Indonesia
NovelToon NovelToon
Pacar Sewaan

Pacar Sewaan

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Dijodohkan Orang Tua / Cinta Seiring Waktu / Cinta Murni / Tamat
Popularitas:26.4k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Bee

Kiara Pratama adalah seorang gadis yang masih duduk di bangku kuliah semester akhir. Suatu hari, dia diundang ke acara Prom Night di kampusnya. Kiara yang belum memiliki kekasih, akhirnya mencari kekasih sewaan di media sosial. Seorang pria bernama Angkasa, merekomendasikan temannya yang bernama Biru untuk menjadi kekasih sewaan Kiara. Akhirnya mereka bertemu di sebuah cafe dan berkenalan. Setelah menyetujui kontrak yang dibuat oleh Kiara, Biru setuju untuk menjadi kekasih sewaan Kiara selama satu hari saja. Namun ternyata, kontrak yang mereka buat harus diperpanjang manakala orang tua Biru meminta Biru untuk segera bertunangan dengan seorang gadis bernama Angeline. Karena ayah Biru memiliki hubungan bisnis yang tidak baik dengan ayah Kiara, maka dia pun melarang hubungan Kiara dengan putranya. Lalu, bagaimana kisah Kiara dan Biru setelah kontrak mereka diperpanjang? Akankah benih-benih cinta tumbuh di antara mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Bee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kala Bertindak

Ketegangan dan canggung menggelayuti suasana meja makan bernomor 12 itu. Dua orang pria duduk bersama dengan seorang wanita muda dan cantik. Wajah ketiganya menunjukkan ketidaknyamanan satu sama lain.

Satu pemuda yang bernama Angkasa mengambil tangan sang gadis lalu menggenggamnya erat. "Ra, aku sungguh-sungguh. Biru membutuhkanmu, dia kacau sekali,"

"Ehem!" Gadis bernama Kiara itu berdeham sembari menepiskan tangannya dari cengkeraman pemuda berkacamata itu. "Sa, sebenarnya Biru sudah tidak ada hubungannya lagi denganku, tapi, kenapa kau memintaku? Aku yakin ada seseorang yang lebih tepat untuk kau kabari," sambung gadis itu lagi.

"Hanya kau, Ra! Tidak ada yang lain," kata pemuda itu lagi.

Kiara diam-diam melihat Kala dari sudut matanya, dia khawatir pria dingin berwajah tampan itu akan marah dan membentaknya. "Sorry, Sa, tapi aku rasa kau salah orang. Aku di sini sedang menikmati jamku dengan atasa-, ...."

"Kekasih!" sahut Kala tiba-tiba.

"Heh!" tukas Kiara terkejut. Sontak saja, Kiara dan Angkasa menoleh melihatnya. Ucapan tak terduga dari bibir Kala membuat Kiara terpanjat. Dia mendengus dan menggeleng. "Jangan berkata aneh-aneh,"

"Lho, memang kau kekasihku, 'kan?" tanya Kala pada Kiara, lalu dia mengarahkan pandangannya pada Angkasa. "Jadi, Tuan Muda, apa yang dikatakan oleh kekasih saya ini benar. Kau salah orang dan kekasih saya, tidak ada hubungannya sama sekali dengan apa pun itu yang kau sebut sebagai Biru,"

Wajah Angkasa dipenuhi dengan ketidakpercayaan. Sorot matanya menatap Kiara dan Kala ragu. Kala yang cukup cerdas mengetahui tatapan tak percaya dari Angkasa, maka dia mendekati Kiara dan mengecup benda ranum berwarna merah muda milik gadis itu.

"Nah, dia kekasihku!" ucap Kala setelah mengecup Kiara.

Wajah pria itu datar dan tanpa ekspresi. Berbanding terbalik dengan wajah Kiara yang semakin merona merah. Gadis itu mematung dan tidak dapat merespons apa pun, bahkan mungkin kesadarannya mulai menjauh.

Melihat keberanian Kala mengecup Kiara membuat Angkasa yakin, bahwa Kiara dan Kala memang sepasang kekasih sungguhan.

Angkasa pun menghela napas panjang dan kasar. "Hubungi aku atau Biru, nomor kami masih yang sama seperti kemarin,"

Setelah itu dia pergi sambil menepuk pundak Kiara yang masih belum sadar. Sementara Kala, pria itu menuntut Kiara dengan pertanyaan-pertanyaan yang bertubi-tubi. "Siapa pria itu? Aku tidak suka dia! Tidak sopan sekali, memotong aktivis orang lain! Cih! Lagi pula siapa itu Biru? Apa hubunganmu dengan mereka? Kenapa pula harus kau yang menolong Biru? Memangnya dia kenapa?"

Kiara memberikan telapak tangannya kepada Kala. "Stop! Biarkan aku bernapas!"

Kala kembali duduk ke tempatnya dan memberikan ruang sejenak untuk gadis yang baru saja dikecupnya itu. Wajah tidak bersalahnya terus menatap Kiara.

"Jelaskan padaku! Apa yang baru saja kau lakukan? Tapi sebelum itu, kita pisahkan ini dulu dari pekerjaan. Detik ini, aku tidak akan menganggapmu sebagai atasanku. Kita adalah seorang pria dan wanita dewasa! Nah, jelaskan!" desak Kiara, wajahnya masih memerah karena malu dan kesal.

Bisa-bisanya di saat seperti tadi, Kala mengecupnya. Hati Kiara seakan dipermainkan oleh pria berusia hampir 30an tahun itu.

Kala tersenyum. "Temanmu itu butuh pembuktian, Kiara. Dia akan terus mendesakmu jika aku tidak berbuat nekat seperti tadi,"

"Ya, tap-, ...."

Lagi-lagi Kala memotong ucapan Kiara. "Sekarang, giliran kau yang harus menjawab pertanyaanku!"

Kiara memandang sengit atasannya itu. Dia tidak punya pilihan lain selain menjawab pertanyaan Kala tadi. "Dia Angkasa, sahabat mantan kekasihku. Biru adalah mantan kekasihku, semuanya berawal dari aku yang mencari kekasih sewaan, ...."

Kiara pun menceritakan awal pertemuannya dengan Biru. Mulai dari mereka bertengkar di tengah jalan, pesta dansa yang berantakan, Biru yang menghubunginya untuk menjadi kekasih sewaan sampai pernikahannya dengan Angeline dibatalkan, sampai saat-saat terakhir, dia mengetahui kalau orang tua Biru telah menipu ayahnya hingga mereka jatuh miskin dan dia memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Biru.

Sementara Kiara bercerita, Kala memesankan minuman dan kudapan ringan untuk menemani obrolan malam mereka. Sambil mengunyah dia mengangguk-angguk merespons cerita asistennya tersebut.

"Bramtama Corporation, ya? Aku sering dengar, kuakui perusahaan itu melesat cukup cepat saat awal kemunculannya, tapi akhir-akhir ini, mereka melemah," kata Kala menanggapi. "Ayahku juga sempat kagum dengan perusahaan itu. Belum lagi cabangnya yang menggurita, tapi dalam hitungan tahun, mereka runtuh satu per satu,"

"Yang runtuh itu bagian ayahku," kata Kiara menyesap minumannya.

Manik Kala mengikuti gerak-gerik Kiara. Bahasa tubuh Kiara menyiratkan rasa sakit yang sudah lama dipendam oleh gadis itu.

"Berjuanglah terus, keadilan akan memihakmu," kata Kala menghibur. "Lalu, jangan pernah kau hubungi mantan kekasihmu itu lagi! Mulai saat ini, kau kekasihku jika berada di luar kantor! Paham!"

Kening Kiara berkerut-kerut dan kedua alisnya saling bertautan. "Apa maksudmu?"

Kala mendengus, dia beranjak berdiri, dan mengulurkan tangannya ke arah Kiara. "Turuti saja perintahku kalau kau masih ingin bekerja bersamaku. Ayo, kita pulang!"

Dengan ragu-ragu, Kiara menyambut uluran tangan Kala dan pria itu menggenggam erat tangan Kiara. Tangan Kala terasa hangat berada di dalam genggaman Kiara.

Setibanya di apartemen, Renatha sudah tertidur dengan kondisi televisi menyala dan gadis itu tertidur di atas sofa. Kiara tersenyum dan dia menyelimuti tubuh sahabatnya itu dengan lembut. Padahal dia ingin sekali menceritakan apa yang baru saja terjadi kepada Renatha.

Keesokan harinya, Renatha memekik heboh. "Kiara! Tidak mungkin! Lalu? Lalu? Kau jawab apa?"

Wajah Kiara kembali memerah. Ya, dia sudah menceritakan apa yang terjadi di makan malam bersama Kala tadi malam dan seperti yang sudah dibayangkan, respons Renatha sangat menghiburnya.

Begitu pula saat dia bercerita pertemuannya dengan Angkasa serta permintaan pria itu untuk membawa Biru kembali.

"Lho, masih kabur?" tanya Renatha

Kiara mengedikkan kedua bahunya. "Aku tidak tahu,"

Walaupun menjawab dengan dingin, jauh di dalam lubuk hati Kiara, dia sangat mencemaskan Biru. Di mana dia sekarang? Apa yang sedang dilakukannya saat ini? Apakah dia bahagia dengan pernikahannya atau bahkan dia belum menikah dan masih dalam pencarian? Apakah dia sehat atau sakit?

Kiara pun terdiam. "Tapi, aku juga memikirkan bagaimana keadaan Biru, Re,"

"Wajarlah kau memikirkan dia. Bagaimana pun juga, dia pernah ada di dalam hidupmu," kata Renatha.

"Lalu, apakah aku harus menghubungi dia?" tanya Kiara lagi, walaupun dia sudah mengetahui apa jawaban sahabatnya untuk pertanyaan ini.

Renatha terdiam sesaat dan seperti tebakan Kiara, gadis itu menggelengkan kepalanya. "Tidak perlu. Fokus saja oada hidupmu saat ini, Ra. Sudah cukup urusanmu dengan keluarga Bramasta tak tahu diri itu!"

Meskipun Renatha melarangnya untuk menghubungi Biru atau Angkasa, hati kecil Kiara terdorong untuk melakukannya. Dia ingin sekali mengetahui bagaimana kabar mantan kekasihnya itu.

Maka, setelah sampai di kantor, Kiara pun memberanikan diri untuk mengirimkan pesan pada Biru.

"Hei, apa kabarmu? Kemarin aku bertemu Angkasa, apa kau baik-baik saja?" tanya Kiara dalam pesannya.

Tak lama, balasan dari Biru pun datang. ("Biru baik-baik saja dan saat ini kami sedang menikmati honeymoon kami, Kiara,")

Jantung Kiara seakan berhenti saat membaca pesan dari Biru itu. Bukan dari Biru, Angeline lebih tepatnya. Segera saja, Kiara menghapus pesan tersebut dan memblokir nomornya.

...----------------...

1
Nur Adam
lnjut
Herta Mawati Purba
menarik bikin penasaran
Zahra Putri Mandala
menarik,mampir kak🤗
Mama Bee: makasih 💜
total 1 replies
Badrul Jon
mana kelanjutannya
Mama Bee: masih ditinjau ya, Kak.
mohon menunggu
terima kasih
total 1 replies
Amel
sambunganny mna ya?
Mama Bee: sama²
total 3 replies
alluca
Sama, Mbak. Saya juga tertarik kalau dengar kata 'uang tunai' 😍
Mama Bee: Rata, ya 🤭😁
total 1 replies
marieanna
orang tuanya tlalu mksain bNget anaknya nikah SM perempuan yg gak dia suka demi bisnis....
marieanna
bener tor...kalo jatuh cinta gak pandang 2 mau cinta ke sypa...miskin/kaya...anak pejabat/orang biasa gak bisa di atur 2...tu yg q rasain kalo jatuh cinta...
DINO RINOSO
bagus 👍👍👍
DINO RINOSO
nah loh!!! gmnA tuh?
marieanna
Aduh Bu Bu...kok ya suombong baget JD orang!! ingat Bu di atas langit masih ada langit! jgn sombong apa lagi smp merendahkan org lain!!
Intan Permata: Hay kak mampir juga yuk ke novel ku"RINDU UNTUK AISYAH"
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!