Semua tawa dan candaku hanya untuk menutupi lukaku.
Menjadi orang yang selalu tertawa ternyata bukan berarti bahagia itu lah yang di rasakan Alesa. Semua di rasakan sendiri tanpa bercerita dan dari kopi yang Alesa buat mampu menggambarkan perasaan nya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Prince young, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 23 Sakit Perut
Pagi hari Alesa sudah berada di taman untuk lari pagi baru jam enam tapi Alesa sudah berada di taman dan ada beberapa orang yang sedang olahraga juga. Setelah tiga puluh menit olahraga Alesa istirahat sebentar.
Alesa lari pagi bersama tetangga kos nya mereka duduk di bangku untuk istirahat Alesa dan Bianca jarang bertemu, karena Bianca kerja masuk shif siang dan pulang malam Bianca bekerja sebagai Asisten Chef di restoran.
"Masih pagi jadi taman sepi ya kak" Ucap Alesa.
"Hm, kamu benar." Jawab Bianca sambil minum air putih.
Mereka berdua mengobrol jarang bertemu tentu banyak yang ingin mereka bicarakan.
"Gimana kerja nya lancar lancar aja kan." Tanya Bianca.
"Alhamdulillah lancar kak, tapi akhir akhir ini sering lembur."
"Kita jarang bisa ngobrol kayak gini karena sama sama sibuk kerja, tapi mungkin sebentar lagi kakak bisa masuk shif pagi."
Mendengar Bianca bisa masuk pagi tentu Alesa senang, dulu sebelum Bianca masuk shif siang mereka berdua sering bertemu bahkan ke minimarket selalu bersama.
"Semoga aja ya kak jadi kita bisa sering ketemu gk kayak sekarang, kos kita dekat tapi jarang ketemu."
Tidak terasa mereka berdua sudah satu jam di taman, karena sebentar lagi berangkat kerja Alesa pamit ke Bianca untuk pulang ke kos sedangkan Bianca masih ingin di taman.
Sampai di kos Alesa langsung mandi dan bersiap siap untuk berangkat kerja, sebelum berangkat Alesa makan pagi terlebih dahulu tak lupa setelah makan dia minum obat untuk sakit perut nya.
Abang ojek sudah menunggu Alesa tapi abang ojek terlihat berbeda membuat Alesa bingung. "Abang mau kemana kok rapi banget?"
"Alhamdulillah mbak saya udah dapet kerjaan jadi satpam."
"Selamat ya bang, berarti abang udah gk jadi tukang ojek?"
"Masih kok mbak, saya masuk siang mbak jadi pagi masih bisa ngojek, dan saya masih bisa ngantar pesanan kok mbak akhir pekan saya libur."
Alesa tersenyum mendengar jawaban dari abang ojek akhir nya perjuangan abang ojek mencari pekerjaan membuahkan hasil. Mereka berdua berangkat di jalan abang ojek menceritakan bagaimana perjuangan dia bisa mendapat pekerjaan, bagi Alesa abang ojek sudah menjadi pendengar setia nya mereka berdua sudah menjadi teman akrab.
Sesampai nya di cafe Alesa langsung ke kamar mandi perut nya kembali sakit. "Ini kenapa sih kok sakit lagi?"
Di dalam kamar mandi Alesa menahan sakit dia tidak mungkin libur, tadi pagi dia mendapat pesan dari Pak Manajer mereka akan lembur karena cafe sudah di booking. Alesa tentu tidak ingin melewatkan kesempatan untuk bisa mendapat bonus lembur.
Karena sudah waktu nya bekerja Alesa mencuci muka terlebih dahulu, dia mencoba untuk menyemangati diri nya sendiri. "Ayok Alesa kamu pasti bisa, ingat Reska mau nginap jangan sampai dia cuma makan mie."
"Espresso tiga untuk meja nomer empat." Alesa memberikan pesanan ke pelayan.
Banyak pengunjung yang datang saat sedang sibuk membuat pesanan tiba tiba pelayan memberi kertas ke Alesa. Awal nya Alesa kira itu pesanan ternyata surat dari pengunjung cafe meminta nomer handphone Alesa.
Alesa menggelengkan kepala nya saat membaca isi surat. "Ada ada aja."
"Wah ada yang punya penggemar." Haikal meledek Alesa.
"Apa sih aku jadi malu." Alesa menutupi wajah nya dia malu saat Haikal meledek nya, pada hal Alesa memang sering mendapat surat ada yang meminta nomer handphone, mengajak berkenalan dan bahkan ada yang meminta foto.
"Lama lama bisa terbang kamu." Ucap Haikal dengan tertawa.
Malam nya setelah Sholat Maghrib Alesa melihat pengunjung yang membooking cafe mulai datang, saat akan mengambil biji kopi di belakang tiba tiba perut Alesa sakit dia bersandar di tembok sambil menahan sakit, untung nya Haikal datang.
Haikal mencari Alesa karena Alesa belum kembali ke depan. "Kamu ngapain di sini?"
"Perutku sakit." Ucap Alesa dengan menahan sakit.
"Sakit banget?kuat gk untuk lanjut kerja."
Alesa tidak menjawab dia hanya mengangguk saat kembali ke depan Haikal membantu Alesa jalan. Pengunjung cafe sudah datang semua Alesa kaget ternyata yang membooking cafe teman teman kuliah Reska.
"Ini kan teman teman kuliah adek aku."
"Terus adek kamu yang mana?"
Alesa mencari Reska sampai dia melihat perempuan duduk di pojok tersenyum ke arah nya. "Itu adek aku."
Alesa melambaikan tangan ke Reska sebelum kembali bekerja. Reska dan teman teman nya memang penasaran dengan kopi di cafe itu lah kenapa mereka mau datang ke cafe walaupun jarak kampus ke cafe jauh.
Gina memperhatikan Alesa yang sedang bekerja. "Jadi kakak kamu dan teman nya itu yang bikin kopi enak."
Pandangan Reska tidak lepas dari Alesa. "Iya benar, tapi aku sedih saat lihat kakak aku bekerja keras aku malah santai kayak gini.
"Kamu harus belajar yang rajin biar kakak kamu bangga."
"Siap."
Jam sembilan malam cafe sudah tutup Alesa dan Haikal pulang bersama sedangkan Reska dia sudah pulang dari tadi. Langkah Alesa sedikit terhuyung huyung membuat Haikal menghentikan langkah nya.
"Kamu kenapa?"
"Aku gk pa pa, cuma capek aja." Bohong Alesa.
Haikal tau Alesa bohong tapi dia tidak mau memaksa Alesa untuk jujur, karena Haikal tau Alesa bukan orang yang mudah cerita ke orang lain.
"Aku tau kamu bohong, tapi aku gk akan maksa kamu untuk jujur yang penting kalau butuh bantuan aku kamu bilang aja."
Alesa tersenyum ke arah Haikal mempunyai teman seperti Haikal dan Airin membuat nya senang, dia juga ingat Alby selalu mengatakan hal yang sama jika butuh bantuan bisa minta tolong ke dia.
Saat sampai di depan kos Alesa tidak langsung masuk dia duduk di bangku perut nya masih sakit, dia berusaha untuk tenang supaya Reska tidak tau kalau dia sedang sakit.
"Kakak kok di luar gk masuk."
"Kakak lagi istirahat sebentar." Tak lama Alesa dan Reska masuk.
Alesa langsung pergi ke kamar mandi dan setelah Sholat Isha dia ingin tidur, karena Alesa tidak bicara membuat Reska bingung saat akan bertanya kenapa diam Reska melihat Alesa sudah tidur.
"Mungkin kak Alesa lagi capek." Reska ikut tidur di sebelah kakak nya.
Entah jam berapa Alesa bangun tapi dia yakin ini sudah tengah malam awal nya Alesa bangun karena ingin buang air kecil tapi dia merasa perut nya semakin sakit, setelah keluar dari kamar mandi Alesa kembali tidur tapi karena rasa nyeri di perut nya dia tidak bisa tidur Reska yang berada di sebelah Alesa bangun dia melihat kakak nya sedang kesakitan.