduk di kelas 12 itu menolak untuk dipindahkan apalagi saat kakeknya (pemilik pesantren) menyarankan Azizah untuk dinikahkan dengan seorang ustadz kebanggaan kakek Azizah dengan alasan untuk kebaikan Azizah.
Pemberontakan terjadi, awal pernikahan yang rumit membuat Azizah bersikeras untuk mendapatkan talak dari suaminya. Sejak awal, Azizah menerima perjodohan itu hanya untuk mengamankan posisinya saja. Karena, ia berpikir, pernikahan itu tidak penting, setelah dia menikah, dia bertekad untuk membuat suaminya jengkel dan akhirnya berujung perceraian. Begitulah rencana Azizah.
Satu hal yang Azizah tidak tahu, laki-laki yang menikahinya ternyata adalah ustadz dengan julukan kesabaran seluas samudra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. Akhirnya Terungkap
Salma dan juga suaminya memutuskan untuk melakukan penyelidikan terlebih dahulu, tanpa bukti kongkrit, mereka tidak akan bisa membuat surat penangkapan. Jadi sekarang hanya bisa mengumpulkan bukti-bukti terlebih saja.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumssalam," sahut orang yang ada di dalam rumah. Ia membukakan pintu, akan tetapi, ia langsung dibuat bingung karena tidak mengenal pria di depannya.
"Pak Mantri!" panggil Salma. "Ini suaminya Salma. Kami memiliki keperluan. Bolehkah kami berbicara sebentar?"
Pak Mantri itu langsung mempersilahkan Salma dan suaminya tanpa basa-basi. Mereka cukup lama berbicara, apa yang Azizah sampaikan juga telah dibicarakan. Dari awal sampai akhir, kecurigaan mereka. Hingga, pada akhirnya mantri itu menunduk dengan helaan napas berat.
"Sebenarnya ... saya sempat melihat obat tidur di rumahnya teh Bilqis. Apa mungkin karena itu?" tanya Pak Mantri serius.
Salma dan Aliburu saling menatap, mereka berdua tersenyum, dan pada akhirnya tujuan mereka saat ini adalah saksi selanjutnya, yaitu orang yang telah memberikan kabar kepada Kiyai dan orang-orang di pesantren.
Shakia, perempuan itu tertunduk saat Salma mengatakan jika suaminya adalah orang dari kepolisian, dengan kepolosannya, sangat mungkin jika Shakia memang dipengaruhi oleh seseorang intuk melakukan itu.
“Saya hanya diminta untuk melakukan itu oleh Teh Bilqis, saya tidak tahu kalau akhirnya akan menjadi seperti ini.”
Salma menggelengkan kepala, dia tidak mengerti kenapa masih ada anak remaja dewasa yang mudah dipengaruhi seperti ini, pendirian, independent, sepertinya tidak banyak orang yang memiliki hal tersebut.
“Lalu, apa kamu tahu, bagaimana cara mereka membuat adik saya tidur, pak mantri udah bilang kalau beliau melihat obat tidur di rumahnya teh Bilqis. Apa kamu tahu tentang ini?”
Shakia menggelengkan kepalanya, dia tidak tahu detail kejadiannya akan dilakukan dengan cara seperti apa, hanya diminta untuk mengabarkan tentang keberadaan ustadz Farhan saja setelah tiga sampai empat puluh menit. "Saya tidak tahu, Teh ... saya hanya melakukan sesuai instruksi saja. Saya tidak tahu rencana detailnya seperti apa."
“Baiklah, saya akan membuat surat penangkapan. Kita sudah memiliki tiga saksi, tidak akan sulit melakukan ini, hanya perlu menggeledah rumah teh Bilqis bukan?”
** ** **
Dengan napas memburu, Azizah ikut kesal saat beberapa orang menjelaskan tentang kejadian sbenarnya di acara pernikahan tersebut. Matanya memanas , kedua tangannya terkepal saat dengan tidak tahu malunya teh BIlqis malah berlari dan bersimpuh di bawah kaki KIyai Juhairu. Entah tangisannya benar atau tidak tapi semuanya sudah terlambat bukan. Andai ini tidak terbongkar, perempuan itu pasti akan menjadi korban yang melihatnya terpaksa merebut suami orang padahal dia memang merencanakan semuanya.
“Jadi seperti ini ya, wuahhh … gila sih, aku rasa yang mencuri cincinnya juga bukan Azizah, melainkan dia sendiri.”
“Ampuni saya Kiyai, ampuni kesalahan saya, maafkan keserakahan saya. Saya khilaf, saya benar-benar menyesal, saya minta maaf.”
Kiyai Juhairu diam, pria tua itu mengusap puncak kepala Bilqis penuh kelembutan meskipun matanya menunjukkan ekspresi kekecewaan luar biasa. “Saya ingin marah, Teh. Saya sudah menganggap Teh Bilqis seperti anak saya sendiri, tapi saya benar-benar tidak menyangka kalau teh Bilqis bisa melakukan hal seburuk ini. Azizah adalah cucu saya, Ustadz Farhan juga merupakan orang yang sangat baik, kenapa kamu hancurkan nama baiknya dengan cara yang hina seperti ini.”
Bahu Teh Bilqis kian bergetar, perempuan itu benar-benar sangat menyesali perbuatannya, dia hanya terlalu mencintai laki-laki itu, Bilqis tidak ingin semuanya menjadi seperti ini. Dia hanya ingin memperjuangkan cintanya, mengambil haknya dan dia memang tidak rela jika Azizah yang menjadi istri laki-laki yang dia cintai.
“Saya akan maafkan, tapi sebagai balasannya, terima hukuman kamu, Teh.”
Teh Bilqis tidak meronta ketika dua orang dari pihak kepolisian menarik lengannya, menyeretnya dari tempat itu karena dia sangat menyadari jika apa yang sudah dia lakukan adalah kesalahan besar.
“Teteh!" Hanifah berlari mengejar orang-orang itu. "Jangan bawa kakak saya. Pak, tolong lepaskan kakak saya, saya mohon jangan bawa kakak saya ke kantor polisi, Tehhhhh! Bilqis.”
Hanifah berusaha untuk mengejar Bilqis, ia ingin merebut kakaknya dari tangan para polisi itu akan tetapi tidak bisa. Karena beberapa pengurus pesantren menahan Hanifah meskipun perempuan itu terus meronta.
“Maafkan teteh, Sayang. Teteh salah, maaf karena sudah membuat kamu malu.”
Kejadian itu membuat beberapa orang menitikan air mata, yang dilakukan teh Bilqis memang salah, tapi karena statusnya sebagai yatim pitu, juga masih emiliki seorang adik, mereka merasa sangat kasihan. Kebaya pernikahannya bukan digunakan untuk pernikah tapi malah menggiringnya ke penjara.
Azizah menatap pria di depannya dengan mata berkaca-kaca. Perlahan air matanya luruh membasahi pipi. Dadanya sesak, hatinya hancur. Jika dia dan yang lainnya terlambat, apakah suaminya akan menikah dengan perempuan lain.
"Sayang ...!"
Ustadz Farhan berjalan cepat, memeluk istri kecilnya, membawa Azizah ke dalam dekapan. Perempuan itu malah menangis semakin menjadi-jadi. Entah kenapa, ia merasa sangat takut ketika melihat suaminya disandingkan dengan perempuan lain.
"Ustadz jahat! Kenapa Ustadz diem aja! Udah tahu didzolimi masih saja seperti itu. Jangan jadi orang baik, Ai enggak suka."
Senyum tipis tersungging di bibir pria itu, ia mengecup puncak kepala sang istri beberapa kali.
"Mas minta maaf, Sayang. Jadi gimana? Masih mau pisah sama mas?"
Azizah langsung melepaskan pelukannya, perempuan itu menatap mata sang suami dengan tatapan tajam, orang-orang di sekitar mereka pun tak ayalnya memfokuskan atensi mereka kepada Azizah dan suaminya.
"Ada apa ini? Kenapa dengan mereka?" gumam Kiyai Juhairu kebingungan.