Natasya Effendi,,, Gadis pintar yang selalu menjadi juara di sekolahnya. Bahkan Tasya begitu biasa dia di panggil, dapat menyelesaikan kuliahnya dengan cepat dengan nilai terbaik. Bahkan Tasya bisa lolos masuk kerja di salah satu bank swasta. Berbanding terbalik dengan pendidikan dan karirnya kisah cintanya harus berakhir dengan penuh luka.
Mau tau kisah lanjutnya? Yuk... ikutin ceritanya....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Meitania, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
24
Mendengar informasi yang di berikan oleh dokter Arnot mengenai keadaan Raya yang sakit membuat Ibu Lidia pun penasaran dengan putri bungsunya. Di tambah lagi gelagat aneh yang Raya tampilkan membuat Ibu Lidia yakin. Akhirnya saat Raya berada di dapur dirinya dengan yakin bertanya pada Raya mengenai tamu bulanannya.
"Kenapa? Jangan bilang kamu lupa akan tamu bulanan kamu." Ibu Lidia.
"Adik lupa Bu. Klo ga salah sebelum hari pernikahan itu adik kedatangan tamu." Raya.
"Dokter Arnot meminta kalian memeriksakannya ke dokter kandungan untuk memastikan benar tidaknya hasil pemeriksaan dia tadi." Ibu Lidia.
"Kalo ga bener gimana Bu?" Raya.
"Ya kalian coba lagi dong. Masa nyerah sih." Ibu Lidia.
Uhuk... Uhuk....
Galih tersedak makanan yang tengah di makannya.
"Ibu... Ih..." Raya.
"Sudah sana buat janji dengan dokter." Ibu Lidia tak memperdulikan menantunya yang salah tingkah.
Kemudian Raya membuat janji dengan dokter kandungan yang berada di tempat prakteknya. Raya pun di antar Galih. Sampai tempat praktek dokter Raya dipersilahkan masuk oleh suster yang berjaga. Raya pun langsung masuk bersama dengan Galih.
"Apa yang terjadi dengan mu Ya?" Tanya Dokter Kandungan yang pernah berjaga bersama dengan Raya.
"Sepetinya aku keracunan Dok." Raya.
"Eh," Galih.
"Keracunan apa ke enakan?" Dokter Kandungan.
"Nah, beda tipis dok." Raya.
Galih menepuk jidatnya mendengar percakapan di antara istrinya dan dokter kandungan yang bertugas. Nampaknya ke anehan sang istri telah menular pada dokter tersebut.
Dokter memeriksa perut Tasya dan benar saja ada galih Junior di dalam perut Raya. Usianya sekitar 4-5 minggu.
"Wow! Keren. Perutmu yang kecil ini berhasil menumbuhkan kecebong kecil itu." Dokter Kandungan.
"Lah, ngapain dia di sana?" Raya.
"Berenang." Dokter Kandungan.
"Hahahaha..."
Tawa di antara keduanya pun membahana.
"Maaf ya sayang, istrimu ini memang begini. Ini untuk menghilangkan jenuh kita jika kita sedang menghadapi pasien." Raya.
"Yah, hanya kalian yang bisa merasakannya." Galih mengusap puncak kepala Raya.
"Maafkan dokter yang satu ini ya Pak jika dalam beberapa bulan kedepan akan bertingkah aneh di rumah. Akan lebih menyebalkan atau bahkan lebih sweet." Dokter Kandungan.
"Iya Dokter. Terima kasih. Kalo begitu kami permisi terlebih dahulu." Galih.
"Iya silahkan. Jangan lupa mengambil vitamin di apotek." Dokter Kandungan.
"Hanya di ambil saja ya Dok? Setelah itu di simpan." Raya.
"Ganjalkan di mulut anda Dok." Dokter Kandungan.
"Hahaha.... Terima kasih Dok. Sampai ketemu bulan depan." Pamit Raya.
"Awas saja jika aku melihatmu melintas di hadapanku sebelum satu bulan." Dokter Kandungan.
"Jangan begitu anda akan merindukanku nanti." Raya.
Kemudian Raya dan Galih pun menuju apotek untuk mengambil vitamin yang di resepkan oleh dokter. Setelah itu Raya dan Galih memutuskan untuk kembali pulang karena Raya tak ingin kemana-mana lagi.
Sementara di belahan bumi lainnya Tasya tengah merajuk ingin pergi berjalan-jalan ke luar. Karena sejak kedatangannya ke negara tersebut Marchel selalu mengurungnya di kamar. Tasya pun mengancam tak akan memberikan jatah pada Marchel selama tiga bulan membuat Marchel ketar-ketir dan terpaksa menuruti keinginan Tasya untuk berjalan-jalan.
Di penghujung bulan madu. Sesuai rencana mereka pun mengunjungi Maria. Maria pun telah menunggu mereka. Maria tak sabar ingin bertemu dengan Kakak iparnya yang selama ini hanya bisa di lihatnya di layar ponsel. Maria penasaran dengan sosok Tasya yang begitu do kagumi oleh Maminya.
"Halo Kakak Ipar?" Maria.
"Hai, halo Maria." Tasya.
"Wah, Kakak lebih cantik aslinya ya." Maria.
"Maksudmu?" Marchel.
"Ya. Dari pada aku lihat di layar ponselku. Kakak Ipar lebih enak di lihat secara langsung. Soalnya bisa aku peluk." Maria.
"Hei, dia istriku." Marchel mulai posesif.
"Ish... Kau bisa memeluknya kapan pun. Sedang bersamaku akan sangat jarang waktunya." Maria.
"Sudah Mas biarkan saja kenapa sih?" Tasya.
"Kan, Kakak ipar juga ga keberatan. Kakak memang pelit." Maria.
"Cepat selesaikan pekerjaan mu dan Segeralah pulang." Marchel.
"Iya Kak. Bulan ini aku akan menyelesaikannya dengan cepat agar bulan depan bisa menghadiri acara kalian." Maria.
"Begitu lebih baik atau kau bukan adik ku lagi." Marchel.
"Mas, tidak begitu Maria. Jangan memaksakan diri jika memang tidak bisa. Kami akan selalu ada untuk mu." Tasya.
"Hah! Sepertinya kau kakak ku bukan dia." Maria.
Pletak...
"Mas Marchel...." Bentak Tasya.
"Uuuuu... Sakit Kak." Rengek Maria pada Tasya.
"Awas kau ya." Tasya.
"No sayang. Mas tidak benar-benar melakukannya. Jangan marah padaku." Bujuk Marchel.
"Bohong Kak. Lihat kening ku sampai merah." Maria.
"Mas...." Tasya.
"Iya adik ku sayang. Maaf kan kakak mu yang tampan ini ya sayang. Baiklah kemarilah..." Marchel memeluk dan mencium kening Maria yang di sentilnya.
Keakraban Tasya dan Maria pun harus terhenti karena Tasya dan Marchel harus kembali ke tanah air. Tasya tak bisa lagi menahan rasa rindunya pada Daren putra Marchel dari pernikahan sebelumnya. Bahkan semua oleh-oleh yang di bawanya hampir semuanya untuk Daren.
"Hati-hati Kak. Aku akan sangat merindukan mu." Maria.
"Begitupun aku. Maka, Segeralah pulang." Tasya.
"Secepatnya." Maria.
"Jaga dirimu dan cepat pulang." Marchel.
"Iya Kak. Sampaikan salamku untuk Mami dan Papi." Maria.
"Ya."
Marchel dan Tasya pun meninggalkan Maria. Sepanjang kepulangannya Tasya selalu saja teringat akan Daren. Tasya begitu tak sabar ingin bertemu dengannya. Hingga saat Marchel mengatakan jika mereka akan pulang ke kota J saja Tasya hampir menangis.
Marchel pun susah payah membujuknya karena ulahnya sendiri. Tasya bukan tidak ingin di bawa ke kota J hanya saja Daren masih berada di kota C bersama orang tuanya dan juga orang tua Marchel. Orang tua Marchel masih berada di kota C hingga bulan depan.
Oleh karena itu resepsi yang akan di gelar di kota J pun di tunggu hingga bulan depan. Karena Marchel dan Tasya tak ingin Mami Marchel bolak-balik kota J dan C hanya untuk persiapan resepsi pernikahan mereka.
Ayah Effendi dan Ibu Lidia pun setuju dengan itu. Apalagi sekarang di tambah Raya yang sedang hamil muda. Bahkan hingga acara nanti di gelar kehamilan Raya masih belum cukup kuat namun Raya selalu meyakinkan kedua orang tuanya jika kehamilannya baik-baik saja.
Raya pun senantiasa selalu mengajak berkomunikasi calon bayi di dalam perutnya agar lebih kuat. Galih pun dengan terpaksa sering pulang apalagi jika Raya sudah merengek dan tak mau makan Galih akan meninggalkan pekerjaannya demi istri dan calon buah hati mereka.
Galih tak perduli lagi pada apapun yang terpenting baginya sekarang adalah keluarga kecilnya. Walau tak serta merta dirinya mengabaikan pekerjaannya.
🌹🌹🌹
yg judul 'jodoh pilihan ayah' jg di up thor
lanjuttttt