Apakah kau tahu bahwa ada kenyataan dimana jatuh cinta dan memiliki seseorang yang dicintai adalah sebuah kejahatan?
Jika tidak ada lagi tempat yang memihak, maka izinkanlah aku dalam kisan ini menyebutnya dengan 'kita'.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon imagenius9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Racun
Setelah 48 jam berlalu, Vhy terbangun dari komanya. Pandangan kabur dan kepala pusing, matanya melihat ruangan yang terasa asing baginya. Tangannya refleks memegang perut dengan ekspresi kesakitan. Matanya tertuju pada wanita di sisi kanannya yang sedang terlelap. Ia tahu betul bahwa itu adalah istrinya, Yea.
"Yea..." panggilnya dengan suara serak, namun Yea tetap tak terbangun. Vhy mengelus kepalanya. Karena Yea terganggu, ia membuka matanya dan melihat bahwa Vhy telah sadar.
"Kak... Kak Vhy," mata Yea berkaca-kaca dan berlinang air mata.
Ia berdiri mendekati Vhy, "Kamu sudah sadar? Apa yang sakit? Ha?" Yea merasa gemetar melihat suaminya akhirnya terbangun.
Tanpa berpikir panjang, tangannya refleks menekan tombol untuk memanggil perawat ke kamar VIP rumah sakit itu.
"Yea..."
"Maafkan aku karena tidak mendengarkanmu," Vhy teringat minuman yang telah diminumnya.
"Sudahlah, jangan menyalahkan dirimu. Fokus saja pada pemulihan mu. Aku di sini akan menjagamu," kata Yea dengan penuh perhatian.
Perawat segera datang untuk memeriksa sebentar, lalu memanggil dokter jaga malam itu. Dokter utama yang merawat Vhy dijadwalkan akan tiba besok pagi pukul 08.00.
/
“Semoga dia segera pulih,” Vhy khawatir dengan kondisi Xolar yang belum juga sadar. Kecemasannya terpancar jelas dari wajahnya.
Yea menatap Vhy dengan sedikit kekecewaan dalam matanya. Ia merasa Vhy terlalu memperhatikan orang lain tanpa memperdulikan perasaannya. Rasa cemburu mulai menguat di dalam dirinya.
“Sudahlah, jangan khawatir. ” kata Yea sambil mengelus bahu Vhy.
Tok-tok-tok.
Kevin muncul dari balik pintu dengan beberapa bawaan di tangannya, terlihat segarnya buah-buahan. Ia terpaku sejenak saat melihat wanita yang tidak asing baginya, Yea membenahi nampan bekas makan Vhy. Kemudian, ia sadar dari tatapannya dan segera menutup kembali pintu, menghampiri mereka.
"Vhy, bagaimana keadaanmu?" Kevin bertanya.
Yea tersenyum melihat kehangatan yang tersirat dalam kehadiran Kevin bagi Vhy. "Perutku masih sedikit sakit, tapi ini lebih baik," jawab Vhy.
"Maaf, aku baru bisa datang menjenguk," kata Kevin.
"Tidak apa-apa, Vin, duduklah!" Vhy mempersilahkan Kevin duduk.
Yea bangkit dari tempat duduknya untuk mengambil kursi ringan untuk Kevin. Namun, Kevin menahan tangan Yea dengan senyum kaku. Yea hanya membalasnya dengan senyuman. Sementara itu, Vhy merasa sedikit canggung dengan situasi itu dan mengalihkan pandangannya.
Vhy yang sebelumnya berbaring, kini sedikit duduk. Mereka semua berkumpul, dan suasana hening pun tercipta. Yea memulai percakapan.
"Kak Vin, bagaimana kabarmu? Sudah hampir setahun, bukan?" tanya Yea, membuat Kevin menoleh ke arahnya. Yea tampak tahu lebih banyak tentang masa keberadaannya di Spanyol daripada dirinya sendiri.
"Aku baik-baik saja. Hanya saja pekerjaanku sedikit banyak," jawab Kevin.
"Sedikit? Ataukah banyak?" goda Yea dengan canda, tersenyum kecil.
"Haha," Kevin tertawa kecil.
"Kau masih sama seperti dulu, Yea, suka bercanda," bisik Kevin dalam hati.
"Lantas, apakah kau sudah tahu kabar Xolar, Vin?" Vhy ikut bergabung dalam obrolan.
"Hmmm," Kevin mengangguk.
"Dia masih belum sadar. Bahkan belum bisa dijenguk," ekspresi Kevin berubah sedih ketika mengingat adik yang sangat ia sayangi itu terluka.
Meskipun terlihat dingin, Kevin sebenarnya adalah orang yang hangat dan penuh perhatian. Sifatnya tidak jauh berbeda dengan manajer Hanbin. Ikatan mereka tetap kuat, meskipun mereka sudah dewasa dan jarang bertemu selama waktu yang lama.
"Kak Vin," panggil Yea.
"Iya, Yea?" Kevin menjawab.
"Apa kakak tidak ingin melihat Baby Vhy?" tanya Yea dengan perasaan yang dalam.
Kevin terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Nanti kalau waktu kakak senggang, kakak akan mampir ke rumah ya," jawabnya dengan lembut.
Vhy hanya mendengarkan pembicaraan antara Yea dan Kevin tanpa berkata sepatah kata pun.
Yea membalas dengan anggukan dan senyuman yang manis. Kevin sangat menyukai pemandangan itu, seakan ada rindu yang tidak pernah berubah. Senyum terukir di bibirnya, namun ia segera tersadar dan memalingkan pandangannya.
***
Hari ke-4 tiba, dan Xolar telah dipindahkan ke kamar Naratama pasien. Hanbin menggenggam erat tangan Xolar, air matanya jatuh melihat wajah wanita itu yang pucat, seolah-olah tersiksa oleh efek racun dari minuman yang telah diminumnya. Dalam keheningan, ia merasa sangat bersalah karena merasa tidak mampu menjaga orang-orang yang dicintainya.
“Kau begitu cantik, Xol. Tapi kecantikanmu akan lebih memikat jika kau membuka mata dan tersenyum,” kata Hanbin sambil mengingat kenangan mereka bersama Vhy dan Kevin di masa lalu, ketika mereka masih muda.
“Kau gadis yang dingin, tapi ketika tertawa, susah rasanya untuk berhenti. Kau sungguh aneh, Xol,” ucapnya sambil mencoba menghibur diri sendiri.
Pintu ruangan diketuk, seorang perawat akan memeriksa kembali alat-alat medis yang terpasang pada tubuh Xolar. Tak lama setelah perawat selesai, Manajer Rii datang membawa makanan untuk Hanbin, menyadari bahwa Hanbin belum makan sepanjang hari. Rii baru bisa hadir malam itu karena ada urusan penting yang harus diselesaikan terkait kegiatan Xolar yang telah diubah jadwalnya.
“Bin, makanlah dulu. Aku beli sup ayam agar kau segar,” ucap Rii sambil meletakkan barang-barang dan menyediakan makanan di atas meja untuk Hanbin.
Hanbin merasa kurang nafsu makan, tetapi ia menghargai Rii yang telah membelikan makanan untuknya. "Terima kasih, Rii."
"Apakah kau sudah makan?" tanya Hanbin
Rii berdehem menjawab bahwa ia sudah makan, sambil berjalan menuju brankar Xolar dan mengelus kepalanya. Adik yang keras kepala ini sering kali membuatnya marah, tetapi Rii sangat menyayanginya.
“Lihatlah, kau terlihat jelek jika seperti ini, Xol. Bangunlah, banyak pekerjaanmu yang menumpuk,” ucap Rii sambil menyeka air mata yang mengalir di pipinya. Tangannya mengelus rambut panjang Xolar yang terlihat kusut karena sudah empat hari tidak disisir.
Setelah Hanbin menyelesaikan makannya, Rii mendekatinya lalu mencoba membereskan bekas makan Hanbin. Lalu Hanbin menahanya agar biar dirinya saja yang membereskannya.
“Biar aku saja. Duduklah Rii” perintah Hanbin
Dengan perasaan yang bercampur aduk pandangan Rii tidak terhenti melihat brankar Xolar. Terlihat matanya penuh kekhawatiran dan kegelisahan yang sulit diutarakan.
“Bagaimana dengan Bibinya Xolar, apa dia tidak datang kesini?” tanya Hanbin lalu mendaratkan diri duduk disamping Rii.
“Besok pagi dia akan kemari. sebenarnya aku tidak enak dengannya, karena dia harus mengawasi tokonya. Aku bingung harus menjelaskan apa padanya nanti. Apa dia akan marah padaku?”
“Tidak. Besok aku akan menemanimu bicara dengannya”
“Cihh”
“Kenapa?” tanya hanbin
“Tidak. Apa kau tidak lelah?” tanya Rii karena Hanbin paling banyak menghabiskan waktu dirumah sakit beberapa hari setelah Vhy dan Xolar masuk rumah sakit.
Hanbin hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum.
/
Paginya…
Bora, Bibi Xolar, tiba dari Busan. Dengan wajah penuh kekhawatiran, ia memasuki ruangan tempat Xolar dirawat. Manajer Hanbin dan Rii sudah siap menyambutnya.
"Astaga, Xolar. Ya Tuhan," kata-kata tercekat saat mereka melihat kondisi Xolar yang tidak mengenakkan.
"Bagaimana bisa dia keracunan?" tanya Bora dengan nafas terengah-engah, tak menyangka hal ini terjadi.
"Sebaiknya Anda duduk dulu, Bu," kata Hanbin, mengarahkan Bora untuk duduk.
Setelah mereka duduk dan berkumpul, Rii memulai percakapan di sana.
"Saya sangat minta maaf, Bu Bora. Saya merasa bersalah karena lalai menjaganya," ucap Rii penuh penyesalan.
"Tidak perlu seperti ini. Ini bukan kesalahanmu. Ini kecelakaan, Rii," kata Bora sambil mengusap tangan Rii untuk memberinya dukungan.
"Saya tidak bisa lama di Seoul. Kalian tahu kondisi saya. Saya hanya meminta tolong agar Xolar dijaga selama dia bersama kalian. Jangan lupa memberitahunya nanti ketika dia sadar bahwa bibinya tidak dapat menjenguknya dalam waktu yang lama. Dan sampaikan permohonan maaf saya padanya," lanjut Bora.
Setelah percakapan panjang, Bora pun pulang kembali ke Busan dengan perasaan sedih meninggalkan Xolar yang masih belum sadar. Ia tahu betapa Xolar sangat berarti baginya.
***