Aku berharap akan menjadi penumpang pertama mereka.
-Allingga Hairen Giantra-
Perkenalkan namaku Allingga Hairen Giantra, aku memiliki adik yang bernama Alviani Mizia Leandro dan sering dipanggil Zia.
Zia yang sudah dewasa menyukai sahabatku yang memiliki tempramen buruk tapi cocok dijadikan pasangan, namanya Albirru Karrel Hiantra.
Hingga pada saatnya aku ingin menjadi penumpang pertama untuk pilot Karrel dan menjadi orang yang dilayani oleh pramugari Zia.
⚘⚘⚘
Lingga memilih untuk berkuliah ke luar negeri dan kembali ke pesta pernikahan sang adik dengan jas dokter miliknya.
Tapi sesuatu yang terjadi membuat Zia hancur dan Karrel frustasi. Walaupun begitu, itu tidak akan membuat jalan hidup mereka menjadi terhambat.
Bagaimana kisahnya??
Saya yakin kalau deskripsi nya kurang menarik tapi saya yakin ceritanya akan sangat menarik.
Kalau tidak suka skip!! Karena saya tidak menerima kritik melainkan saran.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jung Yn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
23. TIDAK TAHU JUDUL, MAAF
༺ღ༒ welcome༒ღ༻
"Bagaimana? Kalian pikir saja terlebih dahulu tidak apa-apa, " ucap Luan.
"Bang Luan .... Maksud dari itu apa? " Tanya Karrel.
"Ahh!! Kotak itu, kamu cari sendiri maksudnya. Mungkin kamu sudah tahu, tapi ingin penjelasan, " jawab Luan.
"Kami setuju, " ucap Mak Yah.
"Kalau begitu ayo kita pergi, " ucap Karrel.
Mereka semua pun pergi menuju mobil masing-masing.
⚘⚘⚘
"Kita sudah sampai. Selamat datang dirumah baru kalian, " ucap Lingga.
"Apakah ini yang akan kalian tunjukkan kepada kami? " Tanya Liana.
"Benar sekali! Dengan begini kalian tidak akan repot lagi untuk berjualan di depan. Ini namanya apartemen, dulu ini sering aku tempati .... Semoga kalian menyukainya, " ucap Lingga.
"Berjualan? Kita bisa berjualan disini? " Tanya Fera.
"Benar sekali Buk! Banyak pembeli dekat apartemen Lingga. Didalamnya sudah ada pakaian dan perabotan, jadi kalian tidak perlu repot untuk membeli lagi, " ucap Karrel.
"Mari kita berkeliling dulu, " ajak Luan.
Mereka semua pun berkeliling apartemen. Tak segan-segan pegawai apartemen menyapa Lingga yang dibalas senyuman oleh Lingga.
Kamar demi Kamar sudah Lingga jelaskan milik siapa saja Kamar itu.
Setelah selesai berkeliling, mereka memutuskan untuk makan malam diruang makan bersama.
"Terimakasih telah membantu kami, Nak. Kamu sangat baik, semoga Tuhan memberikan kebahagiaan yang penuh terhadap dirimu Nak. "
"Tidak perlu berlebihan, Nek. Aku sudah menolong sebelum diriku .... "
"Apa? " Tanya Liana.
Lingga tersenyum. "Tidak apa-apa. "
Lingga melirik sekilas kearah Jarrel, sedangkan Jarrel pura-pura mendongak menatap langit-langit demi memutuskan kontak mata dengan Lingga dan untuk menghalau tangisannya.
"Semoga yang aku lihat hanyalah penglihatan semata, " batin Jarrel.
"Baiklah! Aku ingin ke apartemen dengan Karrel, semoga kalian semua bersenang-senang. " Lingga memegang tangan Karrel.
"Baiklah .... Hati-hati dijalan, Nak. Sekali lagi terimakasih, " ucap Mak Yah.
Lingga tersenyum dan pergi dari sana bersama Karrel.
Jarrel pun menatap kepergian Lingga dan Karrel sembari menghela napas panjang.
"Apakah kamu tahu sesuatu? " Tanya Luan membuat Jarrel kaget.
"Apa maksud Abang? " Tanya Jarrel.
"Jangan kamu berpikir kalau Abang tidak tahu makna gerak-gerik kamu, " ucap Luan.
"Tidak ada apa-apa, Bang. Mungkin itu hanya penglihatan semata, " jawab Jarrel.
"Tidak ada kemampuan dirimu yang namanya penglihatan semata. Kemampuan mu itu tercipta dari cenayang mu, " ucap Luan.
"Bisa begitu ya? " Tanya Jarrel.
"Bisa! Tapi .... "
"Mari kita pulang, " ajak Zia.
Luan mengangguk dan menggenggam tangan Jarrel sembari berdiri. Luan memberi hormat dengan membungkukkan sedikit tubuhnya dan pergi dan sana menyusul Gio dan Zia.
⚘⚘⚘
Karrel yang sedang duduk bersender dikepala ranjang sembari menonton televisi menunggu Lingga selesai mandi.
Harus dibuat terkejut karena Lingga tiba-tiba berbaring dengan pahanya dijadikan bantal.
"Kamu sudah tahu kalau Jarrel itu bukan cenayang tapi bisa melihat masa depan? " Tanya Lingga.
"Memang apa bedanya cenayang sama bisa melihat masa depan? " Tanya Jarrel.
"Cenayang hanya bisa memprediksi, apa yang dia bicarakan selalu menjadi kenyataan. Kalau melihat masa depan, hanya dengan sentuhan maka semua yang dia lihat adalah yang kedepannya hidupmu nanti, " ucap Lingga menjelaskan.
"Aku sudah tahu, tapi aku masih ragu dengan jawabanku. "
"Kalau semisal .... Emm tidak jadi, " ucap Lingga akhirnya.
"Semisal apa? Ayolah .... Aku sedang penasaran sekarang, " ucap Karrel memaksa.
"Tidak ada apapun, Aku hanya tidak ingin semuanya hancur karena ucapan ku saja. "
Karrel cemberut mendengar ucapan Lingga. Dia pun kembali menatap televisi tanpa menghiraukan panggilan dari Lingga.
"Kenapa kamu menjadi sensi seperti ini? Apakah karena yang tadi? " Tanya Lingga setelah lelah memanggil Karrel.
Hening. Karrel tidak menjawab.
Lingga memberanikan diri menatap wajah Karrel dalam bawah dan ternyata cowok itu sudah tertidur.
"Astaga .... "
Lingga pun meraih remot televisi dan mematikan siarannya. Dia pun memeluk Karrel dan tertidur.
Jangan berpikir yang tidak-tidak dulu. Sebenarnya sebelum tidur, Lingga harus punya pelukan agar terlelap.
Tanpa disadari, Karrel hanya berpura-pura tidur agar Lingga tidak terus memanggilnya. Dia membuka matanya menatap Lingga.
"Apakah ada hubungannya? " Gumam Karrel bertanya.
⚘⚘⚘
"Oyy Rel!! Bangun cepat loh!! " Teriak Lingga.
Karrel tidak menggubris ucapan Lingga, dia kembali menutup tubuhnya dengan selimut.
"Astaga!! Dasar anak mama!! " Teriak Lingga lagi.
"Ck! Berisik banget lah, pergi sana! " Ucap Karrel dengan nada kesal.
Lingga melotot tajam kearah Karrel yang acuh tak acuh dengannya. Lingga pun pergi dari sana, tapi bukan berarti dia kalah.
"Bunda!! Boneka favorit Karrel, Lingga pinjam ya!! Mau kelonin nanti waktu tidur!! "
Sontak Karrel terbangun dan berlari kearah Lingga yang berteriak.
Lingga menoleh, tapi sebuah bogeman membogem wajahnya dengan kuat membuat Lingga mundur beberapa langkah.
"Jangan pernah menggunakan boneka kesayangan ku!! " Tegas Karrel.
"Mending kamu mandi sana, aku sudah membuat sarapan. "
Karrel semakin marah karena sepertinya Lingga tidak mempedulikan ucapannya.
Sekali lagi, Karrel menarik kerahasiaan almamater Lingga membuat cowok itu membalikkan tubuhnya.
Karrel pun membogem Lingga sekali lagi tapi lebih kuat.
"Ck! Ada apa? " Tanya Lingga dan bangkit dari jatuhnya.
"Jangan pernah menggunakan bonekaku! "
"Memangnya sejak kapan bonekamu ada disini? "
"Sejak aku pindah ketempat kalian. "
"Ini rumah? "
Karrel yang merasa curiga dengan pertanyaan Lingga langsung mengedarkan pandangannya dan memutar otaknya mengingat sesuatu.
Hal yang dia ingat kalau dia pulang bersama Lingga menuju apartemen dan tidur bersama setelah banyaknya drama.
"Sudahlah! Menunggu kamu mengingatnya membuat makanannya menjadi dingin, " cibir Lingga.
Karrel berlari menyambar handuknya disebelah digantungan belakang Lingga dan masuk kekamar mandi.
"Astaga .... Aku terkejut .... " Ucap Lingga dengan nada pelan.
Lingga pun menuju meja makan dan memakan masakan khusus dirinya.
"Kau masak apa untukku? " Tanya Karrel yang baru datang.
"Nasi goreng vegetarian, " jawab Lingga dengan nada datar.
"Tahu saja kau kalau aku menyukainya, " ucap Karrel.
"Bagaimana konsepnya sahabat kecilmu ini tidak tahu apapun kalau sahabat nya herbivora? " Tanya Lingga.
Sontak Karrel mendatarkan wajahnya, dia pun melempar wortel rebus yang dihindari oleh Lingga.
"Kamu tidak membersihkan apartemen pagi-pagi buta, tapi kamu sudah sembarangan membuang makanan, " ucap Lingga.
"Ya itu karena kau menyebalkan, " ucap Karrel.
Lingga hanya diam tidak ingin melanjutkan ucapannya. Dia pun bangkit dari duduknya membuat Karrel mendohgak menatapnya.
"Mau pergi sekarang? " Tanya Karrel.
"Iya, ayo cepat. "
Karrel pun meminum habis susu digelasnya dan berlari mengikuti Lingga.
"Tolong bersihkan apartemen saya, " ucap Lingga dan akhirnya menutup teleponnya.
Lingga pun merangkul Karrel dan berjalan sedikit lebih cepat. Banyak pasang mata yang menatap aneh kearah mereka.
⚘⚘⚘
"Ling, Rel. Apakah kalian ingin ikut standnya? Disini kita sekelas, Ling. Ya, Rel .... Kami membutuhkan kalian, " ucap Geetha memohon.
"Apakah kalian tidak bisa menjalankan stand sendiri tanpa kami berdua? " Tanya Karrel dengan nada dingin.
"Kami ada urusan dengan direktue sekolahnya nanti, " ucap Lingga akhirnya.
Geetha, Yohan dan Lucas menghela napas panjang. Sudah mereka duga sebelumnya kalau Lingga dan Karrel tidak akan mau bekerja sama seperti janjinya.
"Ini semua karena Tania dan Citra, kalau mereka tidak mengatakan hal itu maka dua orang itu akan bersama kita sampai sekarang, " ucap Lucas.
"Sudah .... Tidak baik menyalahkan seseorang, " ucap Yohan.
TBC.
masih mencerna nih.... ☺